
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Sebelumnya ....
Kediamanan Wardhana
Queeneira pulang di antar oleh Ezra, yang tidak segera pulang melainkan menyempatkan diri bertanya, padahal dirinya sedang ada kerjaan yang harus diselesaikan.
Memperhatikan Queeneira yang sedang melepas pengait helmnya, Ezra mengambil alih tangan Queeneira yang kesusahan saat mencoba membukanya.
"Sini! Jadi lupa yah, cara melepas helm, karena keasikan naik mobil?" sindir Ezra yang segera disadari oleh Queeneira, dengan melengoskan wajah enggan melihat wajah tampan sahabat sepopoknya.
"Apa sih, nggak maksud," gumam Queeneira dengan suara sewot yang kentara, sehingga Ezra pun terkekeh kecil saat merasa jika sahabatnya tertohok dengan ucapannya.
Klik!
Pengait pun lepas, Ezra pun membantu melepas helm dari kepala Queeneira, dengan Queene yang segera membenahi rambutnya yang ikut terangkat.
Jika saja yang sedang memperlakukannya seperti ini adalah-
Ah! Apa yang aku pikirkan, lupakan Queeneira, lupakan dia untuk selamanya, batin Queeneira dengan hati sedih.
"Kenapa?" tanya Ezra saat melihat sahabatnya yang hanya diam melihatnya, namun sayang Queeneira hanya menggelengkan kepala tidak menjawab pertanyaannya, hingga ia pun mau tidak mau mencoba mengerti.
"Oke, kalau tidak mau jawab. Tapi, kalau aku bertanya, tidak apa-apa, kan?" lanjut Ezra, menuai anggukan kepala ragu dari Queeneira, namun akhirnya mengangguk yakin.
Queeneira tidak bisa menghindar, jika sudah Ezra yang bertanya kepadanya.
"Apa?"
"Apa kabarmu, Que-Que? Sudah lama aku tidak mengantarmu pulang seperti ini."
Queeneira mengedip-ngedipkan matanya cepat, saat mendengar pertanyaan aneh yang keluar dari lisan sahabatnya. Kenapa sahabatnya bertanya kabarnya, alih-alih bertanya masalah ia dan Gavriel.
"Kenapa? Apa pertanyaan aku salah, saat aku bertanya apa kabarmu?" lanjut Ezra saat belum mendapatkan jawaban sama sekali, hanya tatapan mata juga kelopak mata berkedip dari sahabatnya.
"Tidak, aku hanya kaget, kamu bertanya kabar, alih-alih masalah hari ini."
Ezra tersenyum mendengar perkataan sahabatnya, yang melihatnya dengan ekspresi sayu.
Ia mengangkat tangannya, kemudian mengusap sayang rambut Queeneira yang menunduk sedih.
"Maka itu, aku tanya apa kabarmu, Queene. Karena jika tadi kamu menjawab aku dengan baik-baik saja, itu artinya kamu sedang berbohong. Karena kamu nyatanya sedang tidak baik-baik saja," tukas Ezra membuat Queeneira akhirnya tahu, jika Ezra tetaplah Ezra si to the point dengan segala keingintahuannya.
"Ez," cicit Queeneira hampir nangis.
"Hmm." Ezra bergumam panjang, melihat sahabatnya yang masih menunduk di hadapannya.
"Aku tidak melakukan itu, ak-
"Aku tahu, bahkan Gavriel pun tahu," sela Ezra cepat, sehingga Queeneira pun segera mengangkat wajahnya dan menatap Ezra kaget.
"Kamu tahu?"
"Tentu saja, aku ah! Maksudnya kami tahu, jika kamu mana mungkin melakukan itu," jawab Ezra dengan senyum kecil.
"Tapi, tapi Gavriel, tad-
"Gavriel hanya tidak ingin, kamu menjelaskan sesuatu yang tidak kamu lakukan, Queene. Dia ingin kamu pergi, bukan karena dia tidak percaya kepadamu."
Queeneira semakin kaget mendengar perkataan sahabatnya, tentang sahabat satunya yang ternyata juga percaya kepadanya.
Tapi kenapa Gavriel seakan menunjukkan jika dia tidak percaya dengannya, melewati ia begitu saja bahkan tega mengusirnya.
"Queeneira, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Gavriel akhir-akhir ini. Aku juga tidak mengerti dengan apa yang dipikirkanya saat ini. Tapi, bisakah kalian berbaikan, kembali seperti dulu. Saat kita masih belum mengerti arti suka dan cinta, karena aku menyayangi kalian berdua, seperti aku menyayangi diriku sendiri. Jujur, aku sangat sedih saat melihat kalian saling berjauhan."
Queeneira mendengar dengan hati sedih, saat sahabatnya mengungkapkan perasaan yang baru disadarinya.
