
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Masih di Hong Kong, tepatnya di daerah Long Ping, Yuen Long.
Di depan kediaman Chen, kakek dan nenek Queeneira. Ada empat remaja yang baru saja selesai berpamitan, mereka pun bersama-sama jalan menuju stasiun MTR Long Ping.
Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima belas menit. Sambil berjalan dan bercanda, sudah pasti jarak jauh pun akan terasa menyenangkan.
Di sepanjang jalan kota Long Ping, banyak sekali bus atau pun orang-orang yang berjalan seperti mereka ini, entah itu bergerombol maupun sendiri.
Di depan mereka saat ini, ada tangga dengan anak tangga tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk melatih mereka, saat tiba di daerah tempat yang akan mereka kunjungi nanti.
Sebenarnya mau kemana mereka saat ini?
Pilihannya ada dua ke Kowloon atau ke Shatin dulu.
Memangnya di sana ada apa sih?
Queeneira sudah menjelaskan, jika masing-masing daerah yang akan mereka kunjungi nanti, memiliki keunikan dan keindahannya tersendiri.
Contohnya saja bagi mereka yang memeluk agama islam, Kowloon adalah tempat pilihan yang bagus, karena di sana kita bisa mengunjungi dan beribadah di Masjid terbesar di Hong Kong. Bukan hanya beribadah, tapi ada juga Atraksi lain seperti Avenue of the Star dan Hong Kong Contemporary Art Museum juga bisa dijangkau, dengan berjalan kaki dari Masjid ini.
Lalu yang selanjutnya adalah ten thousand buddhas monastery hongkong atau juga seribu patung budha, dan biasa di panggil man fat tzs oleh masyarakat pribumi. Tempat dengan patung terbuat dari emas, yang terletak di atas bukit tinggi. Tempat ibadah untuk penganutnya, maupun hanya sekedar berfoto di atas bukit tinggi, yang menampilkan view cantiknya.
Dengan semangat, keempat remaja ini menaiki satu per satu anak tangga, padahal ada tangga berjalan, namun sepertinya Queeneira sengaja mengajak menaiki yang manual untuk latihan terlebih dahulu.
"Mba!" panggil Selyn. Ia ada di belakang seseorang yang di panggilnya Mba, membuat Queeneira yang merasa di panggil menoleh namun hanya sekilas.
"Hm?" sahut Queene bergumam singkat.
"Ada eskalator, kenapa kita naik tangga manual?" tanya Selyn dengan kening berkerut heran.
"Melatih kalian untuk nanti, waktu di Shatin. Masih ingat kan, artikel yang aku perlihatkan. Patung seribu budha nanti, ada lebih dari lima ratus anak tangga yang akan kita lewati."
Ketiganya sudah sedikit merinding saat mendengar ulang, jumlah anak tangga yang akan mereka naiki.
Astaga!
"Betisku," batin Selyn hampir mewek.
"Sudah jangan khawatir, aku jamin di sana akan seru sekali. Viewnya cantik, lalu kita juga bisa puas berfoto. Oh iya ... Bagaimana kalau ke Shatin dulu, baru kemudian ke Kowloon. Bagaimana?" tanya Queene berhenti dari jalannya, saat sudah sampai di depan pintu stasiun MTR.
Ia menghadap ketiga lainnya, yang melihatnya dengan ekspresi berpikir.
"Terserah kamu, Que. Aku ikut saja," ucap Gavriel dengan bahu terangkat. Ia tidak masalah, yang penting mereka bisa bersenang-senang bersama.
"Begini loh, jadi kita nanti bisa beribadah bersama di Masjid kowloon, pas waktu Magrib. Kalau kita terlalu sore di Shatin pulangnya nanti terlalu malam, tapi kalau dari Kowloon tidak terlalu jauh."
Penjelasan yang di paparkan oleh Queene masuk akal juga, jadi mereka tidak perlu repot mencari tempat ibadah jika lama di Kowloon.
"Dan juga di Kowloon makanan yang bisa kita konsumsi banyak, bermacam-macam. Yah, seperti kita sedang berada di kota sendiri," lanjut Queeneira yang akhirnya membuat ketiga lainnya mengangguk, mengiyakan apa yang diusulkan olehnya.
"Boleh deh, Mba!" seru Selyn setuju dengan senyum lebarnya.
Mereka pun menscan kartu kendaraan mereka, masuk dan berjalan untuk naik ke atas lagi, kali ini mereka menggunakan eskalator tapi Queeneira tetap berjalan, agar cepat sampai di atas dan tidak tertinggal kereta.
"Mba, tangganya sudah jalan. Masih harus berjalan lagi, menggunakan kaki kita?" tanya Selyn heran, saat bukan hanya Mbanya yang seperti itu, melainkan beberapa orang lainnya.
"Nanti ketinggalan keretanya, El. Ayok, cepat!"
Alhasil mereka pun mau tidak mau ikut berjalan, di tangga yang sudah berjalan agar cepat sampai atas, sesuai perkataan si pemandu yang telah berdiri di atas sana.
__ADS_1
Kereta MTR hanya satu jurusan, dengan beberapa stasiun kecil maupun besar sebagai tempat pemberhentian.
