Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Lei ho, Kung-kung!


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Bandara internasional Hong Kong


Masih di bandara internasional Hong Kong, selain dari kedatangan empat remaja ini, ternyata ada rombongan kecil lainnya, yang kebetulan liburan di negara ini juga.


Kejadian di saat bersamaan, disisi lainnya. Tepatnya disisi rombongan tiga remaja perempuan, serta rombongan empat remaja laki-laki lainnya.


Keineira, Intan dan Raiya adalah tiga remaja tersebut. Mereka saat ini sedang mengambil bagasi mereka, setelah selesai dengan bagian imigrasi.


Agak sulit bagi mereka untuk sampai di bagian sini, karena dari ketiganya sama-sama tidak tahu, letak bagian dari bandara dan hanya mengandalkan papan petunjuk dengan tulisan bahasa Inggris.


Sambil menunggu koper di bagian pengambilan bagasi, mereka tidak henti membicarakan tentang rencana liburan mereka kali ini.


Orang yang paling antusias adalah Intan, karena memang ia adalah si pengajak bagi kedua temannya.


"Eh! Katanya saat masa libur seperti ini, desney akan ada parade gitu loh!" seru Intan, menatap satu per satu temannya dengan mata berbinar senang.


"Benarkah? Wah! Pasti ramai sekali, aku jadi tidak sabar," sahut Raiya si ceriwis urutan dua setelah Intan, ia menanggapi antusias apa yang di sampaikan oleh temannya, berbeda dengan Kei yang hanya tersenyum kecil.


"Kita bisa seharian disana, tenang saja," timpal Kei menatap dua temannya, dengan senyum kecil namun membuat Intan dan Raiya mengangguk dengan semangat.


"Tentu saja!" balas keduanya kompak.


Mereka pun menunggu lagi koper mereka yang belum juga terlihat, di ban berjalan sana(Bagage conveyor).


Kei yang baru ini mengunjungi negara beton, melirik kesegala arah untuk mengagumi megahnya bandara, tempat mereka berada saat ini.


Disaat ia sedang melihat kiri dan kanan, ia di buat kaget dengan panggilan atau juga seruan seorang perempuan, yang memanggil seseorang lainnya, dengan sebutan yang baru-baru ini akrab di telinganya.


"Mas! Sudah dapat kopernya?"


Ia pun menolehkan kepalanya segera, ke arah sumber suara dan menemukan empat remaja, dengan dua orang yang saling berhadapan.


Tidak masalah jika itu bukan orang yang di kenal olehnya, tapi yang di lihatnya adalah sepasang remaja yang sangat di kenalnya, sedang saling berhadapan dan berjalan bersama menghampiri seseorang, yang ia yakini adalah si pemanggil tadi.


"Gavriel," bisiknya, saat keempatnya jalan bersama menuju pintu kedatangan (Arrival gate).


Kedua temannya yang tidak terlalu memperhatikan sekitar, menoleh ke arah temannya yang saat ini menatap depan dengan pandangan aneh.


Intan dan Raiya pun saling melihat, kemudian mengangkat bahu tanda tidak tahu.


Puk!


Salah satu dari keduanya pun menepuk bahu Kei, yang langsung tersentak kaget dan melihat ke arah si penepuk dengan mata berkedip bingung.


"Ada apa, Kei?" tanya Intan, yang adalah si penepuk bahu. Melihat dengan kening berkerut, saat temannya menatapnya bingung.


"Ah! Aku? Aku kenapa?"


Intan dan Raiya mendesah lelah, saat pertanyaan dari Intan di jawab dengan pertanyaan lagi, membuat Kei yang merasa canggung pun memasang senyum kaku.


"He-he ... Maaf, aku tadi sedang tidak fokus," lanjut Kei, sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. Kebiasaan saat ia merasa malu dan canggung.


"Aduh, Kei. Jangan seperti itu lagi yah, kamu tahu sendiri kita asing semua dengan lingkungan sini, tidak ada yang tahu dengan tabiat orang sini."


Kekehan canggung dan permintaan maaf adalah yang diterima dari Kei, saat dengan gemas temannya memberi tahu tentang kesalahan, yang akan berujung fatal jika dilakukan lagi olehnya.


"Maaf," gumam Kei menyesal, membuat dua temannya menghela napas berusaha memaklumi.


