
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat (karena author suka yang detail)
So
Happy reading.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan wicaksono
Saat ini kiara dan dirga sedang duduk di sofa, bersama mama, mami serta dua kakek nyetrik nya, sedangkan papa dan papi nya masih di kantor atau mungkin sedang perjalanan pulang ke sini.
" bagaimana bulan madu kalian, apa ada masalah?" tanya kakek bakrie membuka pembicaraan memandang ke depan di Mana cucu dan cucu menantu nya berada.
" lancar kek, seru dan menyenangkan sekali.... Pokok nya yaya kapan kapan mau ke sana lagi, bareng semua nya liburan ramai ramai"
Balas kiara semangat di ikuti senyum lebar ya, sehingga lesung pipi nya pun terlihat.
" Oke... Lain kali kita jalan jalan sekeluarga" ujar kakek bagus tak kalah semangat saat menimpali perkataan semangat dari cucu kesayanganya.
" siap kakek... Hehe." balas kiara senang, dengan Pose layak nya prajurit, membuat dirga yang duduk di samping kiara pun mengusak rambut kiara dengan gemas.
" apa nya nih yang siap?" seru seseorang dari ujung ruang tamu, membuat mereka yang sedang ngobrol ceria menoleh kompak ke arah nya, di susul kiara yang ngacir menghambur kepelukan sang papa yang ikut membuka lebar kedua lengannya menerima dengan suka cita pelukan maut dari kiara.
Grep...
" Kangen papa yah?" ujar fandi menggoda anak kesayanganya yang saat ini mengangguk semangat dalam pelukannya.
" Kangen banget, hehe..." balas kiara di ikuti kekehan gembira nya.
Mereka berdua pun berjalan dengan kiara yang masih berada di pelukan fandi, menghampiri sofa di mana keluarga besar nya sudah menunggu.
Saat ia akan sampai di mana tempat dirga duduk, fandi sengaja memberikan senyum mengejek nya saat melihat dirga yang menatap dirinya iri, karena kiara menempel dan tidak mau melepaskan pelukan pada kiara meski sudah duduk di sofa sekalipun.
" menantu posesif, iri kok sama mertua... Tak kerjain yo" batin fandi kemudian memberikan tatapan menantang saat mata nya dan mata dirga bertatapan.
Papa fandi dengan sengaja mengusap lembut rambut kiaranya , lalu menyampirkan rambut kiara ke belakang telinga saat merasa rambut kiara yang sepertinya mengganggu .
Deg..
" Apa ini merah merah pudar, kenapa jumlah nya banyak sekali...." batin fandi Penasaran saat melihat area leher anak nya, yang tadi nya mulus menjadi banyak tutul merah mencurigakan.
Fandi auto menengok ke arah dirga yang duduk di depan nya dengan sorot mata tajam tidak terima.
( Om anak nya di nodai berkali kali tuh. Eh author jangan banyak bacod)
" Kiara sayang, apa di korea banyak nyamuk nya?" tanya fandi menyindir, menghadap ke arah kiara namun tidak dengan mata nya melirik ke arah dirga yang tiba-tiba tersedak akibat pertanyaan darinya yang menohok hatinya.
" Eeh... Nyamuk " balas kiara bingung, namun saat melihat ekspresi dirga yang salah tingkah dan papa nya yang menatap dirga tajam membuat kiara sadar, apa maksud dari pertanyaan papa terjahil nya.
" Ah... Iya pah di sana banyak sekali nyamuk, nyamuk yang besar , besaaaaaar sekali" lanjut kiara, mengulangi kata besar melihat ke arah dirga yang semakin salah tingkah.
" Loh... Kenapa kamu nggak pindah tempat sayang, kalau banyak nyamuk nya" ujar mami putri khawatir, ia takut kulit terawat menantu nya akan banyak bentol
" Nggak bisa mih, nyamuk nya tetap ngikutin" balas kiara serius, ia melihat ke arah mami putri dengan menahan kekehannya.
" Kalau gitu habis ini kamu olesin salep biar nggak berbekas ya " seru mama sarah menimpali perkataan kiara.
" ya ampun kenapa bisa di sana ada nyamuk nya " batin sarah polos.
