Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Mas ... Kenapa?


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Gavriel sampai di rumahnya pukul delapan malam, setelah mengantar teman perempuannya pulang sampai rumah, tentunya berujung dengan ia yang hampir dipaksa untuk masuk ke dalam.


Ia jadi merasa enggan dengan sikap berlebihan, yang ditunjukkan keluarga teman sekelasnya, saat ia menjemput atau juga mengantar temannya tersebut pulang.


"Sepertinya mereka salah paham," batin Gavriel tidak habis pikir, ia menggelengkan kepalanya, melupakan kejadian yang menurutnya tidak penting.


Berjalan dengan santai, Gavriel baru ini keluar rumah tanpa ada adiknya yang ikut serta, membuatnya merasa ingin kembali ke masa saat mereka selalu berempat.


"Jadi kangen hang out bereng El, bareng mereka," gumam Gavriel dengan senyum kecil.


Di ruang santai terlihat Daddy, Mommy dan adiknya, yang saat ini sedang terlibat dengan obrolan yang sepertinya seru. Karena ia bisa melihat adik serta sang Mommy tergelak, dengan sang Daddy yang juga terkekeh kecil.


"Assalamualaikum, Momm, Dadd, El. Mas pulang!" seru Gavriel dengan nada datar seperti biasa, namun jika diperhatikan ada binar sedih dan itu membuat keluarga, yang mengenal Gavriel tentu saja mengernyit heran.


Ada apa?


Begitulah pikiran mereka kompak.


Kiara, sang Mommy yang penasaran tentu saja bertanya, tanpa harus menutupi rasa ingin tahunya.


"Gavriel, sudah pulang sayang. Kamu kenapa? Sini, duduk sama Mommy," ujar dan tanya Kiara lembut, tersenyum hangat kepada sang anak yang terlihat aneh.


"Gavriel tidak apa-apa Momm, hanya lelah. Aku langsung ke atas yah, tidak apa-apa kan, Momm, dadd," tolak Gavriel halus menjawab apa adanya, tersenyum tidak enak ke arah kedua orang tuanya dan adiknya, yang akhirnya hanya bisa mengangguk mengizinkan.


"Pertandingan tadi pasti sangat menguras tenaga, sebaiknya kamu segera istirahat. Oke, honey," balas Kiara memaklumi.


Gavriel mengangguk singkat, lalu melanjutkan perjalanannya, menaiki tangga dan berjalan lagi ke arah kamarnya berada.


Setelah sulung mereka tidak terlihat lagi, Kiara, si Mommy kepo tentu saja segera bertanya, kepada sang suami yang juga menampilkan raut wajah penasaran.


"Gav kenapa yah, Dadd?" tanya Kiara kepada suaminya, yang melihat ke arahnya dengan bahu terangkat tanda tidak tahu.


Woiya jelas ... Bagaimana bisa ia tahu, jika ia sendiri jarang bertemu kecuali di kantor, dan itu pun dengan tema bisnis.


"Biar El yang tanya, Momm, Dadd," sahut Selyn yang juga merasa aneh, dengan tingkah laku Mamas kesayangannya.


"Nanti saja yah, El sayang. Masmu pasti lelah," larang Dirga dengan kepala menggeleng, saat bontot kesayangannya hendak berdiri dari duduknya.


Selyn yang sudah hampir berdiri kembali duduk, mencebilkan bibirnya dan melipat wajah kesal.


"Tapi Dadd, Mas aneh," tandas Selyn tidak puas.


Niatnya kan baik, ingin menanyakan keadaan Mamasnya, yang menampilkan raut wajah kacau.


"Dadd tahu, tapi kamu masa lupa bagaimana Mamas? Mamasmu pasti akan diam saja," balas Dirga menjelaskan lembut, meminta dengan sabar agar sang anak bungsu mengerti.


Selyn mengangguk dan berdiri dari duduknya, menuai tatapan penasaran dari Mommy dan Daddynya.


