
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Ruang inap Dirga
Di ruang VIP dengan pasien bernama Dirga saat ini sedang ramai, bukan hanya karena keluarga yang berkumpul, tapi juga karena Dokter dan perawat yang sibuk dengan tugasnya.
Tadi pagi Istri dari Pasien lagi-lagi menekan tombol darurat, yang membuat perawat jaga segera mendatangi untuk memeriksa.
Di pelukan seorang wanita ada seorang balita, yang melihat kejadian di depannya dengan tatapan polos.
"Mom-mom!"
"Mommy juga tidak tahu sayang,Hiks! " sahut Si ibu lalu terisak saat mengingat awal kejadian ini.
Flasback on
Puk! Puk!
"Ugh!!"
"Mom-mom,"
Terlihat di sebuah ranjang dengan seorang Ibu dan anak yang berbaring bersisihan, Si ibu yang merasakan wajahnya di tepuk kecil terbangun, lalu mengedip-ngedipkan matanya sebentar.
"Eumh ... Sudah bangun sayang? Selamat pagi!" Ujarnya menyapa Sang anak.
Sang anak yang di sapa hanya tertawa kecil, lalu membalik badan menjadi tengkurap dengan kaki bergerak heboh.
"Pagi-pagi sudah semangat, dasar!" gumam Si ibu pelan, lalu mencolek gemas hidung kecil Putra kesayanganya.
"Hi-hi, Dadd-dadd!!"
Ia mendengus kecil saat perkataannya, hanya di jawab dengan kikikan dan memanggil nama Sang Daddy. Senyumnya yang tadi terbit menjadi ekspresi kaget saat melihat ke arah samping tepatnya ke arah ranjang lain, di mana ada Suaminya yang sedang duduk bersandar dengan wajah bingung menghadap ke arahnya.
Deg!
Puk! Puk!
Ia memukul kedua pipinya sedikit kuat, saat melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Aw ... Sakit, ini bukan mimpi kan?" Gumamnya tidak percaya.
"Dadd-dadd!"
Seseorang yang di panggil Dadd-dadd oleh Gav terlihat semakin mengerutkan kening bingung.
"Kalian siapa?"
"Apa?"
Flasback end
Maka itu di sini lah mereka berkumpul, setelah Ia menghubungi keluarganya dengan terburu-buru.
Mereka dengan sabar menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter.
Di sampingnya ada Sang mertua, yang setia mengusap punggungnya.
"Mih, bagaimana ini?" tanya Kiara cemas.
Kenapa harus seperti ini, di saat Ia sedang merasakan perasaan gembira karena Suaminya berhasil melewati masa koma, lagi-lagi ada saja cobaan, bahkan lebih parah di bandingkan dengan koma.
"Kamu jangan khawatir yah, kita tunggu analisa hasil pemeriksaan Dokter!" balas Putri sedih.
Ia tidak menyangka jika akan ada hal lebih mengejutkan, selain koma yang di alami Sang anak.
"Ya Tuhan, kenapa seperti ini?" Batinnya bertanya .
Ceklek!
Pintu terbuka di susul oleh suara dari seseorang, yang ternyata adalah Papa Kiara yaitu Fandi.
"Kiara!" seru Fandi panik.
Kiara yang di panggil segera menghadap ke arah pintu, lalu menyerahkan Gav yang ada di gendongnya kepada Mami Mertuanya dan dengan segera menghambur ke dalam pelukan Sang Papa.
"Pah, Dirga melupakan Aku,hiks!" bisik Kiara dengan isakan kecil.
"Oh astaga!" gumam Fandi khawatir.
Ia dengan erat memeluk tubuh bergetar Anaknya, mengusapnya perlahan berharap Sang anak tenang.
"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa dengan Dirga!" gumam Fandi meyakinkan.
Kiara hanya mengangguk menjawab perkataan Sang Papa,hatinya masih takut jika apa yang terjadi melebihi kemampuannya.
Fandi menoleh ke arah lain, di mana ada Istri dan Keluarga besannya, serta Papanya yang menunduk sedih.
Kemudian Semuanya serempak melihat ke arah Dokter, yang telah menyimpan stetoskop dan berjalan ke arah mereka saat ini.
"Bagaimana keadaan Anak saya, Dok?" tanya Hendri khawatir.
