
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Bel tanda belajar dimulai sudah berbunyi, Ge yang tadi diusir dengan nada aneh oleh adik kelasnya melangkah dengan langkah pelan. Keningnya berkerut memikirkan alasan perubahan sikap adik kelasnya, menebak siapa yang paling memiliki peluang membuat Queeneira seperti itu.
Ia melihat dengan jelas, jika laki-laki sahabat Queeneira__Gavriel lewat dan mendiamkan Queeneira, yang hendak menyapa namun tidak jadi, saat Gavriel melewati Queeneira begitu saja.
Bukan, pasti bukan hanya itu saja yang membuatnya aneh dengan tiba-tiba. Tapi saat adik kelasnya yang lain lah yang membuat Queeneira seperti ini. Ia yakin ini dengan sangat, jika ini adalah penyebab utamanya.
Tangannya mengepal menahan rasa ketidaksabarannya, untuk bel istirahat agar ia bisa dengan jelas bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan adik kelas kesayanganya.
"Sialan, jika ini karena dia atau perempuan itu, pasti ada sesuatu yang memicunya," gumam Ge lirih, sehingga Ardan yang duduk di sebelahnya mengernyit, saat mendengar Ge yang menggerutu seperti dengungan lebah.
"Kenapa lu?" tanya Ardan penasaran, berbisik saat di depan mereka ada guru killer yang sedang menjelaskan pelajaran Matematika, dengan rumus akar dan segala sesuatu yang membuat Ardan kejang-kejang seketika.
"Huh? Oh! Nggak apa-apa, emang kenapa?"
Ge yang tidak fokus balik bertanya, tapi tidak bisik-bisik malah dengan seenaknya, bertanya santai dengan suara tanpa dosa. Sehingga bukan jawaban dari Ardan yang ia terima, melainkan lemparan spidol dari Pak Somad, mengenai telak pucuk kepalanya yang nyut-nyutan seketika.
Wush!
Pletak!
Wanjeerrr
"Ups!"
Ge yang punya kebiasaan asal ceplos seketika menutup bibirnya, dengan telapak tangan yang tadi mengusap ubun-ubunnya merasakan sakit. Ekspresinya menjadi horor, saat melihat wajah dengan senyum manis(Murka_red) dari Pak Somad, yang berdiri menghadapnya saat ini.
Perasaan tadi Pak Somad liat papan tulis, kenapa jadi liat gue sambil senyum-senyum gitu, wah curiga gue.
Ge hanya bisa tersenyum dengan bibir tersenyum iklan pasta gigi(Nyengir), saat Pak Somad menghampirinya dan berdiri di samping mejanya.
Mamvus gue, tamat dah tamat.
"Rajendra Glen Saputra," desis Pak Somad, mengeja nama Ge dengan nama kepanjangannya, sehingga Ge pun semakin gugup dengan apa yang akan terjadi.
"Iy-iya Pak, selamat pagi. Semangat belajar, ayo kita belaja-
"Selamat pagi-selamat pagi, liat saya sedang apa ini, heum."
"Adu-du-duh ... Sakit Pak, maaf!"
Dengan gemas Pak Somad yang terkenal tegas ini menarik telinga Ge, yang segera mengaduh kesakitan sangking kuat telinganya ditarik oleh Pak Somad.
"Maaf-maaf, kamu pikir kita sedang diskusi, heum. Sehingga suara kamu bebas keluar seperti itu, iya, begitu?" tanya pak Somad, dengan Ge yang hanya bisa minta maaf.
"Iya Pak, maaf, nggak lagi-lagi pak. Suwer dah, Pak!"
Pak Somad pun melepaskan apitan jari tangannya dari telinga Ge, yang segera mengusap telinganya dengan bibir mengeluarkan desisan sakit.
"Awas kamu masih saja berisik."
"Iya Pak!"
"Istirahat nanti, kamu rapihkan rumput taman belakang. Inget, rapihkan, bukan leha-leha. Paham!" perintah Pak Somad dengan tegas.
"Baik Pak, paham."
Pak Somad pun kembali ke depan kelas, kemudian memulai lagi pelajaran, menuliskan lagi rumus yang sedang ia ajarkan, tanpa tahu jika murid-murid yang di punggunginya terkikik kecil saat Ge menggerutu dengan bibir komat-kamit.