" haloo semua, maaf aku terlambat" seru seseorang, lagi lagi membuat orang nya sedang ada di ruang tamu menoleh ke arah ujung sana, yang ternyata adalah hendri.
" papi... Selamat datang" sapa kiara semangat lalu tersenyum lebar menyambut kedatangan papi mertua nya.
" apa kabar sayang?" tanya papi hendri, setelah duduk di samping kiara, sehingga kini kiara duduk di apit oleh papa dan papi mertua nya, membuat dirga yang sudah gerah karena ulah papa mertua nya semakin gerah karena tambahan papa songong nya.
Lihat saja papa nya dengan yang sengaja mengusap rambut istri nya tanpa melirik sedikit pun ke arah nya, seakan akan ia adalah anak tampan yang tidak di anggap.
Dan sialnya lagi sang istri kelihatan sekali menikmati perbuatan papa songong nya tanpa memikirkan ia yang sedang di landa cemburu.
( nggak usah lebay dirga, itu bapak lo yang nyumbang bibit biar lu tumbuh, nggak perduli gue thor)
" Jadi setelah ini kalian akan tinggal di mana?" Ujar kakek bagus tiba-tiba, membuat dirga yang tadi nya hanya diam mendengarkan celotehan sang istri dan papa serta mama nya akhirnya angkat bicara, menjawab pertanyaan kakek mertua nya yang sedang melihat ke arah nya.
Menandakan jika pertanyaan ini adalah memang di khusus kan untuknya.
" Rencana nya dirga akan membawa kiara ke apartemen milik dirga kek" balas dirga tegas, ia akan tinggal di apartemen nya dulu, tapi setelah rumah yang sedang dalam tahap pembangunan selesai, mereka akan pindah.
__ADS_1
" Kenapa nggak tinggal disini dulu?" ujar fandi dengan nada yang kelihatan sekali tidak setuju nya.
" Atau tinggal di mansion wijaya" Timpal mama putri, saat mendengar fandi protes.
" Tidak bisa mah, dirga dan kiara ingin
Hidup mandiri. Sehingga nantinya tidak ada pihak yang merasa berat sebelah" balas dirga bijak
" Iya pah, mih... Yaya mau belajar hidup mandiri berdua dengan dirga . Lagian yaya kan bisa main ke sini atau ke mansion kalau yaya sedang libur bekerja " ujar kiara lembut , mendukung apa yang di ucapkan suami nya.
" Apa kiara akan tetap bekerja, kenapa tidak di rumah saja " ujar mami putri tidak setuju jika menantu nya masih bekerja sedangkan anaknya lebih dari cukup jika soal materi.
" Yaya mau tetap bekerja mih, yaya nggak mau di apartemen sendiri. Bosan " balas kiara cepat.
Meski ia sudah menikah, ia ingin menjadi wanita karir, apalagi ia baru beberapa waktu menjabat sebagai direktur di hotel keluarga nya.
Dirga diam saja, bukan berarti ia setuju.
Obrolan sensitif mengenai masalah ini harus mereka berdua diskusikan secara pribadi tanpa campur tangan keluarganya.
" Menurut kakek bagaimana?" tanya fandi kepada papa nya yang memperhatikan obrolan mereka saat ini.
" Semua nya terserah dengan kiara.. tapi karena kiara adalah tanggung jawab suami nya, biarkan mereka berdua yang berdiskusi" balas kakek bagus bijak
" Benar apa yang di katakan bagus, kalian nanti obrolkan lagi" Timpal kakek bakrie saat melihat cucu nya yang diam saja meski tidak dengan ekspresi nya yang mampu ia baca.
Mendidik dirga dari kecil hingga saat ini, tentu saja ia tahu apa maksud dari ekspresi yang di keluarkan cucu bertangan dinginnya saat ini.
" Kalau gitu hari ini kalian istirahat di sini dulu saja, besok baru kalian pindah.
Nanti mama akan membantu kiara packing" ujar sarah , ia cukup mengerti bagaimana sifat keras kepala menantu nya.
" Baik mah..." balas dirga.
ia melihat ke arah mama nya yang hendak protes, tapi ia segera menggelengkan kepalanya, membuat mama nya pun mau tidak mau mengalah.
