
Seoson dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
"Daddy / Baba / Pipi dong yang tangkap!" seru ketiganya lagi-lagi kompak.
"Apa???" ketiga Daddy dengan pakaian keren kompak berseru kaget, syok saat mendengar permintaan ngawur dari tiga bocah titisan lucifer, yang alhamdulillah adalah anak mereka sendiri.
Ew ... Gavriel sebagai pentolan tentu saja tahu reaksi yang akan di terimanya. Jadi Ia dengan segera menampilkan raut wajah polos, tanpa noda dan dosa, serta nada suara khas anak-anak ke arah Sang Daddy dan ungkelnya.
"Kami kan tidak tahu cara menangkapnya, iya kan Ez, Queene?" ujar Gavriel polos lalu bertanya kapada dua sahabatnya meminta bantuan.
Jika di perhatikan maka kalian akan melihat mata bulat dengan bulu mata lentik berkedip cepat, kode dari Gavriel Si pencetus ide program menyatu dengan alam.
"Iya!" seru Queene melihat ke arah Babanya, lengkap dengan kepolosannya.
"Betul, betul, betul," sahut Ezra dengan telunjuk terayun, menegaskan ucapannya dan sedikit meniru jargon film kartun kesukaannya, judulnya kalau tidak salah ipil-opil.
"Ah .... Bilang saja kalian mau ngerjain Kami kan?" seru ketiga Daddy lagi-lagi kompak.
Ekspresi dari ketiga Daddy berbeda-beda.
Raka yang memandang Ezra dengan raut wajah penuh persimpangan kesal, Faro yang mengantuk melihat Queene dengan mata merahnya dan tentu saja Dirga yang sudah mengeluarkan asap dari hidungnya.
"Mimi, Pipi marah!"
"Mama, Baba seram matanya merah!"
"Momm, Dadd keluar tanduknya!"
Ketiga Mommy dan Selyn yang sedang berfoto tidak jauh dari ketiga anak, sontak menoleh dengan kaget saat mendengar seruan heboh dari sana.
Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa melihat tiga anak berlari ke arah mereka dengan ekspresi wajah takut. Sedangkan di ujung sana, di dekat pondokan, mereka juga bisa melihat para Daddy berekspresi kesal.
"Ada apa?" tanya Kiara saat Gavriel bersembunyi di belakangnya.
"Queene sayang kenapa?" tanya Elisa khawatir.
"Kalian kenapa sih?" tanya Amira melihat ketiga anak yang masing-masing bersembunyi di belakang mereka.
Ketiga anak yang sedang bersembunyi, melirik takut-takut ke arah depan dimana ada tiga pria dewasa, yang masih melihat ke arah mereka dengan ekspresi yang sama seperti tadi.
"Ada apa sih, Yank?" tanya Kiara kepada Suaminya yang segera pasang wajah pasrah.
"Momm, Daddy tidak mau membantu Kami menangkap katak," sahut Gavriel menjawab pertanyaan untuk Sang Daddy.
Ia menampilkan raut wajah sedih saat Mommynya menoleh ke arahnya.
"Kan-kan-kan, betul aja," batin Dirga sudah menduga.
Anaknya sedang cari perlindungan, alamat kalah telak jika Ia menjelaskan. Jadi Ia hanya tersenyum dan berbalik menuju pondok untuk melepaskan kemeja dan menggulung celana panjangnya.
"Apa susahnya menangkap katak, sayang. Katanya Kamu bisa segalanya?" ujar Kiara meledek ke arah Suaminya.
"Tunggu saja, Dear. Lihat dan saksikan, oke!" balas Dirga. Ia berpura-pura semangat dengan senyum sombongnya seperti biasa, setelah selesai membuka kemejanya.
"Ma, Baba bagaimana?"
"Pipi Mih?"
Oh .... Hasutan dari setan kecil sudah di mulai, jadi dua Daddy yang tadi masih berekspresi kesal, mengikuti apa yang di lakukan Daddy songong yang sudah berdiri di pinggir sawah.
Mereka sadar diri dengan ekspresi dari ibunda ratu kerajaan mereka, apalagi pangeran dan putri yang saat ini sedang menatap mereka dengan cengiran polos.
"Semangat Daddy!"
"Kayau, Baba!"
"Go Pipi go Pipi go!"
