Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Selamat Pagi Sayang


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Rumah Sakit kota S


Setelah adegan haru-biru dari sepasang mertua dan menantu di depan ruang ICU, kini Sang menantu atau juga yang kita tahu Kiara sedang mencoba bangkit dari rasa keterpurukannya.


Meski sedih masih menggelayut di dalam hati-nya,tapi Ia sudah berjanji kepada Sang Mertua untuk tidak menanggung beban sendiri lagi.


Ia merasa bersalah dengan semua yang ada di sekitarnya, Ia seakan melupakan fakta jika bukan hanya Ia sendiri yang merasa sedih dan terpukul.


"Apa yang aku lakukan, Aku merasa seperti anak kecil yang sok kuat," gumam Kiara pelan. Ia melihat pantulan dirinya di depan cermin, yang ada di dalam kamar mandi ruang inap yang keluarganya sewa.


"Maafin Aku sayang, Aku bukan hanya mambuat Kamu khawatir tapi semua yang Aku sayangi juga,"


Tangannya yang ada di atas dada mencengkram kuat, seakan ingin melepas sakit yang bercokol di dalam hatinya.


"Apa ini yang kamu rasakan dulu, saat Aku ada di antara hidup dan mati-ku?" Racaunya bertanya.


Hiks! Hiks! Hiks!


"Biarkan Aku menangis di sini sayang, Aku janji setelah ini tidak ada lagi air mata di depan mereka!" seru Kiara meminta.


Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, meringkuk dengan wajah tenggelam di antar pahanya.


"Aku mohon, hu-hu-hu ... Ak-aku mohon, kemba- hiks hu-hu-hu -


Tangisan adalah yang terdengar setelahnya, Ia sudah berjanji pada Suaminya saat mereka masih berada di ruangan berbau apek tiga hari yang lalu.


"Janji padaku, jika ada apa-apa denganku nanti, tolong jangan ada air mata dari mata indahmu yang berjatuhan, apa kamu bisa berjanji, sayang?"


"Tidak bisa, hiks ...."


Di luar kamar mandi ada Fandi, yang terdiam dengan dahi menyandar di daun pintu.


Ia sengaja mengikuti kemana Putri-nya pergi, setelah selesai menyuapi Sang cucu, tanpa mengajaknya bermain.


Lagi-lagi seperti ini, lagi-lagi air mata Anak kesayangannya tumpah ruah.


"Apa Anakku tidak pantas bahagia,ya Tuhan?" gumam Fandi lirih.


Cukup lama Ia membiarkan Anaknya mengurung diri di dalam kamar mandi ruang inap dengan Gav yang tertidur setelah tadi bermain, Ia pun menghapus air mata yang menggantung di sudut matanya kemudian berdehem.


"Aku harus kuat!!" gumam Fandi dengan tangan mengepal erat.


Ia pun mengangkat tangannya, mengetuk kamar mandi dengan segera.


Tok! Tok! Tok!


Di dalam kamar mandi, Kiara yang mendengar ketukan dari arah luar terkejut, Ia dengan buru-buru menghapus air matanya dan bangkit berdiri.


"Si-siapa?" seru Kiara gugup. Suaranya serak nyaris tidak keluar, membuatnya gugup luar biasa takut ketahuan menangis lagi.


"Ini Papa,sayang!!"


"Papa ..." gumam Kiara lirih


"Kamu dengar Papa?"


"Iya Pah dengar, sebentar Yaya lagi cuci tangan!" seru Kiara. Ia dengan segera menyalakan keran washtafel, sehingga suara gemericik air memenuhi kamar mandi.


"Oke, Papa tunggu di luar!"


"Iya Pah!"


"Apa Papa tahu," gumam Kiara khawatir.


Ia pun dengan segera membasuh wajahnya, berharap air bisa menghilangkan sedikit wajah kacau-nya,lalu mengerikan dengan tissu yang ada di sebelahnya.


