Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Taruhan Konyol antar Bapak Anak


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Mansion wijaya Muda


Pagi cerah menyambut Mansion Wijaya lagi, yang kali ini sedang di selimuti kegembiraan.


Di halaman belakang terlihat Tuan rumah yang sedang berjalan dengan tangan berpegangan pada tiang, yang sengaja di buat untuk latihan Dirga berjalan.


Di sebelahnya ada istri dan anaknya yang setia menemani. Memberi dukungan mental dan menyemangati dengan senyum lebarnya.


"Dadd, lan, ain!"


Kiara terkekeh saat mendengar Celotehan Sang anak, yang mengira jika Sang Daddy sedang berjalan sambil bermain.


"Ngejek Daddy nih! Awas yah sampai sana nanti, Kamu Daddy gigit loh ..." sahut Dirga pura-pura kesal.


Sesekali Ia harus menahan ringisan, saat merasakan sengatan di setiap langkah kakinya. Pangkal pahanya ada trauma, saat dulu Ia memaksakan diri menendang penjaga saat di sekap dulu.


"Hi-hi, Dadd, baaa!"


Si buntalan bernama Gav yang beberapa minggu lagi genap berumur satu tahun, terkikik dengan tangan membuka dan menutup wajahnya, sepertinya Ia sedang menggoda Sang Daddy.


"Kesayangannya Mommy sudah pintar mengejek yah, awas loh nanti tidak di gendong lagi sama Daddy. Mau, heum?" ujar Kiara.


Ia berjongkok di depan Sang anak, yang menatapnya polos apalagi senyum lebar senantiasa terpatri di wajah Gav.


"Ndong,Mom-mom Ndong!"


"Yah ... Kenapa jadi minta gendong sama Mommy?" tanya Kiara pura-pura tidak mau.


Kiara melengoskan wajahnya, melirik Sang anak yang mencoba menggapai dirinya dengan tangan bantetnya.


"Hei kid, bagaimana kalau kita taruhan, siapa yang lebih dulu berjalan, akan mendapatkan perusahaan yang ada di Eropa?" ujar Dirga setelah sampai di hadapan Sang anak.


Ia duduk lesehan, menemani Gav yang sedang merangkak di lantai dalam gazebo.


Gav yang di tanya seperti itu hanya melihat Dirga dengan tatapan polosnya, lalu tertawa saat Daddynya memekik sakit, ketika Mommynya menjewer kuat telinga Sang Daddy.


"Gav masih kecil sayang, bagaimana bisa Kamu berbicara tentang perusahaan. Mau Aku bakar yah, berkas Kamu yang ada di kantor, heum?" ujar Kiara dengan senyum manisnya.


Dirga terkekeh saat mendengar nada mengancam dari belahan jiwanya, di tambah Sang anak yang bertepuk tangan dengan kekehan renyahnya.


"Mom, Dadd, akit anan!"


Keduanya menoleh ke arah Gav, yang melihat ke arah mereka dengan tatapan berkaca-kaca, sepertinya Dia kasihan dengan Sang Daddy, yang saat ini telinganya di jewer oleh Sang Mommy.


"Kenapa sayang?" ujar Dirga bertanya.


Ia mengusap kepala Anaknya, yang saat ini ada di pangkuan Kiara.


"Dadd, akit,"


"Tidak sayang, Daddy sudah tidak sakit!" seru Dirga semangat.


Ia membawa Gav ke pangkuannya, yang di sambut anaknya dengan ceria, oh ... Sepertinya itu hanya akal-akalan dari Anaknya agar Ia memangku tubuh buntalnya.


"Hi-hi! Dadd,"


"Senang sekali di gendong Daddy," ujar Kiara dengan senyum cerianya.


Gav segera mengigiti jari-jari bantetnya, dengan tubuh melonjak heboh,membuat Dirga terkekeh. Untung saja luka dan rasa sakit sudah tidak seberapa, kecuali saat di pakai berjalan.


Kiara memberikan mainan karet, yang di terima Gav segera lalu di gigitnya gemas.


"Nanti Mommy potongin buah yah, sekarang gigit ini dulu!" ujar Kiara.