" Nanti kapan kapan kalian menginap di mansion yah, jangan sampai nggak loh" ujar mama putri mengalah, melihat anak dan menantu nya dengan penuh harap.
" Pasti mih... Jangan khawatir, pokoknya kalau yaya libur kita shoping bareng, terus itu kalau dirga juga libur kita berdua akan menginap di mansion nemenin mami" balas kiara ceria, ia tahu kesedihan mami mertua nya saat ia dan dirga lebih memilih tinggal di apartemen sendiri dan bukan di mansion.
Karena bagaimana pun mereka berdua adalah orang tua nya saat ini.
" Janji yah... Pokoknya nanti kita shoping barengan lagi" balas mami putri ceria, setidaknya ia masih bisa mengunjungi atau di kunjungi,iya kan?
" Iya mih janji, iya kan sayang?" balas kiara kemudian meminta dukungan dengan dirga yang tersenyum mengiyakan apa yang di katakan kiara tadi.
Mereka larut dalam obrolan setelah selesai membahas tempat tinggal untuk kiara dan dirga kedepannya , hingga tidak terasa hari pun menjelang malam.
Keluarga wicaksono mengajak keluarga wijaya makan malam bersama yang di sambut antusias oleh putri serta sisa keluarga wijaya yang lain.
Makan malam selesai, keluarga wijaya pun undur diri dan pulang ke mansion nya.
Di depan rumah keluarga wicaksono tersisa dirga dan fandi, setelah kiara dan sarah terlebih dulu masuk ke dalam.
" kalau gitu dirga masuk dulu pah" ujar dirga pamit kepada fandi yang sedari tadi melihat ke arah nya dengan hawa tidak bersahabat.
Ia hendak berbalik meninggalkan fandi sendirian sebelum suara fandi menghentikan langkah nya di susul pertanyaan yang sungguh terasa makjleb di hatinya.
" Jadi.... kenapa bisa anak ku yang tadinya berkulit putih dan mulus tiba-tiba muncul noda luknut hasil nyamuk jantan berkepala hitam hummm?" kata tanya dari fandi yang sarat akan sindiran membuat nya auto tersedak.
Dirga membalikkan tubuh nya menghadap ke arah papa fandi dan melihat senyum lebar dari fandi yang terasa angker di penglihatannya.
Glek..
Dirga menelan slavia nya susah payah saat melihat raut wajah papa fandi berubah lagi layak nya tukang jagal
" ya lord... Kirain udah nggak galak lagi" batin dirga nelangsa
" Apa kalian di pulau jeju mainnya di semak semak dan hutan, sehingga banyak nyamuk yang menggigit kulit leher anak saya heumm? Atau memang ada nyamuk besar berwujud manusia yang suka menggigit di sekitar kiara saat itu?" lanjut nya masih memakai nada santai saat bertanya, tapi kalau di perhatikan urat kesal nya sudah tercetak jelas di dahi fandi saat ini.
" Maaf pah.... Saya keterlaluan dan terlalu bersemangat " ujar dirga pasrah, menerima kemarahan dari papa mertua nya yang sedang berusaha menahan kesal nya.
" huuft.... Kamu ini, mentang mentang pengantin baru nggak perlu seperti itu juga bisa kan.
Apalagi kalian berjalan jalan keluar, tidak mungkin kalian di dalam kamar saja kan.
Papa nggak ngelarang,biar bagaimana pun kalian adalah suami istri.
__ADS_1
Tapi bisa kan nggak perlu sampai kelihatan seperti itu?.
kiara juga nanti nya akan bekerja, akan bertemu bawahan, bertemu klien dan jika ada rapat maka harus menghadiri rapat.
Apa kamu mengerti apa yang papa maksud ? " ujar fandi panjang lebar, menasihati menantu baru nya yang saat ini kadar hormon nya sedang ada di puncak karena masa masa pengantin baru.
" saya juga dulu pernah jadi pengantin baru, tapi nggak gitu juga kelesss " batin fandi tidak habis fikir.
" mengerti pah..." balas dirga pasrah
" ya sudah istirahat, besok kalian bukannya akan pindah. Kalau gitu papa masuk dulu" ujar fandi mulai hangat kembali, ia menepuk pundak dirga dan pergi meninggalkan dirga yang sedang memaki kesal saat mendengar nasihat papa mertua yang selalu menjahilinya.
