Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Grow Up ~ Selyn Wicaksono


__ADS_3

Seoson dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Tujuh tahun kemudian


Kediamanan Wijaya


Pagi hari yang cerah menyambut Kediamanan milik keluarga Wijaya atau juga Dirga dan Kiara.


Di dalam sana sudah terlihat aktifitas dari pekerja, yang sudah memulai rutinitasnya masing-masing.


Di lantai atas tepatnya sebuah kamar dengan cat berwarna biru, terdapat seonggok manusia di atas ranjang masih dalam keadaan tidur.


Dengkuran halus terdengar darinya, tapi sayang tidur tampannya terganggu saat cahaya matahari dengan nakal menerpa wajah, meski matanya masih tertutup.


Keningnya mengernyit, saat merasakan cahaya yang mengganggu tidurnya.


Perlahan tapi pasti kedua kelopak mata itu berkedip, guna membiasakan cahaya matahari yang menyapa memasuki retina matanya.


Sreek!


Bunyi dari hordeng yang di buka, terdengar memenuhi kamar tersebut. Sehingga Si empunya kamar akhirnya bangun, setelah menguap dan itu membuat Seseorang yang melihatnya terkekeh kecil.


"Sudah bangun, Honey?"


"Momm!!"


Seseorang yang di panggil Momm itu tersenyum dan berjalan menghampiri ranjang.


"Good morning, Honey!" ujar Si Mommy, lalu mengecup sayang kening Seseorang yang di panggil Honey, menuai erangan protes karena lagi-lagi di perlakuan seperti anak kecil.


"Momm, Aku sudah besar!"


"Tapi bagi Mommy, Kamu masih kecil, Honey!" balas Si Mommy tidak perduli.


"Ugh!"


"Sebaiknya Kamu mandi, kalau tidak kesayangan Kamu akan mengganggu. Apa Kamu mau?" ujar Si Mommy, yang di balas anggukan kepala mengerti dari orang yang di panggil Honey.


"Yes, Momm!"


Setelah mendapatkan jawaban dari Anaknya, Si Mommy atau juga Kiara ini, bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar Sang anak.


"Oh iya Gav!"


"Hn?"


"Ada salam dari anak tetangga sebelah!" seru Kiara menggoda kemudian buru-buru keluar kamar, menghindari amukan dari Anaknya yang tadi Ia panggil dengan sebutan Gav.


"Momm, berhenti menggodaku!"


Blam!


"Hi-hi! Dasar. Ah ... Tidak terasa, mereka berdua sudah besar." Gumamnya.


Ruang makan


Di meja makan panjang dengan hidangan lengkap, ada Sang kepala rumah tangga atau juga Dirga, yang saat ini sedang duduk dengan koran bisnis di tangannya.


Ia membaca dengan serius baris demi baris berita, yang isinya tidak jauh dari perkembangan bisnis dan sejenisnya.


Aroma harum kopi menguar memasuki indra penciumanya, tidak jauh dari tempatnya duduk ada Sang istri yang berjalan dengan memegang cangkir di kedua tangannya.


Tak!


"Kopinya, Yank," ujar Kiara sambil meletakkan secangkir kopi hitam buatannya, di samping piring kosong milik Suaminya.


"Hn, terima kasih, sayang!" seru Dirga membalas dengan lembut.


Ia melipat korannya kembali, lalu meletakkannya di atas meja samping gelas berisi air putih.


Lalu mengambil cangkir kopi tersebut, meniupnya sebentar dan menyeruputnya dengan nikmat.


Sruup!


"Ah ... Emang buatan Istriku yang paling de bes!" seru Dirga memuji Sang istri yang tersenyum geli.


"Dasar gombal!"


Di belakang mereka ada dua Anak remaja, yang menyaksikan kejadian di hadapan mereka dengan bola mata berputar malas.


Apalagi saat menyaksikan bagaimana tingkah Sang Daddy, yang masih suka menggoda Sang Mommy di usia mereka yang sudah tidak muda lagi.


"Ih, siap-


"Please deh, Dadd. Bisa tidak, sehari saja tidak bersikap layaknya remaja kasmaran?"


Perkataan Dirga terpaksa berhenti, saat seseorang menyela dengan kurang ajar dan jangan lupakan nada datar turunan darinya.


Kedua orang yang tadi sedang asik bercengkrama, kompak menoleh ke arah belakang dan menatap dengan ekspresi berbeda, saat melihat dua Anak mereka berdiri di ambang pintu masuk ruang makan.


