Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Tanding Antar Tiga Sahabat


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Ini referensi untuk visual pemeran di bab hari ini.


Gavriel Wijaya



Selyn Wicaksono



Queeneira Wardhana



Ezra Benedict



Keineira Desmon



Intan



Raiya




Sebelumnya


Mall Kota S


"Apa Kita boleh bergabung?" tanya Raiya to the point, menuai ekspresi berbeda dari orang yang mendengarnya.


Ezra yang merasa dipandang oleh Intan, menoleh ke arah lainnya, menanyakan pendapat dari para sahabatnya.


Merasa sahabatnya bingung ingin berkata seperti apa, Queene mengambil alih dengan senyum lebarnya.


"Kami mau bermain game, apa tidak apa-apa? kami takut, kalian tidak suka permainan kekanakan seperti itu," ujar Queene, menatap satu per satu teman sekolahnya.


"Bisakah kalian bilang tidak," batinnya berharap.


"Kami suka main game juga," balas Raiya ceria.


"Kami juga sering main game di zone sini, permainannya seru-seru!" sahut Intan tidak kalah semangat.


Beda lagi dengan Kei yang hanya menatap depan, maksudnya menatap keempatnya dalam diam.


Ia hanya memperhatikan bagaimana Gavriel, yang masih menggengam tangan seorang perempuan, yang entah kenapa mirip sekali dengan Gavriel.


"Bagaimana, El?" tanya Queene kepada adiknya.


Seketika ia menepuk dahinya, saat ia sendiri lupa mengenalkan teman sekolah dengan adiknya.


Bagaimana bisa El menerima orang baru, jika mereka bahkan belum berkenalan.


"Haiyah .... Ngo em keitak wo!" serunya.


(Aduh ... Saya lupa lah!)


"Cece ... Pei ngo ci ma, (Mba ... Kasih tahu saya dong)" balas Selyn, membuat tiga orang di depan mereka bingung, namun tidak untuk Gavriel dan Ezra, mereka juga bisa meski hanya beberapa kata.


"Err ... Pada ngomong apa sih?" tanya Raiya penasaran.


Queene tersenyum dan mengayunkan tangan, kemudian menatap Selyn yang juga menatapnya penasaran.


"Nah .... Selyn, mereka ini teman satu sekolah dan satu kelas kami. Yang pakai baju biru itu kak Intan, yang baju pink kak Raiya, lalu yang pakai baju putih, namanya kak Kei."


Queene menyebutkan nama temannya satu per satu, membuat Selyn ikut melihat setiap ia menunjukan.


Dengan senyum lebar dan ceria, Selyn mengenalkan diri, tanpa melepas tautan tangan sang kakak.


"Hai ... Aku Selyn Wicaksono, aku pacarnya Gavriel. Salam kenal!"


Deg!


Ucapan ngaco penuh dengan unsur kesengajaan, yang di ucapkan oleh Selyn tentu saja menuai berbagai ekspresi.


Ezra sih sudah hafal tingkah usil si bontot, jadi ia hanya menggeleng kepala dan tersenyum maklum.


Gavriel sebagai sang kakak hanya diam saja, tidak menampik saat adiknya berniat menggoda teman sekelasnya, ia berfikir jika sang adik merasa mereka bertiga punya rasa suka padanya.


Yah ... Seperti yang sudah-sudah.


Queene hampir saja tersedak, ingin terkekeh saat melihat raut wajah syok dari ketiga temannya.


Sepertinya ia setuju dengan apa yang di ucapkan adiknya, ia juga ingin melihat reaksi dari teman barunya saat ini.


Apalagi si ....


"Dasar, bikin orang jantungan aja," batinya geli.


Lalu bagaimana dengan ekspresi tiga remaja perempuan, yang saat ini menatap Gavriel dan Selyn bergantian.


Terlebih baik Gavriel maupun Selyn, sama-sama tidak melepas genggaman satu sama lainnya.


Intan adalah yang pertama, menanggapi perkenalan singkat yang di lakukan Selyn, yang tadi mengaku sebagai pacar dari Gavriel, seorang pria yang akhir-akhir ini menjadi perhatian temannya.


"Selyn yah, aku Intan. Wah ... Pasangan yang serasi, sudah lama?" tanya Intan melirik Kei, yang raut wajahnya berubah jadi muram.


"Ya ampun, ternyata udah ada yang punya," batin Intan miris.


