
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Ruang operasi
Dirga melangkah masuk dengan badan gemetar takut, apalagi saat mencium bau obat-obatan yang membuat perutnya mual seketika.
Saat ini Ia sudah memakai baju steril berwarna hijau lengkap dengan masker dan penutup kepala. Di tengah-tengah ruangan Ia bisa melihat meja operasi dengan Kiara di atasnya yang ekspresinya kesakitan , seketika membuatnya ikut merasakan sakitnya.
Melangkah terburu menghampiri Kiara , Dirga segera memegang tangan kanan Kiara memberi kekuatan. Air matanya mengalir melihat air mata Kiara yang meggenang di sudut mata kiara, serta keringat besar menghiasi wajah pucat Istrinya.
Nyut ...
" Sayang kamu dengar Aku?" bisik Dirga lirih di samping telinga kiara yang kini sibuk mengedan sesuai instruksi Dokter.
" Ya Lord ... Kenapa sampai seperti ini!" batin Dirga panik , tapi pada saat kiara balas menggengam tangannya dengan kuat, meremas sekuat tenaga Dirga masih bisa bernafas sejenak karena akhirnya Kiara merespon panggilannya.
" Dir ... Dirga ... Ugh "
Kiara tersenyum lemah melihat raut wajah Dirga yang terlihat sekali paniknya, seakan Ia memberitahukan jika Ia saat ini dalam kondisi baik-baik saja.
" Sayang kamu kuat , kamu bisa yah.
Sebentar lagi Kita bisa bertemu Bocil kita sayang, Aku akan selalu di samping Kamu" bisik Dirga yang di angguki kiara pelan.
Kontraksi Kiara datang lagi, membuat kiara menggengam semakin kencang bahkan melepas dan ganti mencengkram lengan Dirga, hingga Dirga merasakan sakit namun di tahan ya. Baginya sakit yang Ia rasakan tidak sebanding dengan apa yang di rasakan Kiara saat ini.
" Pembukaan terakhir Nyonya , Ayok dorong lebih kuat , suster cepat bantu dorong dari atas perut nya, Tuan jangan sampai Istri Tuan tidur di tengah - tengah persalinan, jaga Dia tetap sadar"
Seruan perintah dari dokter yang menangani persalinan Kiara membuat Dirga segera melakukan sesuai apa yang di perintah tanpa banyak bicara.
Di samping kanan dan kirinya ada 2 orang Suster yang membantu mendorong dari atas perut Kiara , sedangkan Dokter yang menghadap di depan kiara semakin memberi instruksi kepada Kiara untuk mengedan semakin kuat karena kepala bayi yang mulai terlihat.
Dirga juga semakin merasakan sakit di lengan bahkan rambut kepalanya, saat kiara menjambak dan mencengkram kuat kepala serta lengannya.
" Sebentar lagi sayang , terus sayang.
Kamu bayangkan jika nanti bocil lahir dan kita akan pergi kemana-mana bertiga, kita akan bersenang--senang bersama"
Meski kalimat yang Ia keluarkan lirih bergetar menahan panik, tapi Dirga berharap Kiara akan mendengarnya.
ugggg .... Enggggg ... Huf ... Huh ... Hah ...
Kiara merasa jika miliknya semakin lebar terbuka , di tengah aktivitas Mengedannya ia mendengar suara memanggil namanya seakan memberi semangat , ini bukan suara Suaminya ataupun suara keluarganya dan suster yang menyemangatinya, melainkan suara Malaikat kecilnya yang berseru meyakinkan jika Ia bisa.
" Sayang kamu di sini! " batin Kiara berseru senang
.
" Kepalanya sudah terlihat "
" Dirga aku nggak kuat "
" Nyonya! Nyonya sedikit lagi"
" sayang kamu bisa!"
" Mommy pasti bisa"
Deg ... Deg ...
" Anakku ..."
" Uuugggghh"
" Aku bisa aku bisa! sebentar lagi "
Kiara mengatur nafas nya dengan bantuan Dirga yang menginteruksinya.
" Tarik nafas sayang, keluarkan perlahan, begitu sayang ayo!"
