
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Saat ini ada ada tiga murid, yang berjalan bersama dengan seorang laki-laki sebagai penengah.
Gavriel si laki-laki, sesekali menimpali satu per satu pertanyaan dari sisi kiri dan kanannya.
Sahabat ceriwisnya tumben, hanya beberapa kali menimpali pertanyaannya, atau juga bertanya kepadanya.
Sedangkan Keineira, yang biasanya diam dan malu, saat ini dengan semangat bertanya ini dan itu kepadanya.
Ia sampai berpikir, apa dua remaja di samping kanan dan kirinya tertukar kepribadiannya, sehingga Queene yang dikenal ceriwis hanya sesekali ceriwis saat menanggapinya.
Sekolah sudah mulai sepi, saat hanya ada beberapa murid yang menjadi bagian penting acara, yang tinggal lebih lama di sekolah untuk persiapan acara nanti.
Di persimpangan koridor, mereka bertiga bisa melihat Ezra dengan pakaian basketnya, berdiri menyandar pada tiang penyangga bangunan, lalu menegakkan tubuhnya dan melambai tangan singkat.
"Sudah selesai?" tanya Gavriel, yang hari ini tidak bisa ikut latihan strategi.
"Hn, tadi bahas beberapa plan. Besok dibahas lagi," balas Ezra menjelaskan.
Mereka pun jalan bersama dengan Ezra, yang berjalan bersisihan dengan Keineira.
Sebenarnya jika dilihat, mereka seperti dua pasangan sempurna, tapi sayang laki-laki yang dimaksud hanya satu, sedangkan satunya netral dan punya pilihannya sendiri.
Mereka menuju loker, untuk mengambil barang-barang mereka, serta jaket karena ada larangan untuk tidak memakai jaket didalam kelas.
Letak loker yang disusun sesuai nomor induk siswa(NIS), membuat loker tiga sahabat ini sedikit berjauhan, dengan Queene si paling ujung karena ia NIS-nya paling jauh.
Loker Gavriel bersisihan dengan Keineira, saat urutan nomor induknya hanya beda angka belakang.
"Gav," panggil Kei ragu, membuat Gavriel yang sedang memasuki buku tidak terpakai, melihat ke arah Kei dengan alis terangkat sebelah.
"Hn?"
"Kamu nanti pulang dengan siapa?" tanya Kei dengan nada tidak enak.
"Kenapa?" tanya Gavriel singkat, masih belum mengerti arah pembicaraan.
"Em ... Ano sa (itu), apa aku bisa pulang dengan kamu?" pinta Kei menatap Gavriel berharap.
Gavriel menimbang sebentar permintaan teman sekelasnya, yang sudah beberapa kali ini ia antar pulang.
Ia menoleh ke arah sebelahnya, dimana ia melihat Queene yang juga melihat ke arahnya. Tapi kemudian, melihat ke arah sepupunya yang juga melihatnya.
"Ezra, kita pulang seperti biasa. Tapi aku yang bawa si hideng yah, boleh kan?" tanya Queene asal, dan dibalas cepat oleh si pemilik hideng yang langsung protes.
"Tidak, suk-suk Faro nanti marah!" sembur Ezra dengan mata melotot horor.
Pipi mpretnya akan menghukumnya dengan sparing, jika ia membiarkan Queene mengendarai motor sportnya.
"Elah Ez, pelit amat. Bhuu!" dengkus Queene menyuraki Ezra, yang hanya bisa mendengkus balik kesal.
"Terserah, bleh!" seru Ezra tidak perduli.
Karena berpikir sahabatnya bisa pulang dengan sepupunya, ia pun menolehkan lagi wajahnya, menghadap ke arah Kei yang kembali menatapnya, saat dirinya menolehkan sejenak matanya melihat Ezra dan Queene disana.
"Oke deh, aku antar kamu pulang," putus Gavriel setelah memastikan Queene ada tumpangan.
Senyum Keineira mengembang dengan sempurna, membuat Gavriel pun balas dengan senyum tipis.
Sedangkan Queene, yang melihatnya hanya bisa menatap dengan perasaan sabar, saat dirinya tahu jika Gavriel sudah memastikan dirinya sebelum mengambil keputusan.
Puk!
Ezra yang sudah selesai menepuk pundak sahabatnya pelan, sehingga Queene pun terperanjat kaget namun tidak lama, saat ia mendengar suara ajakan sahabatnya.