" bangke..... Baru pulang dapet siraman qalbu"
Setelah nya dirga pun mengikuti perkataan papa fandi dan masuk ke dalam rumah, menuju kamar di mana kiara berada.
Ceklek..
Pintu terbuka, di susul dirga yang masuk dengan bahu melorot lemas.
" kamu kenapa sayang?" tanya kiara penasaran saat melihat wajah Dirga yang tidak bersemangat.
Kiara saat ini sedang memasukan beberapa barang ke dalam kardus berukuran besar, sedang packing agar esok hari tidak terlalu repot.
" Nggak apa-apa sayang...." balas dirga singkat, lalu menjatuhkan diri nya ke atas ranjang tidur berukuran queen size milik kiara.
Kiara mengeryitkan dahi nya curiga, saat dirga bilang tidak apa-apa yang sebenarnya pasti ada apa-apa.
Kiara pun menghampiri dirga yang tengkurap dengan wajah menghadap ke arah nya, kemudian duduk di samping dirga.
" Oh yaa.... Kok aku denger nya ada apa-apa sayang" tanya kiara lembut dengan tangan membelai rambut dirga sayang.
Dirga membawa kepala nya untuk tiduran di atas paha kiara yang ada di dekat nya, kemudian memeluk pinggang kiara masih dengan posisi tiduran.
" Papa bilang jangan banyak banyak buat tanda" gumam dirga dengan suara pelan, menjelaskan masalah nya tapi mirip seperti orang yang sedang ngedumel.
" hihihi.... Dasar papa, ada ada aja..." batin kiara terkekeh geli saat mendengar cerita lucu dari suami nya.
" kok ketawa sih.... Masa nanti aku nggak bisa bikin tanda lagi?" tanya dirga dengan nada suara ngambek.
Dirga kan hanya ingin orang orang tau bahwa kiara itu miliknya mutlak, jadi nggak ada yang ganggu apalagi mendekati kiara saat ia tidak di samping kiara.
" Bukan nggak bisa sayang, tapi jangan keterlaluan. " balas kiara lembut saat mendengar suami nya ngambek karena tidak bisa membuat maha karya lagi.
" Iya aku janji nggak keterlaluan lagi" ujar dirga berjanji dengan tidak sungguh sungguh.
" Janji nih?" tanya kiara memastikan saat mendengar suara main main dari dirga yang saat ini kepala nya masuk kedalam baju nya dan menciumi perut nya dengan gemas, membuat ia geli sendiri.
" iya janji....." ulang dirga
Dirga kemudian mengangkat wajah nya, melihat ke arah kiara yang terkekeh karena ulahnya.
" iya aku janji nggak akan buat tanda yang kelihatan, tapi kalau di bagian yang tertutup boleh dong? Hehe.. " ujar dirga usil di ikuti kekehan senang nya yang tiba-tiba berubah jadi pekikan sakit, karena kiara yang kesal saat mendengar kelanjutan ucapan darinya .
" Aaargg..... Ampun yank sakit.... "
Sedangkan di kamar orang tua kiara
Fandi yang sedang membaca buku di tampat tidur nya kaget saat mendengar teriakan kesakitan yang berasal dari luar kamarnya .
" astaga... Suara apa itu by?" tanya sarah heboh , ia harus merelakan krim wajah nya terjatuh saat mendengar jeritan kesakitan yang membuatnya kaget seketika.
" Suara Nyamuk kali ... Pasti Lagi kena batu nya tuh " balas fandi acuh melanjutkan acara baca buku nya dengan santai, Tanpa repot repot menoleh ke arah sarah yang sedang mengernyitkan dahi nya bingung saat mendengar jawaban nggak nyambung darinya.
" tapi itu seperti suara nya dirga ..." batin sarah bingung kemudian melihat ke arah bawah di mana krim wajah nya berada dengan pandangan sedih nya
" masa beli lagi, baru aja kemarin di buka..."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah nya
Jangan lupa loh tinggalkan jejak komentar dan klik jempol nya serta vote dukungan nya.
Sampai babai
Terimakasih
__ADS_1