Huf ... Huf... Huf... Uggg Enggggg
Enggg ... Huuuff ... Nngggg
arrrggghhh ...
Entah kekuatan dari mana , Kiara yang sebenarnya sudah kehabisan tenaga mengedan sekuat- kuatnya dan dengan sisa terakhir tenaganya dan ...
Oek ... Oek ... Oek ...
Suara kencang tangisan bayi memenuhi ruang operasi persalinan , membuat semua orang baik Dokter yang menangani persalinan, Asisten Dokter dan Suster yang mengelap keringat serta membantu mendorong dari atas menghembuskan nafas lega dan tersenyum bahagia.
__ADS_1
Dokter segera meletakkan bayi merah dengan lumuran darah ke atas dada kiara yang seketika membuat kiara tersenyum di iringi lelehan air mata bahagia.
Kiara merasa lega dan plong setelah anaknya keluar dari dalam rahimnya.
Dirga jatuh merosot kebawah setelah Kiara melepas jambakan dan cengkraman tangannya di lengan dan kepalanya,
" Hah ... Hah ... Akhirnya" gumam Driga mengambil nafas rakus saat masa tegang yang tadi di lalui dengan kini berakhir .
" Kiara!"
Dirga segera bangkit dari lesehannya dan melihat dokter meletakkan bayi meraka yang masih merah berlumur darah di atas dada kiara.
Melihat senyum dan tangisan bahagia dari Kiara, saat kiara mendekap sayang bayi mereka membuat senyum lebar Dirga muncul seketika.
Anaknya , bocil yang di tunggu mereka akhirnya lahir ke dunia.
" Terima kasih Tuhan "
Dirga ikut menciumi bayi merah berlumur darah itu tanpa rasa jijik , lalu berganti menciumi seluruh wajah Kiara dengan kecupan sayang
" Terima kasih sayang , Kamu hebat , Kamu kuat , Kalian segalanya buat aku" bisik Dirga pelan di akhiri dengan tangisan bahagia darinya.
Ia tidak perduli jika saat ini sedang di lihat oleh staf medis yang membantu Kiara melahirkan, saat ini yang Ia tahu adalah senyum bersinar dari Kiara dan juga tangisan bocil nya dengan mulut bergerak seakan mencari sesuatu.
" Selamat Tuan Dirga , bayi Laki-laki yang sehat. Kami akan bersihkan terlebih dahulu dan mencatat rekam medisnya, baru kemudian bisa di pindah ke ruangan bayi.
Biarkan Nyonya Kiara beristirahat sejenak di sini dan akan di pindah ke ruangan setelah selesai membersihkan sisa di dalam rahim Nyonya Kiara " ujar Dokter Etty selaku Dokter yang menangani persalinan , menjelaskan dengan detail tindakan selanjutnya kepada Dirga yang mendengarkan dengan seksama .
Bayi mereka akhirnya di ambil untuk di timbang dan di bersihkan , sedangkan Kiara beristirahat sejenak dan kemudian akan di pindahkan ke ruangan yang sudah di pesan oleh Dirga jauh - jauh hari.
Di luar ruangan
Sebelumnya
" Sarah bagaimana Kiara?" tanya Fandi dengan nafas ngos - ngosan, saat Ia sampai di depan Sang istri yang sedang mondar mandir berjalan di depan pintu ruang operasi.
" Masih belum tahu By, Dirga yang menemani di dalam " balas Sarah setelah memeluk suaminya meminta kekuatan.
Fandi mengusap punggung Istrinya pelan sebagai penghibur, di depannya juga ada Hendri yang juga sedang menenangkan Putri yang saat ini sedang menangis khawatir, sedangkan Papanya duduk dengan ekspresi khawatir luar biasa.
" Nyonya, kamar Nyonya kiara sudah siap" seru Dani melaporkan kerjaannya yang tadi mengurus administrasi dan mempersiapkan kamar yang sebelumnya sudah di booking oleh Bosnya sendiri.
