Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Selyn Dira Mahesa Wicaksono


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Ruang Rawat


Saat ini Kiara sudah berada di ruangannya, kembali beristirahat pasca melahirkan yang menghabiskan waktu sekitar dua jam lamanya.


Di sofa ada Dirga yang tidur dengan posisi bersandar, setelah sepuluh jam terjaga dan baru beberapa saat ini Ia bisa mengistirahatkan matanya.


Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, baru terhitung empat puluh menit Dirga beristirahat, tapi Ia harus terbangun saat mendengar suara khas istrinya yang memanggil namanya.


"Yank ... Sayang!"


"Eumh," gumam Dirga sebelum bangun dari tidurnya, mengucek mata menghilangkan efek mengantuk.


"Sayang, Aku-


"Heum ... Kenapa sayang?" tanya Dirga dengan suara seraknya. Ia merenggangkan tubuhnya sejenak, lalu menguap lebar layaknya singa dan melihat istrinya dengan mata merahnya.


"Kenapa sayang?" ujar Dirga mengulangi pertanyaannya.


Kiara terkikik kecil saat melihat kelakuan tidak tampan Suaminya, yang bola matanya merah lengkap dengan kantung hitam di bawah kelopak mata Suaminya.


"Kamu siapa?" tanya Kiara iseng, membuat Dirga mengernyit saat mendengar pertanyaan aneh dari ratu di istananya.


"Aku?" tanya Dirga dengan jari telunjuk mengarah di hidungnya.


"Iya,"


"Aku ya Suami tampan sejagat raya lah, siapa lagi," balas Dirga tanpa malu. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Sang istri, mengecup kening Istrinya lembut dan tersenyum dengan senyum tipis menawan.


"Selamat pagi, Dear," ujar Dirga lembut.


"Selamat pagi, Daddy," balas Kiara ikut tersenyum.


"Jadi ada apa?" ujar Dirga bertanya. Ia dengan sengaja duduk dan menelungkupkan kepalanya di perut Sang istri, lalu menduselkan kepalanya di sana.


"Ah ... Berbagi lagi," Gumamnya teredam seperti dengungan.


Kiara terkekeh geli ketika Suaminya menduselkan wajah di perutnya, apalagi saat mendengar gumaman mengeluh yang terdengar manja di telinganya.


"Bukannya kemarin ada yang minta sebelas anak yah?" tanya Kiara polos, Ia mengusap lembut rambut belakang Suaminya, lupa tadi Ia mau bilang apa.


Dirga menegakkan tubuhnya memandang dengan mata berbinar, saat Sang istri bilang angka sebelas yang kebetulan angka kesukaannya.


"Serius Yank, mau punya anak sebe-


Bletak!


"Ouch!"


Ucapan lucknut Dirga terpaksa berhenti, saat tiba-tiba sebuah koran di gulung menghantam ubun-ubunnya telak.


"Siapa si-


"Apa? Mau protes apa?" sela orang yang tadi menghantam kepala Dirga santai.


Dirga terkekeh canggung saat melihat Mama kesayangannya berdiri, lengkap dengan koran dan menenteng kantung plastik putih di tangan satunya.


Sedangkan Putri pelaku kekerasan terhadap Suami tampan, melotot dengan tangan berkacak pinggang.


"Eh ... Mama, dari mana Mah?" tanya Dirga mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum lebar dengan tangan menggaruk leher, kebiasaan jika sedang dalam suasana canggung.


"Huem, dari kantin beli ini. Sebentar lagi waktunya Yaya menyusui, Dia harus makan banyak," balas Putri setelah mendengus.


"Oo!"


"Oo," ujar Putri mengulangi sahutan Anaknya dengan bibir mencebil meledek.


"Mama denger aja sih pembicaraan raja dan ratu, kepo!" seru Dirga saat merasa Sang Mama kesal dengannya.


"Bagaimana tidak kedengeran, jika Kamu bicaranya dengan semangat seperti itu. Aduh ... Heran sama Kamu, baru juga is-


Dirga menutup telinganya dengan kedua telapak tangan istrinya, yang terkekeh saat melihat perseteruan antara anak dan ibu di depannya.


"Ih ... Kamu usil sekali, lagian Mami kan lagi berbicara. Eh, Kamu malah tidak mendengar," bisik Kiara di depan Suaminya, membuat Dirga memajukan telinganya dan menggoda Sang istri dengan isengnya.


"Bisik-bisik apa sih? Nggak kedengeran yank, coba ulangi," balas Dirga sama berbisiknya.


Kiara menggembungkan pipinya kesal saat Sang suami malah menggodanya, Ia menjewer telinga Suaminya pelan lalu memegang kedua pipi Suaminya.