Ternyata selam ini ada korban yang harus merasakan dampaknya, karena keegoisannya dan itu adalah sahabatnya sendiri.
"Maaf," cicit Queeneira.
"Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah, aku hanya ingin kalian berbaikan dan kita bisa bersama seperti dulu," tandas Ezra cepat, sehingga Queeneira pun tidak bisa membalasnya dan lebih memilih diam.
Keterdiaman Queeneira membuat Ezra menghela napas, kemudian berdiri tegak bersiap-siap untuk pergi, karena ia sudah sangat terlambat untuk datang ke suatu tempat saat ini.
"Baiklah, aku harus pergi. Istirahat lah, Queene," ucap Ezra sebelum menstarter kendaraan roda dua kesayangan, kemudian meninggalkan halaman rumah keluarga Wardhana dan pergi ke tempat tujuannya.
Sedangkan Queeneira, yang di tinggalkan oleh Ezra segera masuk ke dalam, bergegas ke arah kamarnya takut jika wajah kusutnya dilihat oleh sang Mama, yang akan banyak bertanya kepadanya.
Queeneira baru saja ingin menutup pintu rumahnya, tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu sehingga ia pun kembali membuka pintu, dengan seseorang yang ia kenali berdiri di depannya.
Ia kaget saat melihat seseorang itu, tapi yang sangat membuatnya kaget adalah luka di sudut bibir kakak kelasnya, yang terlihat seperti habis terlibat perkelahian dengan seseorang.
"Kak! Kenapa?" pekik Queeneira, tapi seseorang yang dipanggil kak itu hanya tersenyum kecil, diiringi ringisan yang membuat Queeneira bertambah cemas.
"Duduk di situ, aku ambil kotak obat!" seru Queeneira, dengan sang kakak kelas mengangguk menuruti.
Beberapa saat kemudian ....
__ADS_1
Queeneira duduk di hadapan seorang laki-laki muda__Ge, dengan kapas yang sudah ditetesi antiseptik, kemudian mengoles salep dan menutup luka dengan plaster kecil.
Queeneira tidak banyak bertanya, hanya tangannya saja yang bekerja, dengan Ge yang memperhatikan kegiatan Queeneira dalam diam.
Dalam hati Ge sedang terjadi pergulatan batin, saat ia tadi di tepi danau memutuskan untuk memilih pilihan mana.
Egois atau memikirkan perasan adik kelasnya.
Bunyi seseorang yang menutup kotak membuat Ge sadar dari acara melamunnya, kemudian melihat Queeneira dengan gelengan kepala pelan.
"Thanks, princess," gumam Ge dengan cicitan pelan di akhir kalimatnya, sehingga Queeneira hanya mendengar kata terima kasih, tapi tidak dengan kata selanjutnya.
"Nope."
Queeneira pun menghadap kembali ke arah Ge, yang memegang lukanya kemudian memamerkan senyum seperti biasa, membuat Queeneira yang melihatnya mendengkus merasa percuma saat tadi ia khawatir.
"Ada apa kak? Kenapa kakak bisa terluka seperti ini?" tanya Queeneira dengan nada menuntut, sehingga Ge yang mendengarnya menelan saliva, antara ingin menceritakan dan tidak kenyataan yang ia ketahui saat ini.
Apa yang harus gue lakukan, gue sayang dia, tapi gue ...
"Kak! Kok diam, jelaskan."
"Ah! Sorry, apa, tadi nanya apa?" tanya Ge kaget, sepertinya ia melamun hingga Queeneira yang melihatnya pun bertanya ulang.
"Ck ... Kenapa malah melamun sih kak. Tadi aku nanya, kenapa kakak sampai bisa terluka seperti ini, apa kakak habis berkelahi?" tanya Queeneira setelah berdecak sebal.
"Ah! Ini, ini-
"Jangan bilang habis jatuh kak, karena itu jelas sekali bohong." sela Queeneira cepat, sehingga Ge pun akhirnya pasrah.
"Baiklah, gue memang tadi sempat berkelahi-
"Tuh kan benar! Sama siapa kak?" lagi-lagi Queeneira menyela perkataan Ge, bertanya dengan nada khawatir yang membuat Ge tersenyum dalam hati.
Senyum dengan dua arti berbeda.
Jika ia memberitahu dengan siapa ia berkelahi, Queene akan lebih khawatir dengan siapa. Dirinya kah atau seseorang yang akan ia sebut namanya?
"Lu khawatir, Queene?"
"Tentu saja, kak!" balas Queeneira cepat tanpa pikir panjang, yang membuat Ge lagi-lagi tersenyum.
"Kalau gue bilang gue abis adu tinju dengan Gavriel, lu lebih khawatir dengan siapa?"
