Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Memastikan Lagi


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


" Mas kai" panggil Fania


" Oit"


" Mas Kai, Mas kai masih suka yah sama Mba Kiara?" tanya Fania lirih dengan kepala menunduk


Deg ..


Ckiiitt ...


Dugh ...


" Apa" / " Ouuch ..."


Tepat saat Fania bertanya, Kai yang hampir saja terkena serangan jantung mengerem mobil mendadak. Ia refleks bertanya, sedangkan Fania mengaduh sakit karena dahinya terjedut dashboard mobilnya.


" Ah ... Maaf maaf, Lu nggak apa-apakan? Sakit yah?" tanya Kai panik saat melihat Fania yang mengusap dahinya yang sedikit memerah, lalu Ia ikut menipu kecil dahi Fania pelan.


" Uuh ... Mas Kai, kok nggak bilang-bilang sih kalau mau rem mobilnya?" tanya Fania di sela-sela desisan sakitnya.


" Duh benjol nih " gumam Fania dalam hati.


" Lu sih"


" Kok aku Mas?" tanya Fania bingung,


" Lah yang nyetirkan do'i?" lanjutnya dalam hati.


" Ya Lu lah Fan, ada - ada aja sama pertanyaannya. Dari mananya Gue masih suka sama Si chaby, kalau sayang sih emang iya masih" ujar Kai menjelaskan, namun Ia tidak sadar jika kalimatnya sungguh ambigu. Sehingga Fania yang mendengarnya harus merasakan sakit, saat tebakannya benar.


" Tuh kan benar apa kata aku, Mas Kai masih suka sama Mba Kiara" batin Fania sedih


" Oh gitu" sahut Fania mencoba tersenyum


" ..."


" ..."


" Mas, nggak jadi makan nih kita? Kok mobilnya belum jalan lagi sih!" ujar Fania, mengagetkan Kai yang masih memikirkan apa yang barusan Ia katakan.


" Ah ... Maaf, jadi kok kita makannya. Sebentar lagi juga sampai" balas Kai canggung.


Sesampainya mereka di Restoran italy, mereka memesan dan memakan makanannya di selingi beberapa obrolan. Tidak seramai kemarin, makan malam ini sedikit terasa canggung saat Fania yang biasanya nyaplak tiada henti, hanya sesekali menanggapi pertanyaannya.


" Sepertinya ada yang salah, apa karena ucapan Gue di mobil tadi" batin Kai bertanya.


" Oh iya Fan, abis ini Lu mau langsung pulang atau mau kemana?" tanya Kai, memecahkan keheningan di saat mereka sedang menikmati dessert.


" Pulang Mas, aku besok masih ada Pemotretan." balas Fania seadanya.


" Jadwal lu padat banget yah Fan?" tanya Kai


" Padat banget Mas, apalagi beberapa minggu kedepan padat sekali. Aku juga ada Pemotretan di luar kota" balas Fania menjelaskan.


" Kita nggak bisa ketemu lagi dong" gumam Kai sedih


Fania tersenyum kecil, saat melihat Kai yang menampilkan raut wajah sedih. Hatinya sedikit menghangat, meski tadi ada kejadian sedikit tidak mengenakan tapi seenggaknya, Kai juga merasa sedih saat tahu mereka tidak bisa bertemu.


" Kan bisa video call Mas atau kirim pesan" seru Fania kembali ceria. Ia bahkan tersenyum manis, membuat Kai juga ikut tersenyum di sertai debaran jantungnya, saat melihat senyum berbeda dari Fania bukan lagi seperti senyum Kiara.


" Jangan di tolak loh, saat Gue nelpon pas lagi sibuk-sibuknya. Kalau nggak Gue samperin ke lokasi langsung!" seru Kai mengancam yang sebenarnya hanya guyonan semata.


" Yee ... Nggak bisa gitu dong, nanti kalau aku nggak angkat berarti aku lagi sibuk. Aku deh yang telpon Mas balik" balas Fania dengan gelengan kepala geli lalu terkekeh kecil.


" Fine, janji yah?" seru Kai ikut terkekeh


Akhirnya suasana kembali seperti dulu, menurut Kai tapi beda dengan Fania yang masih memikirkan tentang kelanjutan hubungan mereka nanti.


Ia berfikir masihkan Ia bisa bersabar menunggu Kai, bisa menerimanya tanpa ada embel-embel masa lalu.


Kaisar mengantar Fania pulang ke apartemennya, karena kesibukan di dunia modelnya, Fania tinggal terpisah dengan Orang tuanya. Ia lebih memilih tinggal sendiri dan belajar hidup mandiri sejak lulus dan menjadi model.


