
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Saat ini, Mereka berdua sedang ada di pintu masuk Rumah hantu. Wajah keduanya menampilkan ekspresi berbeda, Dirga yang biasa saja dan Kiara yang bersemangat.
Saat masuk pintu Rumah Hantu, suasana sepi khas menyambut mereka. Peraturan yang tidak memperbolehkan untuk bersama-sama, membuat suasana semakin mencekam. Karena hanya mereka berdua, yang saat ini sedang berada di bagian ruangan, semacam ruang inap terbengkalai.
Ruangan gelap, dengan perlengkapan khas ruang sakit ini, sukses membuat Kiara takut. Ia bahkan sampai mencengkram erat lengan Dirga, yang saat ini hanya bisa meringis sakit.
" Yank takut" bisik Kiara, menyembunyikan wajahnya di lengan Suaminya.
Dirga sendiri hanya memandang datar, meski sebenarnya, suasana di sini memang sedikit membuatnya was-was. Dari jaman Ia masih sekolah, baru ini Ia masuk rumah hantu. Meski merasakan sakit, saat lengannya di cengkram terlalu erat oleh Sang Istri yang ketakutan. Nyatanya, Dirga masih menampilkan wajah biasa saja.
" Itu cuma bohongan sayang" balas Dirga berbisik.
Hi hi hi hi
" Yank! " pekik Kiara semakin takut. Suara tawa hantu Negara +62 dengan sebutan Mbak kunti, mengiri langkah mereka. Membuatnya hanya bisa memejamkan mata, mengikuti setiap langkah Suaminya.
" Ssttt nggak ad ...
Puk
" kyaaaaaaa"
Kiara berteriak kaget, saat ada sesuatu menepuk bahunya dari belakang. Ia segera memeluk Dirga erat, yang di terima Dengan suka cita.
Dirga mulai berfikir, kenapa tidak dari dulu saja Ia membawa Kiara, main ke wahana seperti ini. Jika bisa mendapatkan pelukan erat, serta tubuh menempel lengket seperti ini.
" Ck, kenapa nggak dari dulu yah." Batinnya menyesal.
Lalu Ia pun menolehkan kepala ke arah belakang, dimana ada hantu jadi-jadian berambut panjang berdiri di samping mereka, dengan wajah menunduk. Dia tertawa dengan kikikan, yang membuat Kiara semakin takut.
" Ayo cepat pergi dari sini, Aku takut yank." bisik Kiara takut, bahkan bulu kuduknya sudah meremang. Membuat Dirga harus menahan kekehannya, lucu saat sang Istri menggelengkan wajah di dadanya dengan gelisah.
Padahal Si bawel ini yang semangat, saat akan memasuki rumah hantu tadi. Tapi sekarang lihat, malah bersembunyi di pelukannya dengan kaki menghentak heboh.
" Cepat, cepat, cepat." lanjut Kiara heboh, bahkan saat ini tubuh Dirga terdorong kesana-kemari, akibat gerakan bar-bar Istri gembulnya.
" Buset dah, tadi jingkrak kesenangan. sekarang malah minta buru-buru keluar, dasar kucing." batin Dirga gagal paham.
" Fine, ssstttt ... Itu cuma bohongan sayang. Sekarang kita keluar, kamu jangan lihat di belakang kamu yah." bisik Dirga, menjahili Kiara yang semakin takut. Pelukannya semakin erat, membuat Dirga hampir kehabisan nafas. Sesak saat tubuhnya di himpit, Si gembul Mommy Gav.
" Emang ada apa?" bisik Kiara. Ia ingin melihat tapi takut, karena bisikan peringatan dari Suaminya.
" Saat ini, di belakang kamu .....
Khik khik khik
" Kyaaaaaaa "
Kejadian terlalu cepat, saat Dirga ingin memberitahukan ada apa gerangan di belakang Sang Istri. Suara kikikan seram terdengar jelas, di susul suara jeritan membahana dari Istrinya yang langsung berlari secepat kilat. Meninggalkan Sang suami, dengan hantu KW yang saling pandang.
Dirga melongo, memandang Mbak kunti yang masih terkikik seram. Sedangkan Dirga langsung terkekeh bak Pesikopat, memandang Mbak kunti layaknya garong siap menerkam.
" Khu Khu Khu"
Si Mbak kunti menghentikan kikikannya, saat mendengar kekehan yang lebih seram darinya, berasal dari pengunjung di depannya. Dia dengan wajah masih tertutup rambut palsu, mengangkat kepalanya Untuk melihat ke arah pengunjung di depannya
" Berani sekali Lu membuat Istri Gue ninggalin Gue disini, Cepet pergi atau Lu mau jadi hantu beneran heum?" desis Dirga dingin, saat pelukan hangat dari Sang Istri hanya tinggal sisa saja. Ia melihat tajam ke arah Mbak kunti, yang saat ini bergetar ketakutan dan segera ngacir, meninggalkan pengunjung setan yang masih terkekeh seram.