"Baik, jangan di bahas lagi. Sekarang kita tunggu koper kamu, kamu sih melamun. Cuma kamu loh, yang kopernya belum di ambil," putus Intan mengakhiri dengan bijak, membuat Kei menampilkan wajah menyesal, yang dibalas dengan tepukan bahu oleh dua temannya.


"Tidak apa-apa, tunggu kopernya gih," timpal Raiya, dengan senyum memaklumi.


Keineira mengangguk dan berjalan mendekati ban berjalan tempat koper penumpang, menunggu dengan mata melihat mencari keberadaan akan kopernya, meski sesekali melihat arah sana, tepatnya arah di mana dia berjalan untuk di lihatnya terakhir kali.

__ADS_1


"Setidaknya aku tahu, kamu sudah sampai di sini, Gavriel."


Dengan begitu, Kei pun kembali ke arah ban berjalan pengambilan koper, dengan kopernya yang ternyata sudah ada di hadapannya.


Ia pun dengan sigap mengambilnya, mengeluarkan sedikit tenaganya, saat merasa beban sedikit berat dari kopernya.


Di bagian lain dari bagian pengambilan bagasi, ada kelompok satunya. Sama, sedang menunggu kedatangan koper mereka masing-masing.


Salah satu dari mereka, yang sedang melihat sekeliling tiba-tiba menoleh ke arah suara, yang sedang memanggil seseorang dengan panggilan dan bahasa yang sama sepertinya.


Keningnya mengernyit dengan mata memicing, saat menatap ke arah sana tepatnya ke arah sepasang remaja laki-laki dan perempuan, berdiri berhadapan yang rupa sangat di kenalnya siapa.


Saat ini yang menjadi fokusnya adalah remaja perempuan, yang menatap remaja laki-laki di sana dengan ekspresi senang, ekspresi yang sangat di sukai.


Bibirnya ikut menyunggingkan senyum, saat ia tidak melihat lagi ekspresi yang sudah-sudah, ekspresi yang entah kenapa tidak disukai olehnya.


"Yeah ... Akhirnya dia bisa senyum lagi," gumamnya melihat depan dengan senyum kecil, membuat teman seperjalanannya heran dan kemudian menepuk bahunya kuat, membuatnya kesakitan lalu balas menendang bokong si penepuk bahu kuat .


Puk!


"Anjwwer ... Kamvret lu, sakit biting!"


Buagh!


"Akh! Bangsul, ini lebih sakit, barakokok sia!"


Kehebohan yang di buat oleh orang yang di panggil barakokok dan biting ini, membuat dua orang lainnya geleng-geleng kepala.


Mereka sudah tidak heran dengan kelakuan ketua OSIS dan teman mereka, yang saat ini sedang saling adu mulut di hadapan mereka.


"Astaga kalian ini, nggak malu di liatin orang-orang, heh," kata Ardan, sambil menatap dua temannya dengan ekspresi menahan malu.


"Ck ... Jangan salahin gue, salahin nih si biting. Muke gile, emang dia kira bahu gue terbuat dari besi apa," seloroh Ge kesal, si korban tepukan bar-bar pada bahunya. Ia menatap temannya yang ia panggil biting, dengan tatapan tajamnya sambil mengusap bahunya yang berdenyut nyeri.


"Saus tar-tar, nggak kira-kira nyerinya," batin Ge dengan dumelan kesalnya.


Biting, panggilan akrab temannya, di panggil seperti itu karena memang perawakannya yang seperti lidi.


"Apa?" sewot Ge kepada Didi, yang akhirnya mendengkus lalu melengos ke arah lain.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita ke gerbang kedatangan. Sepertinya Kace (Kakak perempuan), sudah menunggu di sana."


Perkataan Ardan di jawab dengan anggukan mengerti dari tiga lainnya, kemudian mereka bersama-sama berjalan, menuju arrival gate di bagian timur dengan sesekali bersenda gurau.


Sedangkan di bagian lain, tepatnya disisi Gavriel, Queene, Ezra dan Selyn. Mereka berempat saat ini sedang berjalan, menuju gerbang kedatangan dengan sesekali Selyn bertanya, saat melihat pajangan berupa foto dengan gambar kota besar Hong Kong terpampang.


Queeneira tentu saja menjelaskan dengan semangat, saat adik kesayangan dari sahabatnya bertanya dengan antusias.


