Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Kelahiran Bambino Si Kampret


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Rumah Sakit Ibu Dan Anak Kota S


Kiara saat ini sedang berada di ruang tunggu, bersama dengan Suami, serta keluarga juga sahabatnya.


Mereka sedang menunggu Amira, Yang tadi sempat membuat kehebohan saat berkumpul di Rumah Faro . Sengaja, ingin merayakan 100 hari kelahiran Baby Queeneira, sesuai adat dari negara asal Sang kakek yang berasal dari Hongkong sana, mereka bersama-sama merayakan 100 hari kelahiran Queeneira di kediamanan Faro.


.


.


Sebelumnya


Kediamanan Wardhana muda


Hari ini adalah hari 100 hari Baby Queeneira lahir di dunia, meski sudah lama tinggal di kota S. Nyatanya, Sang Kunkung ( Kakek ) masih mengikuti tradisi dari negara asalnya. Waktu pemberian nama, di adakan syukuran dan sekarang mengadakan makan-makan keluarga sederhana, dengan tamu yang datang kerabat dan sahabat terdekat.


Seperti biasa, Trio Strong berkumpul bersama di satu meja. Berpisah dengan kerabat dari pihak Elisa ataupun Faro, mereka sadar diri terkadang jika sedang berbicara, sering menggunakan kosa-kata yang tidak sesuai kamus besar bahasa.


" Am, kamu nggak apa-apa?" tanya Kiara khawatir, risih sendiri saat melihat Si Selebor makan dengan santai di hadapannya.


Padahal, bulan ini seharusnya Amira sudah mendekati waktu persalinan. Tapi, Si selebor Bininya Si Kampret enjoy, makan kudapan dari Negeri asal Elisa dengan santainya.


" Nggak apa-apa, apanya Mba Kiara?" tanya balik Amira, dengan mulut penuh manisan Akar Lotus ( akar bunga teratai ).


" Eh, mpret. Kapan Si Selebor lahiran?" tanya Dirga Penasaran, sepupunya tidak seperti Istrinya. Saat hamil kelihatan susah jalan, nah Si Selebor boro-boro, jalan aja layaknya Preman di pinggir jalan.


" Seharusnya minggu depan, Insyaallah. Iyakan Ay?" balas dan tanya Raka, kepada Amira yang hanya manggut-manggut kepalanya.


" Iya Bang, awal minggu depan. Bang Raka juga sudah siapin semuanya" sahut Amira, membenarkan perkataan suaminya.


Walau sudah menjadi Suami Istri, mereka berdua masih layaknya sahabat, panggilan untuk Amira dari Raka Ay (ayang) sedangkan Amira memanggil Raka Bang. Di sini Ia kadang suka ngambek, masalahnya kalau di panggil Bang Raka masih okey. Amira dengan cengirannya tega sekali, memanggilnya dengan penggalan nama belakangnya.


Ada yang bisa tebak?


Raka


Huruf belakang berarti Ka


Coba di gabung!


" Bang-ka bilang, 2 hari sebelum persalinan. Am nginap di Rumah sakit, bareng Mama" lanjut Amira santai, memanggil Suaminya dengan panggilan Bang-ka. Untung aja nggak di tambahin awalan Tua, kan nggak enak jadi Tua Bang-ka atau juga Martabak, sehingaa menjadi Martabak cap Bang-ka.


" Untung sayang Lu ah" batin Raka, gemas sendiri.


Panggilan ini di mulai saat awal Amira hamil sih, Raka hanya berharap, pas anaknya Brojol panggilan sayangnya berubah. Misalnya, jadi Abah atau Papi biar kerenan dikit.


" Betewe, udah siapin nama belum?" tanya Faro Penasaran. Sebenarnya bukan hanya Faro yang penasaran, tapi Bos Wijaya juga penasaran. Tapi harga diri Dirga tidak mengizinkan, takutnya Si mpret di depan sana ini akan ...


" Kepo banget, Suk-suk mau tahu yaa? " balas Raka dengan suara mendayu dan reseh seperti biasanya, kemudian Tos kompak ngekek bareng pasangannya.


Nuh di bilang juga apa, Raka mah orangnya gitu. Jadi dari pada harga dirinya di injak-injak, mendingan Ia Pura-pura cuek padahal dalam hati kepo sekali.