" Sial, lari kemana Kiara. Ck, hantu bangke." ujar Dirga emosi, dengan lidah berdecak sebal. Ia segera meninggalkan tempatnya berada saat ini , sedikit berlari menuju arah Istrinya tadi pergi.
Skip
Setelah menelusuri ruangan demi ruangan, akhirnya Kiara sampai di pintu luar wahana Rumah Hantu. Ia membungkukan tubuh, dengan tangan bertumpu di lututnya. Nafasnya ngos-ngosan, akibat berlari di sepanjang ruangan. Bahkan Ia sampai meninggalkan Suaminya, yang saat ini entah dimana.
" Ya Tuhan, Aku sampai meninggalkan Dirga. Sangking takutnya Aku, semoga Dia tidak marah sama Aku." gumam Kiara, dengan nada khawatir. Ia menoleh ke arah kanan dan kiri, mencari Suaminya yang siapa tahu saja segera mencarinya.
Sedangkan Dirga yang sudah sampai di ujung pintu keluar, melihat ke arah Sang Istri, yang saat ini menoleh ke kanan-kiri seperti sedang mencarinya.
Ia segera berjalan cepat, ke arah Kiara yang masih belum sadar akan keberadaannya. Lalu saat Ia sudah berada di belakang kiara, Ia menepuk pelan bahu kiara.
Puk
" Copot"
Pekik Kiara kaget, menoleh ke arah Sang penepuk bahu yang malah memandangnya datar.
" Yah sayang, hampir jantung Aku copot." ujar kiara, tangannya mengelus dadanya pelan. Ia mendelik ke arah Suaminya, yang malah melengos sepertinya kesal tadi di tinggal.
__ADS_1
" Hn" gumam Dirga datar.
Kiara terkekeh canggung, saat melihat Suami tampannya mengeluarkan hawa tidak sedap. Ia pun segera bergelayut manja, di lengan dengan balutan jaket jeans Suaminya.
" Hehehe ... Maafin Aku yah, sayang deh sama Tuan Wijaya, suaminya Kiara Wijaya." ujar Kiara menja, Ia menyengol berulang bahu tegap Suaminya. Merayu dengan kerlingan mata andalannya, apalagi kalau bukan Puppy eyes.
Tingkah unyu dari Sang Istri, tentu saja membuat Dirga tidak kuasa menahan senyumnya. Ia pun yakin, tidak ada lelaki yang mampu menahan kokoronya, saat melihat sikap manja dari bawel kesayangannya.
Ia sungguh merasa kurang beruntung, kenapa sampai dirinya Si dingin anti cewek yang terkenal arogan, bisa tergoda dengan rayuan berasal dari cewek bernama Kiara, yang juga adalah Istrinya.
Semenjak menikah dengan Istrinya, Ia semakin lupa dengan sikapnya yang dulu. Bahkan di kantor pun demikian, tangan kanannya sampai bilang rindu dengan sikap bossy darinya.
" Oke fine, Aku maafin." ujar Dirga cuek. Ia mendengus dengan senyum geli, saat melihat Istrinya mengecup pipinya singkat.
" Sayang deh sama kamu, hehe ..." Seru Kiara, dengan kekehan gurihnya.
" Dasar, bisa aja ngerayunya." batin Dirga gemas.
" Berasa lagi pacaran sama kekasih, tapi bersertifikat halal." celetuk Dirga asal, menuai kikikan lucu dari Istri di sampingnya.
" Hihi ... Berarti benar kata Mama dulu yah, mengenal setelah punya hubungan lebih baik." Sahut Kiara, di sela Kikikiknya.
" Maksudnya dear? " tanya Dirga bingung.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Dirga, Kiara mengajak Dirga duduk, di kursi panjang samping pintu keluar wahana rumah hantu.
" Kamu tahu, dulu sewaktu Kakek membicarakan tentang pertunangan kita. Aku sangat menentangnya loh, Aku bilang begini kepada Kakek." ujar Kiara menjeda ucapannya, saat melihat alis tebal Suaminya terangkat Penasaran.
" Dengar yah" lanjut Kiara, membuat Dirga Penasaran.
" Ehem"
Kiara berdehem, sok penting. Menuai dengusan geli dari Suaminya dengan kepala menggeleng.
" Lama yank" sela Dirga, membuat Kiara berdecak sebal. Acara serius baginya, malah di sela seenaknya oleh Sang Suami.
" Mau denger tidak?" tanya Kiara galak, melotot lucu yang di balas kekehan geli dari Dirga.
