
Season Dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wijaya muda
Apa yang paling enak, dilakukan di pekan hari?
Jalan-jalan?
Santai bareng keluarga di taman belakang?
Rebahan santuy di kamar sambil halu?
Hang out bareng teman?
Atau
Tidur hibersekul sampai besok lagi?
Pertanyaan ini sedang berputar-putar di kepala Gavriel, saat dirinya bingung mau menghabiskan akhir pekannya, dengan melakukan kegiatan apa.
Di sampingnya ada sang adik, yang sibuk mengepang rambutnya iseng.
Saat ini memang ia dan sang adik sedang didalam kamarnya, menunggu kabar dari dua sahabatnya, yang katanya mau mengajak hang out, tapi belum juga ada kabar dimana rimbanya.
"Mas."
"Heum," gumam Gavriel, yang tetap sabar saat rambutnya di nistakan.
"Bagaimana sekolahnya, Mas?" tanya Selyn dengan tangan tetap setia, mengepang dan mengikat rambut mamasnya dengan karet uduk.
Karet yang ia colong dari dapur, hasil Bi Titin kumpulkan setiap beli sesuatu di pasar.
"Sekolah?" tanya Gavriel memastikan, yang dijawab anggukan kepala oleh sang adik.
"Iya."
"Biasa saja," lanjut Gavriel dengan bahu terangkat.
"Masa sih Mas, tidak ada yang spesial?" tanya Selyn tidak percaya.
Siapa tahu saja kan, masnya yang tampan di kejar-kejar cabe seperti saat dia SMP.
"Iya, kenapa?" balas dan tanya Gavriel, mencabuti karet di rambutnya satu per satu, menuai protesan tidak terima dari adiknya.
"Yah! Kok di cabutin Mas, El susah loh, ikat satu-satu gitu!"
"Sakit, El. Lagian feeling Mas mengatakan, jika akan ada seseorang yang mas-
Ceklek!
"Ole-le-le-le!"
"Good morning, epri badi!"
Kalimat yang akan di ucapkan Gavriel terpaksa berhenti, saat pintu kamarnya terbuka, disusul oleh seruan ala suku pedalaman, menyapa gendang telinga mereka berdua.
Di depan pintu sana ada dua sahabatnya, menampilkan senyum cerah lengkap dengan pakaian santainya.
"Aku kira kalian tidak jadi," ujar Gavriel memandang kedua sahabatnya, dengan tatapan bosan.
"Jangan salahin aku. Tuh! Salahin si pereman, mau ke Mall aja, ribet banget," balas Ezra mendengus ke arah seseorang yang dipanggilnya pereman.
Plak!
"Apa sih, kok aku?"
"Iya, kamu lah, siapa lagi!" seru Ezra, tangannya mengusap lengannya yang jadi tampolan bar-bar sahabatnya, yang saat ini berjalan masa bodo, ikutan rebahan disamping El.
"Jadi maksudnya, kita, hari ini mau ke Mall?" tanya Gavriel memastikan.
"Iya," balas Ezra singkat, ikut berjalan masuk dan duduk di samping sahabatnya, yang saat ini masih dikerjai oleh sang adik.
"El, itu rambut kenapa bisa mirip duren?" ledek Ezra, setelah duduk di samping Gavriel.
"Mas, mau juga?"
"No, thanks," balas Ezra cepat, dengan tangan menutupi rambutnya.
"Huh ... Nggak seru!"
"Jam berapa mau berangkat?" tanya Queene, ikut usil mengepang rambut Gavriel, yang bangkit kabur dari jerat tangan dua perempuan di belakangnya.
"Yah! Baru juga mulai ngepang," dengus Queene kesal.
"Berisik, katanya mau jalan. Ya sudah, aku siap-siap dulu."
"Mas, pakai mobil atau motor?" tanya Selyn, menatap sang kakak yang saat ini sedang mengganti kaos polosnya, dengan sweater berwarna putihnya.
"Motor aja, biar keangin-anginan."
"Lagian kalau pakai mobil ribet, mesti minta kunci sama Daddy," lanjut Gavriel sebelum memasuki kamar mandi, meninggalkan tiga orang yang mengangguk mengerti.
"El!"
"Heum?"
"Sekolah lancar, kan?" tanya Ezra menatap adiknya khawatir.