Gini yah rasanya, saat mereka kepo ingin tahu nama anaknya siapa waktu dulu . Kalau waktu Faro yang lahiran ..


( Elisa Ga, Faro mah yang nyumbang Embrio)


Iya gitu maksudnya, waktu Elisa yang lahiran, Faro sudah menyiapkan kertas di lipat lengkap dengan nama masing-masing si penerima.


Dirga kira sejenis undian berhadiah, terus tulisannya gosok lagi atau coba lagi anda kurang beruntung. Eh ... Tahu-tahunya malah susunan huruf dengan tulisan rapih, menyebutkan nama lengkap dari Baby mereka. Emang yah, Faro dan otak jeniusnya kalau soal ide ada-ada saja.


" khek, nyesel Gue nanya sama calon bapak kampret macam kau ini" seru Faro sambil melengoskan wajahnya Bete, saat Sahabat kampretnya cekikikan bareng pertner criminal dalam hal ngeledek orang. Siapa lagi kalau bukan istri atau Sepupu dari sahabat songongnya, Amira Setiawan Benedict.


" Hehehe ... Nanti nggak supris dong Bang Faro, kalau di kasih tahu sekarang" seru Amira dengan kekehannya.


Menyerah dengan rasa penasarannya, mereka kembali membicarakan obrolan seputar Negara asal Elisa atau hal nggak penting lainnya.


Sedang asik mengobrol, Amira yang nggak bisa diam izin dengan Raka, pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan HIVnya ( hasrat ingin vivis ).


" Perlu di anter?" tanya Raka khawatir, tapi di Jawab gelengan kepala dari Amira.


" Nggak perlu Bang, Ay bisa sendiri." balas Amira, kemudian melenggang pergi setelah mendapatkan anggukan kepala dari Raka.


Di perjalanan menuju kamar mandi, Amira merasa sangat basah di bagian belakangnya. Ia pun menengok, ingin tahu ada apa gerangan yang terjadi.


Baru saja ingin menengok kebelakang, tiba-tiba Ia merasakan sakit di area Perut bawahnya, seperti ada yang meremas dan sesuatu semakin banjir membasahi lantai depan kamar mandi.

__ADS_1


" Uugghh ... Ada apa ini? Kenapa sakit sekali" batin Amira, dengan tangan menekan perut buncit bagian bawahnya.


Nyutt


" Aaww ... Huf ... Apa ini, kenapa semakin sakit, kenapa semakin banyak" gumam Amira, merasakan sakitnya yang semakin kerasa. Ia memutuskan untuk, kembali ke tempat Suaminya berada.


Saat akan berbalik, Amira merasa tidak kuat dan mulai kehabisan tenaga. Bahkan saat Ia mencoba berpegangan pada lemari pajangan milik Faro, sakitnya datang dua kali lipat lebih cepat.


Seketika Ia sadar, sesuatu yang dari tadi membasahi pakaian bagian bawah adalah air ketuban, tapi ini belum waktunya dan perkiraan dokter adalah minggu depan.


Uggh


Amira salah memegang bagian lemari, alhasil saat Ia memegang benda yang ternyata adalah Guci kecil berbaris, Amira terjatuh di ikuti oleh suara pecahan Guci beruntun.


Di saat yang sama, di meja trio strong


" Eh, Sa. Kamu tadi lihat nggak, Amira aneh banget. Maksud Aku, tadi Dress bagian belakang Amira, kayak basah gitu" bisik Kiara, menjelaskan lebih jelas, saat Elisa hendak menyela kalimatnya.


" Masa si ...


Prang ... Prang ... Bruk .. Prang ...


" Kya ... ada Orang yang jatuh "


Kalimat yang akan di ucapkan Elisa terpaksa terhenti, saat mendengar seruan panik dari arah kamar mandi.


Seketika orang-orang yang hadir berkumpul ke satu tempat, tepatnya ke arah kamar mandi dapur berada.


Raka, merasa ada yang tidak beres. Ia pun bergegas menghampiri lokasi, di susul oleh sahabatnya. Ia khawatir, sebab Amira juga pamit ke kamar mandi yang ada di dapur.


Drap ... Drap ...


Bunyi langkah kaki terdengar, Raka berlari menuju arah dapur dengan perasaan was-was apalagi mendengar seruan Wanita hamil.


Deg .. Deg ..


Jantung Raka berdetak cepat, fikirannya melayang ke arah yang tidak-tidak.