"Mau Kemana?" tanya Kiara, mengerutkan kening ke arah Selyn yang menampilkan ekspresi seperti biasa, cengiran dengan ekspresi mirip seperti suaminya.


"Telepon Mba Que, mau nanya pertandingan, Momm."


Kiara menggeleng kepalanya, saat menyaksikan sendiri bagaimana bungsunya, menyayangi anak dari sahabatnya dan sahabat suaminya.


"Oke ... Nanti langsung istirahat yah," ucap Kiara, yang dibalas anggukan semangat dari bungsunya.


"Siap, Momm!"


Selyn menghampiri kedua orang tuanya, kemudian mengecup lembut pipi Mommy dan Daddynya.


"Oyasuminasai, Oka-sama, Otou-sama (Selamat tidur, ibu, ayah)."


"Oyasuminasai, El-chan (Selamat tidur, El)."


Selyn pun meninggalkan ruang santai, menyisakan sang Daddy dan Mommy, yang saling melihat, dengan Dirga yang menampilkan raut wajah menggoda.


"Kenapa liat aku seperti itu, dear?" tanya Dirga dengan alis naik-turun menggoda, menuai dengkusan dari sang istri yang memutar bola mata bosan.


"Bleh, ingat umur, jangan seperti anak muda," sahut Kiara kejam, kemudian meninggalkan suaminya yang hanya mampu terkekeh.


"Imut sekali."


"Aku dengar, sayang!"


"Sengaja," sahut Dirga santai, kemudian mengikuti jejak istrinya, menaiki tangga dan menyusul Kiara.


Ia dengan segera merangkul bahu istrinya lembut, menuai kekehan dari keduanya, saat mereka merasa seperti anak muda.


"Dasar tidak tahu malu, awas nanti ada yang komentar," bisik Kiara memperingati, namun sayang suaminya hanya mengangkat bahu acuh.


"Tidak perduli," dengkus Dirga, dengan tangan membuka pintu.


Ceklek!


Kemudian menutupnya, meninggalkan debaman pintu pelan.


Blam!


Di kamar lainnya, ada Gavriel si pemilik kamar yang sedang berdiri menghadap jendela, melihat ke arah kolam renang di bawah sana.

__ADS_1


Ia masih merenungkan masalah tadi, saat ia berbicara dengan sahabatnya, yang baru ini bisa ia lihat raut wajah kecewa, saat biasanya wajah itu selalu menampilkan raut wajah ceria.


"Apa aku salah langkah," gumam Gavriel pelan, melihat ke arah langit malam dengan bintang menghiasi.


"Apa aku secara tidak langsung telah menyakitinya, tapi aku juga sakit," lanjutnya masih bermonolog ria.


Besok hari minggu, minggu terakhir sebelum ujian semester pertama dan libur musim panas setelahnya.


"Aku tidak ingin seperti ini, tapi aku bahkan baru memulainya."


Disaat bersamaan


Di kamar lainnya, tepatnya di kamar dengan cat soft pink, serta foto besar si pemilik kamar, ada Selyn yang sedang bertelpon ria dengan Mba kesayanganya, siapa lagi kalau bukan Queeneira.


Ia tengkurap dengan kaki terayun, saat asik dengan obrolan seru bersama Mbanya, Mba yang sudah ia masukan dalam daftar satu-satunya kakak ipar, dimasa yang akan mendatang untuk Mamasnya tersayang.


"Seperti biasa, mereka berdua selalu tampil sempurna."


"Benarkah? Kenapa mereka selalu tampil sempurna, aku yakin pasti tingkat berisiknya bertambah. Tidak seperti saat SMP," pekik Selyn tidak terima.


Tentu saja tidak terima, saat Mamasnya dirayu dan dielu-elukan kakak perempuan lain, karena baginya cukup hanya ada Mba amuynya, yang akan ia anggap sebagai kakak iparnya kelak.


"Hum, tentu saja. Oh iya, kamu sedang apa?"