" Iya iya, Aku dengar." balas Dirga, setelah terkekeh. Ia memandang Kiara serius, saat Kiara melihatnya dengan mata molotot kesal.
" Denger yah" seru Kiara memastikan.
" Iyaaaa ..." Sahut Dirga mendayu
" Kakek aku tidak mau ... Kenapa harus acara Jodoh- jodohan sih? Ini bukan Zamannya lagi Kek , Sekarang sudah modern. Bagaimana Aku akan bahagia, kenal juga belum." ujar Kiara, meniru nada suaranya saat dulu Ia menolak rencana perjodohan. Ia melihat dengan senyum geli, ke arah Suaminya yang juga tersenyum geli.
" Dan sekarang, apakah kamu bahagia?" tanya Dirga lembut, mengusap pipi Istrinya yang mengangguk, mengiyakan apa yang di tanyakan Sang Suami.
" Aku bahagia sekali, apalagi dengan kehadiran Gav di tengah-tengah kita." balas Kiara, senyum lebar menghiasi wajahnya.
Tidak ingin mengubah suasana menjadi melow, Dirga segera berdiri dari duduknya. Ia mengulurkan tangan kanannya, yang di sambut segera oleh Sang Istri. Sehingga Kiara berdiri di hadapannya, lalu jatuh di pelukanya.
" Kuy yank, lanjutin kencannya. Masih banyak wahana yang belum kamu coba, sore nanti ada kejutan untuk kamu." gumam Dirga, saat Kiara membalas pelukannya erat.
Untunglah di sekitar mereka, hanya segelintir orang yang lalu-lalang. Melihat ke arah mereka dengan rona merah di wajah , lalu melengos malu, yang hanya di anggap angin lewat oleh Dirga.
" Masa bodo" batin Dirga tidak perduli.
Mereka pun melanjutkan kencan telat mereka, dengan mencoba wahana permainan di Taman Hiburan ini. Mulai dari Kora-kora, komedi putar, berfoto di air mancur dan tentunya rollercoaster. Permainan wajib untuk Kiara, meskipun suaranya habis saat rollercoaster meluncurkan ke bawah, tapi ini adalah pengalaman mengasyikkan baginya.
Tolong jangan tanya Dirga, bahkan untuk mengeluarkan Suara keras saja tidak. Suami dari Kiara ini malah diam, meski ekspresinya lebih jujur. Meringis dan tegang dengan hiasan keringat dingin di dahi, saat kereta rollercoaster meluncur.
Permainan selesai, Kiara yang terlalu semangat kelelahan. Namun, dengan bibir tersenyum senang.
" Capek?" tanya Dirga singkat, namun tangannya tidak diam. Ia dengan lembut mengusap keringat, yang mengalir di pelipis kiara.
" Sedikit, hehe ..." balas Kiara, lalu terkekeh renyah.
" Kamu tunggu sini dulu, Aku beliin minum yah!" ujar Dirga, sebelum meninggalkan Kiara yang hanya mengangguk kepala mengerti.
Sekitar 10 menit, Dirga kembali ke tempat di mana Ia meninggalkan Sang Istri. Di sekitar Istrinya ada 2 Orang pengunjung Lelaki, yang dengan kurang ajarnya menggoda Sang Istri.
Hatinya terbakar emosi, rasa posesifnya membuat Ia marah seketika. Jadi saat 2 orang laki-laki itu hendak memegang bahu Sang Istri yang terlihat risih. Saat itulah kepalan tangan Dirga, melayang ke arah pipi Si lelaki Asing.
.
Sebelumnya
Setelah Sang Suami meninggalkannya, Kiara membuka aplikasi galeri di Handphonenya. Ingin melihat lagi hasil foto mereka, selama kencan dan juga foto saat bertemu Novelis.
Kiara tersenyum, senyum yang mengundang perhatian 2 orang tidak beruntung, karena terpana dengan senyuman Kiara.
Kiara kaget saat menemukan 2 pasang kaki, beralaskan sepatu sport hitam di hadapannya. Ia menaikkan pandangannya, dari Handphone ke arah Si pemilik sepatu di depannya.
Dahinya mengernyit bingung, saat mencoba mengingat siapa orang asing di depannya. Ia merasa tidak mengenal, apalagi pernah bertemu dengan keduanya.
__ADS_1
" Hai, sendirian saja? Boleh kita gabung?" tanya Mereka berdua sok akrab.
" Maaf, saya nggak kenal kalian. Bisa tinggalkan saya sendiri! " ujar Kiara, mencoba bersikap sopan, meski dirinya sudah risih saat tatapan keduanya seperti menilai ke arahnya.
" Karena kita nggak kenal, maka dari itu kita kenalan Nona." balas salah satu lelaki, yang belum sadar jika tidak jauh di belakang mereka ada seseorang, yang sedang menekan rasa emosinya.