" Amira"


Benar saja, saat Ia sampai di tempat kejadian. Ia melihat sendiri bagaimana Istrinya menahan sakit, dengan air menggenang di sekitarnya.


" Ay" seru Raka dengan suara kerasnya, menghampiri Amira yang tergeletak, di pangkuan salah satu kerabat Elisa.


" Ay, Ay sadar Ay" panggil Raka panik, dengan tangan menepuk pipi Amira pelan, setelah mengambil alih tubuh Istrinya kepangkuannya .


" Ka, mobil udah siap" seru Dirga, dari arah luar dapur, berteriak memberitahu Raka yang langsung mengangkat tubuh Amira di gendongannya.


" Astagfirullah, Air ketubannya sudah pecah. Cepat Raka cepat" pekik Kiara panik, saat melihat air mengalir deras dari bagian bawah milik Amira.


Raka dengan cepat, berlari tidak memperdulikan kakinya yang hampir patah karena membawa beban berat, di tambah lagi keramik basah dari air ketuban Amira membuat licin.


Uugghh


" Bang, Bambino ( Bayi) mau keluar, sakit Bang." ujar Amira, di sela-sela sakit yang di tahannya.


" Sabar Ay, kita kerumah sakit sekarang"


Ceklek


Blam


Bruuumm


Dan di sini lah mereka sekarang, di depan ruang operasi.


Raka di dalam, menemani Amira. Lamanya perjalanan membuat air ketuban kandungan Amira kering, sehingga agak beresiko jika harus melakukan persalinan normal.


Akhirnya, Raka mengambil jalan Operasi cesar, apapun itu untuk keselamatan Istri dan Bambinonya.


Raka tidak kuat, saat melihat Amira yang kesakitan. Sepanjang hidupnya baru ini, Ia menangis karena melihat Wanita yang di cintainya, berjuang antara hidup dan mati.


Amira masih sadar, meskipun tubuhnya mati rasa. Dokter memberi anestesi spinal atau bius regional , pada bagian tubuh dari pinggang hingga bawah. Raka mendampingi Amira dalam keadaan kacau. Padahal, Mereka tadi cekekekan dan mengerjai sahabatnya bareng.


" Ya Tuhan, selamatkan Istri dan Anakku." batin Raka berdoa, berharap untuk keselamatan Istri dan Bambinonya.


Raka melihat, bagaimana Dokter dan Asisten Dokter tersebut, memasang peralatan di tubuh Istrinya. Ia tidak tahu alat apa itu, Sesuatu alat yang di masukan kedalam bagian milik istrinya, sedangkan Istrinya hanya bisa pasrah tanpa bisa melawan.


Hati Raka sakit melihatnya, bagaimana lelehan air mata membasahi wajah Istrinya , yang biasanya penuh cengiran. Kini hanya memandangnya, dengan mata berkaca-kaca, dan Ia sendiri hanya bisa membisikan kata penenang.


" Hiks ... Maafin Ay, Ay seharusnya sadar kalau saat itu, Ay bukan ingin ke kamar mandi"


" Ssssttt ... Lu nggak salah Ay, Gue yang seharusnya dampingin lu, selalu dan di mana pun" bisik Raka, saat mendengar Amira yang menyesali keteledorannya.

__ADS_1


" Hiks"


" Sebentar lagi kita bisa bertemu Bambino, semua akan baik-baik saja, Gue janji Ay." bisik Raka, Ia sesekali menyeka lelehan air mata Sang Istri, yang tadinya ingin lahiran secara normal harus rela menjadi operasi Cesar.


Di saat Raka menenangkan Amira, Tim Dokter fokus dengan kerjaannya. Dengan tugas masing-masing, berjalan sesuai prosedur.


Raka hanya mendengar, saat tim dokter meminta peralatan ini dan itu, yang sama sekali tidak Ia pahami apa fungsinya.


Operasi Cesar berjalan selama 30 menit, tapi bagi Raka yang mengalaminya seperti 30 tahun. Doa tidak henti Ia panjatkan, berharap keberhasilan operasi yang di jalani oleh Istrinya saat ini.


Di saat Ia membisikan banyak doa, di samping wajah Istrinya yang mulai bisa mengontrol emosinya. Suara merdu Bambinonya memenuhi Ruang Operasi, seketika air matanya yang sudah berhenti kembali menggenang di pelupuk matanya.


