Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Gagal Sebelum Berjalan


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


SMA TRISAKTI KOTA


Sesuai dengan rencana dari Pak Daniel, saat ini di area parkir sekolah Trisakti sudah berkumpul, anggota dari tim basket dan cheerleaders, yang bersiap dengan kendaraan masing-masing.


Mereka menunggu Pak Daniel serta ibu Jessica, sebagai pembina mereka sekaligus orang dewasa, yang akan mengawasi jalannya perayaan.


Ada sekitar dua puluh orang termasuk Queene, yang ikut atas permintaan Ezra dan Pak Daniel sendiri pun tidak keberatan, karena ia tahu jika ketiga sahabat ini selalu bersama.


Sebenarnya akan ada wakil dari OSIS yang juga ikut sebagai perwakilan, itu sebabnya mereka masih menunggu kehadiran orang tersebut.


Gavriel sudah siap dengan penampilan santainya, dengan kemeja putih bergaris hitam, yang tidak di kancing dan dalaman kaos berwarna putih, tidak ketinggalan tas di bahunya.


Sedangkan Ezra sendiri memakai kemeja kotak-kotak hitam tidak di kancing juga, serta dalaman kaos berwarna putih.



Di sampingnya ada Queene, yang memakai jaket kulit berwarna hitam, dengan dalaman berwarna putih pula, rambutnya ia kuncir seperti biasa, kunciran kesukaanya yaitu kunci ekor kuda.



Gavriel berdiri dengan Keineira yang berdiri bersisihan, membuat beberapa orang menatap keduanya dengan tatapan iri, tidak lupa siulan menggoda, saat Kei, Queen bagi para siswa, dekat dengan Gavriel, King bagi para siswi.



"Sorry ya, lama!"


Semua orang yang sedang menunggu seorang perwakilan, dari pihak OSIS melihat ke arah asal suara.


Di ujung sana mereke melihat Pak Daniel, serta ibu Jessica dan perwakilan OSIS yang ternyata adalah ketua OSIS sendiri, yang telah rapih dengan outfit santainya.



"Jadi, kemana kita Pak?" tanya sang kapten basket mewakilkan, namanya Benny murid kelas tiga satu-satunya saat yang lain adalah anggota baru kelas dua dan satu.


Pak Daniel melihat satu per satu muridnya, lalu melihat ke arah ibu Jessica yang juga melihat ke arahnya.


"Ada restoran lumayan terkenal tidak jauh dari sini, tempatnya nyaman dan cocok untuk mengobrol santai, bagaimana?" tanya Pak Daniel meminta pendapat.


Semua anak didiknya mengangguk mengiyakan, menyetujui usulan Pak Daniel yang sebenarnya sudah menentukan lebih awal, ia hanya ingin semua muridnya setuju tanpa terkecuali.


"Setuju pak!"


"Bagus, kita sebaiknya cepat berangkat, keburu sore," putus Pak Daniel semangat, yang lagi-lagi dibalas semangat oleh muridnya.


Mereka pun bersiap untuk menaiki kendaraan mereka masing-masing, ada yang membawa motor dan juga ada yang membawa mobil pribadi.


Gavriel berangkat dengan Kei, yang dari awal sudah membooking kendaraan Gavriel, sedangkan Queene hanya mampu melihat, dengan Ezra yang juga melihatnya.


"Que, yuk ber-


"Oy! Ubrek, mau barengan?"


Ucapan dari Ezra terpaksa harus ditelan kembali, saat seseorang dengan santai menyelanya, sehingga keduanya melihat ke arah seseorang yang adalah ketua OSIS di sekolah mereka.


"Kenapa kalian melihat aku seperti itu?" tanya Ge tidak suka.


Emang sih ia ini tampan, tapi jangan segitunya dong melihatnya dengan pandangan seperti itu.


"Kakak ngajak siapa?" tanya Ezra menatap kakak kelasnya dengan alis terangkat.


"Queeneira lah, masa kamu," sungut Ge, melihat adik kelasnya kesal.


Masa iya, ia mengajak laki-laki sedangkan di hadapan mereka ada perempuan, mahluk yang diciptakan berpasangan dengan laki-laki.


"Adik kelas somplak," batin Ge kesal.


"Ya kali kak, tiba-tiba pindah haluan. Siap-siap saja say good bye dengan wajah mulusnya," sinis Ezra, saat mendengar jika sahabat amuynya di ajak dengan sok dekat, oleh kakak kelas mereka.