"Tentu! Kami dari lahir sudah bersama, kami tumbuh bersama dan kami bahkan kemana-mana bersama. Bukan begitu, mas?" balas Selyn ceria, bertanya kepada sang kakak dengan pandangan seakan mengatakan.


"Ayo jawab iya, kalau tidak lihat saja."


Gavriel tentu saja tahu apa maksud tatapan sang adik, jadi ia pun hanya menggeleng dan menepuk kepala adiknya, sebagai jawaban ambigu namun cukup jelas, jika orang yang tidak kenal baik melihatnya adalah sinyal sebagai pasangan.


"Wah ... Seperti itu," ujar Intan tersenyum canggung.


Kei diam-diam merasakan nyeri di hatinya, ia tidak menyangka ternyata perasaannya, selamanya tidak akan tersampaikan dan akan menjadi kenangan saja.


Tidak mungkin kan, ia mendekati seseorang yang sudah dimiliki seseorang lainnya.

__ADS_1


Jadi dengan senyum kecil, ia mengubah raut wajahnya ceria lagi, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan seseorang, yang mengaku sebagai pacar dari teman sekelasnya.


"Hai ... Aku Keineira, salam kenal Selyn!" seru Kei tersenyum manis, melihat Selyn yang juga melihatnya dengan senyum lebar.


"Salam kenal, kak Keineira."


Queene melihatnya dengan binar mata geli, saat adiknya berhasil mengerjai temannya, ia tahu dengan pasti apa maksud lucifer kecil mereka.


Pertahanan untuk melindungi sang kakak, yang di kenal sebagai penggaet tanpa menggaet.


Eleh ... Bahasa apa itu.


Yang jelas Gavriel bukan seseorang yang suka tebar pesona, karena tanpa tebar pesona, dia bisa membuat barisan kaum hawa, ngintil di belakangnya.


"Jadi, kalian masih ingin ikut kami?" tanya Queene memastikan.


"Bilang tidak, aku janji akan makan roti di pagi hari," batin Queene, sambil menatap ketiga temannya bergantian.


"Tentu saja!" seru Intan dan Raiya bersamaan, sedangkan Kei hanya mengangguk kecil.


"Saus tar-tar."


"Err ... Kalau gitu oke, tidak apa-apa kan, El?" tanya Queene dengan nada canggung.


"Heum ... Hou lah, (Baiklah)" balas Selyn menatap ketiga teman kakaknya, dengan anggukan semangat.


"Oke, yuk!"


Akhirnya mereka bertujuh jalan bersama, dengan Kei dan dua temannya mengekor di belakang, melihat bagaimana dua pasang orang di depannya sambil berbisik.


"Kei," bisik Intan pelan, menuai gumaman dari yang di panggil Kei.


"Hum?"


"Apa kamu tidak apa-apa, melihat mereka seperti itu?" tanya Intan dengan nada suara kaku.


"Aku, aku kenapa? Biasa saja, justru lebih baik tahu dari awal. Jadi aku tidak terlalu berharap," balas Kei melirik temannya, lalu tersenyum kecil menenangkan.


"Ya kamu benar, Kei. Lebih baik tahu dari awal, jadi tidak terlalu berharap," sahut Raiya menepuk bahu temannya pelan.


"Um," gumam Kei dengan anggukan kecil.


Ia melihat lagi ke arah depan, tepatnya ke arah seseorang, yang masih bergandengan dengan sesekali si perempuan merengek manja.


Astaga ... Kenapa hatinya masih saja sedih, padahal tadi ia bilang biasa saja.


"Ah ... Sepertinya aku membohongi diri sendiri dan dua temanku," batin Kei merasa bersalah.


Tentu saja ia berbohong dari pada membuat dua temannya khawatir, lebih baik seperti ini.


Iya kan?


Di depan mereka sudah ada pintu masuk area bermain, dengan nama wahana gamezone besar terpampang.



"Woow!"


Selyn si bontot kesayanganya Gavriel, memekik semangat dengan sesekali melompat kecil. Membuat sang kakak terkekeh kecil, melihat antusiasnya sang adik saat melihat wahana bermain di depan mereka.


Adiknya jarang keluar, perintah Pak tua alias Daddy toyyib durhaka mereka.


Pun kalau mau keluar harus ada seseorang yang menjaganya, entah itu Om Bima atau Om Leo.


"Mas! Kita main itu, itu juga. Ayo, mas!"


Selyn dengan semangat menunjuk ini dan itu dengan binar bahagia, membuatnya menggeleng dan menangkap tangan adiknya, kemudian mengadu dahinya dan dahi sang adik agar diam sejenak.