__ADS_1
"Udah? Kuy pulang," ajak Ezra.
"Um, kuy," gumam Queene, mengikuti langkah kaki sahabatnya yang sudah berjalan didepannya.
Mereka berjalan bersisihan lagi dengan Ezra berpindah posisi, menjadi disamping Queene sambil bercanda dengan kedua sahabatnya.
Kei yang berjalan diujung sesekali ikut tertawa, saat Queene dan Ezra bertingkah dengan candaan mereka.
Sedangkan Gavriel sesekali akan mendengkus, ataupun membawa leher sahabat perempuannya, untuk masuk ke dalam rangkulannya.
Menuai kekehan senang dari satu perempuan, namun tidak untuk perempuan lainnya yang menyaksikan.
Seruan protes dan juga umpatan kesal juga tidak ketinggalan, mengiringi setiap langkah keempatnya disepanjang koridor.
Di tengah perjalanan menuju area parkir, Kei yang tidak memperhatikan jalan didepannya, tidak sengaja tersandung polisi tidur pendek sebagai batas parkiran.
Ia pun hampir saja jatuh kedepan, jika Gavriel tidak sigap membawanya untuk masuk ke dalam rengkuhan eratnya.
Akh!
Grep!
Brugh!
Kei yang merasakan benturan pada wajahnya hanya bisa menutup matanya, merasakan bagaimana pinggangnya direngkuh posesif, serta masuknya aroma maskulin khas milik seseorang, membuatnya kaget namun senang juga disaat bersamaan.
"Daijobu desuka? (Kamu tidak apa-apa?)" tanya Gavriel khawatir, yang dijawab anggukan kepala kecil dari Kei, dengan posisi sama yaitu masih dalam pelukan Gavriel.
"Hai ... Daijobu," bisik Kei lirih.
Sepertinya ia masih kaget, hampir saja jatuh didepan orang yang disukainya, dan kebetulan ditolong pula oleh orang yang disukainya.
Dalam hati meskipun merutuki nasib sialnya, ia juga tersenyum senang, bisa ikut merasakan pelukan posesiff seperti sahabat perempuan laki-lakinya, yang saat ini mengurai pelukannya secara perlahan.
Ada rasa tidak rela, tapi ia juga malu saat ia berdiri tegap, ada dua pasang mata yang melihatnya berbeda.
"Kamu nggak apa-apa, Kei?" tanya Ezra khawatir.
"Aku tidak apa-apa," balas Kei dengan senyum kecil.
"Jalannya hati-hati," timpal Queene bukan bersimpati. Ia hanya mengingatkan saat ia melihat, bagaimana teman perempuan sekelasnya, menikmati pelukan posesif sahabatnya.
"Segitunya sih," batin Queene sebal.
Ia sedikit kesal saat Gavriel memeluk perempuan lain, apalagi dihadapannya meski dengan alasan untuk menolong.
Tapi, ia bisa apa?
"Iya ... Lain kali aku hati-hati, terima kasih, Queene, Ezra!" seru Kei pura-pura tidak tahu arti tatapan teman baru perempuannya.
"Apa Queene cemburu? Apa dia punya rasa, kalau seperti itu, apa selama ini perlakuan Gavriel membuatnya ikut terbawa perasaan," batin Kei menatap dalam diam, Queene yang kembali berceloteh bersama Ezra.
Saat ini Gavriel dan Ezra sedang memanaskan motor masing-masing, sambil memainkan gas motornya, sehingga menimbulkan suara deruan berisik.
"Ada balapan, mau ikut?" tanya Ezra saat ingat jika salah satu teman seclub mereka, share jadwal balapan di sircuit.
"Nggak bisa, aku ada banyak kerjaan."
Ezra mengangguk paham, karena sebenarnya ia juga banyak kerjaan saat sampai rumah nanti.
"Hell .... Aku nggak sabar liburan nanti," gerutu Ezra, membuat Kei yang mendengarnya berpikir.
Benar juga sebentar lagi mereka akan libur musim panas, itu artinya ia tidak bisa bertemu Gavriel lagi untuk beberapa waktu.
"Andai saja bisa libur bareng," batin Keineira melihat Gavriel, yang masih sibuk dengan si bereum kesayanganya.
Merasa diperhatikan, Gavriel pun menoleh ke arah Keineira, dengan alis terangkat penasaran.