"Cepat kemari sayang, Kita sarapan bersama!" seru Kiara semangat, memanggil kedua Anaknya yang mengangguk dan berjalan menghampiri tempat mereka duduk saat ini.


"Morning, Dadd!" sapa Selyn semangat, mencium pipi kanan Sang Daddy, yang di balas dengan tepukan sayang di kepalanya.


"Morning, sweaty!" balas Dirga lembut.


Selyn pun menduduki dirinya di sebelah Sang Daddy, setelah mencium pipi Sang Mommy yang segera menyiapkan sarapan untuknya.


Beda Selyn beda lagi dengan Si Gavriel, sulung dari Dirga ini duduk tanpa mencium atau pun menyapa Sang Daddy, membuat Dirga yang melihat kelakuan Putranya harus menahan decihan sebalnya.


"Morning Momm!" sapa Gavriel lalu mencium pipi Sang Mommy.


"Morning, Honey. Daddy belum di sapa!" seru Kiara mengingatkan.


Gavriel yang di ingatkan hanya melihat Sang Daddy dengan cengiran khasnya, lalu menyapa Sang Daddy sesuai perkataan Mommynya.


"Morning Daddy, he-he!! Sangkain Daddy sudah ke kantor," sapa Gavriel kemudian menyindir Daddy toyyibnya, yang memang jarang ikut sarapan.


"Hn, kenapa? Kangen?" balas Dirga menatap Anaknya, yang memasang ekspresi meledek ke arahnya.


"Mimpi Dadd, Mommy dan Selyn cukup!" seru Gavriel membalas pertanyaan Daddynya dengan kalimat menohok.


Kalimat menyindir dari Anaknya, membuat Dirga seakan merasakan penderitaan Sang Papa saat dirinya kurang ajar dulu.


"Kejam sekali."


"Seperti dirinya tidak."


"Sia-


"Oke ... Sarapan di mulai!" sela Kiara cepat, yang mulai tidak tahan dengan percekcokan ala anak ayah di hadapannya.

__ADS_1


Ia kadang heran dengan kelakuan Anak sulungnya, jika Daddy mereka tidak ada mereka bertanya dan jika ada pasti terjadi keributan.


Haih ... Memikirkan kejadian barusan, membuat Ia merasa tua dua kali lipat dari umur aslinya.


"Yes, Momm!"


"Iya, Dear!"


"Ay-ay Kapten!"


"Ya Tuhan, ada senang dan kesalnya." batin Kiara dengan kepala menggeleng kecil.


Skip


Setelah sarapan selesai, kini saatnya tiga penghuni rumah pergi menjalani aktivitas mereka masing-masing.


Di depan pintu rumah terlihat Dirga, yang berdiri dengan Kiara merapihkan kerah kemejanya.


Sedangkan Gavriel sedang duduk di atas motornya, menunggu Sang adik yang sedang mengambil barang yang katanya tertinggal di kamarnya.


Tin! Tin!


Dari arah gerbang terdengar bunyi klakson, di susul dengan sebuah motor sport memasuki halaman rumah.


Ckit!


Decitan ban terdengar, membuat Dirga dan Kiara, segera melihat ke arah motor tersebut.


Di balik kaca helm, ada remaja pria sahabat anaknya sekaligus keponakannya, dengan penumpang seorang remaja perempuan anak dari sahabatnya pula.


"Morning, Onty, Unkel!" sapa kedua remaja itu semangat.


"Morning, Ezra, Queene!" balas Kiara tidak kalah semangat, sedangkan Dirga hanya mengangguk dengan senyum tipis.


"Morning epri badi!"


Seruan dari dalam rumah membuat mereka semua menoleh ke asal suara, di sana ada Selyn yang berjalan dengan larian kecil dan wajah berseri-seri.


"Morning, El!" balas Ezra dan Queene.


Selyn dan Gavriel pun bersalaman dan pamit kepada dua orang tuanya, lalu pergi meninggalkan halaman luas rumahnya.


"Mas berangkat, yuk!"


"Momm, Dadd. El dan Mas, berangkat sekolah dulu, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Brum!


SMP dan SMA Negeri kota S


Di Ujung gerbang sekolah, terlihat dua buah motor dengan beda brand, memasuki lahan parkir sekolah SMP negeri terkenal.


Brum!


Ckit!


