
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Ming Dao Hotel, Hong Kong.
Hotel yang berada di 1/f 242-244 Tsa Tsui road, Tsuen Wan, New territories ini adalah tempat tinggal sementara tiga remaja yang bersama-sama liburan di negara beton.
Keineira, Intan dan Raiya, yang baru pulang dari liburan seru (Menurut mereka) segera mengistirahatkan diri, dengan cara bersama-sama menjatuhkan tubuh di ranjang ukuran king size yang ada di kamar, yang mereka sewa hingga beberapa hari ke depan.
Brukh!
"Huwaaa!! Hari yang menyenangkan!" seru Intan, saat ingat liburan bersama mereka yang seru dan ramai, yah ... Meskipun ada sedikit insiden tidak mengenakan, tapi baginya ini hari libur paling keren.
Bisa bermain dengan Ezra meskipun Ezra bersikap dingin, bermain bersama kakak kelas populer, dan yang pasti melihat temannya dekat dengan laki-laki yang disukai oleh temannya.
Hayo ... Nikmat mana lagi, yang Intan dustakan.
"Iya, sangat menyenangkan. Yah, meskipun aku sedikit sebal dengan adiknya Gavriel, terus itu sama Queeneira juga tuh, yang dekat sama kak Ge," sahut Raiya sedikit sebal, saat dirinya tidak bisa dekat dengan Ardan dan Ge, kakak kelas populer di kalangan adik kelas.
"Kenapa kamu nggak dekati?" tanya Intan, menghadap ke arah Raiya yang juga melihat ke arahnya.
"Nggak punya celah, sepertinya memang kak Ardan dan kak Ge lebih suka gitu sama mereka, jadi yah, begitulah."
Raiya mengangkat bahunya, sambil menghela napas saat dirinya sadar jika dirinya tidak mungkin bisa bersaing dengan adik dari teman sekelasnya, yang jelas-jelas lebih dari dirinya kemana-mana.
Wajah cantik, kulit putih, ceriwis, dan yang penting adalah keturunan konglomerat, dengan segala jenis usaha yang dimiliki keluarganya.
Wicaksono dengan hotel bintang lima, ditambah perusahaan real estate milik keluarga Wijaya, tidak cukup hanya dengan satu bank, saat dua keluarga ini hendak menyimpan uangnya.
Dan ia juga mendengar, jika sedari dini baik Gavriel ataupun adiknya (Selyn) sudah memiliki saham sendiri, dengan nilai yang tidak diragukan lagi berapa jumlahnya.
Seketika ia merasa ciut, saat melihat background, high profile dari teman sekelasnya yang manjadi bintang bersinar di sekolahnya.
Melirik dan menatap teman di sebelahnya yang lain, Raiya berdecak kagum, jika temannya nanti sampai bisa menjalin kasih dengan anak keturunan Wijaya.
Bukan hanya tampan dengan pahatan wajah sempurna, tapi juga Gavriel sudah digadang-gadang menjadi pengusaha muda, sukses di usianya yang baru menginjak enam belas.
"Ck-ck-ck ... Beruntung sekali, bisa menaklukan Gavriel, tapi Keineira memang cantik," batin Riaya berdecak kagum.
Merasa diperhatikan oleh temannya, Keineira yang sedang tiduran dengan tengkurap menyerongkan tubuhnya, balas menatap Raiya yang tersenyum aneh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Keineira singkat, dengan Intan yang berpindah tempat menjadi di sampingnya, sehingga kini ia diapit oleh Intan dan Raiya disisi kanan-kirinya.
"Hayo ... Tadi sama Gavriel ngapain aja?" tanya Riaya dengan tatapan usilnya, sehingga Intan pun menimpali pertanyaan Raiya dengan semangat pula.
"Iya! Apa yang kalian berdua lakukan, kita kan sudah buka peluang banyak tuh, untuk kalian berdua."
Deg!
Keineira bergerak salah tingkah, mengubah lagi posisi menyampingnya menjadi tengkurap lagi, sambil menutup wajahnya dengan kaki bergerak heboh. Sehingga Intan dan Raiya pun bingung, dengan reaksi malu yang ditampilkan oleh temannya, Keineira.
