Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Tugas Sebenarnya Itu adalah ....


__ADS_3

Seoson dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


"Berena-


"Sudah sore, kalian besok harus sekolah lagi," ujar Dirga menyela ucapan Sang putra, yang sudah Ia tahu dengan jelas apa kelanjutannya.


"Bhuu! Tidak seru," ujar Gavriel kecewa.


Dirga terkekeh di sepanjang perjalanan, Ia menepuk kepala anaknya sayang lalu melanjutkan ucapannya.


"Liburan minggu depan, bagaimana?" tanya Dirga.


"Janji?"


"Hum .... Janji," balas Dirga tersenyum kecil.


"Asik!!!" seru Gavriel ceria, membuat Dirga menggeleng kepala pelan.


Anaknya bisa menjadi menggemaskan dan menyebalkan di saat bersamaan.


"Gendong Dadd!" pinta Gavriel tiba-tiba, Ia mengulurkan tangannya persis seperti dulu saat Ia kecil dan meminta gendong kepadanya.


"Ish ... Kamu sudah besar," dengus Dirga, lalu menghela nafas saat mendengar rengekan langka dari anak sulungnya.


"Dadd!!"


Tidak kuat dengan tatapan mata turunan Sang istri, Ia pun menyerah dan menerima uluran tangan Putranya.


"Oke, fine." ujar Dirga pasrah.


"Yuhuuu!!!!" seru Gavriel senang.


Hup!


Gavriel pun saat ini ada di gendongan belakang Sang Daddy, tapi sayang Si bontot jelamaan setan kecil protes, saat hanya Putranya yang di gendongan olehnya.


"Daddy, kenapa hanya Mas. El itut gendong!" seru Selyn tidak terima.


"Tidak boleh!" seru Gavriel menolak seruan meminta dari Sang adik.


Selyn menghentakkan kakinya kesal, lalu menghadap ke arah Sang Mommy, seperti biasa mencari sekutu untuk menaklukan Sang Daddy.


"Momm!!!"


Rengekan Selyn di mulai, membuat Dirga yang mendengarnya lagi-lagi harus menghela nafas pasrah.


"Oke, kemari lill Princess!" seru Dirga gemas sendiri.


"Yey ... Gendong juga!"


Selyn dengan semangat mengulurkan tangannya, yang di terima Dirga segera sehingga saat ini Si bontot ada di gendongannya, tepatnya di gendongan depan sedangkan Si sulung di belakang.


"Huh, dasar iri saja," ujar Gavriel, meledek Sang adik yang balas dengan menjulurkan lidahnya.


"Bialin, bleee!"


"Dasar kalian ini," gumam Dirga saat mendengar pertengkaran kedua Anaknya.


"Nggak kerasa, Gue sudah punya dua buntut." batin Dirga.


Ia tersenyum gemas saat mendapat kecupan sayang dari anak perempuannya, Si bontot yang paling manja dengannya.


Cup!


"El Sayyaaangg .... Daddy," ujar Selyn menekan kata 'sayang', yang di balas kecupan sayang juga dari Sang Daddy di pipinya.


"Pintar merayu, seperti Mommy." gumam Dirga. Ia menyatukan dahinya dengan dahi Sang anak yang terkikik lucu.


"Hi-hi-hi!!"


Di belakang mereka ada Kiara yang melihat Suami dan anaknya, yang terkikik sambil menyebut namanya dengan dengusan heran.


Kemudian Ia tersenyum iseng dengan ide jahil, yang tiba-tiba mampir di fikirannya.


Ia berjalan cepat dan berdiri di belakang Sang suami, memasang wajah dengan senyum menjanjikan sesuatu.


"Apa sayang, bisa ulangi?" ujar Kiara dengan senyum tanpa ekspresi, bibirnya tersenyum sangat manis, tapi tidak dengan matanya yang melotot ke arah Suaminya.