Di dalam cukup lenggang, namun tidak juga ketika mereka tetap harus berdiri, saat semua kursi sudah terisi dengan penumpang, yang lebih dulu masuk.
Meskipun berdiri keempat remaja ini tidak lantas mengeluh, jika berdiri pun mereka tetap nyaman karena kereta yang mereka tumpangi ini, kecepatan cepat namun juga nyaman tidak sampai membuat tubuh limbung.
"Bener Mba, cepat sekali. Tapi juga tetap nyaman," gumam Selyn yang saat ini berdiri di sisi Queeneira, sedangkan di samping Queeneira ada Gavriel, yang melihat arah luar sana dengan tatapan biasa, datar.
"Benar kan, dulu Mba juga pertama kali naik MTR merasa demikian. Awalnya ada rasa takut, saat kecepatan kereta yang melaju kencang. Tapi, setelah beberapa kali, rasanya perjalanan lama juga terasa sebentar. Apa lagi, kita rame-rame seperti ini," sahut Queene antusias, membuat Gavriel yang ada di sebelahnya mendengkus, saat merasa jika saat apapun dan bagaimana pun, keduanya selalu menunjukan keantusiasan.
"Dasar," batin Gavriel dengan gelenagan kepala pelan.
"Iya kan Mba, waktu itu El pernah nanya seperti apa rasanya. Ternyata seru juga, lebih seru di bandingkan dengan naik mobil," tandas Selyn sama antusiasnya.
"Itu karena terbiasa, El. Coba kalau kamu tinggal di sini, naik kereta terus. Pasti lama-lama akan bilang biasa saja," celetuk Ezra dengan wajah meledek, heran dengan apa yang ada di pikirkan sepupunya, yang selalu menanggapi hal apapun dengan binar seperti itu.
"Is ... Is ... Is, sepertinya ada yang iri. Karena tidak punya rasa antusias," sindir Selyn balas meledek sepupunya.
"Ye ... Mas juga antusias, tapi mentang-mentang antusias, Mas harus koprol gitu? Ya kali, El," balas Ezra dengan dengkusan dan mata berotasi malas.
"Koprol boleh juga," tandas Selyn cepat, dengan bibir nyengir saat melihat sepupunya melongoskan wajah melihat ke arah luar.
Stasiun demi stasiun mereka lewati, sekitar tujuh stasiun besar mereka lewati. karena tujuan awal adalah Shatin, mereka pun akan turun di stasiun Hung Hom, lalu lanjut menaiki kereta lagi melewati sekitar tiga stasiun.
Perjalanan kali ini memakan waktu sekitar satu jam, untunglah sudah ada beberapa kursi kosong, sehingga Queene dan Selyn pun bisa duduk, namun tidak untuk Gavriel dan Ezra yang berdiri di hadapan keduanya.
"Tidak lama lagi, kita turun di Shatin cam (stasiun Shatin). Lalu berjalan sekitar 300 meter, lanjut naik tangga baru sampai di atas bukit," ujar Queene bersiap-siap berdiri dengan Gavriel yang membantu, sehingga kini Queeneira ada di hadapan Gavriel tanpa jarak, nyaris menempel.
"Semoga kuat," gumam Gavriel dengan senyum miring, meledek sahabat dan adiknya, yang juga berdiri dengan bantuan sepupunya.
"El kuat kok, kalau tidak kuat, ya tinggal kasih tahu Mas Ez. Iya kan, Mas," sahut Selyn dengan nada semangat, namun tetap membawa nama sepupunya, yang hanya bisa balas dengan tepukan di kepalanya.
"Iya, maksudnya Mas Ez kan, yang di gendong?" timpal Ezra dengan kekehan di belakangnya.
Plak!
"Ye ... Mana bisa begitu, Mas kan berat," sembur Selyn setelah menampol lengan sepupunya pelan.
"Ye ... Makanya, yang jelas dong. Bilang, kan ada Mas Ez yang gendong. Jadi Mas nggak salah kaprah," elak Ezra setelah terkekeh geli.
"Otak Mas tidak sampai sana yah? Masa yang seperti itu harus dijelaskan," ucap Selyn menyindir sepupunya, yang menganggapnya biasa saja, tidak ada rasa tersinggung karena mereka sudah sering bercanda seperti ini.
"Otak Mas tertinggal," sahut Ezra cepat, membuat Selyn menoleh ke arahnya lengkap dengan ekspresi penasaran.
"Di manaa, Mas?"
"Di kandungan, mau masuk lagi sudah tidak muat," seloroh Ezra dengan seenaknya.
"Sudah-sudah, kita siap-siap yuk. Pintu sebentar lagi terbuka," lerai Queeneira yang akhirnya bisa menengahi adu skill bacod sahabat dan adiknya.
Ting!
Pintu terbuka dan ternyata bukan hanya mereka yang keluar dari pintu, melainkan penumpang yang akan masuk pun berebut, membuat dua laki-laki di antara dua perempuan ini, dengan sigap membawa mereka kedm dalam perlindungannya.