" Terima kasih Dani!" ujar Hendri tulus, membalas laporan dari Asisten Anaknya yang selalu bisa di andalkan.
" Sama - Sama Tuan Hendri !" balas Dani dengan kepala mengangguk pelan.
" Kenapa lama sekali!" seru Fandi gelisah saat Ia merasa sudah lama menunggu semenjak kedatangannya di Rumah sakit ini.
Terhitung sudah 2 jam sejak kedatangan Fandi dan 1 jam dari Dirga masuk , berarti Kiara sudah berada di ruangan selama 3 jam dan belum ada tanda- tanda keluar ruangan, bahkan suara tangisan bayi pun belum terdengar.
Semua yang menunggu di luar ruangan operasi Kiara semakin gelisah dan khawatir, harap harap cemas dan juga berdoa agar semuanya lancar.
Raka dan Amira yang melihat keluarganya berkumpul duduk dan juga ada yang berdiri di depan pintu segera berjalan sedikit cepat menghampiri mereka.
" Tente bagaimana Kiara?" tanya Raka kepada Sarah saat sudah di hadapan Sarah.
Sarah menggeleng lemas menjawab pertanyaan dari Raka , membuat nafas Raka semakin sesak saat membayangkan apa yang terjadi dengan Dirga nanti jika Kiara ada apa-apa.
" Ya Tuhan semoga semuanya lancar " gumam Raka berdoa, kemudian balas memeluk Amira yang saat ini sedang menangis saat mendengar bagaimana keadaan Sepupu iparnya.
" Mba Kiara "
" Sssttt ... Kita Doakan yang terbaik , jangan berfikiran yang tidak - tidak bor" bisik Raka menenangkan dengan tangan mengusap rambut Amira sayang.
" Bro!"
Raka menoleh ke arah belakang, saat mendengar namanya di panggil lalu melihat Faro yang berjalan cepat ke arahnya, dengan tangan menuntun Elisa yang berjalan mengikuti langkah lebar Faro di sampingnya susah payah.
" Pelan pelan aja Gebleg , Bini Lu lagi bunting"
Ujar Raka mengingatkan Faro yang saat ini hanya bisa nyengir kemudian meminta maaf kepada Elisa yang tersenyum maklum.
Ia pun jika sedang tidak hamil mungkin akan berlari mendatangi keluarga kiara yang menampilkan raut wajah tegang dan khawatir.
" Belum selesai Tante ?" tanya Elisa yang di jawab gelengan kepala oleh Sarah.
" Belum Elisa , masih di ruang operasi"
" Sudah berap
Oek ... Oek ... Oek
" Alhamdulillah "
Seketika suasana tegang yang tercipta tadi menjadi suasana bahagia, saat mendengar suara tangisan bayi yang keras.
Akhirnya mereka juga bisa menggembuskan nafas lega, saat melihat Dokter yang menangani operasi persalinan keluar dari ruangan.
__ADS_1
Mereka serempak menghampiri Dokter dan memberondonngi Sang Dokter dengan pertanyaan bernada panik yang isinya hampir sama.
" Bagaimana keadaan Kiara dan Anaknya?"
" Saat ini Nyonya Kiara sedang mendapatkan tindakan medis lainnya dan sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang inap"
" Apa bayinya sehat Dokter?" tanya bakrie dengan wajah berseri seri
" Sangat sehat Tuan , setelah di bersihkan akan kami antar ke ruangan Nyonya Kiara setelah Nyonya Kiara beristirahat dan siap menyusui"
Penjelasan terakhir dari Dokter bername tag Etty menutup pertanyaan mereka, karena setelahnya mereka melihat brangkar yang membawa Kiara sudah terlihat di pintu keluar dan bersiap untuk di pindahkan ke ruang inap.
Kiara di dorong dalam keadaan tidur, Kehabisan tenaga pasca melahirkan, di belakangnya ada Dirga yang tersenyum cerah.
walaupun wajah dan penampilannya berantak seperti habis di pukuli ketahuan maling tapi binar mata bengkaknya membuat mereka ikut tersenyum bahagia.