"Lancar mas, kenapa?" tanya Selyn.
"Syukurlah, mas hanya khawatir, kamu di sana kenapa-napa," balas Ezra sambil menepuk kepala Selyn sayang.
"Kan ada Kimi, jadi aku masih ada taman!" seru Selyn tersenyum lebar.
"Bagus! Tapi kalau bisa berteman dengan yang lain, yah!" sahut Queene mengusak rambut Selyn gemas, menuai seruan protes dari yang punya rambut.
"Yah! Mba Queene, acak-acakan, kan!"
"Biarin, sengaja. Bleee,"
"Ih dasar!"
Kedua perempuan ini pun saling meledek, dengan kantung mata dan lidah memelet, membuat Ezra yang memperhatikan terkekeh, saat ada saja sesuatu yang pasti bisa membuat keduanya bertengkar.
__ADS_1
"Mereka ini, kalau tidak Gav ya El, kalau tidak El ya Gav. Dasar," gumam Ezra geli sendiri.
Tidak lama, pintu kamar mandi pun terbuka, menampilkan Gav yang sudah keren dengan out fit santainya dan mereka pun turun bersama, berpamitan dengan kedua orang tua mereka, yang kebetulan sedang duduk santai di teras belakang rumah.
"Mom, El jalan-jalan dulu yah. Mau di belikan sesuatu?" ujar Selyn saat berpamitan.
"Tidak ada, kalian berenang-senang yah. Jangan pulang terlalu sore, got it?" balas sang Mommy dengan sang Daddy, yang tumben hari ini ada di rumah, meskipun depannya tetap ada laptop dalam keadaan menyala.
"Tidak pakai mobil saja?" tanya sang Daddy, mengalihkan matanya sejenak dari layar laptop, melihat keempat remaja tanggung di depannya dengan penasaran.
"Di luar cuaca sedang panas," lanjutnya menatap putri kecilnya khawatir.
Ia tidak mau kesayangan kepanasan di perjalanan, meski El sudah memakai helm sekalipun.
"No, pake motor aja, Dadd. Lebih seru," balas Selyn kemudian mengecup pipi sang Daddy sayang.
"Oke, hati-hati yah."
"Siap, kapten!"
"Kalian bawa motornya hati-hati, jangan kebut-kebutan. Jaga El dan Queene, got it?" wanti Dirga menatap anaknya dan keponakannya, dengan mata memperingati.
"Yess, Dadd."
"Siap, Unkel."
"Queene, jangan lepas tangan El. Got it?" ujar Dirga kali ini menghadap Queene, anak dari sahabat stresnya.
"Oki-doki, unkle!" balas Queene dengan semangat, menuai protesan dari Gavriel yang ada di samping Selyn.
"Apa sih Dadd, masa sama Queene pegangannya. Sama aku dong, aku kan kakaknya!"
"Tidak selamanya kamu menggandeng adik kamu, jadi jaga-jaga, agar El terbiasa."
Deg!
Kalimat yang di ucapkan oleh sang Daddy, memang santai tanpa maksud.
Tapi entah kenapa kalimat simple ini, menjadi seperti kalimat sindiran, membuat dua orang yang mendengarnya bergerak salah tingkah.
Jelas sekali apa maksud, dari perkataan sang Daddy.
"Tetap El, yang akan Gavriel genggam erat, Dadd," ujar Gavriel setelah salah tingkah.
"Siapa yang tahu," balas Dirga memandang anaknya, dengan alis terangkat sebelah.
"Ih ... Daddy, lagian El sudah besar, tidak usah gandeng lagi. Emangnya El truk gandeng apa," sahut Selyn menimpali perkataan dua pria posesif, yang selalu seperti ini jika sudah menyangkut dirinya.
"Poko-
"Sudah-sudah, tidak akan habis kalau bahas ini. Sebaiknya kalian berangkat, selamat bersenang-senang yah!"
Kiara sudah hafal tabiat dua pria di kehidupan kecilnya jika sudah adu argumen, maka dari itu ia dengan cepat menyela, dari pada anak-anaknya tidak segera berangkat untuk bersenang-senang.
"Siap, Momm. El dan semuanya pergi dulu, assalamualaikum," ujar Selyn ceria, di ikuti yang lainnya berpamitan dan pergi meninggalkan kediaman Wijaya, menggunakan dua motor sport mahal.