Ia menekan kedua pipi Suaminya, sehingga bibir Suaminya mengerucut layaknya bebek.


"Jahil, untung Mama sudah selesai ngomelnya," ujar Kiara lalu terkekeh kecil.


Dirga tersenyum dalam hati saat melihat raut wajah cerah dari Sang istri, yang semalam berjuang melahirkan anak kedua mereka.


Ia memegang kedua tangan Istrinya, untuk di bawa kedepan bibirnya dan di kecupnya pelan.


"Hontoni arigatou, aishiteru koi," ujar Dirga lembut.


"Doitashimashite, aishiteruyo," balas Kiara.


Sedang asik dengan adegan lovey dovey ala pasangan pengantin baru, suara mungil dari arah samping menginterupsi kegiatan mereka, membuat mereka kompak menoleh ke arah Putranya yang memanggil mereka serak.


"Momm, Dadd!"


"Sudah bangun, Kid," sahut Dirga.


Ia berjalan menghampiri ranjang tempat Anaknya tidur, dengan kanan-kiri di batasi pagar yang di pasang Sang mertua agar Gav tidak jatuh.


"Morning, sayang," gumam Dirga setelah mengecup pipi Gavriel lembut.


"Dadd, ndong!"


Dirga mendengus kecil saat pagi-pagi harus olahraga angkat beban, beban Putranya sama saja dengan satu karung beras ukuran sepuluh kilo, cukup untuk membentuk otot lengannya setiap pagi hari.


(Ngeluh terus, lama-lama Gue ganti nih peran bapaknya Gavriel. Elah Thor candaan aja)


"Gendong? Heum ... Gendong nggak yah," sahut Dirga menggoda Gavriel yang tangannya terulur namun belum di sambut.


"Dadd,"


Gavriel merengek di goda oleh Sang Daddy, Ia melihat dengan mata bulat khas yang di ajarkan Sang Mommy, merayu Dirga yang akhirnya luluh saat mata khas Sang istri menurun pada Putranya.

__ADS_1


"Oke-oke, bisa saja sih merayunya!" seru Dirga terkekeh kecil.


"Hi-hi, Dadd Tav ayu,"


"Satu, dua, hup!"


Gavriel yang masuk kedalam gendongannya, segera melesakkan wajahnya di perpotongan antara leher dan bahunya, kemudian melihat ke arahnya menunjukan cengiran khas lebarnya.


"Dadd, mum,"


"Haus?" sahut Dirga bertanya.


"Us, us,"


"Oke, minum susu yah?" sahut Dirga bertanya.


Gavriel menggeleng menjawab pertanyaan Dirga, Ia menunjuk dispenser lalu tersenyum lebar.


"Mum, Dadd,"


"Oke ... Minum air putih, air hangat yah," sahut Dirga yang di angguki kepala sebagai jawaban dari Putranya.


Sementara Dirga memberi minum Gavriel, Sarah yang baru saja kembali dari luar menghampiri Putrinya, lalu mengecup kening Putrinya sayang.


"Sudah membaik?" tanya Sarah menatap Kiara lembut khas seorang ibu.


"Sudah Mah, Alhamdulillah," balas Kiara tersenyum kecil.


"Syukurlah, Papa dan Kakek siang kemari. Mereka ada rapat penting," ujar Sarah memberitahu.


"Iya Mah, Yaya ngerti," balas Kiara.


"Yaya, makan dulu!" seru Putri menginterupsi. Pasangan anak dan ibu itu menoleh ke arah samping, dimana ada Putri yang membawa mangkuk di kedua tangannya.


"Iya Mih, terima kasih!" seru Kiara dengan senyum kecil.


"Ya sudah, Kamu sama Mami Kamu makan dulu, biar Mama yang mandiin Gavriel. Oke?" ujar Sarah. lalu Ia pergi ke arah menantunya, setelah mendapat jawaban anggukan kepala dari Putrinya.


"Ga, Gavriel mandi dulu!"


"Iya Mih,"


****


Skip


Siang harinya seperti kata Sarah tadi pagi, Fandi dan Bagus datang berbarengan dengan Hendri dan Bakrie.


Mereka jalan bersama-sama menuju ruang inap milik menantu dan Anaknya, saat akan berbelok ke arah koridor dekat ruang rawat Kiara, mereka berhenti saat mendengar suara panggilan dari arah belakang.


"Pah!"


"Kakek!"


Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, mereka melihat Fania dan teman-teman dari anak dan cucu mereka.


Mereka pun berhenti menunggu gerombolan manusia disinyalir ingin bertemu Kiara.


"Kakek, kebetulan bertemu di sini!" seru Fania ceria ke arah bagus, karena memang Ia adalah cucu dari keluarga menantunya.