"He-he-he ... Mommy cantik," ujar Dirga merayu, di ikuti kekehan canggungnya.


"Apa?" balas Kiara dengan nada mendayu.


"Tidak, Dear. Aku-


"Mommy ikutan minta gendong juga deh," sela Kiara cepat, menuai pekikan semangat dari Selyn yang bergerak heboh.


"Yey ... Gendong semua!!"


Dirga sendiri melotot dengan ekspresi horor, bukan masalah baginya menggendong Sang istri.


Tapi tolong lihat keadaannya saat ini.


Ia sedang membawa dua anak titisan lucifer, yang saat ini malah berteriak kegirangan.


"Yank berat loh!!!" seru Dirga masih dengan ekspresi horor. Ia semakin merasa tidak berdaya, saat Istrinya menatap Ia dengan tatapan kecewa.


"Kamu nggak mau gendong Aku?" ujar Kiara lirih, membuat Suaminya kalang kabut.


"Bukan gitu, kan Ak-


"Alasan saja." sela Kiara cepat.


Ia memandang Sang Suami pura-pura kesal, saat mendengar suaminya hendak menolak permintaan pura-puranya.


"Tapi-


"Gendong!"


Lagi-lagi Kiara menyela dengan cepat, saat Sang suami seakan ingin membantahnya.


"Ya Lord!!!" batin Dirga nalangsa.


Ia memandang Kiara dengan tatapan melas, yang terlihat lucu di mata Istrinya.


"Hi-hi-hi!!!"


Beda Dirga beda lagi dengan Selyn, Ia justru terkikik senang saat melihat Sang Daddy sedang di tindas oleh Mommynya.


"Dadd payah, masa gendong Momm ndak kuat," ujar Selyn mengompori.


"Tuh ... Benar apa kata Selyn, payah. Sorakin reme-rame!" seru Kiara memprovokasi.


Karena seruan istrinya tersebut, Dirga pun harus rela telinganya kebas saat mendengar sorakan dari keluarga, serta sorakan dari arah depan sana.


Ternyata bukan hanya keluarga kecilnya saja yang sedang membullynya, keluarga cemara Faro dan Raka juga ikut-ikutan.


"Daddy payah!"


"Huww ... Payah!"


"Payah kali kao!"


"Diem Lu pada!"


Dirga melotot ke arah Raka dan Faro yang sedang asik mentertawainya.

__ADS_1


Di dalam hatinya, Ia sudah menyumpah serapahi dua sahabatnya, dengan segala jenis binatang serta isinya.


Enak sekali mereka mentertawai tanpa tahu kemalangananya.


Jika hanya menggendong satu anak dan seorang istri, Ia masih sanggup menahan beban keduanya.


"Lah Gue, muke gile. Mau jadi apa Gue nanti, rempeyek?" batin Dirga menangisi kemalangananya.


(Bukan rempeyek Ga, tapi jadi remahannya. Sialan lu Thor)


Karena tidak ingin nasibnya sama seperti rempeyek yang rapuh, Dirga pun menoleh ke arah Sang istri hampir dengan ekspresi memelas.


"Lah ... Istri Gue kenapa?" batin Dirga bingung.


Ia memasang ekspresi bingung sebab Ia melihat Sang istri seperti sedang menahan tawa, membuat Ia berfikir dan tersentak saat tahu maksud dari kejahilan Sang istri.


"Oh ... Nakal yah, liat aja nanti." batin Dirga.


Sedangkan Kiara harus menahan kekehannya saat Suaminya di bully dengan anak dan sahabatnya.


Baru ini Ia menjadi kompor untuk membully Sang suami dan rasanya ...


"Asyik juga bully suami sendiri," batin Kiara sambil tertawa senang.


(Ada istri otewe durhaka. Ulah siapa, heum?)


"Dadd!" panggil Selyn sambil menepuk pipinya.


"Heum?" gumam Dirga.