" Suami saya sedang beli minum, tolong tinggalkan saya sendiri." ujar Kiara, Ia bersiap pergi dari duduknya. Ingin menyusul Sang Suami, dimana pun berada.
" Hei Nona, kita cuma mau kenalan." Seru lelaki yang lainnya , agak sedikit memaksa. Bahkan tangannya, mencoba memegang bahunya .
" Som ...
Buagh
Si lelaki yang jadi korban pukulan Dirga, jatuh tersungkur dengan noda merah di sudut bibirnya. Bahkan sekitarnya pipinya ikut membiru, menandakan jika pukulan Dirga tidak main-main.
" Cuih ... Sial, siapa lu hah! " Serunya keras, meludah dengan slavia berwarna merah. Dia memandang marah ke arah Dirga, yang saat ini memandang keduanya marah.
" Hei bung, jangan sembarangan memukul orang. Apa kamu tidak tahu, siapa Dia ini hah?" ujar Teman lelaki, yang tadi jadi korban pemukulan Dirga.
Dirga hanya memandang datar keduanya, yang saat ini sudah siap-siap dengan kuda-kuda Pose menyerangnya.
" Hn " gumam Dirga datar.
" Serang sama-sama"
Buagh
Buagh
Buagh ... Buk ...
Buk ... Brakkk
Adu jotos pun terjadi, dengan yang Dirga di serang dari arah kanan kirinya. Gerakan mereka berdua terlihat pro, seperti sudah biasa berkelahi. Tapi Dirga berhasil, menghalau tendangan serta pukulan dari keduanya, lalu balas menendang betis salah satu di antara keduanya. Hingga Dia menabrak tong sampah, lalu jatuh tidak jauh dari tempat mereka berkelahi.
" Akhh ... Uggghhh, Sssshhhh " desis Si lelaki yang terpental, menabrak tong sampah tadi. Ia merasakan sakit, di area punggungnya karena menabrak tong sampah hingga berguling.
Seketika kerumunan pengunjung ramai, melihat ke arah mereka. Pekikan panik pun mulai bersahutan, membuat Dirga berdecak emosi. Ia merasa kecolongan, meski tidak semua mengenal siapa Ia. Tapi Ia tidak ingin ada gosip buruk tentangnya atau Sang Istri.
Lelaki yang tadi terjatuh bangkit lalu mengamati sekitar , saat kerumunan pengunjung ramai melihat ke arah mereka. Dia melihat dengan sedikit kesal, saat melihat temannya ada dalam cengkarama tangan Si pemukul.
" Lepaskan teman Gue, kalau tidak ...
" Kalau tidak apa heum? " sela Dirga cepat dengan nada datar, semakin menguatkan cengkarama tangan, di belakang punggung si lelaki yang saat ini merintih sakit.
" Aargggg ... Lepasin Gue sial." rintih Si lelaki yang saat ini ada di cengkaramanya, Dia mencoba memberontak. Namun sayang sekali, Dirga tidak sedikit pun melonggarkan cengkaramanya. Justru Ia semakin menguatkan cengkaramanya, membuat Si korban merintih semakin kesakitan.
" Aarrghh ...
" Diam atau Lu mau saat ini juga, mati di tangan Gue? " desis Dirga denga nada dingin. Ia memandang ke depan, di mana Si lelaki satunya mencoba melayangkan lagi pukulan. Namun malah terkena temannya sendiri, Dirga menjadikan tubuh di depannya sebagai tameng dan itu berhasil.
Buagh ...
Brugghhh ... Brugghhh
" Akhhh ... Aargggg ..."
Keduanya jatuh, dengan tubuh saling menindih .
Baru saja Dirga ingin mendekati lagi, hendak menendang tubuh keduanya. Suara bergetar takut menghentikanya, di susul dengan suara peluit petugas keamanan, yang datang terlambat.
Priiittt ... Priiiittt
" Stop sayang, Aku baik-baik saja. " jerit Kiara, meskipun suaranya bergetar takut. Tapi Ia berhasil, menghentikan tindakan selanjutnya yang akan di lakukan Sang suami.
Ia memandang ngeri kejadian di depannya, bagaimana saat Sang suami memukul keduanya dengan Brutal. Ia baru ini melihat Suaminya dalam mode gahar, meski pernah melihat hasil dari perkelahian dengan kaisar tempo lalu. Tapi melihat dengan mata kepala sendiri, ke agresifan Suaminya dalam menyerang, membuat Ia takut.
Deg
" Kiara"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya....
Jangan lupa komentar dan klik jempolnya yaaaa...
Serta vote dukunganya....
Mampir juga di novel " Tersimpan Dalam kenangan" kisahnya tidak kalah seru loh.
Sampai babai
__ADS_1
Terima kasih