
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Mall Kota S
Game zone
Setelah Gavriel dan dua sahabatnya berhasil keluar dari kerumunan pengunjung, yang tiba-tiba saja mengerumini mereka.
Akhirnya ketujuh remaja ini bisa melanjutkan acara main mereka, dengan aman dan nyaman tentunya karena ada campur tangan pihak Mall, serta bodyguard utusan sang Daddy yang sigap mengamankan.
Berterima kasih lah atas kekuasaan sang Daddy, sehingga Gavriel dan yang lainnya bisa melanjutkan acara santai mereka, meski sesekali masih di lihat dengan pandangan takjub oleh pengunjung lainnya.
Astaga ... Ia tidak bisa membayangkan jika sampai sekarang, mereka belum juga terbabas dari kerumunan.
Mau jadi apa mereka?
Rempeyek dan remahannya?
Atau mungkin nastar dan sisa kejunya?
Oh ... Ia merinding seketika.
Bahkan tatapan tajam khas Daddy tidak mempan, yang ada tambah membuat mereka menggila.
Sepertinya ia harus belajar banyak dengan sang Daddy, tentang ilmu menghindari kerumunan seperti tadi.
(Daddymu kalau main bukan di Mall, Gavriel kasep. Lah dimana? Di rawa-rawa)
"Mas, main yang itu juga yuk!" ajak Selyn membuyarkan lamunan sang kakak, dari trauma pasca berhasil lolos dari kerumunan.
"Yang mana?" tanya Gavriel lembut.
Saat ini ia ditemani oleh Selyn dan Keineira yang juga sedang duduk di sampingnya, di sofa tempat istirahat di dalam area gamezone.
"Yang itu Mas, yang di mainkan sama mba Que," balas Selyn tanpa melihat ke arahnya.
"Kalian aja yah, Mas mau duduk sebentar. Nanti nyusul deh, got it?" ujar Gavriel menepuk kepala sang adik.
Selyn pun menoleh ke arah sang kakak, mengernyitkan dahinya, kemudian mengangguk menyetujui perkataan mamasnya.
"Oke deh! Tapi bener yah, nyusul. Jangan lama-lama loh," ujar Selyn menatap kakaknya dengan mata memicing.
"Yes little princess, promise."
Selyn pun meninggalkan sang kakak dengan Kei, yang memperhatikan dalam diam kemesraan yang di umbar keduanya dengan santai.
Suasana hening pun tercipta, baik Gavriel maupun Kei sama-sama tidak membuka suara.
Gavriel yang dari sananya diam, jika bukan dengan orang dekatnya bingung sendiri, saat ia merasa aneh duduk berdua tanpa obrolan, biasanya ia akan cuek meskipun tanpa ada percakapan.
Tapi entah kenapa .... Ke diaman ini tidak membuatnya risih, ia nyaman saat perempuan di sampingnya pun diam, meski sesekali ia melihat gerakan salah tingkah dari teman di sebelahnya dan itu membuatnya merasa aneh.
Bukan aneh negativ tapi aneh, seperti ada sesuatu yang menggelitik dan membuat efek, yang ia sendiri tidak mengerti apa.
Seumur hidupnya hanya Queene, remaja seumurannya yang berhasil membuatnya nyaman dan merasakan apa itu .....
"Em ... Ano Gavriel," ujar Kei membuka percakapan, setelah sekian lama mereka berdiam tanpa ada obrolan.
"Hn?"
"Ah ... Tidak apa-apa, maksudku, em ..."
"Kalau mau bertanya, tanya saja," sela Gavriel.
"Tidak, aku hanya ingin tahu. Apa nanti kamu akan memilih basket, sebagai ekskul kamu?" tanya Kei tanpa menatap Gavriel, yang mengangguk paham.
"Oh itu, aku kira apa. Ternyata tentang ekskul," balas Gavriel tanpa menjawab pertanyaan.
"Iya, emang kamu kira, aku mau nanya apa?" tanya Kei kali ini melihat ke arah samping, ke arah Gavriel yang melihat ke arah depan, tepatnya ke arah pacar dan Queene, yang saat ini sedang main dengan tawa bahagia.
Ia melihat senyum kecil dari Gavriel, membuatnya tidak sadar meremas tangan gelisah.
Apa dia sangat menyukai dua perempuan di depan sana, sehingga apapun yang dilakukan keduanya, maka dia akan ikut senang.
"Ah! Apa yang aku fikirkan," batin Kei menggeleng kepalanya, merasa aneh saat ada fikiran tidak jelas menari di sekitarnya.