"Iya Kek, semalam dapat kabar sudah lahiran!" seru Elisa yang juga memanggil Bagus dengan sebutan kakek.


Bagus tersenyum, sekarang giliran Queene dan Ezra yang di usap kepalanya lembut olehnya, bergantian dengan Bakrie yang juga mengusap Cicitnya yaitu Ezra.


"Ya sudah, Kita bareng-bareng ke ruangan Yaya!" seru Fandi mengajak semuanya, yang di jawab anggukan kepala dari mereka semua.


"Iya kek!" seru mereka bersamaan.


Mereka pun berjalan bersama dengan di iringi obrolan ringan, mulai dari usaha Bar yang semakin maju dan juga kantor advokat milik Faro.


Ceklek!


Pintu terbuka dengan seruan semangat dari tamu tak di undang macam trio strong kesayangan Dirga.


"Yuhu ... Mana Baby mana!!" seru Amira menggantikan Suaminya yang mendengus merasa kalah start dari istrinya.


"Ngeduluin aja," gumam Raka menepuk kepala istrinya yang terkekeh kecil.


"Blee ... Biarin," balas Amira meledek Sang suami.


"Haloo Baby, Onty datang nih!" seru Elisa menghampiri Kiara yang sedang menggendong Baby girl yang terlelap, efek kekenyangan.


"Haloo .... Onty, ungkel!!" seru Kiara semangat, tersenyum lebar ke arah sahabatnya.


Mereka satu per satu melihat rupa dari duplikat wajah bayi perempuan, yang mirip seperti Dirga lagi membuat Fandi yang melihatnya mendengus, saat mengetahui jika gen milik menantunya ternyata sangat kuat.


"Dirga lagi?" ujar Fandi mendengus kearah Dirga yang berdecih sebal.


"Mau mirip siapa dong Pih, Brit pit? Ya kali Pih, kan Dirga Daddynya!" seru Dirga tidak terima.


Ia melihat ke arah Mertuanya yang melengoskan wajahnya.


"Sudah-sudah, kalian ini baru saja bertemu sudah saling menyayangi," ujar Sarah menengahi dengan kalimat ngawurnya, membuat kekehan senang keluar dari masing-masing bibir orang yang ada di ruangan.


"Siapa yang saling menyayangi?" tanya Dirga dan Fandi bersamaan, lalu melengoskan kepala saat ucapan mereka sama.


"Tuh kan, semakin kompak," ujar Hendri tumben tidak ikut membuli Dirga, malah membuli keduanya dalam satu tepuk.


"Huemb,"


Tawa ceria memenuhi ruangan milik Kiara, obrolan mengalir begitu saja menciptakan suasana hangat yang di rasakan oleh setiap orang di dalam ruangan.


Di sela-sela kekehan dan candaan dari semuanya, Bakrie selaku kakek dari Dirga berdehem untuk meminta perhatian dan setelahnya Ia melihat ke arah cucunya.


"Jadi siapa nama cucu perempuan Kakek?" tanya Bakrie tanpa basa-basi.


Dirga sih sudah biasa mendengar pertanyaan to the point dari Kakeknya, sehingga Ia tidak heran jika Sang kakek akan bertanya tanpa tendeng alih-alih.


"Huem, nama yah," gumam Dirga main-main, ingin menggoda Sang kakek yang menatapnya penasaran.


"Iya, siapa Ga?" tanya Faro ikut penasaran.


Dirga tersenyum dan melihat ke arah Box bayi, dimana ada Putrinya yang tidur terlelap tanpa terganggu dengan suasana ramai yang terjadi.


"Em ... Dulu kan Dirga janji, jika punya anak lagi akan memberi nama Wicaksono di belakang nama. Jadi Dirga dan Kiara sudah memutuskan, untuk memberi nama Wicaksono di belakang nama putri Kami," ujar Dirga menjeda kalimatnya, Ia melihat ke arah Mertua dan Kakek Bagus yang menampilkan wajah berseri-seri bahagia.

__ADS_1


Dirga tersenyum lembut kearah keduanya, lalu berjalan ke arah Box bayi dan menggendongnya.


"Nah ... Buyut, Uyut, Oma, Opa, Eyang dan Onty serta ungkel, perkenalkan nama Aku Selyn Dira Mahesa Wicaksono. Cucu dan Cicit kedua dari keluarga Wijaya dan wicaksono, salam kenal!" seru Dirga semangat ke arah semuanya yang tersenyum menyambut hangat nama dari putri kedua sahabat, anak serta cucunya.


"Selyn Wicaksono, selamat datang sayang!" seru Sarah bahagia.


Sedangkan Bagus dan Fandi tersenyum dengan penuh terima kasih, saat nama keluarga Wicaksono ternyata masih ada penerusnya.