"Ada apa, Kei?" tanya Gavriel penasaran.
Kei yang ditanya mengedip-ngedipkan mata kaget, lalu tersenyum canggung saat ia ketahuan melihat teman laki-lakinya.
__ADS_1
"Eh! Ah ... Maksud aku, tidak ada apa-apa. Aku hanya, em ..."
Keineira tidak melanjutkan ucapannya, membuat tiga sahabat ini melihatnya dengan alis berkerut bingung.
"Kenapa? Bilang saja, tapi kami tidak memaksa kok," ujar Ezra mewakili dua sahabatnya.
Gavriel mengangguk membenarkan, sedangkan Queene hanya menatap biasa, meski penasaran tapi entah kenapa ia punya feeling jelek.
"Itu ... Kan sebentar lagi kita semua libur musim panas, aku hanya sedih karena tidak bisa bertemu kalian lagi. Aku hanya berpikir akan sangat menyenangkan, jika kita libur bersama. Ya ... Em, maksudku ini hanya keinginan konyolku, kok!"
Kei mengungkapkan keinginanmya yang ingin libur bersama, tapi buru-buru diralat, sebelum teman barunya menanggapi ia dengan aneh.
"Aduh, nanti mereka nggak suka lagi dengan keberadaanku," batin Kei merutuki diri sendiri.
"Oh! Kirain apa, kalau kami sih memang setiap liburan selalu bersama. Bahkan libur musim panas ini, kami ada rencana libur bersama lagi," ceplos Ezra santai, tanpa memikirkan jika apa yang diucapkannya, membuat dua orang lainnya beranggapan berbeda.
Keineira yang senang, saat ucapan lancangnya ditanggapi santai.
Sedangkan Queene, ingin sekali rasanya mencekik leher sahabatnya saat ini juga.
Astaga! Apa Ezra tidak tahu, jika liburan kali ini adalah usulan bontot mereka, artinya El sedang ingin menghabiskan liburan hanya dengan mereka, tanpa kehadiran yang lain seperti yang sudah-sudah.
"Benarkah! Kalian enak sekali," seru Kei, dengan nada ceria namun terselip rasa iri didalamnya.
"Yups, benarkan Gav, Queene?" jawab Ezra cepat, kemudian bertanya kepada sahabatnya yang hanya bisa bergumam dan mengangguk mengiyakan.
"Hn."
"Ah! Enak sekali," desah Kei melihat ketiganya iri.
"Sudah yuk, pulang, sudah sore nih. Aku ada janji dengan Mama," ujar Queene menyudahi obrolan mereka, akan sangat bahaya jika mereka meneruskan pembicaraan ini.
Karena apa? Karena sudah jelas di penglihatannya, jika teman perempuannya sedang memberi sinyal aneh.
"Aih, jadi suudzon mulu, kan," batin Queene sebal sendiri.
Entah lah, ia jadi sensitif dengan hal seperti ini.
Pokoknya sejak ia menerima dengan ikhlas keberadaan teman sekelasnya, yang saat ini kebanyakan main dengan mereka bertiga, sensor negatifnya selalu berbunyi.
Ia tahu tidak seharusnya ia seperti ini, tapi apa ia harus diam saja, saat sahabat laki-laki yang sudah tinggal lama didalam hatinya, tiba-tiba jadi milik orang lain tanpa ada perjuangan darinya.
Walaupun sahabatnya akan memilih cinta yang lain, setidaknya ia pernah berjuang dengan sesuatu, yang hanya dirinya sendiri sadari.
Jadi .... Saat ia merasakan cinta bertepuk sebelah tangan, ia tidak akan merasakan kecewa berkali lipat.
Serta tidak akan kehilangan sahabatnya, karena perasaan terpendamnya.
"Yuk! Pulang, sudah sore," sahut Ezra, sambil memberikan helm untuk sahabat amuynya.
Gavriel pun ikut memberikan helm cadangannya, kepada Kei yang menerimanya dengan semangat dan senyum manis.
"Terima kasih!"
"Hn."
Mereka pun berangkat bersama, namun berpisah di lampu merah karena tujuan berbeda.
Di saat akan berpisah, baik Gavriel maupun Queene saling melihat, dengan kode mata yang hanya dimengerti oleh keduanya.
"Sampai jumpa."
Lalu benar-benar berpisah, menuju arah tujuan masing-masing.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.
__ADS_1