Gavriel yang melihat temannya menggeleng kepala, mengernyitkan dahi bingung.
"Ada apa dengannya?" batin Gavriel penasaran.
"Hei ... Kamu kenapa?" tanya Gavriel khawatir, membuat Kei tersentak kaget saat mendengar pertanyaan khawatir untuknya.
"Ah ... Tidak, aku tidak apa-apa."
Diam ...
Lagi-lagi tidak ada obrolan, suasana menjadi canggung lagi.
"Gavriel."
"Hn?"
"Kenapa kamu hanya menjawab dengan 'hn'?" tanya Kei dengan senyum kecilnya.
"Apa tidak bosan?" lanjutnya.
"Sudah biasa, jadi bagaimana dong," balas Gavriel santai, tersenyum kecil ke arah Kei yang tersipu.
"Tapi itu hanya gumaman," ujar Kei belum menyerah.
"Dari pada tidak di sahuti?" balas Gavriel cepat.
Jangan salahkan ia, salahkan sang Daddy yang meracuninya sejak balita.
"Iya sih ... He-he!"
"Dasar," dengus Gavriel geli.
__ADS_1
"Oh iya!"
"Hn?"
"Tuh kan gumaman lagi," ujar Kei dengan pipi memggembung lucu.
Dan itu membuat Gavriel yang melihatnya merasa gemas.
"Hn."
"Ih! Gavriel,"
Gavriel terkekeh kecil saat melihat teman sekelasnya kesal, dengan ekspresi wajah yang membuatnya gemas, membuatnya ingin terus menggoda dengan gumaman singkatnya.
"Hn."
"Uh, tidak jadi lah."
Kei melengoskan wajahnya sebal, saat lagi-lagi hanya gumaman yang di terimanya.
Bukan kesel sih, tapi tidak tahu kenapa ia seperti ini.
"Ha-ha-ha, oke-oke, jangan marah. Ada apa?" ujar Gavriel setelah tertawa kecil, puas melihat ekspresi sebal dari perempuan teman sekelasnya.
Deg!
Jantung Kei berdegub kencang saat mendengar tawa kecil, dari Gavriel di sebelahnya.
Ia tidak menyangka bisa membuat Gavriel, yang selalu tertawa hanya dengan sahabatnya, bisa juga tertawa karena mengobrol dengannya.
Tiba-tiba pipinya memanas, ia sibuk menenangkan jantungnya tanpa tahu, jika pipinya semakin tersipu.
Dan Gavriel yang melihatnya mengernyitkan dahi aneh, kenapa teman sekelasnya wajahnya merah seperti itu.
"Kamu kenapa?" tanya Gavriel khawatir.
Ia dengan berani memegang kening Kei, tanpa tahu jika aksinya membuat Kei yang di sentuh seperti itu, bertambah salah tingkah dengan pipi kian memerah.
"Nggak panas," gumam Gavriel di hadapan wajah Kei, hingga nafas dari Gavriel bisa di rasakan oleh Kei, yang tiba-tiba memundurkan wajahnya, tidak kuat menahan iman tepatnya.
"Ak-aku baik-baik saja kok, kam-kamu nggak perlu khawatir."
"Kamu yakin, wajah kamu merah," ujar Gavriel masih khawatir.
"Iya, kamu tenang saja."
"Oke deh. Lalu tadi apa yang ingin kamu katakan?" ujar Gavriel bertanya.
"Eh! Ah ... Maksudku, kamu sebaiknya cepat bergabung dengan pacar dan sahabatmu. Nanti mereka marah," balas Kei setelah berhasil mengontrol degub jantungnya.
Pfttt!!
Kei mengernyit saat mendengar suara tawa di tahan, dari Gavriel yang melihatnya dengan tatapan geli.
"Loh ... Kok kamu ketawa? Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Kei tidak mengerti.
Gavriel menggelengakan kepalanya, lalu bangkit berdiri tanpa menjawab pertanyaannya, kemudian meninggalkannya sendiri, yang melihat Gavriel dengan tatapan tidak mengerti.
Mereka tidak sadar jika sedari tadi di perhatikan dalam diam, oleh seseorang yang sedang bermain tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Gavriel tertawa, biasanya tidak semudah itu," batinnya menahan rasa aneh.
Skip
Puas memainkan hampir semua jenis permainan, tujuh remaja ini akhirnya memilih untuk istirahat dan mengisi tenaga mereka.