"Najis, geli woy!" seru Ge dengan wajah horor.


Apa-apa'an adik kelas somplaknya, sembarangan saja nyaplak dengan asoynya.


"Sudah, kalian ini jangan ribut deh. Malu dilihat netizen," timpal Queene tanpa dosa, menuai dengkusan dari dua laki-laki, yang merasa ucapan Queene tidak berfaedah.


Tuk!


"Ouch!"


Queene memekik pelan, saat ubun-ubunnya diketuk oleh sahabatnya yang kesal.


"Berisik Que," dumel Ezra menatap sahabatnya tidak peduli.

__ADS_1


"Bhuu,"


"Jadi, kamu mau ikut siapa? Aku atau ketos gelo itu?" tanya Ezra kurang ajar, menuai seruan tidak terima saat dirinya diolok gelo, oleh adik kelasnya yang menatap tidak perduli.


"Waah! Minta diberi ini bocah!"


Queene menggelengkan kepala heran, saat Ezra si santai dengan sekitarnya tiba-tiba berubah, menjadi sensian dengan kakak kelas mereka.


"Ah! Kalian ini, sudah cukup. Kak Ge, aku sama Ezra, kakak sama yang lain aja," lerai Queene kemudian memutuskan untuk bersama dengan sahabatnya, dari pada dengan kakak kelasnya, yang punya niat baik untuknya.


"Padahal aku lagi baik loh, kamunya nggak mau. Oke deh, tapi jangan seperti itu lagi yah," ucap Ge menyerah, lalu mengingatkan dengan nada perduli pada Queene yang mengangguk mengerti.


"Iye, reseh banget sih," dengkus Queene sebal, saat diingatkan tentang kejadian di taman tadi.


"Oke-oke, anak-anak sebaiknya kita berangkat!" seru Pak Daniel sehingga mereka akhirnya berangkat dengan beriringan, kalau dalam bahasa anak muda konvoi kendaraan.


Gavriel yang mengendarai motor dengan Kei di belakangnya, hanya bisa terdiam saat melihat sahabat perempuannya tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Dan itu membuatnya kesal, tidak suka dan marah disaat bersamaan.


Apa Queene sudah merasa jika ia sedang menjauhinya, sehingga Queene juga enggan melihatnya.


Di belakangnya Kei yang merasa Gavriel hanya diam merasa canggung, ia berdehem untuk mencari perhatian Gavriel dan akhirnya berhasil, saat Gavriel menoleh ke arahnya.


Ehem!


"Gav, kamu kenapa?" tanya Kei khawatir, ia memajukan wajahnya saat ia tidak mendengar suara jawaban dari teman laki-lakinya.


Gavriel pun menurunkan kecepatan laju motornya, berjalan paling terakhir dibandingkan yang lainnya.


"Hn, aku kenapa?" tanya Gavriel balik bertanya.


"Kamu ,sepertinya sedang tidak bagus moodnya."


Itu bukan pertanyaan tapi pertanyaan dari Kei, yang merasa aneh semenjak mereka selesai bertanding tadi.


Gavriel yang tiba-tiba menghilang dari kerumunan anggota basket, lalu kembali dengan wajah seperti orang kesal dan marah.


"Sebenarnya ada apa," batin Kei penasaran.


"Aku biasa saja, Kei. Hanya perasaanmu saja," balas Gavriel seadanya.


"Baiklah," gumam Kei pasrah, lalu memundurkan wajahnya lagi untuk bersandar pada punggung Gavriel, saat Gavriel menambahkan kecepatan laju motornya.


Gavriel memelankan laju kendaraannya, saat sudah bersisihan dengan motor yang dikendarai sepupunya.


"Ez!" seru Gavriel memanggil sepupunya sedikit keras, mengingat Ezra masih memakai helm full face.


Tangannya yang ada di pinggang sahabat mengepal, saat melihat pemandangan menyakitkan itu.


"Perlukah hingga menempel seperti itu," pikirnya dalam hati, tentunya dengan hati perih pula.


Gavriel menyadarinya, saat sahabat perempuannya menoleh dan melihat ke arah siapa yang di boncengnya, untuk melengos lagi dengan raut wajah kesal.


"Apa Queene tidak suka lagi, berdekatan dengaku," batin Gavriel belum peka juga dan masih salah paham.


"Apa Gav?" tanya Ez dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya.


"Mau sampai jam berapa?" tanya Gavriel, menoleh ke arah depan dan sampingnya bergantian.