"Kenapa sih?" tanya Intan penasaran.
"Kei, ayo dong, cerita," bujuk Raiya yang sangat penasaran, dengan apa yang dilakukan oleh Keineira dan Gavriel di taman tadi siang.
"Ah! Aku malu sekali," seru Keineira, yang teredam karena ia menyembunyikan wajahnya di antara bantal dan tangannya.
"Malu? Malu kenapa?" tanya Intan dan Raiya kompak.
Gelengan kepala dari Keineira adalah yang didapat oleh keduanya, membuat mereka gemas dan menarik tubuh Keineira berharap Keineira melihat mereka dan menceritakan kejadian antara dirinya dan Gavriel.
"Ayolah Kei, cerita," bujuk keduanya belum menyerah, masih menarik lengan kiri dan kanan milik Keineira, yang akhirnya bangun juga dari tengkurapnya.
"Oke-oke aku cerita," dengkus Keineira menyerah.
"Asik!"
Mereka pun berseru senang, memasang gesture siap, duduk dengan posisi tegak serta mata memandang Keineira dengan berbinar senang.
"Ayok cepat!"
"Isk ... Sabar dong," dengkus Keineira, sebal saat dua temannya tidak sabaran.
Ia pun merapihkan rambutnya, menyematkan anak rambutnya ke belakang telinga, kemudian memasang wajah sedikit kecewa namun ditutupi baik oleh senyum manisnya.
__ADS_1
"Jadi ....
Flasback on
"Gavriel aku ingin mengenal kamu lebih dari ini, aku suka kamu dari pertama kita bertemu. Awalnya aku hanya mengira perasaan ini hanya perasaan sesaat. Tapi, aku bahkan tidak pernah merasakan ini terhadap laki-laki lain. Aku baru ini merasakan perasaan senang hingga berdebar, saat berdekatan dengan laki-laki, dan itu juga hanya sama kamu. Gavriel Aku tahu, seharusnya aku tidak bilang seperti ini, tapi aku tidak bisa menahannya, aku tidak ingin menyerah dengan perasaanku. Aku ingin selalu di dekatmu, menjadi seseorang yang spesial di matamu, tapi bukan hanya sebagai teman."
Keineira menjelaskan dengan mata menatap Gavriel, tanpa melepas sedikit pun kontak mata kepada Gavriel yang melihatnya kaget.
"Kei, aku-
"Aku tahu, kita bahkan baru mengenal beberapa saat. Tapi sungguh Gavriel, aku merasakan perasaan senang, sekalipun kamu hanya tersenyum tipis ke arahku. Bahkan kamu yang duduk seperti ini di sampingku pun membuat aku senang. Aku tidak tahu kenapa, yang jelas ini karena aku menyukaimu."
Keineira menyela perkataan Gavriel dengan cepat, saat Gavriel berniat menjelaskan apa yang ingin di sampaikannya.
Ia menjelaskan lagi seluruh rasa yang dimilikinya untuk Gavriel, sedangkan Gavriel sendiri merasa kaget luar biasa dengan pengakuan dari teman sekelasnya.
"Keineira, aku ..."
"Tidak apa-apa, Gavriel. Jika kamu belum bisa menjawabnya, aku akan menunggu kamu, sampai kamu bisa menjawabnya."
Flasback end
"Hah!!!"
Nging!!
Keineira seakan tuli mendadak saat akhir ceritanya dibalas dengan seruan kompak, dari Intan dan Raiya yang menatapnya dengan mulut terbuka.
"Is ... Kalian ini mau membuat telinga aku tuli mendadak ya?" sewot Keineira sebal, namun sayang dua temannya tidak menyesal sama sekali, justru keduanya hanya berkedip mata cepat antara takjub dan salut dengan Keineira.
Mereka tidak menyangka temannya yang dulu pemalu, bisa dengan gamblang menyatakan perasaan kepada laki-laki, padahal seharusnya laki-laki lah yang menyatakan perasaan, bukan sebaliknya.
"Keineira, ini kamu benar Keineira, kan? Keineira yang dulu tidak suka berdekatan dengan laki-laki? Keine-
"Iya, iya aku tahu, aku atau apa maksud kalian."