Karena pertandingan tadi tidak ada yang menang, maka mereka putuskan untuk mengadu suit, untuk menentukan orang yang akan membayar makanan nanti.
Mereka sudah duduk melingkar, di meja bundar mirip seperti rapat anggota.
Di meja mereka masih kosong, belum memesan karena belum menentukan donatur untuk membayar.
Sesuatu yang kalau di ketahui oleh kakek Bakrie bisa membuatnya ngambek, karena cicitnya makan harus adu suit dulu.
"Kita adu suit ya! Udah pada setuju, kan?" ujar Ezra bertanya, yang di jawab anggukan kepala oleh semua.
"Mas, nanti kalau El kalah bagaimana?" tanya Selyn menatap sang kakak dengan pandangan mata khas sang Mommy.
Dan itu membuat Gavriel dan Ezra mendengus, karena tahu artinya apa jika El sudah mengeluarkan jurus andalannya.
"Ya sudah, El nggak usah ikut," balas Ezra mewakili, menuai pekikan senang dari Selyn si pemilik mata turunan khas Mommy Kiara.
"Yey! Mas Gav dan Mas Ez baik sekali!" seru Selyn ceria dan mau tidak mau, membuat Gavriel dan Ezra menggeleng kepala maklum.
"Oke ... Kita mulai yah, pakenya hompimpah aja. Hitam dan putih, jadi yang paling banyak yang kalah. Setuju?" ujar Gavriel menatap satu per satu orang, yang duduk di depan dan samping kiri-kanannya.
"Oke!"
"Mulai!"
Hom-pim-pah!
Mereka kompak menyebut nama permainan anak-anak, kemudian mengulurkan telapak tangan masing-masing, dengan pilihan masing-masing pula.
Dari enam orang yang ikut serta, ada tiga telapak tangan dan tiga punggung tangan, sehingga permainan di katakan seri, kemudian ulang lagi.
Di putaran kedua masih juga sama, hingga Selyn yang melihatnya gemas, juga lapar di saat bersamaan.
"Mas, ulu-lu-lu-lu-lu! El lapar nih."
Astaga tiga kakaknya kompak menepuk dahi, saat mendengar seruan kesal dari si bontot.
Mereka lupa dengan satu fakta, jangan membuat El yang lapar menunggu, kalau tidak, akan ada yang terjadi, tentunya hal yang akan membuat mereka repot seketika.
"Oke guys ... Lebih baik kita pesan makanan sekarang, aku tidak mau kesayangan aku kelaparan. Urusan siapa yang bayar ada Ezra dan Gavriel, kalian tenang saja!" seru Queene memutuskan seenaknya, menuai protesan dari Ezra serta gumaman singkat dari Gavriel.
"Yah elah Queene, belum gajian oy!"
"Black card kan ada," balas Queene menatap Ezra dengan tatapan meledek.
"Ah!"
__ADS_1
"Sudah, aku yang bayar. Kalian pilih terserah," lerai Gavriel.
"El, mau makan apa?" tanya Gavriel menghadap ke arah sang adik yang tersenyum lebar.
"Ku-
"Kue nanti, makan yang lain dulu yah," sela Gavriel cepat.
"Bhuu .... Mas nggak seru."
"Kalian juga pesan saja, nanti aku yang bayar," ujar Gavriel melihat ke arah tiga teman sekelasnya.
Restoran mewah dengan konsep masa kini, serta harga makanan yang lumayan wow ....
Seketika ketiga teman Gavriel ini tersenyum canggung, saat melihat harga makanan di daftar menu.
Sementara Queene dan Ezra asik memilih ini itu, Kei serta kedua temannya saling memandang tidak enak dan itu membuat Selyn, yang memperhatikan mereka tersenyum lebar.
"Kak kei, kak Intan, kak Raiya kenapa?" tanya Selyn masih dengan senyum lebarnya.
"Eh!"
Ketiganya kompak kaget, saat tiba-tiba pacar dari Gavriel bertanya kepada mereka.
Mereka tidak sadar, jika saat ini mereka di lihat oleh keempat lainnya.
"Tidak, tidak apa-apa Selyn," balas Kei tersenyum kecil.
"Kakak semuanya jangan khawatir, meskipun kalian meminta makanan di menu itu satu per satu, Mas Gavriel pasti sanggup bayar kok. Iya kan, Mas?" ujar Selyn, menoleh ke arah sang kakak dengan senyum lebarnya, membuat Gavriel gemas dan balas mengetuk kepala sang adik pelan dengan kepalan tangannya.