Selyn yang berdiri di sisi sepupunya, tentu saja dengan cepat Ezra tarik masuk kedalam dekapannya, sedangkan Queeneira harus merasakan kenyamanan, dari sahabatnya merangkap cinta pertamanya belum tergapainya.
Banyaknya fasilitas kendaraan umum di negara ini, membuat masyarakat tidak perlu khawatir dengan sesuatu yang berhubungan dengan transportasi. Jadi jangan heran, jika di sepanjang jalan negara ini, jembatan penyeberangan manusia lebih banyak atau juga trotoar jalan, lebih banyak dari pada jalan raya tersebut.
Setelah berjalan hampir sekitar 100 meter, mereka dapat melihat di atas sana patung besar Budha, dengan tangga yang menjulang seakan meledek mereka, akan stamina mereka yang sudah hampir habis.
"Capek, Mas," keluh Selyn menyadar manja dengan sang kakak, yang menghapus peluh di kening sang adik.
"Tapi sebentar lagi sampai, El," timpal Gavriel dengan nada datar, namun adiknya tahu jika kakaknya sedang menyamangatinya.
"Gendong Mas," rengek Selyn, membuat Gavriel mendesah pelan baru kemudian mengangguk pelan.
__ADS_1
"Yey!" seru Selyn semangat, ia bersiap berdiri di belakang sang kakak, yang menghadap sang adik lagi untuk satu pemberitahuan.
"Tapi, hanya sampai pintu tangga yah," ujar Gavriel dengan perjanjiannya.
"Oke! Yang penting gendong El dulu," sahut Selyn tidak perduli.
Ia dengan semangat membalikkan tubuh sang kakak, kemudian menaiki punggung lebar milik sang kakak, dengan aroma khas yang segera memasuki indra penciumannya.
Hup!
Ugh!
"Berat El," gumam Gavriel lirih, namun sayang sang adik malah terkekeh senang.
"Hitung-hitung latihan gendong calon istri, Mas. Iya nggak tuh," timpal Selyn cuek, kemudian menyamankam dirinya di dalam gendongan sang kakak.
"Ngawur, masih kecil sudah calon istri saja. Mas turunin lagi, nih," tandas Gavriel dengan nada sewot, tapi kalau di perhatikan ada rona merah di pipinya samar, entah karena kepanasan atau karena ucapan sang adik, yang tidak jauh-jauh dari hal seperti itu.
"Is ... Belajar mah nggak salah, Mas. Jangan sampai Mas jadi cowok kuper, mengatasi masalah perempuan dan hati saja tidak tahu," ujar Selyn dengan tidak tahu malu, membahas masalah hati sedangkan dirinya sendiri pun, sama sekali belum pernah menjalin hubungan.
(Bukan belum pernah, Author. Tapi El mau deket cowok aja, Mas langsung pasang wajah shinigami. Gimana ceritanya El mau dapat cowok. Kita jodohin dulu Mas Gav sama seseorang, biar dia sibuk sama pacarnya, gimana. Setuju? Oke siap, riquest boleh nggak? Siapa? Nanti readers yang jawab, ck ... Oke lah!)
"Hn."
Tidak bisa menjawab kalimat andalan sang adik, Gavriel pun hanya bergumam singkat, membuat Selyn pun tersenyum saat sang kakak tidak bisa membalas pernyataannya lagi.
"Kalah Mas," bisik Selyn dengan kekehan senang, membuat Gavriel sekali lagi hanya bisa mendengkus pelan.
"Hn."
"Ye-ye-ye .... El menang!" seru Selyn semangat, membuat Ezra dan Queeneira yang berjalan di depan mereka, menoleh dengan kernyitan penasaran.
"Kenapa, El?" tanya keduanya hampir bersamaan.
"Nggak apa-apa, Mba, Mas," balas Selyn dengan cengiran lebarnya.
Ezra dan Queeneira hanya bisa menggelengkan kepala, sebelum balik badan dan melanjutkan perjalanan mereka, dengan ujung bawah tangga terlihat.
"Woooww! Sugoi! (keren)"
Selyn tanpa menutupi rasa antusiasnya, memekik heboh di gendongan sang kakak, kemudian menepuk punggung sang kakak sebagai kode minta di turunkan, dengan Gavriel yang mengerti dan segera menurunkan sang adik.
Iya, akhirnya perjalanan mereka tidak sia-sia, saat mereka bisa melihat pahatan patung terbuat dari patung emas, yang berjejer rapi dengan jumlah kurang lebih 13.000 patung.
"Ayok! Kita ke atas!" seru Selyn mengajak dengan semangat, sehingga ketiga lainnya pun mengangguk dengan rasa semangat yang cepat menular.
"Yuk!"
Mereka pun hendak melanjutkan perjalanan mereka, tapi terpaksa berhenti lagi saat dari arah belakang mereka mendengar panggilan, dengan nama Queeneira disebut.
"Queeneira!"
Merasa di panggil, Queene pun menoleh dengan kening mengernyit saat penampakan tidak asing, memasuki indra penglihatannya.
"Kalian!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Siapakah yang memanggil Queeneira?
Mau tahu ...
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima kasih dan Sampai babai.