
Happy reading vrohh
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Keesokan harinya Kiara bangun dalam keadaan mata sembab.
Semalam Kiara benar-benar menghabiskannya dengan menangis dan meminta maaf, yang sampai kapan pun tidak akan pernah sampai.
Akibatnya moodnya untuk berkeliling pun turun di tingkat paling rendah.
"Huft ... Bagaimana ini!!!" seru Kiara kesal.
Rasanya Ia tidak ingin pergi ke mana pun hari ini dan ingin seharian di kamar bersemedi.
Ia sangat berharap punya kekuatan bisa mengulang waktu dan mengendalikan fikiran Sang Kakek.
"Andai Aku punya kekuatan super, uh!!!" gumam Kiara geli sendiri.
Sebenarnya Kiara ingin sekali menghubungi Sang Mama untuk melepas rindu dan meminta maaf. Namun Kiara belum sanggup untuk menerima kekecewaan dari Mamanya.
Awalnya sih emang tidak ingin keluar kamar, namun sayang suara dari perutnya membuat Ia mau tidak mau ke luar kamar untuk mengambil jatah sarapannya.
Peraturan Penginapan yang tidak memperbolehkan mengantar sarapan, menjadi aturan yang harus di taati, kecuali memesan makanan di luar makanan sarapan.
"Uhhh ... Peraturan yang aneh," gumam Kiara jengkel.
Tidak ingin mati karena kelaparan, Ia pun memutuskan untuk keluar sekedar memakan sarapan.
Kiara Mencuci muka seadanya, lalu turun ke bawah dengan langkah terseret.
"Malas, sungguh-sungguh malas!" batin Kiara.
Sepanjang lorong penginapan, terdapat pajangan lukisan pemandangan yang baru kali ini Ia perhatikan, maklum Ia bukan lah seorang manusia yang perhatian jika dalam keadaan.
"Fokus dengan sesuatu baru yang membuat Ku semangat" batin Kiara terkekeh geli.
Jangankan lukisan di lorong, pemandangan di luar kamarnya pun baru Ia perhatikan di hari ke tiga Ia menginap.
"Sebenarnya apa lagi yang belum Aku lihat di desa ini? Sepertinya desa ini kaya akan keindahannya!!!" gumam Kiara penasaran.
Ia pun mengangkat bahunya acuh, melanjutkan langkah terseretnya menuruni tangga dan berjalan menuju restoran berada.
"Makan apa hari ini?" gumam Kiara penasaran.
Ia pun memilih sarapannya dan mulai memakannya dengan khidmat, tanpa sadar jika orang di kanan dan kirinya melirik Ia dengan tatapan Penasaran.
.
Penginapan Dirga
Di penginapan pribadinya, Dirga sedang membaca laporan perusahaan melalui Laptopnya.
Tadi malam Papa nya yaitu Papa Hendri menelpon dan memberinya tugas untuk pergi ke luar Negeri.
Beliau bilang ada sedikit trouble, alhasil Ia pun di utus untuk menghandle Perusahaan mereka yang sedang bermasalah
__ADS_1
"Haih ... Ada-ada saja!!" gumam Dirga kesal.
Dirga dilema antara memilih menangani masalah Perusahaan atau melanjutkan Misinya.
"Walaupun bisa Gue atasi dengan cepat tapi bagaimana dengan nasib misi Gue?? Aish!!" gumam Dirga masih kesal.
"Bagaimana ini??" Lanjutnya bingung.
Dirga menyugar rambut depannya kebelakang untuk mengurangi rasa dilemanya.
"Nggak mungkin memilih satu,"
Biar Bagaimana pun perusahaan cabang yang Sedang bermasalah ini harus segera di tangani dan selesaikan,terlalu beresiko dan tentu saja mereka akan mengalami kerugian besar jika tidak segera di atasi.
"Masalahnya tidak seberapa fatal, tapi harus di tangani dengan benar," gumam Dirga.
Ia sudah mempelajari kesalahan dari masalah kali ini, tidak terlalu berat tapi kalau bukan Ia yang menangani Ia tidak yakin ada yang bisa.