" Hati-hati Mas, jangan kebut-kebut nyetir mobilnya" seru Fania mewanti Kai dari luar mobil, sedangkan Kai di dalam duduk di belakang kemudi.


" Oke , sampai jumpa lagi" balas Kai, Melambai tangan singkat lalu tancap gas meninggalkan area gedung apartemen milik Fania.


Skip


Kantor Sutomo (Wiratmadja)


Hari ini kaisar sedang galau, Dokumen yang ada di mejanya sama sekali belum di sentuh. Sesuai apa kata Fania dan Benar saja, sekitar 2 minggu Fania sibuk dan tidak bisa di ganggu. Hanya sesekali menelpon dan berkirim pesan, membuatnya merasakan lagi apa itu rasa kangen, rasa yang sudah lama ia coba lupakan saat menyerah pada cinta pertamanya.


Di depannya ada asisten pribadi sekaligus sahabatnya, yaitu Ronald yang memandang Kai Penasaran. Padahal minggu kemarin, Bosnya Si Kaisar koplak edan. Masih bisa mengerjainya dengan perintah absurd, tapi sekarang coba lihat!

__ADS_1


Ronald khawatir ayam tetangga mati mendadak karena melihat raut wajah Bosnya saat ini.


" Kai!"


" Hmm?" gumam Kai tanpa minat


" Perusahaan Wijaya minta proposalnya sekarang, buruan gih di cek ulang Kai" ujar Ronald mencoba menjelaskan dengan sabar.


" Oke"


Kaisar dengan segera mengerjakan Dokumen untuk perusahaan Wijaya, hanya Wijaya sedangkan Dokumen yang lainnya sama sekali tidak di kerjakannya..


" Nih, udah kelar Ron." ujar Kai dengan tangan menyodorkan sebuah Dokumen yang sudah Ia kerjakan dan tanda tangani.


" ..."


" kenapa?" tanya Kai


" Kali ini Lu kenapa lagi Kai?" tanya Ronald, setelah mengambil Dokumen dari tangan Kai.


Ia memandang Bos merangkap sahabatnya dengan tatapan Penasaran, Ia tahu pasti ada yang tidak beres dengan sahabatnya.


" ... "


" Kai, jujur deh apa ini ada hubungannya sama Fania dan Kiara? " tanya Ronald hati-hati.


Kaisar melihat Ronald bimbang, antara menceritakan atau tidak apa yang saat ini Ia rasakan. Kai tahu sahabatnya pasti merasa ada yang tidak beres terhadapnya,bersahabat dengan seorang Ronald lebih dari 10 tahun membuat Kai tidak mampu menutupi apa yang sedang di hadapinya.


Ronald menarik kursi di sampingnya, lalu mendudukinya menghadap ke arah Kaisar yang kelihatan sekali sedang dilema.


" Pegel juga dari tadi berdiri" batin Ronald


( Yah Ron, kirain lagi serius tahu-tahunya kepegelan)


" Sekarang coba ceritain, pelan-pelan aja" lanjut Ronald setelah duduk nyaman.


" Lu inget nggak, waktu Gue pergi sama Fania ke rumah Dirga?" tanya Kai, dengan kepala menunduk.


" Iya inget, kenapa?" balas Ronald setelah mengingat kejadian yang sudah lumayan lama berlalu.


" Di sana Gue di skak sama Dirga, Dia curiga Gue deketin Fania karena Fania mirip dengan Kiara." ujar Kai


" ... "


Mengetahui Ronald diam masih menunggu penjelasan darinya, artinya Ia harus menjelaskan apa yang terjadi hingga selesai.


Hufftt ...


" Oke, Gue cerita Ron. Jadi ....


Cerita mengalir begitu saja, tanpa ada yang di tutupi. Ronald mendengarnya dengan seksama cerita dari Kai yang membuatnya bisa langsung menarik kesimpulan.


Terang saja Dirga marah, biar bagaimanapun Dirga hanya melindungi keluarga dan Kai salah menjadikan Sepupu, dari cinta pertamanya sebagai pelampiasan karena kemiripan rupa. Ronald juga marah saat


Mengetahuinya, jika saja Ia tidak mendengar kelanjutan cerita, mungkin saat ini kepalan tangannya sudah melayang ke arah pipi Kaisar, yang saat ini menampilkan raut wajah sedihnya.