"Tidak sedang apa-apa, Mba. Mba sendiri sedang apa?" tanya balik Selyn, kali ini ia duduk dari tengkurapnya, saat merasa pegal tengkurap dengan waktu cukup lama.


"Mba sedang mengerjakan tugas, agar musim panas kita tidak terganggu."


"Benarkah? Kalau begitu harus sampai selesai yah," ujar Selyn senang.


Ah! Ia semakin tidak sabar untuk menyambut libur akhir semester, liburan musim panas ini. Ia berharap liburan mereka akan seseru liburan musim panas sebelumnya.


"Tentu saja, kamu langsung istirahat. Sampai jumpa nanti, El."


"Sampai jumpa nanti, Mba!"


Klik!


Panggilan berakhir, saat El yang tidak ingin mengganggu Mbanya mengerjakan tugasnya.


Sedangkan disaat bersamaan, di kamar Queeneira.


Ia saat ini sedang duduk di depan laptop miliknya, dalam keadaan menyala ingin melihat-lihat lagi foto-foto mereka.


Cukup lama ia berbincang ria dengan suasana hati, sebisa mungkin biasa saja tanpa membawa masalah, karena ia menganggap jika masalah ini hanya antara ia dan sahabatnya.


Baru saja sambungan telepon dari adik sahabatnya berakhir, adik sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Setelah berakhirnya sambungan telepon, ia kembali mengingat saat kejadian beberapa waktu lalu, kejadian di depan toilet dengan ia yang berani berbicara.


Bukan inginnya menumpahkan segala uneg-unegnya. Ia hanya ingin sahabatnya tahu, jika ia kesal dan marah dengan perubahan kelakuan tiba-tiba sahabatnya.


Ya ... Namun sayang sahabatnya sampai saat ini belum peka, bahkan dia menganggap dirinya yang enggan melihatnya. Ditambah dengan pertanyaan lucu, tentang ia yang dekat dengan kakak ketos gelo mereka.


Dekat darimananya?


Apakah dengan selalu memekik kesal disebut dekat dan akrab.


Sungguh aneh.


"Dasar, apa aku harus belajar untuk melupakanmu juga, setelah aku belajar ikhlas berbagi perhatianmu dengannya?"


Queeneira bertanya kepada foto dua anak kecil, yang tersimpan dan tersusun apik dideretan file galeri didalam laptopnya.


"Tidak mungkin," jawabnya sendiri.


Ya tidak mungkin, tidak mungkin ia dengan ikhlas melupakan perasaan yang baru ini ia sadari, saat kedatangan pihak lain ditengah-tengah mereka.


Dulu saat mereka masih bertiga, ia masih menganggap rasa aneh dalam dirinya, hanya lah rasa seperti biasa.


Tapi, saat sahabat atau juga sepupu sahabatnya bertanya, tentang kelakuan anehnya saat ia melihat dia dekat dengan yang lain. Dari situ ia mulai mencari tahu dan menyadari , alasan ia yang tiba-tiba kesal dengan kedekatan sahabatnya dan teman perempuan barunya.


"Apa aku harus pergi dulu, baru kamu sadar, Gavriel," bisik Queene menatap senyum polos gigi kelinci dari sahabatnya, saat mereka foto berdua dengan tubuh saling berpelukan, foto yang sama yang ada di dalam kamar sahabatnya.


Kembali pada Gavriel, yang saat ini masih berdiri di depan jendela kamarnya.


Gavriel yang sedang larut dalam lamunannya tersentak kaget, saat tiba-tiba mendengar ketukan pintu, disusul suara tegas Daddynya.


Tok! Tok! Tok!


"Gav! Ini Daddy."


"Daddy," bisik Gavriel penasaran, kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya segera.


Ceklek!


Di hadapannya saat ini ada sang Daddy, yang menatapnya seperti biasa, serta tidak ketinggalan map di tangannya. Map yang tentu saja sudah ia ketahui apa, jika sudah sang Daddy yang memegangnya.


"Ya Dadd?" tanya Gavriel tidak penasaran.


