Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Godain Mas Dulu


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Gavriel pulang dengan rasa letih luar biasa, ia menaiki satu per satu anak tangga, setelah berpamitan dengan sang Mommy, yang sedang membuat kudapan di dapur bersama sang adik, Selyn.


Ceklek!


Ia membuka pintu kamarnya, lalu meletakkan tasnya di meja belajar sekaligus meja kerjanya.


Oh sepertinya ada yang kelupaan, ia melirik jam digital di nakas samping tempat tidurnya.


Pukul. 15:00


Itu artinya, ia hanya punya beberapa puluh menit untuk bersiap, pergi ke kantor sang Daddy sesuai janjinya tadi pagi.


Tidak ingin terlambat datang ke kantor Wijaya, Gavriel pun segera memasuki kamar mandi, menghilangkan lengket dan bau keringat yang menempel di tubuhnya.


Tidak lama sekitar lima belas menit kemudian, Gavriel keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang, tangannya sibuk mengusak rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Disaat ia sedang berjalan menuju ruangan sebelah, ia dikagetkan dengan bunyi ketukan pintu kamarnya, disusul dengan suara cempreng khas sang adik.


Tok! Tok! Tok!


"Mas! Buka Mas!"


"Astaga, aku lagi buru-buru," gumam Gavriel, namun tetap membukakan pintu untuk sang adik.


Ceklek!


Gavriel pun membuka pintu kamarnya, dan menemukan sang adik yang berdiri dengan cengiran khasnya.


"Mas, mau berangkat lagi?" tanya Selyn basa-basi, membuat Gavriel mendengkus, namun sekali lagi tetap menjawab pertanyaan dari sang adik.


"Iya ... Mas punya janji dengan Dadd, kenapa?" balas dan tanya Gavriel.


Ia membalikkan tubuhnya, dengan Selyn yang mengekor dibelakangnya tanpa malu.


Padahal sang kakak sedang dalam keadaan seperti itu, Selyn tetap cuek dan segera menjatuhkan dirinya di kasur milik sang kakak.


Brugh!


Gavriel sendiri tidak heran dengan sikap sembarangan si bontot, ia hanya menggelengkan kepala sebentar, lalu memasuki ruangan lain, tempat baju-bajunya tersimpan rapih.


Setelah rapih dengan setelan semi formalnya, Gavriel keluar dari ruangan tersebut dan menemukan Selyn yang sedang tengkurap dengan laptop menyala dihadapannya.


"El pinjam laptop," gumam Selyn meminta izin, yang sebenarnya percuma, karena laptop sang kakak sudah diinvansi.


"Izin atau kasih tahu?" tanya Gavriel memutar bola matanya sudah biasa.


"Nggak dua-duanya, cuma biar dibilang sopan saja," balas Selyn dengan cengiran khasnya.


Gavriel menggelengkan kepala kagum, saat adiknya selalu berhasil membuatnya gemas.


"Kalau begitu tidak usah bilang," dengkus Gavriel pura-pura kesal.


"Ble ... Seterah aku dong, Mas!" seru Selyn sambil menarik kantung matanya, meledek Gavriel yang segera menghampirinya.


"Terserah, bukan seterah," ralat Gavriel, sambil mengusak rambut adiknya gemas.


"Sengaja Mas, biar typo!" seru Selyn kemudian terkekeh renyah.


Gavriel pun mau tidak mau ikut terkekeh, apalagi saat melihat wajah ceria sang adik, yang beberapa minggu ini tidak bisa ia jumpai.


"Jangan sering typo, nanti ditimpukin readers seperti Author, baru tahu rasa loh," canda Gavriel, membuat sang adik semakin terkekeh geli.


"Kalau dia mah bukan sengaja typo, tapi emang rajanya typo Mas," sahut Selyn ikut bercanda.


(Astaga, Author sendiri dijulid, seneng banget dah. Kabur El.)


"Oh ya, Mas!" seru Selyn saat mengingat apa yang ingin ditanyakan, menuai gumaman dari sang kakak yang saat ini sedang memakai blazernya, di depan cermin setinggi tubuhnya.


"Hn?"



"Mas, sudah kasih tahu Mba dan Mas Ez belum. Soal ajakan dari El, liburan nanti?" tanya Selyn, duduk dari tengkurapnya.

__ADS_1


Ia memandang kagum penampilan Mamasnya, yang selalu tampil memukau.