"Ndak boleh malah, Daddy kan tampan. He-he!" ujar Selyn merayu Sang Daddy yang balas tersenyum.


Haih ... Anaknya ini selalu bisa membuatnya geli dan gemas di saat bersamaan.


Lagian bagaimana Ia bisa marah, jika bisa melihat istri dan anak-anaknya tertawa seperti ini.


"Siapa yang marah?" tanya Dirga memandang Selyn dengan satu alis terangkat.


Ia berpura-pura bingung atas perkataan Si bontot, membuat Selyn tersenyum lebar dan memeluk lehernya erat.


"Olang di sebelah, sukanya malah-malah. Daddy jangan yah," gumam Selyn menunjukan kata-kata itu entah pada siapa.


"Orang di sebelah, siapa?" tanya Dirga bingung.


"Tuh olang yang di belakang, Mas sukanya malah-malah kalau El main dengan taman El. Kan leseh," balas Selyn polos, menatap wajah Sang Daddy dengan serius.


"Masa El main sama Mas telus, nggak selu," Lanjutnya membuat ekspresi kesal, melihat Sang Daddy dengan mata menyipit lucu.


Di belakang mereka, Gavriel yang menjadi korban julid tidak terima.


Emang kenapa kalau Ia marah dengan orang yang namanya Dimas, Ia kakaknya. Jadi berhak dong, melarang Sang adik bermain dengan orang asing, lagian itu demi kebaikan adiknya juga.


"Yee ... Siapa yang marah-marah!" seru Gavriel menyahuti perkataan Sang adik.


"Iya Dadd, masa Dimas sedang belmain dengan El, tiba-tiba Mas ikut belmain. Telus itu malah-malah, humb!" balas Sang adik tetap keras kepala.


"Ye-


"Oke ... Stop Kids, lebih baik kita mandi sambil nunggu paman Teguh bawa kataknya. Got it?" ujar Dirga menyela apa yang akan di ucapkan sulungnya.


Mereka berdua akan menjadi pasangan kakak adik yang kompak, tapi juga saling menjahili kalau ada sesuatu yang kurang di sukai, seperti sekarang ini contohnya.


"Got it, Dadd!" seru Keduanya kompak.


"Good!"


"Nah ... Istriku!" lanjut Dirga memanggil Kiara dengan nada suara aneh dan jangan lupakan senyum ganjilnya.


"Iya?" sahut Kiara memjawab panggilan Suaminya.


Ia dari tadi hanya mendengar perkataan anak bungsunya, yang protes kepada Suaminya tentang kelakuan anak sulungnya.


Glek!


Kiara menelan salivanya susah payah, saat mengerti apa maksud tatapan ganjil Suaminya.


Tubuhnya tiba-tiba meremang saat membayangkan apa yang akan terjadi dengannya.


"Mati Aku," batin Kiara horor, Ia semakin takut saat Suaminya tersenyum dengan senyum manis layaknya empedu.


(Empedu asem bukan manis. Empedu pahit, Author dodol. Nah itu tahu)


"He-he!"


Kiara tidak bisa menjawab, Ia hanya terkekeh canggung saat Suaminya melihatnya dengan senyum, tapi beda dengan apa yang di rasakannya saat ini.


"Jadi sudah siap yah?" ujar Dirga masih dengan senyum manis di buat-buatnya.


"Ano-


"Sudah Kita berdua mandi dulu yuk," sela Dirga menekan kata berdua dan mandi kepada Istrinya, yang langsung menggeleng cepat.


"Iya Kita mandi, Kita berempat. Bagaimana anak-anak, setuju?" ujar Kiara buru-buru.


Ia dengan segera membenarkan ucapan ambigu Suaminya, masih takut jika Suaminya akan melakukan itu saat ini juga seperti apa katanya barusan.


"Yey ... Setuju!"


Dan untunglah dua anaknya dengan semangat menanggapi apa maunya, sehingga Ia bernafas lega saat Suaminya mendengus ke arahnya.


