Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Rasa Itu lagi


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Queeneira pov on


Setelah makan dengan Syasa selesai, aku menyempatkan diri mengunjungi dua sahabatku, yang saat ini sedang menjalani ekskulnya.


"Sya, aku ke stadium dulu ya sebentar. Kamu duluan aja," ujarku.


"Oke deh! Aku tunggu di ruang praktik."


Aku pun mengangguk dan kami pun berpisah di persimpangan koridor, aku ke arah stadium sedangkan Syasa ke arah ruangan tempat klub memasak.


Eh ... Kalian tidak salah baca kok, emang aku ikut klub memasak.


Ada yang bertanya alasannya?


Kasih tahu tidak yah ...


Oke deh aku kasih tahu, dengar yah!


Alasannya karena seseorang.


Seseorang itu bilang, jika dia menyukai seorang wanita yang bisa memasak, bukan hanya memasak, tapi juga bisa bela diri dan juga bisa menjadi kesayangan di keluarganya.


Aku bisa bela diri, tentu saja aku karateka dengan sabuk hijau.


Tapi sayang, aku tidak bisa memasak.


Padahal Mama selalu membawaku serta ke dapur untuk membantunya memasak.


Ah ... Dasarnya aku yang tidak bisa, akhirnya aku hanya bisa membantu memotong dan memakan hasil masakan Mama.


Di depanku ada pintu besar, menuju stadium tempat dia latihan.


Dia siapa?


Ish! Banyak tanya, tentu saja dia lah, siapa lagi.


Maksudku mereka siapa lagi, dua sahabatku yang paling aku sayangi.


Aku memasuki stadium dengan langkah ringan, lalu mengedarkan pandanganku mencari kedua sahabatku.


Ah! Dari sini aku bisa melihat Ezra, salah satu sahabatku yang saat ini sedang memunggungiku.


Aku pun melanjutkan langkah kakiku dan berjalan menghampirinya.


Sepertinya dia tidak sadar akan kehadiranku, aku pun menepuk bahunya pelan, membuatnya menoleh ke arahku dengan aku yang melihat ke arah lain.


Puk!


"Akh!"


"Que!"


Ezra memanggilku namun bukan itu yang jadi fokus utamaku.


Dari sini aku bisa melihatnya, bagaimana punggungnya sedang di tepuk-tepuk oleh dia, teman perempuan di kelas kami.


Seketika rasa kesal dan cemburu mampir dengan kurang ajar, membakar hati dan pikiranku.


"Que."


"Aku sebaiknya kembali ke klub, sampai jumpa nanti Ezra. Kita bareng yah."


Aku segera membalas panggilan Ezra dengan mata tetap melihatnya, lalu setelahnya meninggalkan sahabatku tanpa memperdulikan apa-apa lagi.


Di sepanjang jalan aku selalu berusaha menguatkan hati, pikiran dan juga rasa rasionalku.


Aku tidak boleh egois seperti ini, bagaimana pun aku bukan siapa-siapanya.


Aku hanyalah seorang sahabat, yang menemaninya dari kecil hingga dia dewasa.


Aku tahu aku harus siap, saat dimana dia akan menggandeng tangan lainnya selain tanganku.


Tapi ... Apa ini?


Aku meraba pipiku yang entah kenapa basah.


Apa atap sekolahku bocor, sehingga tetesan air jatuh di pipiku.


Tapi di luar sedang tidak hujan.


Tes!


Sial, aku kelilipan.


Aku pun menambah laju langkahku, ke arah sebaliknya dari tempat klubku.

__ADS_1


Saat ini aku ingin sendiri, tidak ingin menemui siapa pun apalagi dia.


Cukup jauh aku berjalan dengan sesekali menghapus basah di pipiku.


Aku sampai di taman belakang yang sepi, katanya taman ini jarang di datangi karena letaknya yang jauh.


Aku heran padahal taman ini cukup bagus dan asri, apalagi ada pepohonan yang tumbuh rimbun.


Aku mendekati salah satu pohon dengan batang besar dan daun rimbun.


Duduk dan segera menyandar mencari posisi nyaman, lalu merenung.