Semakin mendekati gerbang tempat para penjemput menunggu, semakin membuncah rasa senang dari seorang Queene.


Dari sini ia bisa melihat kakeknya, yang berdiri dengan kepala menoleh kanan-kiri seperti sedang mencari, membuatnya tersenyum lebar saat sang kakek bertemu pandang dengannya.


Dengan tangan terayun memberi sinyal semangat, Queene mempercepat laju langkah kakinya, menghampiri sang kakek yang juga berjalan menghampirinya.


Grep!


Pelukan erat Queeneira berikan untuk kakek kesayanganya, kakek yang memutuskan untuk tinggal di tanah kelahirannya setelah ia berumur sepuluh tahun, bersama neneknya dengan alasan menghabiskan masa tua.


"Kung-kung, lei hou ma? (Kakek, bagaimana kabarmu?)" tanya Queeneira, setelah sang kakek mengurai pelukannya, menatap cucunya dengan air muka teduh.


"Hou, Queene. Kung-kung hou-hou kuacu dongmay lei, (Baik, Queene. Kakek sangat merindukanmu)" balas sang kakek dengan senyum bahagianya.


Hampir tiga tahun ia tidak melihat wajah ayu cucu kesayanganya, cucu perempuan satu-satunya, saat anak laki-lakinya atau juga kakak dari Mama Queene, memiliki satu anak laki-laki dengan umur lebih tua beberapa tahun dari Queeneira.


"Ngo to hai, Kung-kung. He-he!" sahut Queene kemudian terkekeh kecil, namun tidak lama saat ia ingat jika ada orang lain yang juga datang bersamanya.


"Oh, hai woo! (Oh, astaga!)" pekik Queene, kemudian melihat ke arah belakang sana, tepatnya ke arah tiga orang lainnya yang saat ini menatapnya dengan gelengan kepala maklum.


Maklum, saat mereka tahu jika sahabat atau juga Mbanya, sudah lama tidak berjumpa dengan kakek, sedangkan mereka bisa hampir setiap waktu bertemu.

__ADS_1


"Ngo em keitak, Kung-kung. Goi tei le, ngo ko bangyau, kei em keitak Kung-kung dong goi tei? (Saya lupa, kakek. Mereka teman aku, kakek masih ingat tidak dengan mereka?)" tanya Queene menguji daya ingat sang kakek.


Sang kakek menatap tiga orang itu dengan seksama, kemudian tersenyum lebar saat ingat jika anak-anak muda di depan sana adalah anak dari sahabat anaknya.


"Hai lah, Kung-kung keitak wo. Gavriel koko, Selyn amui dong Ezra koko. Ngam em ngam? (Iya lah, kakek ingat loh. Gavriel, Selyn dan Ezra. Benar tidak)" jawab sang kakek dengan nada semangat.


"Kung-kung, Selyn hou-hou kuacu!" seru Selyn semangat seperti biasa, menghampiri kakek dari Queene kemudian memeluknya erat.


Grep!


"Ha-ha-ha, hai la hai la, (Ha-ha-ha, iya lah iya lah)" balas kakek memeluk Selyn sama eratnya seperti ia memeluk Queeneira, cucu kesayangannya.


Kemudian dua remaja laki-laki tersisa, mengikuti jejak dari dua remaja perempuan di depan sana.


Mereka bergantian memeluk tubuh pria tua renta namun masih segar, yang tertawa dengan bahagia saat berjalan bergandengan dengan cucunya, yang sesekali akan terkekeh saat sang kakek menggodanya.


Di parkiran bandara sudah menanti mobil untuk menjemput mereka, mobil yang akan mengantar mereka pulang ke hunian milik kakek dari Queeneira. Hunian yang akan menjadi tempat tinggal mereka, selama mereka berlibur di negara Hong Kong.


Di dalam mobil, Selyn yang tidak henti mengambil gambar pemandangan tersenyum senang, saat mereka melewati jembatan layang yang menghubungkan kota dengan daerah dekat bandara.


Laut yang luas, pulau kecil juga terlihat dari dalam mobil sini. Belum lagi kendaraan dengan dominan bus dan mobil pribadi, menjadi pemandangan asing bagi Selyn.


"Tidak ada motor?" tanya Selyn kepada Mbanya, Queeneira pun menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan adik sahabatnya.