"Benturan pada kepala mempengaruhi sistem kerja otak. Tapi tenang saja ini adalah tahap pemulihan, sepertinya pasien mengalami hilang ingatan jangka pendek dan sedikit syok. Setelah beristirahat dan memberikan stimulasi rangsangan pada otak, perlahan mengembalikan ingatan pasien segera. Saat ini pasien sedang istirahat, Kami akan memantau lagi ketika pasien bangun," ujar Dokter tersebut menjelaskan.
"Amnesia jangka pendek?"
"Iya, maka dari itu semua anggota Keluarga bisa membantu mengingatkan pasien akan siapa Dia secara perlahan, agar mendapatkan memori pasca trauma!" lanjut Sang Dokter.
Mereka mengangguk mengerti setelah Dokter menjelaskan, meski rasa khawatir bercokol di hati mereka, tapi mereka yakin jika semua ini akan berlalu.
"Baik Dokter, terima kasih!" seru mereka hampir bersamaan.
"Kalau begitu Saya permisi, hubungi Kami saat Pasien siuman," ujar Dokter.
"Silakan Dokter,sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya!" balas Hendri mewakili.
__ADS_1
"Sama-sama," balas Dokter tersebut singkat. Lalu meninggalkan ruang inap VIP milik keluarga Wijaya.
Kini tinggal dua keluarga yang ada di ruangan, suasana sunyi tercipta bahkan Si balita aktif pun diam, dengan jari jempol di mulutnya.
"Gav belum mandi sayang?" tanya Sarah memecahkan keheningan.
Kiara yang sedang duduk di samping ranjang Dirga menoleh, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum Mah, Yaya terlalu syok tadi pagi!" balas Kiara pelan.
"Kalau begitu biar Mama yang mandikan," ujar Sarah. Ia mengambil alih Cucunya dari gendongan Papa Mertuanya, lalu melenggang pergi dengan Putri di belakangnya.
"Kamu sudah sarapan sayang?" tanya Fandi kepada Kiara yang setia duduk di samping Dirga.
"Belum Pah, Yaya tidak berselera," balas Kiara singkat.
"Bagaimana kalau Papi pesankan makanan untuk Kamu, Setuju?" sahut Hendri namun sayang hanya gelengan kepala yang di dapat.
"Kamu harus makan, bagaimana nanti kalau kamu sakit?" ujar Bakrie khawatir.
"Kita semua khawatir dengan Dirga sayang, tapi kalau Kamu sampai melupakan diri sendiri, apa yang akan di rasakan Dirga saat Dia sudah sadar nanti?" sahut Bagus bijak.
"...."
"Kamu juga harus jaga kesehatan Kamu, dengan begitu saat Dia mengingat Kamu, Dia tidak akan sedih!" lanjut Bagus sedih.
"Baik, Kek," gumam Kiara tanpa beranjak dari duduknya.
"Ikut papa, Kita makan di kantin atau di Restoran kesukaan kamu dengan Gav ata-
"Tidak Pah, Yaya tidak mau pergi kemana-mana. Yaya akan makan dan minum di sini, sampai Dirga bangun dan orang yang di lihat pertama saat Dirga membuka mata adalah Yaya!" sela Kiara mutlak.
Mereka berempat hampir bersamaan menghela nafas lelah, saat menghadapi sifat keras kepala Anak atau juga menantu mereka.
"Baik, Papa akan pesankan makanan untuk kamu, ingat di habiskan!"seru Fandi tegas.
"Iya Pah!"
Pukul. 14:16, WKS.
Pagi berlalu, sudah terhitung lima jam lamanya Sang suami tertidur.
Keluarga dan sahabat datang hampir setiap hari menjenguk, mereka duduk berkumpul di ruang tamu kamar inap, yang untungnya muat menampung mereka semua.
Dua sahabat dari Suaminya datang dengan raut wajah tenang, tapi Kiara tahu dari mata mereka jika mereka juga sedih, saat mengetahui fakta mengejutkan tadi pagi.
"Bro ... Gue denger tadi pagi Lu udah bangun?kenapa tidur lagi?" gumam Raka duduk bergantian dengan Kiara.
Puk!
"Kita dateng mau ngeledekin Lu, Lu malah masih tidur payah!" sahut Faro bercanda menimpali perkataan Raka.