Ingin rasanya mereka memaki namun apa daya, mau memaki hati 'tak sampai apalagi ketiganya adalah darah daging mereka sendiri.
"Sialan,"
"Ini kah yang di sebut, suami-suami takut bojo?"
"Bisakah kesialan ini di lewatkan?"
(Kalian ini mengeluh dengan siapa sih? Ya Lu lah author kampret. Lah kalau Gue kampret Raka apa, Kupret? Lah iya yah)
Akhirnya mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas mereka pun turun ke sawah, menginjakkan kaki di tempat yang seumur hidup tidak pernah mereka jejaki.
Di belakang Para Mommy, tiga anak lucu namun titisan dewa, saat ini sedang saling melirik dan kemudian terkikik bersama.
Ketiganya mengulurkan tangan untuk berhigh five bersama, keberhasilan rencana mereka tentu saja dapat dukungan tidak sadar dari Para Mommy.
"Berhasil," bisik Gavriel dengan cengiran usilnya.
"Naise! (Nice)"
"Gut jop, Tav!"
"Ah ... Stop call Me Tav, Quee-que!" seru Gavriel tidak terima.
"Hi-hi ... Tidak akan,"
Queene pun terkikik tanpa menghiraukan Gavriel yang misuh-misuh. Namun, walau begitu Mereka senang saat rencana mereka berhasil.
Nah ... Apa kata mereka, menyatu dengan alam itu enak kok.
Mandi lumpur di tengah-tengah terik matahari, nikmat mana lagi coba yang kau dustakan.
Kembali pada tiga Daddy tampan kita.
Mereka bertiga sudah turun ke sawah namun belum bergerak, ketiganya masih merasakan sensasi aneh yang di rasakan pada telapak kaki mereka.
__ADS_1
Basah ... Lembek ....
Jika mereka memperlihatkan kelemahan mereka, sama saja mereka melukai harga diri sebagai laki-laki jantan.
Ketiganya saling menoleh dengan ekspresi wajah kaku, em ... Tidak semuanya tuan songong Kita masih dengan ekspresi wajah datar, namun kalau di perhatikan ada bulir keringat yang mengalir di dahinya.
"Puji keong ajaib," batin ketiganya.
"Lu berdua kenapa?" tanya Dirga melihat kanan dan kirinya dengan ekspresi meledek.
"Lu sendiri? Seperti orang lagi nahan kentut!" seru Raka balas mengejek, Ia memasang wajah meledek ke arah Dirga yang mendengus.
"Ya sudah lah, cepet di kerjain cepat istirahat. Asli Gue ngantuk banget," sahut Faro.
Ia melihat kedua sahabatnya dengan ekspresi menahan kantuk luar biasa, membuat Dirga dan Raka galau ingin berekspresi seperti apa.
Mau ketawa takut dosa dan kasihan, lalu kalau nggak ketawa sayang banget moment langka di lewati.
"Oke," balas Keduanya singkat.
Singkat aja ... Kalau di terusin tawa mereka bisa meledak kapan saja
Akhirnya di mulai lah perjalanan mereka dalam berburu ubur-
(Katak oy!)
Iya maksudnya berburu Katak.
Mereka melangkahkan kaki dengan gerakan canggung, selangkah demi selangkah namun akhirnya terbiasa.
"Nggak buruk juga," gumam Dirga mulai menikmati.
"Yah ... Anggap saja ikut merasakan kegiatan para petani," sahut Raka, bahkan Ia sudah pecicilan berjalan ke arah lain dan mulai mengubek-ubek dengan mata jelalatan.
"Seru euy!" Lanjutnya semangat.
"Heum ... Yang penting cepet selasai," gumam Faro pergi ke arah lain.
Jadilah mereka bertiga menjelajahi sepetak sawah dengan masing-masing ke arah tujuan lain.
***
Sedangkan di pinggir sawah, ada tujuh orang lainnya yang menunggu dengan sesekali terkikik, saat melihat kejadian langka di depannya.
"Bang Dirga, bahkan tidak pernah main di tanah," ujar Amira tiba-tiba, Ia yang paling tahu masa kecil sepupunya.
Semuanya kompak menoleh ke arah Amira, yang menyinggung tentang Daddy atau Suami dari Kiara.