Gavriel membonceng sang adik, sedangkan Ezra dengan Queene, mereka berada di depan sana, mencoba kecepatan yang sedang di pamerkan oleh si pengendara.
Skip
Mall Kota S
Mall yang juga di bawah kendali perusahaan sang Daddy, Mall yang sama dengan Mall saat Gavriel melakukan inspeksi saat kecil.
Itu juga jika Gavriel masih ingat.
Keempat remaja ini pun memasuki area dalam Mall dan seketika dingin dari air conditioner menyambut, membuat mereka bisa menghela nafas, saat terbebas dari panasnya sinar matahari.
"Tahu gini, tadi berenang saja," keluh Ezra si pencetus ide.
"Dih! Salah sendirinya kan," dengus Queene bosan.
"Enak main game," sahut Gavriel yang sebenarnya malas ada di luar seperti ini.
Tapi melihat adiknya berbinar senang saat mendengar kata Mall, membuat ia juga senang, apalagi melihat senyum lebar dari adiknya saat ini.
"Ih! Kapan lagi kita bisa kumpul gini, yuk mas, mbak, kita semangat hang out!"
Akhirnya mereka pun mau tidak mau ikut semangat, saat si bontot kesayangan menampilkan senyum ceria.
"Yuk! Apa dulu nih?" tanya Queene melihat kiri dan kanannya.
"Makan dulu?"
"Main di game zone?"
Selyn dan Queene berfikir, saat mendengar seruan kompak dari dua laki-laki di hadapan mereka.
"Heum .... Bagaimana kalau main game dulu?" gumam Selyn bertanya.
"Setelah itu makan," sahut Queene menyetujui.
"Terserah kalian.".
"Hn."
"Oke, sudah di putuskan, kita makan dul-
Pletak!
"Main game, baru makan!" seru Ezra gemas, setelah memukul kening Queene sayang.
"Is! Keselo, Ez. Sewot ae," dengus Queene mendelikkan matanya, protes karena kening cantiknya di ketuk sembarangan oleh sahabatnya.
"Sudah, jangan bertengkar. Yuk, kita ke lantai tempat arena game," lerai Gavriel sebelum kedua sahabatnya bertengkar, ia tidak mau Queene punya pasangan bertengkar salain dirinya.
"Yuk!"
Keempatnya pun berjalan bersama, berjejer dan saling berbincang seru.
Terkadang ada dari mereka yang memekik kesal, terkadang juga tawa renyah saat candaan dan ledekkan, keluar dari mulut mereka masing-masing.
Sedangkan di sudut lain dari Mall, ada tiga pasang remaja perempuan, yang sedang sibuk memilih pakaian terbaru, di sebuah butik tidak jauh dari tempat Gavriel dan tiga lainnya.
"Eh! Yang ini lucu tidak?" tanya Intan kepada dua temannya, yang juga memilih baju untuk masing-masing.
"Lucu, ambil gih. Nggak ada yang nyamain juga," balas Kei tersenyum kecil, memberikan penilaiannya.
__ADS_1
"Oke, aku ambil."
"Kalau ini, Kei?" tanya teman satunya, sambil menunjukkan pakaian di tangannya.
"Hum ... Terlalu apa yah, Rai, emh ... Norak sih, kalau kata aku," balas Kei menilai.
"Nggak jadi deh," gumam Raiya lesu, lalu mengembalikan baju yang tadi di ambilnya dan menoleh ke segala arah.
"Mana lagi ya," lanjutnya bergumam, kemudian dahinya mengernyit, saat matanya melihat penampakan tidak asing di depan sana.
"Eh ... Itu kan-
"Kei-kei!" serunya heboh, memanggil temannya dengan tangan menarik pelan, baju putih yang di pakai Kei.
"Apa sih, Rai," balas Kei sedikit kesal, pakaiannya kusut di tarik bar-bar oleh temannya.
"Lihat itu!"
"Apa?"
"Gavriel!"
"Hah!"
Seketika Kei dan Intan kompak berseru, menuai lirikan tajam dari sekitarnya.
"Is ... Bikin malu saja," gumam Raiya tanpa dosa, menuai dengusan sebal dari dua temannya.
"Ya kamu itu, biangnya!" seru keduanya berbarengan, membuat Raiya terkekeh kecil, dengan jari terangkat membentuk simbol peace.