" Tapi Gue sadar Ron, ternyata Gue memang menyu ... ah maksudnya mencintai Dia, bukan karena kemiripan rupa tapi karena Dia adalah Dia. Si Cokocip favorit Gue, Mood boster Gue, cewek yang Gue fikir jodoh Gue yang tertunda"


Kaisar menyelesaikan kalimatnya dengan ekspresi senyum di akhir saat mengingat senyum dari Fania, Ia berfikir bagaimana bisa Ia menutup mata saat ada cewek sebaik Fania di hadapannya. Malah Ia menganggap Fania adalah pengganti di awal kenalannya.


" Bodoh, pantes aja Si Songong ngamuk. Untung aja kali ini perusahaan yang baru juga berjalan nggak di hancuri lagi" batin Kai horor, Ia merinding saat mengingat jika dulu perusahaan keluarganya bangkrut dalam sekali tepuk.


" Jadi menurut Lu Gue harus apa Ron? Apa menurut Lu Gue bakal di terima, kalau sampai Dia tahu awal mula Gue deket sama Dia karena kemiripan mereka?" tanya Kai melihat ke arah Ronald yang hanya diam menatap serius ke arahnya.


" Perasaan nggak bisa di bohongin Kai, kalau memang Fania juga punya rasa sama seperti yang Lu rasa. Gue yakin Dia pasti mengerti, yang penting Lu juga tulus menyatakannya dan benar-benar sudah move on nggak menganggap Dia pelampiasan semata" balas Ronald tersenyum tipis, sehingga Kai pun kembali percaya diri dan membalas senyuman Ronald dengan senyum lebarnya.


" Seperti itu kah?" tanya Kai meyakinkan


" Iya, seperti itu" balas Ronald singkat


" Thanks Ron, Gue mau ketemu Kiara habis ini supaya Gue yakin perasaan ini nyata bukan pelampiasan semata" seru Kai semangat, kemudian mengerjakan sisa laporan dengan cepat.


" Selesaikan sampai tuntas Kai, kita lelaki dan lelaki itu yang di pegang bukan hanya dari omongan tapi dari tindakan juga" ujar Ronald mendukung tindakan apa yang ambil oleh sahabatnya.


Kaisar mengangguk sedangkan Ronald lebih memilih undur diri, untuk menyerahkan proposal yang sudah di tagih oleh perusahaan No. 1 di kota S.


Kediamanan Wijaya Muda


Di ruang tamu kediamanan Wijaya muda sedang kedatangan tamu, kalau kata Dirga sih


" Tamu tak diundang"


Benar, di mana-mana tamu di sambut ramah. Nah tuan rumah kita. Dirga Mahesa Wijaya malah memandang sengit ke arah tamu yang sedang duduk di depannya.


" Ada apa?" tanya Dirga To the point, dengan singkat, padat dan datar. Sehingga Istrinya kanjeng medusa Kiara wijaya, dengan senang hati memberikan cubitan pada pinggangnya dengan senang hati.


" Aaaaakk "


" Sama tamu kenapa bawaannya ngajak baku hantam gitu heum? Di mana sopan santunnya sayang?" desis Kiara layaknya iblis betina


" Aaaaayaya ... Maaf sayang" ujar Dirga tertahan merasakan denyutan sakit pada area pinggangnya.

__ADS_1


" heum"


" Heum, heum ... Ndasmu" batin Dirga sambil menjaga raut mukanya agar tidak kelihatan sakit, di hadapan Tamu yang saat ini melihatnya dengan tatapan mengejek.


" Sial Si Koplak, Bangke" lanjutnya menyerapah Tamu di depannya.


" Ehem ... Jadi Kai, ada apa kesini? Pasti ada apa-apakan?" tanya Kiara lembut, Ia yakin ini ada hubungannya dengan seseorang.


Iya .... Tamu yang di sengitin oleh Dirga adalah Kaisar yang kemarin membuatnya emosi, meskipun sudah tidak terlalu marah seperti kemarin tetap saja Ia masih tidak bisa menerima Kai dengan mudah.


" Ga, sebelumnya Gue minta maaf"


" Hn"


" Soal tuduhan Lu ke Gue, Gue akui semua itu benar adanya" ujar Kai pelan sedikit takut saat melihat Kiara yang menahan Dirga di sofanya.


Dirga tentu saja sudah gatal, ingin membelai dengan kasih sayang pipi Kaisar yang licin minta di tampol. Ia yakin jika saat ini Istrinya tidak memegang lengannya dan menggeleng kepala melarang, mungkin akan ada tragedi pembantaian seekor kecebong di rumahnya saat ini juga.


" Bangke Lu jadi cowok, potong aja puny


" Dirga cukup sayang, Kai pasti belum menyelesaikan maksud yang ingin di sampingkannya." ujar Kiara menenangkan, ia mengusap lengan Suaminya lembut.