Oek ... Oek ... Oek


" Bambino Ay, alhamdulillah" seru Raka dengan perasaan membuncah, Ia mengecupi wajah Istrinya yang juga tersenyum haru dengan linangan air mata.


Bayi merah dengan hiasan bercak merah di kulitnya, di letakkan di dada Sang Ibu yang langsung mengecupi kepala Si Bayi. sedangkan Raka, yang melihatnya ikut mengecupi tangan mungil milik anaknya dengan tangan mengusap rambut Sang Istri sayang. Ia berterima kasih kepada Tuhannya, karena Doanya di kabulkan.


Di luar pintu operasi, keluarga dan sahabat segera mengucap syukur saat mendengar suara kencang tangisan, suara khas malaikat kecil, anugerah dalam kehidupan Orang tua.


" Syukurlah, ya Tuhan terima kasih" gumam Kiara, yang bahunya di rangkul erat oleh Elisa yang di sebelahnya.


Sedangkan Dirga dan Faro, yang menggendong anak mereka tidak kalah bahagia, Saat akhirnya mendengar suara tangisan bayi. Mereka khawatir karena tadi Amira kehilangan kesadaran, juga kehabisan air ketuban yang sangat penting untuk persalinan .


Ceklek


Pintu ruang operasi terbuka, di susul Raka yang keluar dari dalam. Pelukan dari Orang tua dan sahabatnya menyambutnya, saat Ia keluar dari ruang operasi. Tidak ada yang mengejeknya, saat melihat wajah kusutnya dengan hiasan mata merah efek menangis.


3 jam setelahnya, Amira sudah bisa di pindahkan ke ruang inapnya. Tepatnya setelah biusnya hilang, Amira yang tertidur di dorong, dengan brangkar untuk di pindahkan di ranjang pasien.


Bayi dari pasangan Raka dan Amira berada di ruang Bayi setelah di bersihkan , berkumpul dengan Bayi yang baru lahir lainnya.


Di Ruang inap VIP


Amira sudah siuman, di sampingnya ada Raka yang setia memegang tangannya. Sedangkan di sofa, ada keluarga dan sahabatnya yang masih setia menunggu.


Sayang sekali Bambino belum bisa di bawa kemari, sehingga mereka hanya bisa melihat dari luar ruangan melalui jendela besar.


" Sayang banget yah, nggak bisa foto dengan jelas wajah dedek baru" desah Kiara, dengan Gav yang tumben sekali anteng, mungkin karena ada daddy di sampingnya,sedang memegangi tangannya.


" Iya padahal, pengen banget lihat." sahut Elisa mendukung.


Amira yang mendengarnya hanya tersenyum, padahal Ia juga sebenarnya ingin melihat lagi Bambino kesayanganya.


" Besok bisa lihat" balas Raka dengan cengiran bahagianya.


" Sekalian kasih tahu nama?" tanya Faro membujuk


" Iya"


" Oke, besok awa ...


" Iya, pas waktu syukuran maksudnya "


Raka cepat dengan cengiran khasnya , menyela kalimat dari Faro yang sudah semangat akan datang awal.


" Serah Lu "


Perkataan bernada sewot dari Faro, membuat Raka akhirnya bisa tertawa lagi. Setelah adegan melow, yang membuat air matanya hampir kering. Sahabatnya bisa membuatnya rileks lagi, Ia pun tersenyum melihatnya.


Bukan Raka pelit memberi tahu nama, masalahnya adalah ...


" Gue aja belum tahu, mau kasih nama Bambino Gue apa? Apa yang mau Gue kasih tahu. Dasar sahabat stres" batin Raka nyengir sendiri.


Iya ... Raka sama sekali belum menyiapkan nama, maka dari itu Ia hanya bisa menggoda sahabatnya saat menanyakan siapa nama anak mereka nanti.


Bahkan, Istrinya sekalipun hanya tahu jika Ia sudah menyiapkan nama, tanpa melihat kenyataan yang ada.


( Ckck ... Bentar siapa tahu di koran ada nyelip nama bagus, bercanda elah Thor )


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tunggu kelanjutan untuk nama Si Bambino yah...


Ikuti terus kisahnya ...


Jangan lupa tinggalkan komentar dan klik jempolnya.


Serta vote dukunganya...


Sampai babai


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2