"Terima kasih Dirga, Kamu menantu yang pengertian," ujar Fandi dengan senyum khasnya.


"Sama-sama Pih, asal-


"Asal?" tanya Fandi penasaran.


"Asal Dirga jangan di bully lagi yah, mari kita sama-sama membuli orang dengan nama Hendri Wijaya. Bagaimana Pih, bukan kah lebih seru?" lanjut Dirga menuai pelototan dari Sang Papa kandung, sedangkan Fandi mengangguk menyetujui.


"Setuju, Kita bantai sama-sama!" seru Fandi semangat.


"Deal?"


"Deal!"


"Hey ... Mana bisa seperti itu!" protes Hendri tidak terima.


"Tentu saja bisa," balas Dirga memandang Papa kandungnya dengan senyum penuh kemenangan.


"Anak durhaka!"


"Ha-ha-ha!"


Tawa dari semuanya mengakhiri siang hari yang cerah ini, tapi mari Kita intip suasana beda yang tercipta di antara para balita.


Gavriel yang merasa sudah menjadi kakak, sekarang lebih diam dan kalem di saat bermain.


Biasanya Dia akan menjahili Ezra atau juga merecoki Queene saat bermain, tapi sekarang tidak.


Ia dengan baik hati membagi mainan dan makanan bayi miliknya, untuk sepupunya Ezra dan teman bayi perempuannya Si amoy Queene.


Gav : Es, Es. Nih mam, ain. (Ez, Ez, nih makan, main)


Ezra : Tav, ain, no mam. (Gav, main, tidak makan)


Queeneira : Mam, mam, mam. (Makan, makan, makan)


Mari kita tinggalkan para balita, Kita kembali kepada Para orang dewasa yang saat ini masih mengobrol santai.


Di saat sedang mengobrol ngalur-ngidul, Bakrie menyenggol lengan sahabatnya yang duduk di sebelahnya lalu berbisik, yang di akhiri dengan tawa keduanya.


Dan Kiara yang melihat Kakek kesayangannya tertawa mencurigakan, mengerutkan keningnya penasaran.


Ia menepuk lengan Suaminya, sehingga Suaminya menoleh kearahnya dengan ekspresi bertanya.


"Heum?" gumam Dirga bertanya.


"Kakek kenapa? Kok tawanya mencurigakan?" tanya Kiara semakin penasaran. Ia melihat ke arah Suaminya dengan ekspresi, yang membuat Dirga ikut melihat ke arah Kakeknya, dimana memang keduanya sedang tertawa setelah saling berbisik.


"Aku juga nggak tahu yank," balas Dirga apa adanya. Ia menggelengkan kepalanya tanda benar-benar tidak tahu.


"Tapi kok Aku curiga yah," gumam Kiara pelan.


"Maksudnya?"


"Aku curiga, jika sesuatu yang di bicarakan kakek ada sangkut pautnya dengan Kita," balas Kiara menjelaskan.


Dirga terkekeh kecil lalu menepuk kepala istrinya pelan.


"Jangan suka suudzon gitu, siapa tahu mereka membicarakan hal seperti bisnis, mungkin," ujar Dirga menjelaskan dengan lembut, sehingga Istrinya tidak membantah hanya mengangguk meski hati tidak puas.


"Pasti nih, Aku curiga," batin Kiara masih memandang ke arah Kakeknya dengan mata memicing.


Emang apa sih yang membuat kedua Kakek tersebut tertawa mencurigakan.


Mari kita dengar sama-sama ...


"Hei Bagus,"


"Huem?"


"Kira-kira jika Kita punya Cicit lagi, perempuan atau laki-laki? Lalu nama belakangnya siapa?"


"Sepertinya laki-laki, tapi Aku minta Wicaksono yah!"


"Ha-ha-ha, oke bisa di atur!"


"Nah itu baru Sahabatku!"


"Ha-ha-ha, tentu saja!"


Nah ... Pantas saja Kiara sebagai cucu merasa curiga, jika yang di obrolin kedua Kakek tidak jauh-jauh dari masalah cucu.


Astaga ...


Ingin memaki takut kualat sama yang lebih tua.


Baiklah ...


Episode Selyn Dira Mahesa Wicaksono selesai.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Nantikan kisah selanjutnya ..


Fell in love with my arogan fiance seoson pertama sudah selesai.


Seoson dua di mulai besok.


Sampai jumpa.


Hontoni Arigatou gozaimasu \= Terima kasih banyak.


Doitashimashite \= Sama-sama.


Aishiteru \= Aku mencintaimu.

__ADS_1


Aishiteruyo \= Aku juga mencintaimu.


__ADS_2