"Jadi ini pertama kali, Am?" tanya Elisa terkejut.
Beda Elisa beda lagi dengan Kiara yang terkekeh, membenarkan apa yang di bilang Amira.
Ew ... Suaminya memang tidak pernah main di tanah, kalau manjat pohon sih sudah jagonya.
"Bagaimana mau main tanah, umur tujuh tahun mainannya sudah laptop," sahut Kiara setelah puas terkekeh.
"Momm, Daddy umur tujuh tahun sudah bekerja?" tanya Gavriel, menuai anggukan kepala dari Sang Mommy.
"Uem ... Iya, emang kenapa sayang?" balas Kiara menatap anaknya lembut.
"Kalau begitu, Gav juga mau bekerja!" seru Gavriel dengan semangat, tidak tahu saja efeknya luar biasa untuk Sang Mommy.
"Ah ... Itu-
"Kenapa Momm?" tanya Gavriel bingung, ekspresi Mommynya kok jadi aneh.
Kiara bingung harus berbicara seperti apa, yang bisa memutuskan ini adalah Suaminya dan juga Ia sudah tahu dengan pasti jawabannya apa.
"Eumh ... Gavriel mau bekerja?" tanya Kiara hati-hati.
Gavriel yang di tanya mengangguk polos dan tersenyum lebar, memamerkan gigi putih terawat yang selalu rajin Mommynya bawa ke Dokter.
"Gavriel denger Mommy," ujar Kiara menjeda kalimatnya, Ia berjongkok di depan Sang putra yang menatapnya dengan ekspresi berbinar-binar.
"Apa Momm?"
"Sebenarnya Gavriel sudah bekerja kok,"
"Masa Momm?"
Gavriel membuka mulutnya membentuk huruf 'o', kaget saat mendengar perkataan Sang Mommy.
"Eum ... Gavriel bersekolah dengan tekun dan rajin, serta berprestasi itu juga namanya bekerja," ujar Kiara menjelaskan dengan lembut.
Ia mengusapkan tangannya ke kepala Sang anak dengan pelan, serta menampilkan senyum teduh menenangkan.
"Seperti itu Momm?"
"Eum!" gumam Kiara dengan kepala mengangguk.
"Oke deh!" seru Gavriel ceria.
Gavriel mengerti, Sang Mommy hanya ingin Ia menikmati masa kecilnya.
Jangan di kira keturunan pertama Wijaya belum tahu apa-apa, Ia sudah tahu bahkan sebelum Sang Mommy bercerita tadi.
Tapi seseorang bilang jika Ia harus merahasiakan ini ... Jadi Ia hanya bisa bersikap layaknya seorang bocah sesuai dengan umurnya.
Memasang wajah polos dan bersikap tidak tahu apa-apa.
Ini juga yang membuatnya sadar tidak menuntut banyak kepada Sang Daddy, untuk menemani mereka di rumah sepanjang hari.
Karena orang tersebut bilang, jika pekerjaan yang Daddynya lakukan berguna untuk semua orang.
"Bayangkan jika Daddymu tidak mengurus perusahaan, bagaimana nasib para karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan? Apa mereka bisa makan, jika Daddymu bermalas-malasan?"
Seketika bayangan wajah penuh keriput mampir di fikirannya.
__ADS_1
Ia menggelengkan kepala menghapus wajah Sang buyut, orang yang bercerita tentang bagaimana di butuhkannya Sang Daddy toyyib di perusahaan Wijaya, perusahaan raksasa yang menjadi sumbu poros perusahaan lainnya.
Tidak seperti adiknya Selyn, yang masih merengek jika Daddy toyyib mereka jarang menemani mereka bermain, Ia sudah mengerti di umurnya yang ke-enam tentang kewajiban Sang Daddy.
"Honey, kenapa?"
Gavriel tersentak kaget saat Sang Mommy melihatnya dengan bingung, ah ... Seperti Ia melamun sehingga perkataan Sang Mommy tidak semuanya Ia dengar.
"Tidak ada Momm, he-he!" balas Gavriel terkekeh ceria.
"Hei ... Bagaimana kalau kita semua turun ke sawah? Sepertinya seru main lumpur!" seru Amira mencetuskan ide ngaco, tapi di tanggapi antusias oleh semuanya.
"Setuju!"
"Yey, main lumpul!"