"Sampai selesai, aku free kok," balas Ezra tanpa menoleh dan fokus ke arah depan sana, ia ikut menyalakan sein, ke arah kiri saat melihat rombongannya berbelok.


Gavriel pun mengangguk sebagai jawaban mengerti, ikut menyalakan sein lalu parkir di area parkir restoran bergaya modern, bersebelahan dengan motor sport milik sepupunya.


Mereka pun jalan bersama dan memilih duduk, dengan satu buah sofa berbentuk bundar dengan kursi kecil di sekitarnya.


Mereka duduk dengan segera dan saling bersenda gurau, sambil menunggu Pak Daniel kembali dari meja pemesanan.



Pak Daniel datang dengan seorang pelayan, yang tersenyum ramah menyambut mereka. Menanyakan dengan sopan pesanan, sesuai keinginan mereka dan mencatat dengan segera.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, tidak henti mereka berbincang dengan tema pertandingan, yang menurut mereka seru dan juga menantang.


Di antara mereka ada dua orang yang saling melihat, dengan seorang lagi melengos saat seorang lainnya mengajak dia berbicara.


Gavriel, yang mendapatkan lengosan wajah dari sahabat perempuannya kesal, ia dengan sengaja melirik ke arah sebelahnya, tepatnya ke arah Kei yang dari tadi mengajaknya berbicara.


Selanjutnya mereka pun berbincang, dengan pasangan masing-masing, meski sesekali akan berbaur sambil menunggu pesanan, yang akhirnya pesanan mereka pun datang.


Memakan dengan sesekali bersenda gurau, Queene yang selalu di recoki oleh si ketua OSIS gelo, hanya mampu mencebilkan bibirnya kesal, balas melotot ke arah Ge yang tertawa tertahan.


Sedangkan Gavriel yang melihatnya hanya diam, dengan tangan mengepal erat di bawah meja, meskipun ia membalas setiap pertanyaan dari teman disebelahnya, nyatanya hati dan pikirannya tidak di tempat.


"Kenapa mereka akrab seperti itu," batin Gavriel dengan rasa kesal di hati.


Makan selesai, acara terus berlanjut dengan obrolan ringan lainnya, di tengah-tengah acara Pak Daniel yang tiba-tiba ada panggilan darurat dari keluarga harus pamit undur diri, membuat muridnya hanya bisa mengangguk Kerena ini di luar kendali sang guru.


Tidak lama dari kepergian Pak Daniel, ibu Jessica juga harus pamit lebih dulu, namun sudah menghimbau murid-muridnya untuk segera pulang.

__ADS_1


Meskipun mereka mengiyakan himbauan sang guru, nyatanya mereka tetap duduk dan melanjutkan obrolan seru mereka.


Sisa 18 orang, dengan kapten basket yang paling tua diantara mereka, serta ketua OSIS sebagai pengganti para guru.


Queene yang merasa ingin ke kamar mandi, berbisik kepada sahabatnya yang mengangguk mengizinkan. Diikuti Gavriel yang juga berdiri, berjalan dengan arah sama dengan sahabat perempuannya.


Kepergian keduanya membuat Ezra melihat ke arah dua sahabatnya khawatir, takut jika mereka tidak sengaja saling bersinggungan.


Keineira pun merasa, jika kepergian keduanya akan ada hal apa-apa, ia pun memutuskan untuk ikut pergi, namun sayang Ezra lebih dulu mencegahnya.


"Kei, mau kemana?"


Keineira melihat ke arah Ezra dan arah kemana Gavriel pergi bergantian, membuat Ezra semakin yakin jika Kei ingin segera menyusul dua sahabatnya.


"Toilet," jawab Kei dengan senyum kecil.


"Bukannya kamu baru saja ke toilet," sahut anggota cheerleaders yang lain, karena memang benar tidak lama selesai makan, mereka ke toilet bersama.


Keineira diam, saat tidak bisa menyangkal ucapan benar adanya dari timnya, ia pun melihat sekali lagi ke arah sana dengan helaan napas pasrah.


"Heum ... Iya yah," gumam Kei sambil tersenyum canggung.


Ezra bisa sedikit bernapas lega, karena setidaknya jika pun kedua temannya ada obrolan pribadi, mereka tidak akan terganggu dengan kehadiran orang lain di antara mereka.


Queeneira bukan orang yang suka memperpanjang masalah, begitu pula Gavriel yang diam meski sedang marah.