Dia tidak akan suka jika ada air mata, yang mengalir dari kedua mataku.


Dia bilang aku akan terlihat semakin jelek jika aku menangis, dasar sendirinya juga jelek kalau menangis.


Aku tersenyum saat mengingat jika dulu, aku adalah satu-satunya yang ada di sekitarnya.


Tapi sepertinya saat ini tidak, buktinya saja dia dengan santai dan biasa saja menerima tepukan punggung dari orang lain.


Seharusnya aku tidak pergi begitu saja, seharusnya aku menyapanya agar dia bisa tahu jika ada aku.


Bodoh ... Dasar Queene bodoh.


Aku memaki diri sendiri saat aku sadar dengan tindakan bodohku.


"Semoga saja Ezra tidak sadar dengan prilakuku."


Jujur ... Aku bingung, kenapa hatiku sakit saat dia dekat dengan perempuan lain.


Padahal aku bilang tidak apa-apa, tapi kenapa tetap saja aku merasa marah.


Sekali lagi aku menghapus bocoran pada kedua mataku.


Seorang Queeneira tidak boleh menangis, apalagi ini hanya karena dia, dia yang sudah mulai menerima orang lain disisinya.


"Kenapa masih saja sakit, siapa yang tahu rasa apa ini?"


Aku harus bertanya kepada siapa, akan rasa sakit yang sedang dialami hatiku.


Aku ingin tahu, apakah ini hanya rasa tidak terima dan juga rasa khawatirku, jika suatu saat nanti aku tidak di butuhkan lagi.


Atau ....


Karena perasaan lain, yang diam-diam tumbuh subur di hatiku.


Aku merenung dengan kegundahan hati tidak jelas yang aku alami, mengapa seperti ini? Sebenarnya kenapa?


Drtt! Drrtt!


Aku membuka pesan dari sahabatku.


Astaga! Jam berapa ini?


Ya ampun ... Aku tidak menyangka, aku menghabiskan banyak waktu di sini.


Ih! Ini karena bocor air tadi.


Aku melewatkan jam klub dan juga hampir saja jadi penghuni taman belakang.


Aku berdiri dari dudukku, menepuk-nepuk bagian belakang rok milikku dan sekali lagi mengubah raut wajahku.


Mereka tidak boleh tahu, apalagi dia.


Sekali lagi aku menghela nafas dan melangkahkan kaki sedikit cepat, saat Ezra mengancam akan meninggalkanku, jika aku tidak sampai dalam waktu lima menit.


"Dasar, reseh banget," gumamku mendumel kesal.


Queeneira pov end


Normal pov on


Setelah mendapatkan pesan dari sahabatnya, Queene pun berjalan meninggalkan taman dengan sedikit berlari-lari kecil.


Queene meninggalkan taman tanpa tahu, jika ia di perhatikan dari jauh, tepatnya dari balik pohon lainnya, tempat seseorang itu bersembunyi.


Seseorang itu keluar dari balik pohon dengan kening mengernyit, saat mencoba mengingat ekspresi yang di tunjukkan adik kelas favoritnya tadi.


Wajah yang biasa di hiasi senyum lebar, sore ini terlihat sendu.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan adik kelas favoritnya sewaktu MOS dulu, kemana shining yang selalu terpancar dari raut wajah penuh ekspresi itu.


Seseorang itu menggelng kepalanya, saat ia merasa jika ini bukanlah urusannya.


Dia datang ke taman ini untuk menghindari kegiatan klubnya, ia sedang dalam kondisi mager dan hanya ingin santuy tanpa ada yang ganggu.


"Ais! Pukul berapa ini, saking fokus liat dia seperti itu, gue jadi lupa waktu."


Seseorang itu mendumel karena keteledorannya sendiri.


Bisa-bisanya ia menikmati ekspresi tanpa melihat waktu.

__ADS_1


Tidak ingin bermalam di sekolah ia pun ikut meninggalkan taman belakang, berjalan santai dengan sesekali bersiul pelan.


"Tapi dia kenapa ya?" gumamnya bertanya.


"Ah! Terserah dah!" lanjutnya dengan bahu terangkat tidak perduli.