Keineira menyela pertanyaan dari Intan, yang menanyakan tentang dirinya yang berbeda dengan dirinya yang dulu.
Hum, ia akui, ia menjadi lebih berani saat ia sendiri merasa jika ia berbeda jika itu tentang Gavriel. Ia merasa seakan jika itu Gavriel apapun akan ia lakukan, bahkan dengan menyatakan perasaan secara langsung, ia rasa itu bukan kesalahan melainkan dorongan agar dirinya bisa memiliki Gavriel.
"Tapi aku tidak menyesal. Setidaknya Gavriel tahu, jika aku suka dengannya, sehingga dia pun cepat atau lambat akan menyadari perasaan kepadaku," lanjut Keineira percaya diri, saat dirinya membandingkan perlakuan khusus kepadanya, dengan perlakuan biasa saja kepada teman sekelasnya yang lain.
Ia semakin yakin, jika Gavriel pun ingin dekat dengannya, jika tidak mana mungkin Gavriel mau menjemputnya sekolah, mengantarnya pulang dan tersenyum, saat Gavriel tidak pernah tersenyum kepada yang lainnya.
Disaat Keineira sedang merendahkan dirinya sendiri, Intan dan Raiya justru menatap kagum temannya, yang sedang menundukkan wajahnya setelah selesai bercerita dan menjelaskan alasan dia berani menyatakan perasaan.
"Keren," gumam Raiya menatap Keineira bangga.
"Mantul, Keineira the best." kali ini giliran Intan yang memberikan dua jempolnya.
"Eh!"
Wajahnya yang tadi menunduk segera terangkat, melihat Intan dan Raiya dengan raut wajah kaget.
Bukannya tadi Intan seperti sedang merendahkannya? Tanyanya dalam hati.
"Keren Kei, mantul," ulang Intan saat melihat ekspresi kaget dari Keineira.
"Kalian tidak menganggapku perempuan ya-
"Tidak lah, justru kami iri, karena kamu berani. Apalagi Gavriel itu prince di sekolah kita. Sudah pasti akan sangat susah di dapat, tapi setidaknya kamu lebih maju selangkah, Kei," sela Intan menjelaskan rasa kagumnya, dengan Keineira yang tersenyum senang saat mendapat dukungan dari dua temannya.
"Terima kasih," ucap Keineira menatap dua temannya bergantian, dengan ekspresi wajah bahagia.
"Jadi tidak sia-sia dong, kita bantuin kamu di taman tadi," celetuk Raiya dengan alis naik-turun menggoda, sehingga Keineira pun mengangguk dengan senyum malu.
"Ini semua berkat kalian, terima kasih banyak," sahut Keineira tersenyum lebar.
"Yang penting kamu bisa dapatkan Gavriel. Kamu pasti bisa kalahkan saingan terberat kamu, Kei. Apalagi adiknya yang sepertinya tidak suka dengan kamu," tandas Intan dengan nada kesal, saat ingat jika bukan hanya satu atau dua saingan temannya. Belum lagi Queeneira yang selalu menempel dengan Gavriel dan adik Gavriel (Selyn) yang sepertinya lebih mendukung teman sekelas mereka, Queeneira.
"Aku tahu, bahkan saat aku duduk berdampingan dengan Gavriel, dia seperti ingin mengulitiku hidup-hidup," timpal Keineira melebih-lebihkan, sehingga Intan dan Raiya semakin menjadi.
"Benar kan! Untung saja tadi kita cepat mengamankan dia, soalnya kalau yang satunya, sudah diurus dengan rapih tanpa perlu kita turun tangan," sahut Intan menggebu-gebu.
"Iya! Aku juga sebal tuh, dasar ...
Yah ... Malam ini pun mereka habiskan dengan membicarakan ketidaksukaan mereka terhadap adik Gavriel, Selyn, yang menurut mereka terlalu manja dengan Gavriel.
__ADS_1
Mereka tidak tahu bagaimana persaudaraan antara kakak-adik ini, sehingga mereka dengan seenaknya berbicara, tanpa tahu fakta sebenarnya.