"Itu, Ih ... Gavriel tuh, sama yang lainnya."
"Mana?"
"Di luar, tapi Gavriel gandengan sama perempuan,"
"Queene?" tanya Kei penasaran.
"Bukan, tapi beda. Cantik loh," balas Raiya menatap Kei menggoda.
"Perempuan lain, siapa?" tanya Kei gelisah.
Jika ada perempuan lain selain Queene di kehidupan Gavriel, artinya ia semakin susah mendekati Gavriel.
"Entah."
"Dari pada penasaran, mending kita samperin aja. Bagaimana? Yah ... Sekalian hang out bareng, nggak salah dong," usul Intan tersenyum penuh maksud ke arah Raiya, yang segera di mengerti dengan mengangguk semangat.
"Setuju!"
"Umh ..."
"Iya aja deh, yuk ... Mumpung belum jauh, kita susul mereka," putus Intan sepihak, menggandeng Kei yang tidak bisa protes, karena ini juga kemauan di dalam hatinya.
Ketiganya pun dengan semangat menghampiri empat remaja, yang saat ini akan menaiki lantai atas, menggunakan eskulator dengan saling bercanda.
Di saat bersamaan, di sisi Gavriel dan yang lainnya.
Gavriel yang menggandeng sang adik tidak henti, untuk menepuk kepala atau pun membalas pertanyaan sang adik, saat bertanya ini-itu tentang Mall, tentang bisnis sang Daddy yang sudah di ketahui mereka sejak lama.
"Oy! Nanti tanding masukin bola basket ya!" seru Queene menantang.
"Boleh, yang kalah hukumannya apa?" tanya Ezra yang setuju.
"Hum ... Apa yah, menurut kamu apa, Gav?" gumam Queene berfikir, lalu bertanya dengan sahabat lainnya.
"Traktir makan, gimana?" sahut Gavriel, yang di setuju oleh semuanya.
"Oke, El juga ikut ya, mas!" seru Selyn semangat.
"Iya," balas Gavriel lembut, menepuk kepala sang adik sayang.
Rencana yang sudah di susun dengan baik oleh Queene, ia tersenyum saat bisa menghabiskan waktunya dengan dia, yang saat ini sedang memanjakan sang adik.
"Aku tidak iri, jika itu El. Tapi kenapa yah, kala-
"Gavriel, Ezra, Queene!"
Queene yang sedang berbicara dalam hati, sambil melihat pasangan kakak-adik di depannya, ikut menoleh ke arah suara memanggil namanya dan dua sahabatnya.
Seketika ia mengalami apa itu rasa tidak suka, saat melihat tiga remaja teman sekolahnya, dengan langkah semangat menghampiri tempat mereka berdiri saat ini.
"Kalian!"
Dari Keempatnya, hanya Ezra yang manyahuti panggilan dari mereka.
Beda dengan Queene dan Selyn yang diam, sedangkan Gavriel melihat kedepan dengan binar senang.
Meskipun tidak menampilkan senyum yang kentara, tapi dua perempuan yang melihat kelakuan Gavriel tahu, jika sang kakak atau sahabat, melihat orang di depan mereka dengan binar bahagia.
Ekspresi itu membuat Selyn mengernyit bingung, sedangkan Queene diam-diam menyembunyikan rasa tidak nyamannya dengan baik.
Ia buru-buru memasang senyum ceria, saat ketiganya sampai di depan mereka.
"Kebetulan sekali yah, kita bertemu di sini!" seru Intan tanpa sungkan.
"Kalian sedang apa?" tanya Ezra mewakili yang lain.
"Sedang mencari sesuatu," balas intan ceria.
"Kalian sedang apa? Beli baju atau apa?" tanya Intan balik.
"Kami hanya main, lalu makan, yah ... Seperti itulah," balas Ezra apa adanya.
"Ohh ... Sepertinya seru,"
"Apa Kita boleh bergabung?" tanya Raiya to the point, menuai berbagai ekspresi dari orang yang mendengarnya.
Ada yang merasakan biasa saja, ada yang merasakan senang dan ada pula yang merasakan jika hang out gembiranya, akan berubah menjadi hang out garing di sepanjang hidupnya.
"Tidakkah cukup di sekolah saja," batin seseorang tidak nyaman.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Sampai babai.