"Bagaimana sayang, sudah ada kemajuan?" lanjut Kiara bertanya.


Ia menatap suaminya, yang saat ini sedang menjauhkan jari tangan Gav, ketika Gav hendak mengigitnya kembali.

__ADS_1


Sebelum menjawab Dirga mengangkat wajahnya, melihat ke arah Kiara lalu tersenyum.


"Sudah lebih baik sayang, Kamu tenang saja!" balas Dirga lembut.


"Syukurlah, Kita harus sabar menjalani ini semua yah. Apapun dan sampai kapan pun, Aku akan selalu ada di samping Kamu, dukung Kamu selalu sayang. Aku dan Gav, akan mendampingi Kamu, hingga Kamu bisa jalan seperti sedia kala!" seru Kiara semangat.


Dirga mengangguk mendengar perkataan semangat dari Kiara, Ia mengecup lama kening Sang istri dengan hati menghangat.


"Terima kasih, sayang," bisik Dirga.


"Selamat siang, Bos!"


Kegiatan mereka terganggu, saat suara orang tiba-tiba terdengar, suara canggung yang mereka hafal milik siapa.


Dirga melihat ke arah datangnya suara, ada Dani yang berdiri dengan senyum canggung, merasa datang di waktu yang tidak tepat.


"Hn, ada apa, Dan?" tanya Dirga datar. Tapi Dani yang mendengar suara biasa saja dari Bos-nya tahu, jika kedatangannya di terima.


"Saya bawa berkas yang penting, tentang permintaan untuk sponsor di salah satu sekolah," ujar Dani menjelaskan.


Dirga mengangguk paham, lalu mengambil Kruk dan berdiri dengan tubuh tegap, tanpa rasa sakit lagi.


"Kita bahas di kantor," ujar Dirga setelah berpamitan dengan Kiara.


Ia melangkah berdampingan dengan Dani, yang menjelaskan tentang proposal yang di bawanya.


Sementara Kiara dan Gav yang di tinggal melanjutkan kegiatannya, apalagi kalau bukan berlatih berjalan.


Gav dengan semangat mulai berdiri sesuai instruksi, lalu berjalan tertatih satu dua langkah dan jatuh.


"Ug!"


"Sabar sayang, semangat dong!" seru Kiara.


Ia terkekeh saat lagi-lagi Gav berdiri namun terjatuh lagi, begitu seterusnya hingga Kiara tidak kuasa menahan tawanya.


"Aha-ha ... Ayo sayang, coba terus!"seru Kiara dengan tangan terulur menanti Gav, yang terus-terusan mencoba.


Sepertinya Gav semangat saat mengingat jika Ia punya taruhan dengan Sang Daddy, perusahaan besar segitu siapa yang akan menolak. Iya kan Gav?


"Ada Geonandes juga?" tanya Dirga tanpa menatap Dani.


Ia sibuk membolak-balikkan beberapa laporan, yang Dani bawa salah satunya proposal sebagai sponsor ini.


"Iya, Bos!" balas Dani cepat.


"Oke ... Acc saja, tidak masalah. Lalu kapan acaranya?" tanya Dirga lagi.


Ia sekarang fokus melihat Dani, yang sedang mengingat jadwal pertandingannya.


"Hum ... Kalau tidak salah, beberapa bulan kedepan," balas Dani lupa-lupa ingat.


Dani mumet sendiri saat Ia harus banyak menghendle meeting, tanpa kehadiran Sang Bos. Belum lagi dokumen kerja sama yang jumlahnya tidak terkira, karena Ia adalah tangan kanan kepercayaan Dirga jadi apapun yang menurut Ia terbaik, Bos-nya juga berfikir demikian.


Meski tidak semua tapi hampir separuh kerja sama, Dani lah yang mengambil alih dengan izin Hendri sebagai penanggung jawab.


"Apa kira-kira Gue bisa dateng yah," gumam Dirga berbisik.


Tapi dani mendengarnya, sehingga Dani tersenyum kecil, menahan sedih di hatinya.


Bos-nya, sahabatnya, serta orang yang telah menolongnya tanpa pandang bulu, harus mengalami kejadian na'as karena rasa iri dan dengki seseorang.