(Jangan tiru ya, ini hanya obrolan cabe, yang merasa benar)
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Beralih kepada Gavriel, yang saat ini sedang menyendiri di halaman depan rumah kakek sahabatnya.
Sepanjang perjalanan pulang tadi, ia hanya berjalan dengan bibir terkunci rapat. Mendengar dengan hati lagi-lagi kesal, saat sang adik terpekik senang, ketika mendengar ajakan dari kakak kelas mereka, Ardan.
Sebenarnya bukan hanya karena itu ia kesal, tapi juga sahabatnya yang akan jalan dengan kakak kelasnya atau juga ketua OSIS di sekolah, Ge.
Ia ingin sekali rasanya menyela ucapan keduanya saat itu, tapi saat melihat bagaimana ekspresi senang sang adik, ia pun menelan lagi keinginannya untuk melarang sang adik pergi dengan yang lainnya.
Juga, rasanya ingin sekali ia membenturkan kepalanya di dinding, saat ia merasa sudah jadi laki-laki plin-plan sedunia.
Ia pusing, saat ada hal yang lain, yang jadi pikirannya selain adik dan sahabatnya.
Keineira.
Ya ... Teman yang tadi siang menyatakan perasaannya tiba-tiba.
"Aku akan menunggu kamu, sampai kamu bisa menjawabnya."
Jawaban apa yang di tunggu oleh temannya?
Sedikit kagum akan keberanian temannya, yang dengan gamblangnya menyatakan dan menjelaskan perasaan, padahal kebanyakan perempuan akan malu, jika sudah menyangkut hal seperti ini.
Tapi, dirinya juga tidak bisa, saat dirinya sendiri masih belum yakin akan perasaan kepada sahabatnya, yang selalu bisa membuatnya hilang kendali.
Rasa posesifnya, rasa sayangnya, perhatiannya kepada sang sahabat, rasa marahnya saat melihat sahabatnya dekat yang lain.
Itu adalah jawaban yang belum di ketahuinya.
Ia tidak ingin salah kaprah akan rasa berbeda kepada sahabatnya.
Ia juga tidak ingin dirinya salah langkah, saat dirinya telah menerima hubungan dengan yang lainnya, tapi nyatanya dirinya masih belum bisa melepas rasa seperti itu untuk sahabatnya.
Akan sangat egois jika ia melakukan itu terhadap sahabatnya sendiri.
Lagian ia sudah berjanji kepada diri sendiri, jika hanya kepada eternal lovenya** lah, dirinya akan menyerahkan cinta seutuhnya.
Ia ingin seperti Daddynya, yang mencintai sang Mommy dengan cinta besar sebesar-besarnya.
Ia ingin hanya satu cinta di satu kali hidupnya.
Hanya seseorang yang bersinar di hadapannya lah, yang akan menjadi eternal lovenya.
"Fak," umpatnya dalam hati.
Baru ini ia mengumpat, saat dirinya lebih baik menghabiskan waktu kesalnya dengan berolahraga.
Sudah lima hari mereka di sini, itu artinya hanya menyisakan dua hari lagi waktu liburannya.
Dan disisa hari liburannya, ia harus menghadapi masalah terberat menurutnya.
Perasaan rumit.
Suka dan cinta.
Perasaan yang sama sekali tidak tertera di buku atau di Internet, sehingga ia bingung harus mencari jawabannya di mana.
"Aku rindu Mommy," bisik Gavriel, saat ia merasa butuh usapan sayang, dari sang Mommy yang saat ini sedang berlibur dengan sang Daddy.
"Kalau Momm di sini, Gavriel dan Selyn nggak mungkin begini kan, Momm," gumamnya lirih sambil melihat ke arah langit sana, langit malam dengan bintang bersinar terang.
"Lalu, Gavriel juga tidak akan merasakan perasaan kesal, karena harus melihat dia dengan yang lainnya. Iya kan, Momm?" lanjutnya, meremas dada di mana jantungnya berada, jantung yang selalu merasa sakit saat ia melihat senyum darinya namun bukan untuknya.
"Iya kan?"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
Terima kasih. Sampai babai.
__ADS_1