Motor dengan warna merah buatan dari Jepang itu berhenti, di sebelah motor buatan negara sama namun beda brand berwarna hitam.


Si pengendara motor merah ini membuka helmnya, setelah penumpang di belakangnya turun dan menyerahkan helm yang di pakainya.


"Nih Mas, tararangkyu!" seru Si penumpang, dengan jenis kelamin perempuan kepada Si pengendara.


"Cih ... Kenapa harus gumaman sih Mas, seperti Daddy saja!" seru Si perempuan kesal.


"Karena Mas anaknya, El yang bawelnya melebihi Mommy." balas Si pengendara motor.


"Ih ... Ngeseli-


"Gav, abis ini Kita ada kumpul sama anak-anak!"


Ucapan Si perempuan bernama El itu berhenti, saat dari arah samping ada Mas satunya yang menyela perkataannya cepat.


"Ih ... Mas Ez, reseh!"


"Apa sih El, Kamu kalau ngomong panjang kali lebar sih." ledek orang yang di panggil Mas Ez oleh El.


"Kan ak-


"Sebaiknya Kita masuk, bel masuk sudah mau berbunyi!" seru Seorang perempuan remaja lainya, lagi-lagi menyela perkataan El dengan cepat.


"Ih ... Mba Queene, ikut-ikutan!" seru Selyn kesal, menuai kekahan dari tiga orang kakak yang selalu menemaninya.


"Masuk yuk, Mas ada perlu," ujar Gavriel sambil menepuk kepala adiknya sayang.


"Ung!" gumam Selyn menyetujui.


Mereka pun berjalan bersama di koridor sekolah, dengan tujuan kelas berbeda.


Selyn pov on


Halo ... Perkenalkan, Aku Selyn Wicaksono, umurku saat ini tiga belas tahun.


Hum ... Dulu Aku sempat bingung kenapa nama belakangku bukan Wijaya, melainkan Wicaksono, nama dari keluarga Mommy.


Tapi saat mendengar penjelasan dari Opa Fandi, Aku jadi tahu dan tersenyum lebar ke arah Opa, Oma dan tentu saja Buyutku, yang sekarang sudah semakin banyak keriputnya.


Aku sekarang kelas satu SMP (sekolah menengah pertama), di salah satu sekolah negeri di kota S.


Sekolah yang sama dengan sekolah Mamasku, siapa lagi kalau bukan Si tengil handsome Gavriel Wijaya.


Err!!


Mamasku saat ini sudah kelas tiga, Dia tumbuh seperti remaja laki-laki pada umumnya.


Dengan tubuh tunggi semampai turunan Daddy, Mamasku sukses menjadi rebutan perempuan remaja di sekolah maupun sekolah tetangga.


Ih ... Aku kesal ketika melihat barisan Perempuan di koridor, saat Kami terlebih Mas Gav dan Mas Ezra jalan melewati mereka.


Mereka berdua ini yang paling jadi rebutan bagi kaum perempuan, apalagi Perempuan dengan tipe menel dan boncabe di sekolah.


Mamasku dulu aktif di Organisasi Intra Sekolah (OSIS) dan juga ekstra kulikuler basket.


Ew ... Dia jadi kapten basket sih tepatnya.


Tapi sekarang tidak, Dia sudah harus mempersiapkan ujian kelulusannya.


"Belajar yang benar, oke?"


Aku selalu yang lebih dulu sampai, karena mereka memang mengantarku sampai kelas, barulah mereka ke kelas masing-masing.


"Oke, Mas!" Seruku membalas ucapan Mas Gav dengan semangat.


"Kami ke kelas dulu."

__ADS_1


"Oke, Mas Ez!"


"Istirahat nanti, seperti biasa!"


"Oke, Mba Queene!" Balasku kali ini ke arah Queene.


Meraka pun meninggalkanku, berjalan bersama dengan Aku yang melihat mereka dengan pandangan sedih.


Istirahat pun datang dengan cepat.


Seperti janjiku dengan Mba Queene, saat ini Aku duduk di taman belakang sambil memakan makananku.


Emh ... Di sebelahku ada Mba Queene, yang sedang duduk dengan bacaan komik manga Jepang kesukaannya.


Aku sedih, saat lagi-lagi ingat harus berpisah dari ketiga Mas dan Mbakku.


Meskipun masih ada beberapa bulan lagi, tapi Aku tetap saja sedih.


"Kenapa El?"