Tapi ia tidak tahu, jika ini sudah menyangkut masalah pribadi mereka. Dan ia sudah merasa jika memang akan ada apa-apa, saat ia melihat tatapan mata tidak biasa dari kedua sahabatnya.


"Aku nyerah deh, aku masih belum mengerti dengan rasa rumit seperti ini, apalagi ini antara kedua orang yang sama-sama aku sayangi."


Ezra hanya berharap jika apa yang di khawatirkannya, tidak akan benar-benar terjadi di sana, serta ini hanya perasaannya semata dan ia hanya meminta tidak ada akan yang lebih parah, dibandingkan dengan perang dingin yang dilayangkan oleh sepupunya sebagai awal dari rencana sang sepupu sendiri.


"Mudah-mudahan cepat sadar ya, Gav," batin Ezra meminta dengan tulus.


🍃🍃🍃🍃🍃


Permintaan Ezra tidak benar-benar di kabulkan, saat keduanya bertemu di persimpangan menuju toilet restoran.


Gavriel berdiri menjulang di hadapan Queeneira, yang terkejut karena tiba-tiba ada sahabatnya yang muncul dari persimpangan.


Kenyataannya memang Gavriel menunggu Queene, menunggu sahabatnya selesai dengan urusannya di toilet sana.


Keduanya saling melihat, tanpa ada yang berbicara, hingga salah satu dari mereka menghela napas, lelah karena keterdiaman meraka yang berlangsung cukup lama.


Gavriel sebagai laki-laki tentu lah yang pertama, ia merasa aneh saat dirinya tidak di lihat, namun ia sendiri tidak sadar jika sendirinya lah, yang memulai dengan Queene sebagai korbannya.


"Queene, kamu kenapa tidak melihatku?" tanya Gavriel menatap sahabatnya dengan tatapan tanpa emosi, lebih tepatnya menyembunyikan emosi.


Berapa lama mereka bersahabat?


Hampir 16 tahun, tentu saja Queene tahu jika Gavriel saat ini sedang menahan rasa marah.


Tapi buat apa? Seharusnya ia lah yang marah dan kecewa disini.


"Siapa yang tidak melihat siapa?" ujar Queene balik bertanya dengan nada tenang.


"Kamu, kenapa kamu tidak melihat ke arahku?"


"Dan sejak kapan kamu akrab dengan kakak ketua OSIS kita?"


Gavriel bertanya dengan bertubi-tubi, masih dengan nada datar menyimpan emosi.


"Aku? Tidak salah? Gavriel wake up, kamu yang dulu menghindariku, kamu yang dulu menjauhiku," balas Queene menatap Gavriel dengan kecewa, membuat Gavriel yang akhirnya bisa melihat kekecewaan jelas di mata sahabatnya tersentak kaget, dengan denyutan nyeri di jantungnya.


"Queene," bisik Gavriel lirih.


"Dan kamu bertanya sejak kapan aku akrab dengan kak Ge? Seharusnya aku yang bertanya, sejak kapan kamu lebih memilih orang lain untuk berjalan bersisihan denganmu dan kamu juga meninggalkan kami, meninggalkan aku?" cecar Queene bertanya dengan menahan emosi.


Queeneira mengepalkan tangannya disisi kanan dan kiri tubuhnya, menahan segala macam emosi yang sebenarnya ingin ia tumpahkan namun tak sanggup.


"Aku tidak meninggalkanmu, aku hanya ingin berjalan sambil bertukar tanya dengannya, aku juga sudah berpamitan dengan kalian, bukan," elak Gavriel, menyangkal tuduhan yang benar adanya.


"Gavriel aku tidak mengerti ini, tapi aku harap jika memang kamu masih menganggap aku sahabatmu, tolong hargai aku," tandas Queene dengan segenap rasa lelah, akan ketidak jelasan sahabat yang sangat dicintainya.


"Que, apa maksudmu?"


Gavriel menatap Queene tidak percaya, kenapa seperti ini, ia hanya ingin meyakinkan perasaan aneh dihatinya, bukan ingin perpecahan dengan sahabatnya.


"Pikirkan sendiri, Gavriel. Aku harus kembali ke meja," balas Queene sebelum meninggalkan Gavriel, yang menatap punggung sang sahabat dengan nanar.


"Bukan, bukan ini yang aku mau, aku hanya ingin rasa aneh ini jelas, sebelum aku mengambil keputusanku, akan kepada siapa aku memberi hatiku," gumam Gavriel lirih, merasa gagal saat rencananya belum berjalan, namun nyatanya lebih awal menemui kegagalan.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2