Hal yang di lakukan Dirga setelah keluar dari ruang operasi adalah memeluk Sang Mama memohon ampun dan berterima kasih.
Pengalaman hari ini membuatnya sadar, jika perjuangan seorang ibu melahirkan lebih berat dari pada hal lainnya.
Mempertaruhkan nyawa demi Anaknya bisa lahir dan melihat dunia, bahkan dengan memberikan seluruh isi dunia ini tidak akan bisa membayar perbuatan dan pengorbanan untuk Ibu kita.
" Terima kasih Mah , Maafin Dirga " bisik Dirga lirih
" Selamat sayang, kamu sekarang jadi seorang ayah " ujar Putri memberi selamat alih- alih mambalas permintaan maaf Dirga, karena baginya Apapun itu jika untuk anaknya ia rela memberikan.
Dirga juga melakukan hal yang sama kepada Papa dan Mertua serta kedua kakeknya, meminta maaf dan berterima kasih atas segalanya.
" Selamat Bro ... Launching juga akhirnya" seru Raka bahagia memeluk sebentar, dengan Dirga yang balas menepuk bahunya dengan kekuatan nggak main-main.
" Bangke ... Untung lagi bahagia "
" Selamat jadi orang tua Ga, Jangan lupa Perjodohannya! "
Kali ini Faro yang tetap dengan santainya mengingatkan masalah perjodohan absurdnya
" Tergantung anak lu nanti cakep atau nggak "
Jawaban dari Dirga mengundang tawa Raka yang meledek Faro yang langsung memasang wajah songongnya
" Anak lu bakal tergila - gila sama anak Gue nanti, liat aja!" seru Faro yakin mendengus kesal saat melihat dua sahabatnya malah pasang wajah cuek nggak perduli.
Ruang Rawat kiara
Saat ini Kiara sudah pindah di ruangan vip berfasilitas lengkap , di sofa yang ada di dalam ruangan Kiara telah duduk kakek dan orang tua serta sahabat menunggu Kiara bangun dari tidurnya.
Dirga di samping Kiara, dengan tangan senantiasa menggengam dan mengecup tangan Kiara sayang.
Bayi mereka belum bisa di bawa ke ruangan karena Kiara masih belum bangun, tapi mereka sudah melihat bergantian melalui kaca besar pembatas.
Bayi laki-laki sehat dengan bobot 3.6 kilo dan panjang 48 cm , berkulit putih, rambut hitam lebat serta hidung mancung dan bibir tipis sepertinya.
Dan fandi memanggilnya Sungguh copyan si songong.
Bahkan Fandi mencak-mencak tidak terima karena tidak ada bagian dari Kiara yang terlihat di cucunya saat Ia melihat.
Dirga mendengus kesal saat mengingatnya, emang apa salahnya coba? Itukan anaknya, hasil cocok tanamnya bersama Kiara.
Yang perlu tidak di terima itu jika anak mereka mirip author tuh, yang lagi pusing nyari orang punya hutang eh tahunya kabur.
( Oit kenapa gue di bawa - bawa dah, ngabsen aja thor lama nggak keluar)
Dirga tersentak saat merasakan tangan kiara bergerak di genggamannya.
Kedip ... Kedip ...
" Sayang kamu sudah bangun!" Seru Dirga senang membuat keluarganya yang sedang bercengkrama merayakan kegembiraan meraka kompak melihat ke arahnya dan bergegas mendekat.
" Dirga " penggil Kiara dengan suara lemah
Di sampingnya Sarah dengan sigap mengambil air putih sedangkan Dirga membantu Kiara duduk menyandar.
" Minum dulu sayang !" seru Sarah dengan tangan mengangkat gelas dan mendekatkan gelas tersebut ke arah bibir kiara.
Kiara meminumnya hingga tandas, haus efek pasca mengeluarkan tenaga dalam.
" Bocil kita mana sayang ?" tanya Kiara memandang Dirga Penasaran
" Anak kita! "
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya...
Jangan lupa loh tinggalkan jejak komentar dan klik jempolnya...
Serta vote dukunganya...
__ADS_1
Sampai babai
Terimakasih