💔💔💔


Kembali pada Queene yang saat ini sedang berjalan ke arah lokernya, ia mengambil perlengkapan yang di simpannya dan memasukkannya kedalam tasnya.


Setelah di rasa barang miliknya terbawa, ia pun melanjutkan perjalanannya, berjalan menuju parkiran berada.


Dari sini ia bisa melihat dua sahabatnya, sedang duduk di atas motor masing-masing, dengan seorang tambahan yang tidak asing di matanya.


"Dia lagi," gumamnya dengan perasaan kesal.


Perasaan itu muncul lagi.


Langkahnya yang tadi ringan menjadi berat, saat ia hampir sampai di parkiran, tepatnya beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


Ia juga bisa mendengar obrolan akrab dari ketiganya.


Sekarang sahabat satunya juga mengikuti jejak dia, akrab dengan teman perempuan sekelasnya, yang sempat hang out bareng mereka.


"Benark-


"Oy! Sorry lama!"


Ia segera menyela ucapan si teman baru, saat hendak berbicara, sehingga mereka bertiga pun menoleh ke arahnya.


"Que ... Kenapa lama sekali?" tanya Ezra, sahabatnya yang akan menjadi tumpangannya.


"Abis ambil barang, di loker," balas Queene dengan senyum lebar, senyum yang terlihat aneh di penglihatan Gavriel.


"Kamu kenapa?" tanya Gavriel khawatir.


Queene pun menoleh ke arah Gavriel, saat mendengar pertanyaan untuknya.


"Aku? Aku kenapa?" ujar Queene balik bertanya.


"Mata kamu kenapa?" tanya Gavriel, turun dari motornya dan menghampiri sahabat perempuannya.


Ia dengan segera memegang sisi wajah Queene, tanpa bisa di cegah dan Queene pun tidak ingin mencegahnya.


"Kamu habis menangis," bisik Gavriel lirih, di depan wajah Queene, sehingg membuat Queene ingin memundurkan wajahnya, namun tidak bisa.


Gavriel tidak membiarkannya, membuat Queene memegang tangan sahabatnya lalu melepasnya perlahan.


"Aku tidak apa-apa, Gavriel," balas Queene setelah melepas tangan Gavriel di sisi wajahnya.


Ia segera berjalan menuju motor Ezra dan mengulurkan tangannya, meminta helm yang biasa di pakainya.


Ezra memberinya tanpa banyak tanya, sepertinya sahabat atau juga sepupu dari seorang Gavriel ini lebih peka, di bandingkan dengan Gavrielnya sendiri.


Queene pun menaiki motor milik Ezra, dengan Gavriel yang menghadap sahabatnya dan menatap Queene curiga.


"Ada apa ini, apa aku melakukan kesalahan?" batinnya bertanya bingung.


Keineira yang melihat kejadian ini hanya bisa diam.


Diam saat Gavriel yang begitu tidak risih, bersentuhan fisik dengan sahabat perempuannya.


Diam saat lagi-lagi ia merasa sulit, untuk masuk di antara ketiganya.


"Gav, aku naik taks-


"Tidak, aku sudah janji akan mengantarmu pulang. Aku akan menempatinya," sela Gavriel cepat saat mendengar perkataan teman sekelasnya.


"O-oke," gumam Kei canggung, saat merasakan atmosfer aneh di sekitarnya.


"Ezra, aku lelah. Duluan yuk," bisik Queene mencengkram erat jaket, di bagian pinggang sahabatnya.


"Oke!"


"Gav, kita duluan yah. Tidak apa-apa kan?" lanjut Ezra bertanya.


Gavriel hanya mengangguk dan kemudian kedua sahabatnya pun meninggalkan area parkir, menyisakan Gavriel dan Kei, dengan Gavriel yang terdiam kaku.


Ia merasa sedang di jauhi sahabat kesayangannya.


Tapi, kenapa?


"Gav! Jadi pulang?" tanya Kei membuat Gavriel sadar dari melamunnya.


"Ah! Iya, yuk!"


Kemudian keduanya pun mengikuti jejak dua sahabatnya, meninggalkan area sekolah untuk mengantar teman perempuannya pulang ke rumah.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya .....


Sampai babai.


__ADS_2