"Fine ... Sebaiknya Kita cepat bersih-bersih." ujar Dirga.


Ia mengulurkan tangannya yang bebas ke arah istrinya, kemudian menggengam erat saat Sang Istri menerimanya ulurannya segera.


Mereka berjalan Bersama-sama dengan jarak lumayan jauh dari Dua sahabatnya, yang lebih dulu sampai di sebuah penginapan miliknya, tempat dulu Ia memantau Sang istri yang dulu sempat kabur menolak di jodohkan dengannya.


"Dulu kabur, sekarang bisa punya dua anak gini," batin Dirga tersenyum geli dengan kelakuan Istrinya dulu.


"Kamu kenapa, Yank?" tanya Kiara heran, sebab Ia melihat Suaminya geleng kepala dengan bibir tersenyum geli.


"Ah, tidak ada apa-apa." balas Dirga.


"Ooh!"


Skip


Setelah terjadi pembullyan atas nama Dirga tampan Mahesa.


Akhirnya tiga keluarga cemara bersih-bersih dan sekarang sedang santai, menunggu Pak Teguh yang berjanji menangkapkan seekor katak untuk mereka.


Semuanya duduk dengan santai di ruang tamu, di selingi dengan obrolan ringan yang terkadang di selipi dengan pertanyaan seputar Dirga dan Kiara dulu.


Maklum ... Kisah cinta mereka berdua yang paling aneh tapi nyata, berawal dari pemandu wisata hingga menjadi pemandu ke surga nanti.


"Kira-kira musim semi tahun ini apa ada festival lagi, Yank?" tanya Kiara penasaran, saat mereka sedang menyinggung masalah perayaan tahunan.


"Tentu saja, minggu depan. Anak-anak juga libur, jadi bisa sekalian lihat," balas Dirga menjelaskan, Ia menoleh ke arah sebelah kirinya saat Selyn berbisik di telinganya.


"Dadd, makan."


"Lapar?"


"Ung."


"Oke ... Daddy pesan makanan yah!"


"Yey!"


"Jadi Kalian mau liburan disini?" tanya Faro.

__ADS_1


"Ya seperti itu lah," balas Dirga apa adanya, Ia berdiri dan berjalan ke arah telepon hendak memesan makanan, untuk Si bontot yang sudah mulai kelaparan.


Jangan membuat Selyn kelaparan, jika tidak ingin terjadi sesuatu yang merepotkan.


"Kalian mau makan juga?"


"Boleh deh!"


"Pizza Unkel!"


"Tidak ada Pizza, combro aja yah!" balas Dirga menggoda keponakannya.


"Bhuuu!!!"


Dirga terkekeh melihat ekspresi kecewa dari Ezra, lagian anak Si Kampret ada-ada saja.


Pizza di tengah-tengah desa ...


Yang benar saja.


****


Pesanan makanan datang bersamaan dengan Pak Teguh, membuat mereka melupakan sejenak makanan dan lebih memilih menghampiri Pak Teguh terlebih dahulu.


Di tangan Pak Teguh, ada toples bening dengan dua ekor katak di dalamnya.


Gavriel, Ezra dan Queene memandang dengan berbinar-binar binatang tersebut, beda dengan Selyn yang sudah ingin memegang Si katak dengan heboh.


"Momm mau pegang katak!" seru Selyn semangat.


Ia mengulurkan tangannya hendak mengambil Si katak, tapi sayang tangan milik Sang Daddy menghentikannya.


Dirga merasa de javu dengan kejadian ini, jika dulu Sang putra yang hendak mengambil ulat bulu. Sekarang Putrinya yang dengan semangat ingin memegang binatang, dengan nama katak yang ada di dalam toples.


"Tidak boleh pakai tangan langsung, tunggu sarung tangan baru bisa pegang. Got it?" ujar Dirga tegas.