Akh ... Aku hampir saja memekik kaget, saat Mba Queene tiba-tiba bertanya kepadaku, ih ... Dia selalu tahu apa yang Aku rasakan.


"Tidak."


Aku pun membalas pertanyaannya dengan singkat, tidak mungkin dong Aku bilang Aku sedih di tinggal.


Nanti akan terjadi sesuatu yang Aku inginkan, ups ...


"Jangan sedih gitu, Aku dengar ada akselerasi buat pernaikan kelas tahun depan. Kamu bisa ikut dan artinya Kamu sendiri tahu lah."


Em ... Apa Aku bilang, Mba Queene selalu tahu apa yang Aku rasakan.


"Aku tahu." Balasku lagi-lagi singkat.


"Mas lama!" Lanjutku berseru kesal, mengalihkan pembicaraan sensitif jika menyangkut tentang perpisahan.


Aku mendengar dengusan dari Mba Queene, is ... Selalu seperti itu.


Mba Queene ini ratu di sekolah, em ... Tapi jangan coba-coba mendekatinya kalau tidak mau di hajar olehnya.


Wajah cantik, kulit putih dan mata sedikit belo turunan Unkel Faro, tapi sayang kelakuannya sebelas dua belas dengan Mas Gav dan Ez.


"kebanyakan main dengan mereka Berdua," Batinku dengan kepala mengangguk membenarkan.


"Awas kepalanya copot, nggak ada reparasi kepala manusia, El!" Serunya meledekku seperti biasa.


Nah ... Apa Aku bilang, jika saat ini ada dua Mamasku pasti mereka berdua ikutan meledekku.


"Tinggal beli yang baru!" Seruku membalas dengan sewot.


"Idih ... Cakep-cakep tukang marah!"


"Ih ... Reseh Que-que!" Balasku meledeknya.


"Oh berani meledek yah!!"


Aku segera memasang wajah polos tanpa dosaku, saat mendengar nada suara bahaya dari Mba Queene, yang tangannya ikut di bunyikan setelah komiknya di geletakan begitu saja.


"Candaan elah Mba cantik, he-he!"


"Lagian, Kita kan masih bisa bertemu di rumah."


Nah ... Apa Aku bilang, meskipun kelakuan Mba Queene ini layaknya pereman pasar, tapi Dia itu paling mengerti Aku.


"Iya, Aku tahu."


Karena apa yang di katakan olehnya benar, maka Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Ya sudah, istirahat sudah mau selesai. Sebaiknya Kamu masuk kelas,"


"Oke!"


Kami pun jalan bersama menuju kelas masing-masing, letak kelasku di bawah sedangkan kelas Mas dan Mba Queene ada di atas.


"Sampai nanti lagi, El!"


"Sampai nanti lagi, Mba Queene!"


Setelahnya Aku masuk kedalam kelasku, teman-teman kelasku sudah duduk di kursi masing-masing, meskipun masih ada yang bergerombol.


Ketika Aku sedang mendudukan bokongku di kursi milikku, seseorang dari belakang menepuk bahuku pelan.


Puk!


"Hei, Selyn!"


"Apa?" Balasku singkat.


"Apa salam dariku sudah di sampaikan?"


Nih ... Salah satu yang membuat Aku malas, terkadang Aku heran dengan mereka.


Kenapa tidak menyampaikan salam secara langsung, emang harus yah lewat Aku, hanya karena Aku adiknya?


"Belum."


Masa bodo deh ... Dia mau marah atau tidak, yang penting Aku jujur.


"Kok gitu sih!"


Oh ... Dia sudah mulai mengeluarkan suara emasnya.


"Tadinya mau di salamin. Tapi Kamunya marah, nggak jadi deh." Ujarku santai.


Ew ... Syukur, suruh siapa jadi perempuan lenjeh.


"Ih, kam-


Tet! Tet! Tet!


Untunglah bel pelajaran terdengar dan kebetulan guru pun masuk ke kelas, jadi Aku tidak perlu mendengar rentetan kalimat memaksa darinya.


"Masih juga kelas satu, sudah mau pacar-pacaran." Batinku kesal.


"Ini semua karena Mas Gav, reseh." Lanjutku tentunya masih di dalam batin.


Pelajaran pun di mulai, Kami pun memperhatikan dan mendengar dengan seksama apa yang di sampaikan oleh guru di depan kelas.


Selyn pov end


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


__ADS_2