"Gue harap setelah ini, tidak ada lagi kejadian seperti kemarin," batin Dani berdoa.


"Bisa Ga, Gue yakin Lu pasti bisa berjalan dan menghadiri acara nanti!" seru Dani semangat.


Dirga yang mendengarnya tersentak kaget, Ia kira Gumamnya hanya bisa di dengar sendiri, ternyata tangan kanannya memiliki indra pendengaran yang cukup tajam.


Ia tersenyum atau lebih tepatnya tersenyum miring, melihat Dani dengan tatapan songongnya seperti biasa.


"Tentu saja, Gue itu Dirga Mahesa Wijaya. Apa yang nggak mungkin jadi mungkin, apa yang nggak bisa jadi bisa dan apa yang menurut orang mustahil, Gue bisa lakuin!" balas Dirga dengan dagu terangkat.

__ADS_1


"Sial, udah di bela-belain kasih semangat, balasannya songong banget. Nyesel banget dah Gue," gumam Dani kesal.


Meski begitu di dalam hati Ia tetap tersenyum, setidaknya sahabatnya bukan orang yang mau orang lain tahu, apa yang sedang Dia rasakan.


"Nggak butuh, kasih Gue laporan keuntungan lebih manfaat," sahut Dirga dengan senyum mengejek.


"Pret ...."


"Aha-ha-ha!"


Dirga tertawa keras saat Sang asisten mendengus kesal, karena ulah songongnya.


Sudah Ia bilang, lebih baik orang tahu Ia yang songong di banding dengan melihat raut wajah kasiahan untuknya.


Skip


Pembahasan tentang proposal dan dokumen lainnya sudah selesai, saat ini Dirga sedang berjalan ke arah belakang, dimana tempat terakhir Ia meninggalkan istri dan anaknya.


Dari sini Ia bisa melihat, bagaimana istrinya memberi semangat kepada Anak mereka, yang saat ini sedang berjalan satu dua lalu jatuh lagi.


Ia tersenyum dan dalam hati berdoa untuk kebahagiaan Anak dan Istrinya.


Dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, segalanya di atas kehidupannya sendiri.


"Segalanya jika itu untuk kalian, apapun akan Daddy lakukan," gumam Dirga pelan.


Lalu Ia menggerakkan kruknya, menghampiri dua orang yang sangat di sayanginya.


"Wah .... Semangat sekali, ikutan belajar jalan dong!" seru Dirga membuat Kiara segera menoleh ke arahnya,sedangkan Gav berhenti lalu terjatuh.


"Dadd!"


"Yes kid, Kita belajar dari awal yah!" seru Dirga menyahuti.


"Hi-hi,alan,"


"Kalau begitu di mulai dari merangkak yah Daddy, kan belajar dari awal!" seru Kiara menggoda.


"Apa?"


"Hi-hi .... Nah sayang, Kita kedatangan bayi baru, bayi besar loh. Hi-hi!"


"Hi-hi!"


Kikikan Gav terdengar, saat Sang Mommy menggoda Dirga dengan panggilan bayi besar. Sedangkan Dirga sendiri pasangan wajah manyun, saat Istrinya menggoda dan meledeknya bayi besar.


Tapi tidak lama, saat seringainya muncul menggantikan wajah kesalnya.


"Aku bayi besar yank?" tanya Dirga dengan maksud.


"Iya, bayi besar!"


"Boleh minta susu dong?"


"Hah?"


"Mom mom tu tu, mum tu tu!"


"Yah Dirga, jangan sembarangan!"


"Aha-ha-ha!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih sudah membaca.


Geonandes atau Nicho geonandes dari novel Mine.


Wisley Internasional School sekolah dari novel Reinkarnasi Cinta Si Cantik Ruby.

__ADS_1


Sedikit notes:


Kruk Alat bantu yang bisa digunakan individu atau secara pasangan. Bisa dipakai sementara ataupun ataupun permanen. Kruk terdiri dari kruk lengan (Lofstrand) yang memiliki pembalut logam di lengan bawah, dan kruk aksila yang disandarkan di bawah ketiak.


__ADS_2