"Apa?"
Queeneira menatap Ge dengan pupil mata melebar, kaget juga khawatir disaat bersamaan, ketika mendengar nama sahabatnya dibawa serta.
"Apa, maksudnya, kak?" tanya Queeneira tidak percaya.
"Maksudnya, kakak abis bertengkar dengan Gavriel?" tanya Queeneira masih mencerna maksud ucapan kakak kelasnya, yang menjawabnya dengan anggukan kepala santai.
Queeneira menutup mulutnya, memandang kakak kelasnya semakin tidak percaya. Saat menyaksikan sendiri, kakak kelasnya yang sabar ternyata rela sampai bertengkar, hanya karena masalahnya tadi siang.
"Kenapa? Kenapa kakak dan Gavriel bertengkar?"
"Kenapa? Tentu saja, karena gue nggak suka, cewek yang gue suka disakiti sama dia. Meskipun dia sahabat lu, gue nggak terima," jelas Ge apa adanya, saat memang itu adalah salah satu alasan ia bertemu dengan Gavriel di teman belakang.
"Tapi kan kak, kakak bisa baik-baik ngomong sama Gavriel!"
Sekarang giliran Ge yang melihat Queeneira dengan tatapan tidak percaya, saat mendengar pernyataan yang ia artikan sebagai dukungan untuk Gavriel, bukan dukungan untuknya.
"Lu kecewa sama gue, Queene?" tanya Ge dengan nada sedih.
"Nggak, bukan begitu kak. Aku tidak suka kekerasan, apalagi itu karena masalah sepel-
"Sepele lu bilang, bagaimana kalau gue kasih tau lu, alasan gue mukul dia karena apa. Gue bilang ke dia kalau kita nggak ada hubungan apa-apa, tapi apa yang dia bilang ke gue. Dia dengan santainya bilang, jika Itu semua nggak ada hubungannya dengan dia, apa yang akan lu rasa, Queene."
Ge yang sedang emosi, melampiaskannya dengan menjelaskan itu semua kepada Queeneira tanpa ada yang ditutupi. Membuat Queeneira yang mendengarnya terdiam dengan hati sakit, saat tahu jika apapun tentangnya ternyata tidak ada pengaruhnya dengan sahabatnya.
"...."
"Dan lu mau tahu, apa yang dia bilang ke gue tadi?"
"....."
"Dia bilang, dia nggak suka dengan lu dan nggak pernah mencintai lu sedikit pu-
"Cukup!"
Ge tiba-tiba sadar dengan apa yang dikatakan olehnya, saat Queeneira menyelanya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Queeneira, maaf. Maksud gue-
"Aku tahu, kakak nggak perlu meminta maaf. Karena memang apa yang dikatakan oleh kakak itu semuanya benar. Tidak mungkin-
"Que-
"Tidak mungkin jika dia suka aku. Aku hanya perempuan dengan wajah pas-pasan, mana mungkin dia menyukaiku, iya kan, kak."
"Apalagi aku hanya perempuan dengan masa depan tidak jela-
Grep!
__ADS_1
Tidak tahan dengan Queene yang merendahkan diri dengan suara bergetar dan juga mata berkaca-kaca, Ge segera memeluk tubuh Queeneira, dengan bibir merapalkan kata maaf, namun sayang, Queene tetap melanjutkan kata-kata menyakitkan hati.
"Cukup! Lu lebih dari segalanya, lu bahkan terlalu bersinar sampai dialah yang nggak pantas buat lu, Queene."
Queeneira akhirnya terdiam dengan mata menatap kosong, sedangkan Ge tetap memeluk Queeneira masih merapalkan kata maaf.
Bodoh, seharusnya gue nggak emosi dan akhirnya malah seperti ini, nggak sesuai dengan harapan. Gue kira Queeneira hanya akan menangis, tapi ini bahkan bikin lebih sakit.
"Maaf, Queene. Maafin gue," bisik Ge dengan Queene yang hanya diam.
Skip
Malam pun tiba, Queene yang sore bisa menghindar sang Mama ternyata tidak bisa menghindari sang Baba, yang menunggunya di kamar, saat ia sedang di kamar mandi untuk menggosok giginya bersiap tidur.
Pintu kamar mandi terbuka, Queene yang awalnya diam tanpa ekspresi akhirnya mengeluarkan ekspresinya juga, tapi sayang bukan ekspresi bahagia melainkan ekspresi kaget, saat melihat sang Baba yang duduk santai di meja belajarnya.
"Baba!"
"Haloo, Princess!"
"...."
Melihat anak satu-satunya hanya diam di depan pintu kamar mandi, Faro pun berdiri dari duduknya, berjalan ke arah sang anak dan menuntunya untuk duduk di ranjang, sedangkan ia sendiri menarik kursi dan duduk di hadapan anaknya.