Tangannya menepuk bahu Sang Sahabat, yang saat ini duduk bersebelahan dengannya.
"Bagaimana mau di ledek, Orangnya saja masih asik molor, kheh!" dengus Raka geli.
Mereka diam sesaat setelah tidak ada sahutan, baru ini mereka merasa jika sahabat songongnya tidak berdaya.
Jujur saja mereka merindukan raut wajah sombong, serta decihan sinis saat mereka dulu kumpul bersama.
"Cepat kembali Ga, kalau Lu bangun nanti Gue nggak akan malu untuk bilang kalau Gue kangen sama Lu. Bahkan bila perlu Gue kecup kening Lu berulang deh," gumam Raka edan.
"Bangke ... Jijik Gue Ka, yang bener aja!" sewot Faro dengan ekspresi menahan mual.
"Lu juga kalau seperti Dirga Gue bakal kecup kok, jangan cemburu gitu!" balas Raka dengan senyum konyol.
"Najis!"
"Yah ... Kalian bisa tenang nggak sih? Kasian loh Bang Dirga sedang istirahat!" seru Amira sewot.
Ia bingung sekali dengan kelakuan konyol Suami dan sahabat Sang Suami, meskipun Ia tahu itu adalah cara mereka menghibur diri, apalagi mereka bertiga sudah menjadi lebih dari sahabat.
"Si Selebor sewot Ga, semenjak jadi Ibu bawaannya sensi,Gue tinggal dulu sebentar!" gumam Raka kemudian beranjak dari duduknya.
Ia berjalan menuju Istrinya dan mengambil alih Ez kedalam gendongannya.
"Cerewet," bisik Raka di telinga Amira.
"Kampret," balas Amira berbisik. Kemudian mereka berdua terkikik bersama.
Kiara yang melihatnya tersenyum kecil, setidaknya mereka berdua tidak menunjukan wajah sedih.
"Terima kasih, kalian selalu ada untuk kami!" gumam Kiara pelan.
Di sampingnya ada Elisa yang menepuk punggung tangannya lembut.
"Itu gunanya sahabat, lagian Kamu itu sudah Aku anggap saudara Ku sendiri, Yaya bawel!" balas Elisa dengan senyum kecil.
Kiara balas tersenyum, lalu melirik ke arah ranjang di mana masih ada Faro yang setia bercerita.
"Beruntung sekali, mendapat keluarga seperti mereka!" batin Kiara bahagia.
Malam Hari
Malam datang dengan cepat dan Dirga masih juga belum bangun, Kiara sabar menunggu dengan hati menahan pilu.
Sahabatnya sudah pulang ke rumah masing-masing, begitu pula dengan kedua Kakeknya.
Tersisa Ia dan Dua Papa serta Mamanya, yang saat ini sedang menemani Sang anak bermain.
"Mom!"
"Yes Boy?" sahut Kiara ceria.
"Dadd-dadd!"
"Daddy still sleeping sweatheart, next time ok?" sahut Kiara. Ia tersenyum lembut menghadap ke arah Anaknya, yang di balas tatapan polos dari Sang anak.
__ADS_1
"Sudah malam sayang, sebaiknya Kamu istirahat!" seru Sarah.
"Mama dan Mami duluan yah, Yaya duduk sambil istirahat kok!" balas Kiara memohon.
"Baiklah ... Tapi ingat, jangan di paksakan!" seru Putri memperingati.
"Iya Mih," balas Kiara singkat.
Setelahnya kedua Mama, Papa dan juga Gav pergi menuju ruangan lain, di sebelah ruangan mereka saat ini. Meninggalkan Kiara yang duduk menghadap Dirga, yang masih belum sadar sejak pagi tadi.
"Huft .... Benarkah Kamu melupakan Aku, sayang Ku?" gumam Kiara bertanya.
Ia meletakkan kepalanya di antara lengan suaminya, lalu memejamkan mata mengistirahatkan hati, tubuh serta fikirannya.
Dan setelahnya dengkuran halus terdengar, dengan Dirga yang membuka mata perlahan.
"Umh!" Gumamnya pelan.
Ia melihat ke arah atas tepatnya ke arah langit-langit sana, matanya memandang sekeliling dan hanya putih lah yang Ia lihat.