Mereka akhirnya bersama-sama-sama mengganti pakaian mereka dan turun ke sawah menghampiri Para Daddy yang sedang saling tertawa, saat Daddy songong jatuh terjerembap.
Di saat bersamaan, di sisi Para Daddy.
Di ujung dari sawah ada Dirga yang menunduk, mencari dengan mata tajamnya hewan yang sedang di burunya.
Setiap sudut Ia jelajahi dengan mata melotot, ini pengalaman pertamanya dan Ia harus berterima kasih kepada anak lucu tapi uwu hasil pembagian sel Ia dan istrinya.
Pinggangnya sudah hampir patah, saat harus merunduk mencari ke setiap sudut.
Oh ... Dan jangan lupakan kakinya yang sedari tadi merasakan geli, saat ada sesuatu yang merayap di sela-sela jari kakinya.
Sedangkan di sisi Raka, Ia sedang menikmati saat pinggangnya merasakan encok, jadi Ia dengan santai duduk berjongkok dan lanjut lesehan di tengah-tengah kubangan lumpur.
Masa bodo fikirnya ...
Ia bisa mengganti pakaiannya, tapi tidak bisa mengganti pinggangnya yang mulai berteriak minta di istirahatkan.
Dan Faro jangan tanya, matanya yang sudah lima watt mau tidak mau di paksakan terbuka. Alhasil, Ia harus rela terjerembap dan jatuh kebelakang, dengan bokong lebih dulu menghantam permukaan lumpur.
Keadaan ironi yang di alami oleh Faro menjadi bahan, bagi kedua sahabatnya yang sudah ngekek parah.
Mereka tertawa di atas penderitaan satu sahabat geblek, yang saat ini sedang meringis saat jatuh di tempat yang tidak empuk sama sekali.
"Wha-ha-ha-ha!!!"
Tawa yang paling bahagia dan membahana keluar dari Raka, Ia sih sudah dari awal berendam di lumpur, jadi tidak masalah kalau harus di tertawai.
"Ngantuk Lu parah ya Bro, sekalian rebahan santuy dah di situ!"
Nah ... Yang ini kalimat meledek dari Tuan songong, Ia memegang perutnya menahan sakit saat kekehan tidak berhenti darinya.
"Bangke Lu!"
"Ha-ha-ha!"
Dirga dengan santai mentertawakan sahabatnya, yang melanjutkan duduknya alih-alih bangkit dari jatuh.
"Ah ... Pegel," gumam Faro tanpa memperdulikan kekehan meledek dari Dirga.
Apakah kalian tahu, yang namanya karma?
(Yang manis dari negeri Timur? Itu kurma dodol)
Katanya karma itu ada dan bisa datang di saat yang tepat.
Jadi Tuan songong yang sedang menikmati masa bahagia ini, masih saja tertawa tanpa tahu apa yang ada di belakangnya saat ini.
Sesuatu itu bergerak dengan lambat namun pasti, Dia merayap dengan santai menuju ke arah orang di hadapannya dan setelah sampai di dekat orang yang adalah Dirga, Dia meliuk di kaki Dirga dengan manja.
Sedangkan Dirga yang merasakan kakinya di rayapi sesuatu tersentak kaget, Ia tidak sadar mengibaskan kakinya dan kejadian tidak di duga pun terjadi.
Brugh!!
Byur!!
"Ha-ha-ha-ha!!!"
Hum ... Bunyi apa itu?
Itu bunyi Dirga yang jatuh dan di susul oleh tawa Faro dan Raka, serta tambahan Para istri dan anak yang baru bergabung.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?"
"Makanya jangan tertawa di atas penderitaan orang,"
"Karma is real, Bro!"
"Daddy, curang mandi lumpur tidak ajak-ajak!"
"Dadd, El nggak mau deket-deket Dadd!"
"Kemari sayang, come to Daddy!"
"Hi-hi-hi, Mas kabul!"
"Lil princess, jangan kabur!"
"Hi-hi-hi!!!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Main lumpur itu tidak jorok kok ...
Apalagi main lumpur dengan pasukan lumpur until jannah.
Ikuti kisah selanjutnya ...
Kejahilan yang di ciptakan oleh tiga anak lucu tapi titisan lucifer masih terus berlanjut.
__ADS_1
Sampai babai