"Bukan tidak ada, tapi di sini sangat jarang kendaraan roda dua. Bahkan, orang yang mampu membeli mobil juga lebih memilih menaiki transportasi umum," jelas Queeneira membuat Selyn, semakin melihatnya dengan tatapan penasaran.


"Maksudnya, apa Mba?"


"Disini lahan parkir sedikit, biaya parkir bahkan lebih mahal dengan harga beli mobil itu sendiri," ujar Queene dengan bahu terangkat. Antara takjub dan heran dengan apa yang di ketahuinya, karena di saat masyarakat sini lebih suka jalan untuk pergi kemana-mana, masyarakat negaranya seakan enggan untuk hidup sehat dengan cara sederhana, jalan kaki sekedar ke pasar misalnya.


"Pantas saja yah, di sepanjang jalan tidak ada kendaraan lain selain bus, taksi dan mobil pribadi yang jumlahnya tidak banyak," gumam Selyn menyahuti penjelasan Mbanya.


"Jadi jangan heran, kalau nanti waktu kita naik kereta, penumpangnya melebihi bus di kota negara kita," timpal Queeneira menambahkan informasi, yang lagi-lagi membuat Selyn memekik tidak percaya.


"Kita nanti naik kereta juga, Mba?" tanya Selyn antusias. Ia sungguh tidak sabar untuk bisa naik kereta, merasakan betapa cepatnya kendaraan itu, apakah benar sesuai yang dibaca olehnya atau tidak.


"Iya ... Saat kita ke Desney, ke tempat wisata lain, kita akan menggunakan transportasi umum. Agar perjalanan wisata kita lebih seru, berbaur dengan pejalan kaki, menyeberangi jalanan bersama-sama, makan bersama-sama. Pokoknya melakukan apapun itu bersama-sama," balas Queeneira, menjelaskan dengan antusias serta merasakan kegembiraan yang meluap, saat membayangkan jika mereka bisa menghabiskan masa liburan, sesuai dengan apa yang ada di benaknya.


"Sugoi! (Keren) El tidak sabar Mba, memulai perjalanan wisata kita," pekik Selyn dengan mata berbinar semangat.


Obrolan keduanya bukan hanya membuat dua orang yang terlibat senang, tapi juga membuat mereka yang mendengar ikut merasa senang dan tidak sabar.


Mereka merasa bahwa besok adalah hari yang akan sangat menyenangkan, karena mereka menghabiskan waktu bersama sepanjang waktu, selama seminggu penuh.


"Kami juga, tidak sabar loh."


Selyn dan Queene yang sedang asik berbincang berdua, menoleh ke asal suara dari arah belakang mereka, dan mendapati jika sahabat atau juga sepupu mereka, yang melihat mereka dengan alis naik-turun usil.


"Tentu Mas, tapi Mas Ez yang traktir kita berdua yah. Kata Mba Que, biaya hidup disini mahal, El tidak bawa cukup uang," sahut Selyn menggoda sepupunya, yang mendengkus namun kemudian memasang cengiran andalannya.


"Boleh! Tapi, nanti Mas utang dulu, sama Mas yang duduk di sebelah, bagaimana?" balas Ezra melirik sepupunya, yang balas ikut mendengus juga.


"Yang kemarin aja belum bayar, mau ngutang lagi. Nggak sudi," sewot Gavriel pura-pura kesal, membuat mereka terkekeh, saat merasa obrolan mereka tidak bermanfaat sama sekali.


Di depan sana, tepatnya di kursi samping kemudi. Kakek dari Queeneira ini tersenyum senang, saat melihat cucunya menampilkan senyum dengan wajah berseri-seri.


"Dari dulu mereka tidak berubah, aku sampai mengira jika akhirnya, cucuku akan jadi dengan salah satu di antara mereka," batin sang kakek dengan gelengan kepala, geli akan pikirannya sendiri.


"Ah! Masih lama juga," lanjutnya masih dalam batin.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bagian pada transportasi dan biaya hidup adalah pengalaman menurut survei orang yang tinggal di sana. Masyarakat negara Hong Kong, lebih suka memakai kendaraan umum untuk aktivitas mereka.


Asap polusi nyaris tidak ada, salah satu alasan juga saat bagi mereka kesehatan adalah yang utama.


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan dan bantuannya.


Sampai babai.


__ADS_2