"Rumah sakit yah, sepertinya tadi pagi juga di sini," Gumamnya bingung.
Ia mencoba untuk menggerakkan tangan kanannya namun tidak bisa, Ia pun melirik ke arah tangannya dan menemukan kepala dengan rambut hitam menelungkup menimpahnya.
Tiba-tiba sekilas ingatan tentang tadi pagi Mampir di dalam kepalanya, hatinya merasa bersalah karena sempat melupakan seseorang yang sangat penting untuknya.
Flasback on
Sinar matahari masih mengintip malu di sela-sela horden,meski hangatnya sudah menyapa seorang pasien yang saat ini sedang membuka matanya perlahan.
Dia mengedip-ngedipkan kelopak matanya pelan, membiasakan cahaya pada retina matanya yang terkena sinar matahari.
"Umh!!"
Kelopak mata yang menyembunyikan bola mata hitam, layaknya langit malam akhirnya benar-benar terbuka.
Si pemilik mata dengan nama Dirga melihat sekeliling, dengan raut wajah bingung.
Dirga pov on
"Ini di mana?" gumam Gue bertanya.
Gue pun berusaha bangun dari tidur, lalu menyandar dengan gerakan kaku saat merasa lengan dan paha Gue sakit dan nyeri di saat bersamaan.
"Ukh!!"
Meski bibir Gue mengeluarkan ringisan sakit, nyatanya Gue tetap mampu untuk bersandar dengan perlahan.
"Apa kemarin Gue kecelakaan?" gumam Gue bingung.
Gue pun menoleh ke arah samping, di mana ada ranjang lain dengan pasangan anak ibu sedang tidur bersisihan.
"Siapa mereka?" tanya Gue bingung.
Entah kenapa seperti ada yang salah dengan Gue, Gue ngerasa melupakan sesuatu yang sangat berharga.
Dari sini Gue bisa melihat, Si anak laki-laki yang wajahnya mirip seseorang menepuk-nepuk pipi Dia. Membuat senyum Gue terbit, Gue suka dan merasa familiar dengan keadaan ini.
Gue juga bisa melihat Si cewek mencolek dan bercanda dengan Si anak yang langsung tengkurap dengan kaki bergerak heboh.
"Lucu sekali," batin Gue geli.
Saat Gue sedang asik memperhatikan tingkah mereka, tiba-tiba Dia menoleh ke arah Gue dengan tangan menepuk-nepuk Pipinya, seakan memastikan jika Apa yang Dia lihat nyata.
"Dadd-dadd,"
"Dadd-dadd? Siapa?" batin Gue dengan kening mengernyit bingung.
"Kalian siapa?" tanya Gue bingung.
Flasback end
Mengingat kejadian tadi pagi, ingin rasanya Ia membenturkan kepalanya sendiri di tembok saat ini juga.
"Maafin Gue yah, Kiara istriku, Gav Anakku. Bisa-bisanya kalian Daddy lupakan,apalagi di hari pertama Daddy membuka Mata," Gumamnya sedih.
Matanya menatap Sang istri yang terlelap dengan sayang dan menyesal, lalu dengan tangannya yang masih terpasang infus, Ia mencoba menyentuh kepala Kiara.
Sedikit ada rasa nyeri tapi Ia tetap memaksakan dirinya, lalu setelah berhasil Ia mengusapnya perlahan takut membangunkan Sang istri dari tidur lelapnya.
"Selamat malam sayang, mimpi indah!" ujar Dirga lirih.
Di dalam tidurnya Kiara merasa damai, entah lah ... Ia merasakan nyaman seperti ada yang mengusap kepalanya lembut dan itu membuat Kiara tersenyum dalam tidurnya.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu up next episode, baca juga yuk karya author kece teman-teman Aku.
Mine dengan Abigail dan Nicho Geonandes
Marriege Order dengan sheryl dan Baruna
Mengagumimu dengan khanza dan Arif
Reinkarnasi cinta si cantik ruby dengan Ken dan Ruby
Love is not Based bebet bibit bobot ada Juan dan Khumaira.
Tersimpan Dalam Kenangan dengan Rosyid firmansyah dan Fia
Pendekar Elang putih dengan Mahesa dan puspita.
Journey To Dream dengan Imelda Asmara
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1