Reseh banget, suruh rapihin rumput, hell ... Kalau rumputnya cuma sepetak iya aja, nah ini hampir sama seperti lapangan bola. Muke gile dah.
🐌🐌🐌🐌🐌🐌
Beralih kepada Queeneira, yang saat ini juga sedang mengikuti pelajaran di kelasnya.
Suasana tenang saat guru di depan kelas sedang menjelaskan mata pelajaran sejarah. Murid-murid di kelas Gavriel dan Queeneira ini memperhatikan dengan serius, apa yang sedang dijelaskan oleh guru dengan nama Ibu Suprihatini.
Meskipun sedikit mengantuk, tapi itu tidak membuat mereka memperlihatkan keadaan mereka, mereka dengan punggung tegak serta mata dan telinga yang terbuka lebar, semangat mengikuti pelajaran saat ini.
Di antara mereka yang serius mendengarkan penjelasan, ada siswi yang juga mendengar dengan serius di luar, nyatanya hati dan pikirannya tidak saat ia memikirkan sebab dari perubahan sikap sahabatnya.
Ya ... Siswi itu adalah Queeneira, yang sesekali menoleh ke arah bangku sahabatnya, untuk melihat ekspresi wajah datar sahabatnya yang sedang memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh Ibu Suprihatin.
__ADS_1
Hatinya cemas dan gelisah, jika sampai sahabatnya salah paham dengan kedekatannya dan kakak kelas mereka.
Ia tidak mau jika sahabatnya salah paham dan berujung dengan ia yang dijauhi, apalagi sampai sahabatnya juga membuka peluang untuk teman sekelasnya, untuk bisa lebih dekat terlebih menggantikan posisinya.
Tidak, aku harus bertanya dengan jelas sama Gavriel dan Keineira. Aku mau tahu, apa maksud Keineira membisikan kata-kata seperti itu. Tahu apa dia tentang hubungan aku dan kak Ge. Kenapa dia yakin sekali kalau aku saat ini sedang menjalin hubungan dengan kak Ge.
Hatinya yang gelisah, tentu saja membuat sahabatnya yang lain__Ezra penasaran dan khawatir.
Ia datang terlambat karena suatu urusan mendadak. Jadi ia tidak tahu dengan kejadian yang terjadi, sebelum bel pelajaran di mulai.
Dalam hatinya berjanji, akan menanyakan sebab kegelisahan Queeneira, saat nanti waktu istirahat datang. Ia tidak ingin ada kesalahan pahaman lagi antara dua orang yang di sayanginya.
Ia juga melirik ke arah Gavriel, yang sama sekali tidak berubah raut wajahnya, masih datar tapi ia tahu jika sepupunya itu sedang menyimpan sebuah emosi, yang ia tidak tahu apa itu.
Sebenarnya ada apa, sebelum ini mereka masih biasa saja.
Lain Queeneira dan Ezra, lain juga dengan Keineira yang tersenyum semangat memperhatikan pelajaran di depan kelasnya.
Ia juga sesekali akan melihat ekspresi wajah teman sebangkunya, yang wajahnya masih tanpa ekspresi tapi ia tahu, jika saat ini Gavriel pasti sedang memikirkan perkataannya sebelum memulai pelajaran tadi.
Kedekatan mereka sudah terlihat jelas, apa kamu tahu jika ada yang bilang juga, jika kemarin mereka berduaan di perpustakaan, mereka melakukan hal yang wajar, jika pasangan kekasih melakukannya.
Aku tahu, tanpa perlu aku jelaskan pasti Gavriel mengerti apa perkataanku. Yah, walaupun masih belum mengerti, aku nggak keberatan kalau aku harus memperlihatkan buktinya.
Keineira tersenyum, saat ingat jika foto dengan dua orang tersangka di dalam masih tersimpan rapih di galeri fotonya.
Aku yakin, jika setelah ini dia pasti akan mendatangiku untuk bertanya. Keineira dan hatinya yang sedang bergembira tidak luput dari penglihatan seorang Ezra, yang tadi sedang melihat ke arah Gavriel.
Curiga adalah yang Ezra alami, saat melihat ekspresi terbalik dari dua sahabatnya.
Ini perempuan kenapa lagi, kenapa dia seakan senang seperti itu. Pasti ini ada hubungannya dengan dia, batin Ezra dengan perasaan tidak enak.
Jika benar seperti ini, maka hal yang ia lakukan juga bertanya dengan teman sekelasnya ini.