"Oke, setidaknya sudah tidak ada jejaknya," gumam Kiara pelan.


Meski kedua mata-nya merah dan bengkak, tapi wajahnya tidak kusam lagi.


"Huft ... Aku siap sayang!!" Gumamnya dengan senyum kecil. Hanya ini yang bisa membuatnya tersenyum, membayangkan jika di depannya adalah Sang suami yang juga tersenyum.


Ia pun berbalik, memegang pegangan pintu dan membuka pintu dengan perlahan.


Kriieet!


Di sofa ruang inap ada Sang Papa yang duduk dengan wajah biasa, melihat ke arahnya dengan tangan menepuk-nepuk sofa di sebelahnya yang kosong.


"Duduk di sini, sayang!" seru Fandi dengan nada biasa.


Kiara hanya mengangguk,lalu berjalan menuruti perintah Sang papa.


Ia duduk di sebelah Papanya dengan gerakan kaku, jantungnya berdetak takut jika Sang Papa akan marah karena Ia menangis lagi.

__ADS_1


Grep!!!


Kiara tersentak kaget saat merasa pelukan erat dari samping,di susul tarikan di kepalanya kemudian masuk di kedalam dada Sang papa.


Deg!


"Ada Papa sayang, kenapa Kamu tidak mau berbagi dengan Papa lagi?" bisik Fandi di telinga Kiara.


Kiara lagi-lagi tersentak kaget,saat mendengar suara lirih dari Sang papa.


"Pap-a!"


"Apa Papa tidak boleh tahu tentang kamu?kenapa Kamu tidak berbagi dengan Papa? Bukankah Papa selalu ada di sini, sayang?" bisik Fandi bertanya.


Semenjak menikah Sang anak lebih menutup diri jika itu masalah kesedihan,seakan Ia tidak ada dan tidak mampu di jadikan tempat sandaran lagi.


Kiara hanya mampu menggeleng kepala, terisak kecil dengan tangan mencengkram punggung Sang papa.


Sandaran di seumur hidupnya, bagaimana bisa Ia tega membiarkan Sang papa ikut merasakan kesedihannya.


"Ya-ya ti-dak bi- hiks sa, maaf hiks!"


Fandi semakin memeluk Sang anak erat, memberikan ketenangan.


"Ada Papa sayang, kamu tidak boleh egois. Izinkan Papa menjadi sandaran Kamu lagi, sekarang hapus air mata kamu!"gumam Fandi.


Kiara lagi-lagi hanya mengangguk kepala, Ia tidak bersuara dengan hati sekuat tenaga berusaha menghentikan tangis kesedihan.


Sepuluh menit berlalu, Fandi yang tidak mendengar suara isakan dan merasakan guncangan pada tubuh Kiara melirik ka arah Sang anak.


Ia menghela nafas lelah saat melihat Anaknya,yang memandang kosong ke arah kemeja yang di pakainya.


"Sudah lega?" tanya Fandi singkat.


Kiara hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun.


"Menangis di perlukan untuk mengurangi beban hidup, tapi terkadang menangis juga menandakan dari ketidak mampuan seseorang,menangis juga tidak salah tapi yang salah adalah lama-nya Dia menangis. Apa kamu paham maksud Papa, Yaya anak Papa?" ujar Fandi panjang lebar.


"Dengan menangis mungkin hati akan sedikit merasa lega, tapi apa Kamu yakin jika orang lain yang melihat Mu menangis akan merasakan demikian? Tidak, yang ada mereka merasa semakin sedih, lebih sedih dari kamu sendiri!" lanjut Fandi saat tidak ada tanggapan.


Mendengar perkataan Papa-nya yang benar adanya membuat Kiara berfikir, benar jika air mata adalah hal lumrah tapi yang menjadi masalah adalah durasi keluarnya air mata.


"Seperti Papa, melihat Kamu menangis tanpa bisa berbagi membuat Papa lebih merasa sedih, Papa mohon jangan begini yah!!"