Dug!


"Satu per satu, got it?" gumam Gavriel saat wajah mereka berdekatan.


Pemandangan yang terlihat mesra dan itu membuat salah satu dari orang yang melihat merasa iri, akan kemesraan pasangan kakak-adik ini.


Selyn tersenyum lebar dan memundurkan wajahnya, untuk mengangguk semangat.


"Oke, mas!" serunya dan melepas genggaman tangan sang kakak, untuk menghampiri mbanya dengan pelukan, sebelum menyeret mbanya memasuki wahana mendahului yang lain.


"Ayo mba, Kita duluan!" serunya semangat sambil melangkah, dengan seseorang yang di panggil mba mengikutinya, sebelum berbalik menjadi ia yang di tarik si mba.


"Ulu-lu-lu-lu-lu, siap bermain sepuasnya?" tanya Queene semangat, yang saat ini gantian menyeret Selyn yang tertawa senang.


"Ulu-lu-lu-lu-lu, siap bang!" seru Selyn membalas tidak kalah semangatnya.


Kelakuan keduanya membuat Ezra dan Gavriel terkekeh kecil, menggeleng kepala saat dua perempuan kesayangan mereka bersikap layaknya orang suku pedalaman.


Seperti tidak pernah liat permainan, layaknya orang yang tinggal di hutan.


"Kalian juga main, kita sama-sama bersenang-senang. Santai saja," ujar Ezra menghadap ke arah tiga teman sekelasnya.


"Iya, tenang saja!" seru Intan sebelum menyeret Raiya dan Ezra, meninggalkan Gavriel dan Kei di belakang melihat ke arah wahana, dimana teman dan adik serta sahabatnya sedang memilih permainan.


"Masuk yuk," ajak Gavriel dan dibalas anggukan kepala kecil dari Kei.


"Um."


Mereka berdua berjalan santai tanpa ada obrolan, membuat suasana canggung yang terasa aneh.


"Gavr-


"Mas! Sini! Main ini!"


Keineira baru saja ingin memulai percakapan, tapi sayang harus di telan kembali saat suara cempreng seseorang, menyelanya dengan cepat dan semangat, membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya hal yang tidak perlu.


"Iya!" balas Gavriel singkat.


Ia menolehkan wajahnya ke samping, ke arah teman barunya dan mengernyit saat ia merasa, jika perempuan di sebelahnya hendak mengeluarkan suara.


"Kamu, tadi mau ngomong apa?" tanya Gavriel.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Sebaiknya kamu cepat ke sana, nanti pacar kamu marah," elak Kei kemudian melirik ke arah lain, menghindari tatapan mata Gavriel.


"Pftt!!"


Gavriel terkekeh dalam hati saat melihat tingkah aneh temannya, ck-ck-ck ... Adiknya sungguh luar biasa.


"Oke, kamu juga sebaiknya bermain dengan yang lain. Jangan berdiri di sini, got it?" ujar Gavriel ikut menggoda.


"Oke."


Mereka pun menghampiri masing-masing tempat, dengan Gavriel yang berdiri disisi sang adik, sedangkan Kei yang berbaur dengan Ezra, Intan dan Raiya bermain lempar bola basket.


"Gav!" panggil Ezra.

__ADS_1


"Oit?" balas Gavriel berhenti dari kegiatannya, bermain 'pukul tikus', permintaan sang adik.


"Jadi tanding? Masukin bola basket kan?" tanya Ezra memastikan.


Gavriel yang di tanya menoleh ke arah Queene, yang juga ikut main pukul tikus.


"Gimana, Que?"


"Oke, aku ikut aja," balas Queen tanpa berhenti, masih ikut memukul kepala tikus yang selalu mengejeknya saat tidak berhasil ia pukul.


"Akh! Tikusnya mengesalkan sekali," pekiknya kesal saat waktunya habis.


"Kamunya saja yang payah," dengus Gavriel menuai protesan dari Queene, dengan menjulurkan lidah meledek.


"Blee ..."


"Ya sudah, yuk mulai pertandingannya. Ingat hukumannya, yang kalah traktir," ujar Ezra mengingatkan.


"Sip / yups!" balas keduanya bersamaan.


"Mas, El nggak ikutan. Tapi nanti tetap di traktir yang kalah yah," ujar Selyn dengan cengiran polosnya.


"Kamu dukung mba aja, mba pastikan kita berdua ditraktir. Oke?" sahut Queene memeluk bahu Selyn, yang mengangguk semangat dan balas memeluk pinggangnya.