Benar-benar kelewatan, sebenarnya kenapa dia melakukan ini, hanya karena sebuah perasaan dengan nama suka.
Teng! Teng! Teng!
Bel istirahat pun berbunyi, seluruh murid pun mendesah lelah dan bahagia, saat mereka akhirnya bisa mengistirahatkan punggung mereka, saat tadi mereka duduk tegak memperhatikan pelajaran.
"Baiklah anak-anak semuanya, pelajaran kali ini sampai sini dulu. Selamat siang!"
Disaat seluruh murid berhamburan keluar kelas, Queeneira dan Ezra serta Gavriel dan Keineira, juga dua teman Keineira justru terdiam di bangku masing-masing.
Saat kelas sudah benar-benar sepi, Gavriel pun berdiri hendak ke ruang kepala sekolah untuk menemui kepala sekolah, membicarakan suatu hal yang dirinya sendiri saja yang tahu.
Bangun dari duduknya, hendak berjalan keluar kelas, Gavriel pun harus berhenti saat ia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dari balik punggungnya.
"Gavriel!"
Gavriel tahu itu siapa, ia pun berhenti namun tidak membalikkan tubuhnya, menanti kelanjutan dari kalimat yang akan diucapkan oleh sahabatnya.
"Gavriel, aku mau bertanya," lanjut seseorang itu__Queeneira.
"Hn. Nanti, aku harus ke ruang kepala sekolah," sahut Gavriel tanpa menoleh, lalu melanjutkan langkahnya dengan Queene yang mengulurkan tangannya, hendak menggapai namun berhenti di udara.
"Tap-
Ucapannya berhenti saat Gavriel meninggalkannya, keluar dari kelas dan belok ke arah ruang kepala sekolah berada.
"Que," gumam Ezra di belakang Queeneira, yang terdiam dengan ekspresi tidak percaya.
Sementara Queeneira yang menampilkan ekspresi tidak percaya, serta Ezra yang melihatnya sedih. Keineira justru keluar kelas dengan Intan dan Raiya yang berjalan santai, sedikit melirik dengan senyum mengejek ke arah Queeneira yang memegang lengan Keineira cepat, mencegah Keineira yang akan keluar kelas bersama dua temannya.
Grep!
"Lepas!" seru Keineira, menyentak kasar gengaman tangan Queeneira, yang tidak begitu saja langsung lepas, karena Queeneira mencengkram tangan Keineira kuat.
Hei! Queeneira itu karateka, ngerti kan maksudnya apa.
"Tidak! Kita harus bicara," ucap Queeneira tegas, sehingga Ezra yang di belakangnya segera mendatangi keduanya, mencegah saat melihat Queeneira yang hendak tersulut emosinya.
"Que!"
"Apaan sih, putus asa ya. Apa hubungannya dengan aku, kenapa kita harus bicara," tukas Keineira masih berusaha melepas gengaman tangan Queeneira, yang kekuatannya tidak main-main.
"Lepasin!" lanjutnya kemudian.
"Kita tentu saja harus bicara. Ini pasti ada hubungannya dengan kamu."
__ADS_1
"Apa sih, kasar sekali. Lepas Queeneira atau aku akan melaporkan ini kepada guru, kalau kamu telah melukai tanganku dengan cengkraman tanganmu," ancam Keineira, kemudian menyentak kasar tangannya yang di genggam kuat oleh Queeneira, kemudian terlepas untuk diusapnya segera.
"Keineira, jika kamu merasa tidak bersalah. Seharusnya kamu mau diajak bicara dengan Queene, tapi kenapa kamu malah menghindar?" tanya Ezra kesal dengan sikap Keineira, yang seperti sedang mempermainkan sahabatnya.
"Siapa yang menghindar? Aku ingin istirahat bersama dua temanku, kenapa kamu yang sewot sih Ezra. Kamu kalau tidak suka dengan kedekatan aku dan Gavriel, jangan seperti ini dong."
"Apa! Ah! Sial, kalau kamu bukan perempuan sudah ak-
"Apa? Apa yang akan kamu lakukan? Aku tahu kamu tidak suka aku dekat dengan Gavriel. Tapi apa kalian tidak mikir yah, emangnya Gavriel hanya akan kenal dengan kalian saja? Seharusnya kalian mendukung Gavriel untuk memiliki yang lainya, bukannya malah memonopoli Gavriel untuk kalian berdua. Apa aku salah, kalau aku juga ingin dekat dengan Gavriel."