Kiara akhirnya mengangguk, Ia mengangkat wajahnya melihat ke arah Sang Papa.


"Laki-laki tidak menangis sayang,"


"Bohong!!"


"Benar, Papa tidak menangis!!" kilah Fandi dengan senyum kecilnya.


"Mata Papa merah!"


"Ini kemasukan pasir, sayang!" ujar Fandi bercanda.


"Pasir satu truk Pah?" tanya Kiara membalas candaan Sang papa.


"Kamu mau Papa buat rumah, pasirnya banyak sekali!!!" balas Fandi pura-pura kesal.


"Hi-hi, abis Papa aneh. Kemasukan pasir dari mana coba? Di sini kan bersih nggak ada pasir atau debu!"


Ini lebih baik dari pada membuat Sang Papa ikut merasakan kesedihannya, biarlah Ia yang menyimpan sendiri dan saat ini Ia berjanji demi rasa cintanya terhadap Sang papa juga Sang suami di sana, Ia akan menunjukan jika Ia adalah Anak dan Istri serta ibu yang kuat.


"Loh, dari pada kemasukan gajah! Lebih nggak mungkin kan?" balas Fandi bercanda.


Kiara tertawa kecil mendengar kelakar dari Sang Papa, Ia tahu jika Papa-nya sedang mengalihkan rasa sedihnya.


"Mana bisa Pah, nggak muat dong!!" seru Kiara dengan senyum geli.


Ha-ha-ha


"Setidaknya sudah tertawa, meski belum setulus seperti biasanya, terima kasih Tuhan!" batin Fandi senang.


Ia juga ikut terkekeh kecil saat melihat Sang anak tertawa, lalu membawa Kiara kembali ke pelukannya lagi.


Grep!!


"Janji yah, jangan ada air mata lagi!" gumam Fandi memohon.


"Iya Pah!" balas Kiara dengan kepala mengangguk.


"Ehem!!!"


Sebelumnya


Sarah saat ini sedang bingung, mencari keberadaan Sang anak yang biasanya selalu berdiri di depan jendela ruang ICU.

__ADS_1


Bukan hanya Sang anak, tapi Sang suami serta Sang cucu tidak dapat Ia temui.


"Kemana mereka?" gumam Sarah bertanya.


"Apa ada di ruang inap!" Lanjutnya masih bergumam.


Ia pun memutuskan untuk pergi ke ruang inap, yang sengaja mereka sewa untuk Gav tidur. Cucunya tidak bisa berpisah dari Mommy barang sejenak, membuat mereka memutuskan untuk membawa serta Gav dan tinggal di ruang inap selama di rumah sakit.


Ia berjalan dengan tergesa seakan tahu, jika kedua belahan jiwanya sedang melakukan hal yang perlu kehadiran-nya juga.


Di depan pintu ruang inap yang tidak tertutup sempurna, Ia bisa melihat Suaminya sedang memeluk tubuh berguncang Putrinya.


Ia ingin masuk kedalam tapi di tahannya, saat melihat Suaminya sedang menasehati Putri mereka yang akhirnya mengangguk.


Ia juga melihat keduanya tertawa dan bercanda bersama, Ia bersyukur kepada Tuhan setidaknya Anaknya bisa tersenyum meski belum tulus seperti biasa.


"Terima kasih tuhan!!" batin Sarah bersyukur.


Ia pun berdehem membuat dua orang kesayanganya menoleh ke arahnya, yang saat ini sedang berdiri di depan pintu dengan tangan di pinggang.


"Kejam sekali, Mama tidak di ajak tertawa bersama!" seru Sarah pura-pura kesal.


Mereka berdua tertawa kecil dengan tangan mengayun seakan memanggil, membuat Ia melangkah mendekati keduanya dengan senyum lebar terpasang di bibirnya.