"Heum ... Something wrong, Princess?" tanya Faro lembut, menatap sang anak sayang sehingga Queeneira pun tidak kuasa dan memilih melengoskan wajahnya, untuk pura-pura terkekeh dengan kekehan hambar.
"Apa sih, Baba. Nggak ada apa-ap-
"Kalau begitu, tatap mata Baba. Jawab dengan benar, baru Baba percaya," sela Faro, membuat Queeneira terdiam namun tiba-tiba terisak.
Hiks-hiks!
Grep!
Faro segera memeluk putrinya erat, saat tiba-tiba mengeluarkan isakan kecil, yang berubah menjadi tangisan tergugu dan itu membuatnya ikut merasakan sakit saat mendengarnya.
Ia tentu tahu ini dari seseorang, bahkan sahabatnya juga tahu yang terjadi terhadap anaknya saat ini.
(Ini sebabnya Dirga bertanya kepada Gavriel, dengan Gavriel yang bilang menyerah~episode sebelumnya)
"Lupakan sayang, jangan paksakan kehendak, atau kamu sendiri yang akan sakit," bisik Faro ikut merasakan sakit.
"Tapi Que sayang sama dia, Que terlalu menyukainya," jawab Queeneira disela-sela isakannya.
"Baba tahu, tapi Baba tidak mau kamu merasakan sakit ini sendiri. Baba tidak ingin kamu menjadi seseorang yang mencintai, Baba tidak ingin kamu sakit sendiri," tandas Faro dengan nada lembut, menjelaskan risiko seseorang yang mencintai adalah sakit yang lebih dalam ketimbang dicintai.
"Queeneira harus bagaimana, Baba? Queene, sudah terlanjur mencintai dia."
"Baba tahu, kamu hanya harus belajar merelakan dan lupakan dia, dengan begitu kamu akan tahu, benar kah kalau selama ini yang kamu rasakan adalah rasa cinta, bukannya rasa sayang sebagai sahabat saja," jelas Faro hati-hati, tidak ingin sang anak salah kaprah dengan perasaan yang dirasakan kepada anak sahabatnya.
Faro tentu saja ikut merasa sakit dengan apa yang dialamai sang anak, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Gavriel dan memaksakan perasaan Gavriel untuk membalas perasaan putrinya.
"Lupakan Queeneira, Baba tidak ingin kamu sakit lebih dari ini," bisik Faro dengan Queene yang akhirnya mengangguk kecil.
"Bagus! Itu baru anak Baba, putri Baba yang cantik, pasti dapat yang terbaik dari yang terbaik lainnya, paham?"
"Um ... Paham, Baba," gumam Queeneira masih dengan isakannya.
Faro pun menemani Queeneira, hingga sang anak terlelap di pelukannya.
Dengan segera Faro meletakkan Queeneira di posisi enak untuk tidur, menyelimuti tubuh anaknya hingga bawah dagu dan mengecup lembut kening sang anak sayang.
Cup!
"Mimpi indah, sayang."
Kemudian berjalan ke arah luar kamar, menuju ke arah balkon rumahnya untuk menelepon sahabat.
Tut! Tu-
"Hn."
"Apa kata Gavriel?" tanya Faro tanpa basa-basi, sehingga ia mendengar helaan napas dari sahabatnya sendiri.
"Nyerah, apa lagi. Dia takut nyakitin anak lu, karena dia tahu resikonya sekolah ngambil diploma satu tahun, lanjut kuliah sambil fokus membangun perusahaan."
"Tapi anak gue harus nanggung ini sendiri, gue tahu gue nggak bisa maksain kehendak."
"Sorry, Far. Gue tahu, ini pasti mengganggu lu. Tapi lu tahu sendiri, Gavriel bukan orang yang terbuka dan cenderung nutupin perasaannya."
"Sorry Ga, gue nggak maksud gitu. Tapi setidaknya kalau memang Gavriel nyerah. Lu bilang ke Gavriel untuk tidak mendekati Queeneira lagi, bisa kan? Gue minta ini ke lu bukan sebagai sahabat, tapi sebagai seorang ayah yang terlalu mencintai anak perempuannya."
Faro tidak segera mendapatkan jawaban, saat ia hanya mendengar suara helaan napas. Kemudian desahan lelah, yang ia mengerti jika sebenarnya sahabatnya pun tidak ingin ini terjadi.
"Gue ngerti, akan gue sampaikan ke anak gue. Lu tenang saja."
"Ok, Sorry Ga, thanks."
"Gue juga minta maaf dengan kelakuan anak gue, Sorry Faro. Sorry buat Queeneira."
Bersambung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima kasih dan sampai babai.