"Mas kan, anak Daddy sultan. He-he!" lanjut Selyn sambil terkekeh.
"Mas jamin, besoknya mas dipaksa kerja rodi," balas Gavriel sambil menarik kedua pipi Selyn kuat, gemas saat ia hanya dapat balasan kekehan tanpa dosa.
"Kalian tenang saja, pesan yang kalian mau. Gavriel nggak akan nagih buat balikin kok, percaya deh," ujar Queene, saat pasangan kakak adik di sebelahnya, masih sibuk saling menyakiti pipi mereka.
"Tap-
"Tidak apa-apa, kami biasa begini kok," sela Ezra menatap ketiga temannya dengan senyum kecil, sebelum kembali melihat buku menu ditangannya.
Akhirnya mereka pun makan, dengan Gavriel sebagai donaturnya.
Ini semua karena adiknya Selyn, yang tidak akan tahan protes jika sudah dalam keadaan lapar.
Yah ... Meskipun ia tahu, ujung-ujungnya ia juga yang akan membayarnya sih.
Makan kali ini lebih ramai dari biasanya, jika biasanya mereka hanya berlima, dengan tambahan Kimimela meski hanya sesekali.
Kali ini lebih ramai dengan tambahan Kei Intan dan Raiya, yang ternyata cukup asik juga untuk di ajak berbicara.
Yah ... Jika sedang ramai seperti ini, tapi kalau hanya berdua seperti kejadian di tempat istirahat gamezone tadi, ada yang merasa tidak nyaman sih sebenarnya.
"Huft ... Sepertinya mulai saat ini, aku harus belajar menerima dan berbagi," batin seseorang, saat melihat kedua orang itu saling lempar candaan, meski ia juga ikut di dalamnya.
Skip
Acara makan selesai, hari pun sudah sore. Kini saatnya Gavriel dan keenam lainnya pulang, ke rumah masing-masing, setelah puas bermain bersama.
Di area parkir mereka berpisah, setelah tiga teman mereka menaiki taksi pesanan mereka.
Gavriel memakaikan helm di kepala sang adik, dengan Queene yang berdiri di samping motor milik Ezra, sedangkan Ezra sudah nangkring tampan di atas motornya.
"Besok, aku udah dapat kendaraan dong!" seru Queene dengan semangat, membuat tiga lainnya ikut senang saat mendengarnya.
"Wah ... Bagus dong, kita bisa balapan bersama. Iya kan, Gav?" sahut Ezra dengan nada semangat.
"Balapan mulu, jangan deh .... Bahaya kalau ada apa-apa," balas Gavriel.
"Yah elah Gav, tujuan si preman ini minta motor kan, emang mau jajal yang seperti itu."
"Tetep ... Bahaya, kalau cuma sekali nggak seru,"
Gubrak!
Ezra yang sudah kaget dengan jawaban lurus dari sepupunya, hampir saja heran tapi saat mendengar kelanjutan maksudnya apa, membuatnya hampir saja jatuh dari motornya.
Ampun ... Sekalinya gesrek, ya gesrek aja.
"Oke guys, nanti kalau motornya udah sampai rumah. Aku kasih kabar yah!" seru Queene semangat, melupakan fakta tadi hampir saja menampol sahabatnya dengan sepatu.
Gile aja ... Ia sudah menunggu dua tahun untuk memiliki motor sendiri, masa sekalinya punya nggak bisa pamer kesombongan.
"Sip!" balas keduanya kompak.
"Oke ... Kita pulang yuk!"
"Yuk!"
Mereka pulang dengan arah sama namun beda kecepatan, Gavriel yang membawa sang adik di boncengannya, tentu saja akan hati-hati saat berkendara.
Ia tidak ingin adiknya kenapa-napa, ia terlalu sayang dengan adik kecilnya yang selalu punya cara, untuk membuatnya tersenyum sekalipun sedang mengerjainya.
Di pertengahan jalan, Selyn yang memeluk dan menyandar di punggung sang kakak, memajukan wajahnya untuk bertanya kepada sang kakak.
"Mas!"
"Hn."
Gavriel menurunkan kecepatannya, saat Sang adik bertanya, membuat Selyn bisa mendengar dan melanjutkan pertanyaan, yang membuat sang kakak diam seketika.
"Mas ... Suka yah sama kak Kei?"
Ckiiiit!
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Astaga El ... Itu bibir kenapa asal jeplak.
Ikuti terus kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Sampai babai.