" Iya kan, kaisar? " lanjut Kiara, setelah Suaminya sedikit tenang. Bertanya ke arah Kaisar, yang menatap ke arahnya dengan binar cerah.


Kaisar senang, seenggaknya Kiara adalah Cewek yang dari dulu mengertinya.


" Semua benar Ga, tapi Lu salah menyatakan kalau Gue menjadikan Fania pelampiasan atas ketidakmampuan Gue mendapatkan Kiara. Karena nyatanya Gue memang mencintai Fania karena Dia Fania bukan Kiara, maka dari itu,bolehkan Gue sekali lagi memegang tangan Kiara? Untuk meyakinkan Gue sendiri, kalau debaran yang Gue rasa dari Kiara dan Fania itu berbeda? " ujar Kai panjang lebar, meminta izin kepada Dirga yang sudah bersiap untuk mengamuk lagi.


" Lu di kasih hati minta jantung yah, sial


" Aku mau Kai"


" Kiara


" Nggak apa-apa sayang, percaya yah sama Aku" ujar Kiara lembut, mengusap pipi dengan hiasan merah tanda marah milik Suaminya. Ia Menatap Dirga dengan pandangan memohon, ini juga demi kebahagiaan sepupunya. Setelah beberapa saat akhirnya Dirga sekali lagi mengalah, mengikuti apa mau Istrinya yang terkenal keras kepala.


" Anji ... Abis ini minta apa lagi Dia?" batin Dirga mencoba sabar, mengepalkan tangannya dengan gigi menggelutuk menahan amarah.


" Tapi ini yang terakhir yah Kai. Sesudah ini kamu harus benar-benar mencintainya dengan tulus. Bukannya kamu sudah janji sama aku, akan meraih kebahagiaan kamu sendiri?" lanjut kiara, mengingatkan Kai akan janjinya sendiri.


Deg ...


Kaisar menegang mendengarnya, Ia melupakan janjinya sendiri kepada cewek yang ada di hatinya.


" Sial "


" Iya Aku janji, kiara " balas Kai yakin.


Kiara mendekat dan duduk di samping Kaisar, di saksikan oleh Dirga yang hanya mampu diam, meski dengan hati terbakar amarah. Apalagi saat Kaisar meletakkan telapak tangannya di pipi gembil milik Istrinya, pipi yang seharusnya hanya Ia yang boleh memegangnya.


" piiipp ... Bang*** ... Piiiipp"


Kaisar merasakannya, debaran jantungnya yang sedikit cepat. Namun rasanya tidak seperti dulu, Ia hanya merasa sedikit senang karena bisa memegan lagi dan itu membuatnya sedikit mendesah lega.


" Huffft ..."


" Habis ini, kamu harus perjuangin rasa kamu sendiri yah kai. Aku pasti dukung kamu, karena kamu adalah kakak aku yang paling aku sayang" ujar Kiara lembut, memegang tangan Kai mendukung Kai tulus sebagai Adik.


" Terima kasih Kiara, terima kasih semuanya. Kamu sudah menyadarkan aku." balas Kai dengan mata berkaca-kaca sedih, sekali lagi cinta pertamanya tulus menyadarkannya.


Kiara tersenyum dan menepuk punggung tangan Kai yang ada di genggamannya, kemudian kembali kesisi Suaminya yang masih menahan emosinya.


Cup


" Daddynya Gav, The Best" bisik Kiara lembut, setelah mengecup pipi Suaminya yang akhirnya bisa sedikit menahan rasa amarahnya.


.


.


" Dasar Lu nya aja yang mau di cium sama adek Gue" sindir Kai ke arah Dirga yang balas mengecup pipi Kiara tanpa malu di lihat olehnya.


Dirga berdecih, melotot sinis ke arah Kaisar sepertinya masih kesal.


" Jomblo diem aja, buru sana di pepet anak perawan orang keburu di ambil orang, mampus lu jadi perjaka purba" balas Dirga sadis menuai kekehan dari Kai tidak merasa tersinggung, kenapa tidak tersinggung karena Dirga yang balas makiannya artinya sudah melupakan marahnya. Beda lagi kalau mode dingin, artinya perusahaannya siap-siap Otw bangkrut yang kedua kalinya.


Setelahnya, hanya obrolan dan gelak tawa yang memenuhi ruang tamu, di susul oleh tangisan Baby Gav yang ternyata bangun sudah waktunya Mimi tutu.


" Fania, tunggu Gue yah"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya...


Jangan lupa kirim komentar dan klik jempolnya yaaa ...


Dan vote dukunganya juga


Sampai babai


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2