"Kemari Mah, Yaya kangen dengan pelukan Mama!!" seru Kiara dengan senyum kecil.


Grep!!


Sarah pun memeluk Kiara erat dengan sisa air mata jatuh tanpa suara, di belakangnya Fandi yang melihat dengan segera menghapus air mata Istrinya, Ia tidak ingin ada air mata lagi saat Kiara melihat wajah Sang Istri nanti.


"Terima kasih," ujar Sarah tanpa suara ke arah Sang suami.


Fandi hanya mengangguk dan ikut memeluk Dua wanita kesayanganya, membawa keduanya dalam pelukan hangatnya.


"Semoga cepat berlalu," batin Fandi berharap.


"Terima kasih, Pah, Mah. Maafin Yaya yang kemarin, Yaya janji ini terakhir kalian melihat air mata Yaya,kedepannya tidak akan ada lagi!" gumam Kiara lirih.


"Tentu saja!/harus seperti itu!" ujar mereka berdua bersamaan.


"Mama menyayangi Mu sayang, jangan seperti ini lagi, janji!" gumam Sarah meminta.


"Um!!" gumam Kiara dengan kepala mengangguk.


Skip


Kiara saat ini ada di dalam ruang ICU, sedang menyiapkan peralatan mandi Sang suami yang masih betah tidur, layaknya Pangeran tampan menanti ciuman sebagai penangkal sihir.


Bibir pucat Suaminya sudah berangsur menghilang, di gantikan dengan warna merah seperti dulu.


Suaminya bukan perokok sehingga bibirnya berwarna merah alami, dengan bentuk tipis sempurna. Bibir kesukaannya dan juga bibir yang selalu mengecup serta membisikan kata cinta untuknya.


"Selamat pagi sayang!!" sapa Kiara ceria.


"Tidak di jawab, sombongnya!!! Pantas saja Kamu di kenal Si arogan, hi-hi-hi!!!" lanjut Kiara bercanda.


"Oke, jangan marah sayang aku hanya bercanda. Sekarang kita mandi dulu yah, kali ini aku lagi loh, yang membantu kamu mandi!"


Benar lima hari ini Ia lah yang selalu membersihkan tubuh Dirga dengan lembut.


"Wangi lavender, wangi favorit kita. Masih ingat kan bagaimana Kamu bilang jika lavender adalah satu-satunya aroma favorit kamu, saat kita bulan madu di korea itu loh. Masih ingat kan?"


"Aku semakin menyukai lavender, sejak Kamu bilang Kamu suka aroma lavender!"


"Baiklah Aku lap bersih kamu dulu yah, sambil mengobrol!"


Inilah yang di lakukannya, Dokter bilang dengan Ia berbicara layaknya sedang mengajak berkomunikasi, kesadaran pasien akan cepat terangsang.


Meski tidak mendapat respon secara nyata tapi alam bawah sadar pasien akan merasa, sehingga membantu pasien cepat sadar.


"Lihat, ini pasti karena ucapan kamu dulu, yang bilang agar kita menjadi pasangan cacat! Lengan mu jadi ikut-ikutan ada bekas jahitanya kan!!"


Ia ingat saat mereka sedang di Apartemen saat Ia baru pulang dari rumah sakit dulu,Dirga bilang dengan entengnya ingin menjadi pasangan cacat bersamaannya.


"Lain kali jangan berbicara sembarangan yah! Aku nggak mau hal ini terjadi lagi, oke?"


Kiara tahu Ia sudah seperti orang gila, yang bertanya dan tetap bertanya tanpa ada jawaban. Tapi itu tidak apa, baginya apa pun jika untuk Dirga suami dan kekasih kelak di surga-nya, akan Ia lakukan dengan ikhlas.


"Nah, sekarang wajah kamu. Coba senyum sayang, Aku sangat merindukanmu!!"


Tes!


Deg!


Bersambung


Terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Mohon dukunganya.


__ADS_2