"Ung," gumam Selyn kecewa.


Dirga menggeleng kepala saat melihat ekspresi tidak semangat dari anaknya, Ia pun menoleh ke arah tiga anak yang punya tugas.


"Jadi kataknya sudah ada, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Dirga melihat satu per satu anak kecil di hadapannya.


"Apa kalian harus membedah katak itu?"


Kali ini Raka ikut menimpali pertanyaan Sahabatnya.


"Perkembangan katak, dengan objek nyata. Apa langkah selanjutnya?"


Dan Faro pun ikut bertanya dengan nada penasaran.


Gavriel, Ezra dan Queene saling lihat dan mengangguk, membuat Daddy serta Para Mommy mengernyit heran.


Gavriel berdehem sebagai perwakilan dua sahabatnya, lalu menjawab satu per satu pertanyaan yang di layangkan oleh mereka dengan santai.


"Pertama-tama Kami mengucapkan terima kasih untuk keseruan hari ini," ujar Gavriel membuka kalimatnya ala-ala orang memberi sambutan.


"Iya sama-sama," balas ketiga Daddy kompak, begitu pula tiga Mommy yang tersenyum kecil.


"Yang penting tugas kalian selesai," balas Kiara sambil menahan tangan Si bungsu yang sibuk ingin memegang katak lagi.


"Untuk pertanyaan kedua dan ketiga, Kami sepakat hanya memiliki satu jawaban," ujar Gavriel mengantung kalimatnya, menuai beragam ekspresi dari enam orang dewasa di hadapannya saat ini.


"Maksudnya?" tanya Faro penasaran.


"Pertanyaan membedah dan langkah selanjutnya apa, Kami bahkan tidak ada tugas untuk membedah," ujar Gavriel lagi-lagi menjeda kalimatnya.


"Jadi?" tanya Raka ikut penasaran.


Sebelum menjawab pertanyaan orang dewasa di depannya, Gavriel memberi kode kepada Ezra yang di mengerti oleh sepupunya dan segera melaksanakan keinginan.


Ezra berjalan ke arah sofa dan membuka tas miliknya, untuk mengambil buku tugas yang akan di jelaskan olehnya.


"Nih," ujar Ezra sambil memberikan buku tersebut kepada Gavriel.


"Oke,"


"Jadi?"


Kali ini Dirga yang bertanya, mengulangi apa yang tadi di tanyakan sahabatnya.


"Jadi sebenarnya tugas kami itu,"


"Iya!!"


"Tugas Kami itu mempelajari perkembangan katak dari buku, lalu di tulis tahapnya mulai dari telur, berudu, hingga menjadi katak dewasa. Bukan membedah atau pun meneliti katak aslinya, begitu Dadd."


"...."


"...."


"...."


Hening tidak ada yang bersuara saat Gavriel selesai menjelaskan tugas Sesungguhnya, yang mereka terima dari Sang guru di sekolah, kepada orang dewasa yang saat ini melihat mereka dengan ekspresi tidak terbaca.


" Dadd!"


"Baba!"


"Pipi"


"Jadi,"


"maksud kalian,"


"Pencarian katak ini,"


"Sia-sia?"


"He-he-he!!"


"Dasar anak-anak kurang kerjaan!!"


"Huwa!!!"


"Ampun Dadd!"


"Maafin Que-que!"


"Pipi jangan di gigit!"


"Astaga!!"


"Ya ampun!"


"Mimpi apa semalam."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....


Notes untuk para orang tua ...


Tanyakan dengan jelas jika anak punya tugas sekolah, jadi sebagai orang tua bisa membantu Sang anak untuk mengerjakan tugas sesuai apa yang di maksud.


Jika tidak jelas apa tugas Sesungguhnya, maka siap-siap saja kalian akan di kerjai oleh anak masing-masing.


Terlebih tiga anak lucu titisan lucifer, yang suka sekali mengerjai Para Daddynya.

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2