"Ikut Daddy, kita ke ruang kerja," ajak sang Daddy, sebelum berbalik arah menuju samping di mana ruang kantornya berada.


"Hn," gumam Gavriel, mengikuti jejak langkah sang Daddy dari belakang.


Mereka pun memasuki ruang kerja milik Dirga, duduk berhadapan di sofa dengan map terbuka di hadapan Keduanya.


"Apa Daddy bermaksud memberikan pekerjaan ini untukku?" tanya Gavriel lugas dan tepat sasaran, saat sudah diperlihatkan sebuah surat kerjasama, yang belum ada tanda tangannya.


Entah kenapa jika soal pekerjaan, Gavriel selalu bisa dengan mudah memahami isi, bahkan sebelum melihat.

__ADS_1


"Betul, kamu bisa membaca dan mempelajarinya, lalu putuskan," balas Dirga sambil mendorong map tersebut, menuai anggukan kepala mengerti dari si sulung kebanggaannya.


Mereka pun terdiam dengan Gavriel yang membaca singkat, hanya melihat poin, sebelum ia bawa kerjaan barunya ke kamar, untuk dipelajari lebih lanjut.


Di keterdiaman keduanya, Gavriel yang merasa terganggu melihat sang Daddy, membuat Dirga yang merasa dilihat pun ikut melihat ke arah Putranya, dengan alis terangkat yang dimengerti oleh sang putra.


"Dadd," gumam Gavriel menurunkan wajahnya, berpura-pura melihat berkas padahal itu hanya pengalihan.


"Hn?" gumam Dirga menyahuti panggilan Putranya.


"Tidak jadi," sahut Gavriel saat ia menimbang, jika ia masih belum siap bercerita, membuat Dirga menatap Putranya curiga.


"Ada apa?" tanya Dirga, namun sayang Putranya hanya menggeleng, mengangkat berkas dan berdiri dari duduknya.


"Tidak ada Dadd, aku hanya belum ketemu poin yang harus dibahas di dalam map kerja sama ini," elak Gavriel menutupi, membuat Dirga mau tidak mau menghela napas. Mencoba untuk memahami keadaan sang putra, yang saat ini dalam mode diam dan hanya bisa menunggu kesiapan Putranya nanti.


"Oke, tanyakan apa saja jika kamu sudah siap. Got it?" putus Dirga menekan kata apa saja, saat ia merasa ini bukan lagi tentang pekerjaan, namun hal lainnya yang masih berhubungan dengan mood sang putra.


Gavriel merasa jika sang Daddy tidak ingin memaksanya, maka ia pun mengangguk untuk kemudian pamit dari ruangan Daddynya.


"Goy it, Dadd," jawab Gavriel mengerti.


Gavriel keluar dari ruangan sang Daddy, bertepatan dengan sang adik, yang hendak mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa, El?" tanya Gavriel tiba-tiba, membuat Selyn yang hendak mengetuk pintu menoleh ke arahnya.


Dengan senyum lebar seperti biasa, sang adik menghampirinya, memeluk lengannya erat dan menariknya untuk memasuki kamarnya sendiri.


"El, mau cerita," ucap Selyn semangat, membuat Gavriel hanya bisa pasrah saat dirinya diseret paksa.


"Oke-oke, pelan-pelan saja El," tegur Gavriel, saat Selyn dengan bar-bar menarik lengannya semangat, tapi sayang sang adik hanya terkekeh mendengar teguran darinya.


"Tidak sabar bercerita Mas," sahut Selyn disela-sela kekehannya.


Mereka pun memasuki kamar milik Gavriel, dengan si bontot yang langsung merebahkan diri di atas ranjang empuk milik kakaknya.


Bruk!


Gavriel hanya mendengkus geli, lalu berjalan dan meletakkan map di atas meja kerjanya, kemudian menghampiri sang adik saat ia dapat kode, berupa tepukan semangat dari adiknya di permukaan ranjangnya.