Queeneira yang mendengar ucapan penuh dengan emosi dari Keineira menatap Keineira dengan emosi.
"Keineira, aku hanya ingin bicara denganmu, bukan ingin mencari masalah denganmu. Kenapa kamu membesar-besarkan masalah sepele ini sih."
"Kan aku sudah bilang, ini tidak ada hubungan denganku," tandas Keineira cepat.
"Kamu hanya perlu menjawab pertanyaan Queeneira, Keineira," timpal Ezra, menahan diri agar dirinya tidak ikut emosi.
"Tapi aku tidak ma-
"Kamu harus mau," sela Queeneira cepat, menarik tangan Keineira, membawa Keineira keluar kelas dan berjalan dengan langkah lebar, sehingga Keineira yang ditarik oleh Queeneira pun harus tergopoh mengikuti langkahnya.
"Queeneira, lepaskan aku!"
Seruan dari Keineira membuat teman-teman sekolah mereka melihat dengan berbagai ekspresi. Ya, karena saat ini sedang jam istirahat, maka di sepanjang koridor banyak berpasang-pasang mata, melihat apa yang sedang terjadi antara kedua perempuan tersebut.
Ada apa, pikir mereka hampir sama.
Queeneira tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Keineira, ia masih membawa Keineira hingga akhirnya sampai di dekat aula, yang kebetulan sepi jika sedang istirahat seperti ini.
Melepas gengaman tangannya, Queeneira pun berdiri berhadapan dengan Keineira yang mengusap pergelangan tangannya, saat melihat bekas merah di kulit putihnya.
"Queeneira! Apa-apaan sih! Sakit tahu! Kamu ini perempuan kok kasar sekali, pantas saj-
"Cukup! Aku tidak sedang ingin mendengar olokan kamu!" sela Queeneira dengan suara menahan kesal, membuat Keineira terdiam dengan perasaan sedikit takut.
Diam.
Keduanya pun sama-sama terdiam dengan pemikiran berbeda, Queene yang menenangkan diri dan Keineira yang masih meratapi nasib kulitnya yang memerah.
Setelahnya, Queene yang sudah merasa sedikit tenang pun melihat ke arah Keineira, yang juga segera melihat ke arahnya, namun masih dengan mengusap pergelangan tangan.
"Maaf, untuk tangan kamu," ujar Queeneira tulus, namun sayang Keineira hanya mendengkus sinis.
"Mudah sekali kamu meminta maaf, tidak akan aku maafkan."
"Terserah, bukan itu juga yang akan aku bahas kali ini," timpal Queeneira dengan mata berotasi malas, tidak jadi peduli saat ucapan permintamaafannya di tanggapi sinis.
"..."
"Baiklah, Keineira. Aku hanya ingin bertanya, apa yang kamu bisikan kepada Gavriel. Sehingga Gavriel tiba-tiba berubah seperti ini kepadaku, juga apa maksud ucapan kamu, yang bilang, Gavriel tahu aku sudah jadian dengan kak Ge. Tahu dari mana kamu, jika aku dan kak Ge punya hubungan, selain hubungan kakak dan adik kelas?"
Queeneira bertanya dengan lugas, melihat Keineira dengan serius. Bertanya dengan beruntun, kepada Keineira yang malah tersenyum ke arahnya.
Aneh sekali, batin Queeneira tidak habis pikir.
"Oh ... Masalah itu," sahut Keineira dengan nada mendayu, sehingga Queeneira pun semakin penasaran dengan kebenaran sesungguhnya.
"Ya. Jelaskan sekarang juga," pinta Queeneira tegas.
Keineira pun dengan santai menjelaskan apa yang ia katakan, dengan tangan membuka handphone yang ia ambil dari saku blazer sekolahnya.
"Loh! Bukankah kalian memang sudah jadian yah, bahkan kalian juga sudah berciuman?" jelas dan tanya Keineira dengan ekspresi manis dibuat-buat, membuat Queeneira menatap Keineira semakin tidak mengerti.
"Apa maksudnya?"
"Lihat ini."
Queeneira segera melihat ke arah layar handphone yang ditunjukkan oleh Keineira, pupil matanya melebar saat melihat foto yang terpampang di hadapannya.
Tidak, bagaimana mungkin.
Bersambung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya.
Terima kasih dan sampai babai.
__ADS_1