Dirga tetap mencoba untuk tenang dan berfikir cepat menemukan solusinya.
"Apa Gue bilang, beberapa hari ini nggak bisa nemenin Dia yah??" gumam Dirga dilema.
Di saat Ia sedang pusing memutuskan untuk bilang kapada Kiara tentang absennya Ia menemaninya berwisata, sepertinya Tuhan tahu dan Sedang berbaik hati kepadanya.
Ternyata Kiara sendiri yang memberikan pilihan bagus dan menguntungkan untuknya, melalui sebuah pesan singkat dari Kiara, Dirga akhirnya bisa menghela napas lega merasa satu masalahnya sudah teratasi.
_____________________________
To: Dirga
Sorry Ga, hari ini Aku gak bisa berkeliling desa, Nanti kalau Aku sudah ingin berkeliling aku hubungin Kamu.
Thanks
_______________________________
Isi pesan yang di kirim Kiara untuknya di jawab dengan singkat tanpa mempertanyakan alasannya.
Saat ini Dirga sedang tidak fokus, Ia terlalu senang mendapat solusi tanpa harus berfikir.
_________________________________
To: Kiara
From: Dirga
Oke ... Kebetulan Aku harus mengantar Bibiku ke rumah sakit, mungkin lusa Aku baru pulang.
__________________________________
Setelah mendapat balasan "oke" dari Kiara, Dirga pun bergegas menelpon tangan kanannya untuk memesankan tiket pesawat untuknya.
Pengginapan Kiara
Setelah Kiara mengirim balasan pesan untuk Dirga dengan isi yang singkat dan terkirim, Ia dengan segera menekan tombol panggil ke kontak Elisa, Ia menunggu dengan sabar panggilannya di angkat.
__ADS_1
"Mudah-mudahan Elisa tidak sibuk," gumam Kiara berharap.
Tut! Tut! Tut!
Untunglah panggilan darinya, di terima pada nada sambung ke tiga.
"Haloo Sayangku .... Kangen ya sama Aku yang imut ini???"
Kiara terkekeh saat endengar jawaban narsis dari Elisa, Ia menggeleng kepala heran dengan tingkah narsis sahabatnya.
"Imut? Item mutung kali Sa!!!" balas Kiara menggoda Elisa.
"Dihh jahat banget sihh.... Ngambek niih"
"Masa ...." balas Kiara menanggapi dengan nada main-main.
"Cius loh ...."
"Bodo ...."
"Maksud Aku masa bodo, bleee!!!" lanjut Kiara cepat. Lalu meledek Sang sahabat yang terkekeh, terdengar lepas di pendengaranya.
"Ha-ha-ha, jahatnya!!! Ngambek beneran nih,"
"Ampun, takut banget!!" balas Kiara pura-pura takut.
"Dasar, jadi kali ini ada apa lagi?"
Kiara manyun saat Sang sahabat bertanya seperti itu, sudah seperti tiap hari saja Ia membuat masalah.
"Huh ... Emang Aku buat masalah apa? Aku anak baik-baik Sa!!" ujar Kiara tidak terima.
"Ha-ha-ha!!! Anak baik-baik tapi kabur dari rumah!"
"Oh ... Bergitu,bukannya ini semua ide seseorang di kafe waktu itu?" tanya Kiara dengan nada menyindir.
Lagi-lagi suara Elisa yang tertawa memenuhi pendengarannya, membuat Ia ikut tersenyum dan tertawa kecil.
"Oke, kalah deh debat sama Kiara Arya Wicaksono yang cantik tiada tara!!!"
"Humb .... Tentu saja, Aku gitu loh!!" balas Kiara bercanda.
Mereka pun tertawa bersama, setelahnya baik Kiara maupun Elisa saling tukar cerita, entah itu kabar masing-masing sampai ke hal-hal yang tidak penting lainnya.
"Thanks ya Sa ... Seenggaknya Aku bisa melupakan sejenak kesedihanku," batin Kiara.
Senyum kecilnya terbit di bibirnya, saat mendengar suara semangat dari seberang panggilan.
\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus ceritanya ya ...
Salam hangat dari aku, sehangat nasi dari megicom.
Bhubey
__ADS_1