"Ada apa?" tanya Gavriel, duduk dihadapan adiknya, yang langsung memberinya senyum cerah lengkap dengan binar bahagianya.


"Mas, kan tadi El telponan sama Mba Que, kami ngomongin masalah liburan," tutur Selyn semangat, memulai ceritanya masih dengan ceria, tanpa tahu jika sang kakak merasa denyutan di jantungnya saat sang adik menyebut nama itu.


"Lalu?" tanya Gavriel berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Apa Que tetap ingin melanjutkan liburan ini, disaat kami ada salah paham seperti ini," lanjut Gavriel dalam hati.


"Tentu saja Mba Que juga tidak sabar, bahkan Mba Que bilang sedang mengerjakan semua pekerjaan rumah, agar liburan nanti tidak terganggu," jelas Selyn semakin semangat.


"Queene bahkan bisa bersikap biasa sama El," batin Gavriel tertohok.


"Benarkah?" tanya Gavriel apa adanya, bingung harus berekspresi seperti apa.


Ia senang .... Tentu saja, tapi ia juga takut jika liburan yang di rencanakan adik kesayangan akan kacau, karena ia dan Queene sedang ada masalah, dengan rasa aneh ikut serta didalamnya.


"Iya, Mba Que bilang tidak sabar berlibur dengan kita, El senang sekali!" pekik Selyn senang, dengan air muka cerah yang terlihat benar-benar nyata di penglihatannya.


"Apa yang harus aku lakukan," batin Gavriel bingung.


"Mas juga tidak sabar," timpal Gavriel mencoba ikut antusias. Tapi sayang, sang adik yang tahu ada yang salah dengan ekspresi sang kakak, menatap balik kakaknya serius dan menggenggam dan meremas tangan kakaknya lembut.


"Mas, ada apa-apa yah."


Bukan pertanyaan tapi pernyataan yang diucapkan seorang Selyn, kepada Gavriel kakaknya yang sangat ia mengerti luar-dalam.


Gavriel sedikit terkejut, tapi ia dengan lihai menyembunyikan raut wajah terkejutnya, dengan senyum kecil dan menepuk kepala adiknya lembut.


Puk! Puk! Puk!


"Mas tidak ada apa-apa," elaknya semeyakinkan mungkin, membuat sang adik menggembungkan pipi sebal, saat sang kakak menutupi sesuatu darinya.


Tapi ia tahu, ia tidak bisa memaksa kakaknya bercerita, jadi ia hanya mampu mengangguk dan berharap jika perasaan khawatirnya salah.


"Yakin Mas? Oke deh, kalau memang tidak ada apa-apa," desah Selyn pasrah, membuat Gavriel diam-diam menghembuskan napas lega, memandang adiknya dengan senyum geli.


"Yakin, kamu tidak perlu khawatir, got it," balas Gavriel, dengan hati meminta maaf saat lagi-lagi ia harus berbohong pada yang lainnya, jika tadi sang Daddy maka kali ini sang adik, karena ia tidak ingin adiknya khawatir kepadanya.


Tapi ia tidak tahu, ia bisa atau tidak menyembunyikannya, jika itu sang Mommy yang bertanya.


"Got it," gumam Selyn diiringi dengan anggukan kepala imut, membuat Gavriel yang melihatnya terkekeh kecil.


Adiknya selalu mampu membuatnya senang, melupakan sejenak kerisauan hatinya.


"Tapi Mas, El harap Mas tidak sedang dalam masalah. Apalagi itu dengan hati," ucap Selyn dengan makna terselubung, membuat Gavriel lagu-lagi tersentak namun ia masih bisa mengontrol raut wajahnya tetap tenang.


"Tentu saja, El. Kamu tidak usah khawatir," bisik Gavriel membawa adiknya dalam pelukannya, bukan untuk menenangkan hati sang adik, tapi nyatanya ia sendiri yang mencari kenyaman dari suhu tubuh adiknya.


"Hum ... El mengerti," gumam Selyn mencoba memahami situasi.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2