Ah! Pantas saja, ciwi-ciwi diluar sana banyak yang terpikat oleh pesona sang kakak.


"Sudah, mereka bilang iya dan oke saja."


"Benarkah? Yey!"


Selyn berseru senang saat sang kakak berkata seperti itu, ia tidak sabar untuk menyambut liburan musim panas tahun ini.


"Mas!"


"Hn?"


Gavriel yang sedang memasukan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya, menoleh saat sang adik memanggilnya lagi.


"Mas! Nanti liburan, Mas nggak sibuk, kan?" tanya Selyn berharap.


Gavriel memikirkan sejenak jadwalnya, lalu menggeleng saat yakin ia free ketika liburan tiba.


"Kalaupun ada pekerjaan, Mas usahain free, oke."


Selyn mengangguk semangat, saat sang kakak berjanji dengan waktunya.


Semenjak sang kakak bekerja setelah sekolah, ia jadi jarang bertemu kakaknya.


Hanya saat pagi hari, ia bisa melihat rupa kakak dan sang Daddy, selebihnya ia akan menghabiskan waktu dengan sang Mommy atau sepupunya Kimimela.


"Benar yah ... Mas tambah handsome kalau seperti itu, he-he," sahut Selyn dengan kekehan senangnya.


"Jadi, Mas handsome hanya waktu seperti ini saja nih, yang lain-lain tidak?" goda Gavriel pura-pura kesal.


"He-he ... Mas handsome kok, but Daddy more handsome than Mas, blee!".


Gavriel mendengkus kesal, saat Ketampanan haqiqinya disandingkan dengan sang Daddy.


Yang benar saja!


"Nggak jadi lah liburannya. Sana El sama Dadd saja, biar Mas dengan Momm di sini," ujar Gavriel ngambek.


"Makanya Mas, cepat cari kekasih, jadi ada yang bilang Mas tampan. Pokoknya kalau belum punya kekasih, Mas tampan, tapi lebih tampan Dadd. Titik."


Selyn meledek sang kakak yang segera menghampirinya, rambutnya yang rapih dengan gemas diusak oleh sang kakak, namun ia tidak protes, justru ia senang dengan interaksinya dan sang kakak.


"Biarin, kamu sama yang lebih tua tidak sopan. Nyuruh Mas punya pacar, uang sekolah saja masih minta sama Daddy," balas Gavriel masih dengan tangannya yang usil.


"Tapi Mas sudah bekerja, wajar dong!" seru Selyn tidak terima.


"Kat-


Ceklek!


"Astaga! Kalian ini!" seru sang Mommy, berdiri di depan pintu dengan tangan berkacak pinggang.


Kepalanya menggeleng, saat melihat anak sulung dan anak bontotnya sedang saling mengacak rambut.


Gavriel dan Selyn kompak menoleh, melihat ke arah sang Mommy yang melihat ke arah mereka dengan ekspresi geli.


"Momm, Mas bilang Mas punya kekasih. Padahal kan, Mas masih kecil!" seru Selyn memutar balikan fakta, menuai protesan tidak terima dari sang kakak.


"Momm, El bohong. El yang nyuruh Gav cepat cari kekasih!" timpal Gavriel meluruskan.


Kiara, yang mendengar perkataan berbeda dari dua anaknya menatap Gavriel dan Selyn bergantian.


Ia tahu dengan jelas siapa yang mengada-ada, dan juga siapa yang berbicara jujur.


Anak laki-lakinya tidak akan berani menatap, jika dia salah dan berbohong, beda lagi jika dia sedang jujur.


Sedangkan Selyn, si bungsu bawelnya selalu merecoki sang kakak, jadi ia tahu, jika bungsunya saat ini sedang bercanda.


"Loh! Bagus dong, punya kekasih. Apa yang salah?" tanya Kiara pura-pura polos, menatap kedua anaknya bergantian, menuai seruan setuju dari Selyn, sedangkan Gavriel mendesah pasrah.


"Ah! Terserah Momm dan El saja, Mas harus segera ke kantor. Nanti gaji Mas dipotong, alamat nggak bisa nyicil beli rumah," gerutu Gavriel, sambil menutup tanpa mematikan laptop yang tadi dipakai sang adik.


Ia berjalan ke arah mejanya, mengambil tas kerjanya dan berjalan ke arah sang Mommy, yang terkekeh senang saat berhasil mengerjainya.