"Siap, bosque!"


"Good!"


"Cih ... Kalah, baru tahu rasa," dengus Gavriel, namun hanya dianggap angin oleh dua perempuan yang asik terkikik.


Mereka tahu dengan jelas, jika nanti ujung-ujungnya bukan mereka yang bayar, tapi Gavriel atau Ezra sekalipun mereka menang.


"Aku tidak ikut, tapi sebagai gantinya aku dukung Ezra, bagaimana?" tanya Intan memandang yang lainnya minta pendapat.


"Oke, nggak masalah," sahut Ezra menuai pekikan senang dari Intan.


"Kalau gitu aku dukung Queene," ujar Raiya kemudian berjalan ke arah Queene dan berdiri di sampingnya.


Sisa satu orang, yaitu Kei yang melihat tiga kandidat peserta taruhan dengan senyum canggung.


"Kamu pilih siapa Kei? pasti pilih Gavriel." tanya dan lanjut Queene dalam hati.


"Aku, em .... Aku dukung Gavriel aja deh, bolehkan?" balas Kei bertanya canggung.


"Boleh aja, jadi kita bertiga yang tanding, yang lain pendukung yah?" putus Ezra menuai anggukan setuju dari yang lain.


"Oke!"


"Let's go!"


Permainan pun di mulai, dengan Ezra sebagai pembuka.


Ezra mengeluarkan teknik permainannya, memutar-mutar bola basket sebelum memasukkan bole ke dalam ring dan berhasil.


"Yey! Berhasil!"


Intan berseru senang, saat peserta pilihannya berhasil memasukkan bola dengan tepat sasaran.


Keduanya tos untuk merayakan keberhasilan tim mereka.


Kini giliran Queene, maju dan mulai ancang-ancang memasuki bola ke dalam ring.


Ia menekuk kakinya layaknya pemain internasional, lalu melempar bola dan masuk meski sedikit berputar di cincin ring.


"Yey! Mba Queene, de bes!"


"Queene hebat!"


Queene tersenyum sombong, saat melihat Gavriel meledeknya.


"Baru segitu, sudah sombong," ledek Gavriel.


"Bleee!".


Gavriel pun maju, memegang bola basket dan memutar-mutarnya di jari tangannya, menunjukan kesombongannya kepada sahabat perempuannya, yang balas memutar bola mata bosan.


"Cih ... Pamer," dengus Queene sinis.


Setelah puas memamerkan kesombongannya di depan Queene, Gavriel pun memulai permainannya.


Satu tembakan tepat sasaran, dua tepat lagi dan begitu seterusnya hingga ia mendapatkan nilai sempurna.


Seruan semangat dari pendukung, saat ketiga sahabat ini bermain, membuat pengunjung lain penasaran dan ikut menyaksikan dengan pandangan antusias.


Tepuk tangan memenuhi arena permainan street basketball, membuat mereka kaget saat tiba-tiba pengunjung lainnya, ramai-ramai mengelilingi mereka.


Prok! Prok! Prok!


"Wah ... Hebat!"


"Pemain pro ini mah!"


"Wah ... Kakak itu tampan sekali!"


"Astaga! Kenapa bisa ramai begini?" batin ketujuh remaja ini kompak.


"Lagi-lagi-lagi!!"


Seruan permintaan untuk mereka melanjutkan permainan terdengar, membuat ketiga peserta taruhan melihat kerumunan dengan pandangan horor, apalagi saat ada remaja perempuan dan laki-laki seumuran, meminta diajarkan lempar bola oleh mereka.


"Tidak!!"


Selagi Gavriel, Queene dan Ezra merasa tersudutkan dengan pengunjung lain.


Selyn malah tertawa senang, saat melihat ketiga kakak menampilkan wajah frustrasi.


"Ha-ha-ha ... Rasakan!" serunya dengan tawa puas.


"Loh, kenapa kamu tertawa?" tanya Intan penasaran.


"Iya, kasian pacar kamu loh," sahut Raiya menyetujui.


Selyn menghadap dua teman kakaknya dan tersenyum dengan lebar, membuat tiga teman sang kakak melihatnya dengan kening berkerut.


"Tentu saja, kapan lagi melihat mereka ketakutan seperti itu. Ha-ha-ha, lucu sekali!" balas Selyn tidak perduli, jika balasannya malah semakin membuat ketiganya bingung.


"Ada yah pacar senang, liat pacarnya di kerumunin dan ketakutan seperti itu?"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2