"Gav berangkat dulu, Momm. Ada yang mau disampaikan untuk Dadd? Mumpung aku belum berangkat nih," goda Gavriel, membuat sang Mommy tersedak saat sang anak balik menggodanya.


"Apa sih, nanti Momm jodohin sama tetangga sebelah, baru tahu rasa loh," balas Kiara mencubit gemas pipi sang anak..


"Momm, jangan coba-coba."

__ADS_1


Sang Mommy dan sang adik tergelak, saat lagi-lagi bisa mengerjai Gavriel, yang merinding saat Mommy Kiara menyebut nama anak tetangga sebelah.


Ia masih ingat dengan jelas, saat anak tetangga sebelahnya, mengirimkan kedipan maut ketika ia melintas sepulang jogging keliling kompleks.


Itu sebabnya, ia tidak pernah lagi olahraga keluar halaman, dan memilih untuk berolahraga di halaman rumah sendiri.


"Mas takut sama tante di sebelah, astaga! Ini berita heboh Momm, mari kita sebar luaskan di medsos!" seru Selyn tertawa tanpa sungkan, saat melihat ekspresi ngeri dari sang kakak.


"Momm punya fans club, bagaimana kalau posting disana saja?" sahut Kiara menyetujui usulan si bontot.


"Setuju Momm!" seru Selyn semangat.


Gavriel mendengkus saat kedua perempuan kesayangannya kompak, iya ... Kompak menggodanya.


Padahal sang Mommy bilang, jika ia adalah anaknya, sekarang malah balik badan ikut serta dalam hal membully dirinya bersama si bontot, yang semakin tergelak di atas ranjangnya sana.


"Ya ... Ya ... Ya, kalian lah penguasa bumi ini, Mas hanya remahannya," dumel Gavriel ngambek.


Berbeda sekali saat di luar rumah, ia akan menunjukkan banyak ekspresi, jika itu dengan perempuan yang disayangnya.


"Mas kalah, kita menang Momm!"


"Ha-ha-ha ... Tentu saja El," sahut sang Mommy senang.


"Sudahan lah, Gavriel berangkat dulu Momm, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam, sayang!"


"Waalaikum salam, Mas!"


Gavriel hanya menoleh dan tersenyum singkat, lalu menurun tangga dengan terburu-buru.


Ia mengumpat kesal, saat melihat jarum jam pada arlojinya, yang saat ini menunjuk angka 3.40 dan itu artinya, ia hanya punya lima belas menit perjalanan.


Ia harus secepat mungkin sampai di kantor, kalau tidak ia akan di bully sang Daddy, karena Daddynya paling tidak suka dengan orang yang datang terlambat.


Ia dengan segera memacu si merah kesayangannya, dengan kecepatan maksimal berharap ia cepat sampai tujuan.


Tidak sia-sia ia sering balapan, ilmunya kepakai juga saat dibutuhkan seperti ini.


Brum!


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sepuluh menit kemudian, motor yang dikendarai oleh keturunan dari Wijaya ini sampai, di parkiran luas perusahaan keluarganya.


Ia dengan segera membuka helmnya, kemudian merapihkan sedikit tatanan rambutnya, dan melangkah dengan lebar masuk ke dalam gedung perusahaan sang Daddy.


Setiap karyawan yang berpapasan dengannya pasti menyapanya, bukan hanya karena ia adalah anak dari pemilik perusahaan, tapi karena kebanyakan yang menyapa adalah kaum betina, sehingga Gavriel harus ekstra tahan untuk tidak merinding saat mendapat sapaan berlebihan.


"Astaga, apa aku harus mengeluarkan jurus seperti Daddy?" batin Gavriel bingung.


Ia pun mengenyahkan pikirannya, dengan menggelengkan kepalanya kecil, ketika ia sudah memasuki lift menuju lantai di mana sang Daddy berada.


"Huft ... Untung nggak telat," gumamnya bersyukur.


Ting!


Ia pun dengan segera berjalan menuju ruang Direktur, atau juga ruangan milik sang Daddy.


Letaknya masih sama, dengan pintu ganda terbuat dari kayu berkualitas tinggi.


Ia mengetuk pintu sedikit keras, kemudian pintu terbuka dengan Dani, yang tersenyum hangat menyapanya.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


"Selamat sore, Tuan muda!"


"Hn, sore Pak Dani."


Dani pun mempersilakan Gavriel masuk, dengan Gavriel yang tiba-tiba mengernyit.


"Gavriel sudah datang."


"Haloo ... Nak Gavriel!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.


__ADS_2