Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Fania bukan Kiara


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Di antara kekehan edan 4 laki-laki Stres, Ada satu orang jomblo yang merana. Ia Penasaran dengan apa yang di alami ketiga Bapak di depannya, Ia juga ingin punya Istri tapi masih kebayang sama masa lalu. Dan itu di sadari oleh Dirga yang kadar kepekaanya kebablasan, Dirga melihat Kai dengan pandangan bertanya sekaligus curiga.


" Jadi Kai, lu kesini sama Fania kan? Lu niat kesini emang karena di ajakin Fania atau karena kesempatan bisa bertemu istri Gue melalui Fania?"


" Eh ... " Faro dan Raka serasa De javu, saat mendengar pertanyaan Dirga yang sedikit menyindir. Apalagi Raka, yang pernah mendapat pertanyaan menjebak seperti ini.


Mereka berdua melirik Kai, yang mendadak tegang tidak bisa membantah.


" Sebaiknya kita bahas di tempat lain Ga, Nggak enak ada Lady di sekitar kita. Gue nggak mau ada yang salah paham, saat Lu bawa-bawa nama orang nanti" ujar Faro yang sudah tahu maksud Dirga, jika sudah ada serangan Skak dari Sahabatnya yang kadar kepekaannya bablas, Ia percaya kalau sedang ada apa-apa.


" Kita ke lantai atas aja" ajak Dirga, saat Faro mengerti maksud pertanyaannya.


" Sayang, aku mau ajak mereka lihat pemandangan di atas." seru Dirga, melihat ke arah Istrinya yang saat ini sedang cekikikan kumpul sesama wanita di karpet sana.


" Oke sayang!" balas Kiara tersenyum


" Nggak apa-apakan kalian di sini aja? Kita mau bahas masalah proyek juga, takut ganggu kalian." ujar Dirga beralasan, Ia takut Istrinya kumat penyakit keponya.


" Iya Bang, pergi sana jauh-jauh. Syuh ... Syuh jangan balik lagi kalau bisa, jadi aman dan sentosa deh kehidupan Amira " sahut Amira mengusir Dirga dengan kurang ajarnya.


Keempat Pria tersebut akhirnya pergi meninggalkan 4 Lady, yang langsung membahas masalah lain. Tapi jangan harap Dirga tidak membalas perkataan Si Selebor yang minta di hajar, maka sebelum benar-benar menaiki tangga. Dirga dengan sayang meraup wajah Amira dengan tangan besarnya.


" Selebor barbar, rasain nih kekuatan seribu tangan dewa. Makan nih makan"


kemudian ngacir menyusul ketiga sahabatnya yang sudah di ujung tangga sana, di iringi dengan kekehan edannya.


" Yak Bang Dirga, Amira bilangin Tante loh nanti"


" Bodo amat, tukang ngadu"


" Mba Kiara, Bang Dirganya"


" Wkwkwkwkwk"


Kiara hanya bisa menghela nafas lelah, melihat 2 sepupu yang selalu saja saling menjahili di setiap ada kesempatan. Emang sih terkadang liatnya seneng, tapi kalau setiap bertemu begini Ia lama-lama lelah. Suaminya yang arogan bertransformasi menjadi jahil, jika sudah bersama sahabatnya.


" Ya ampun, nggak capek yah Gelud terus?" tanya Kiara lelah, saat melihat Amira yang cemberut dan tersangka utama alias Suaminya sudah ngacir ke atas dengan kekehan senangnya.


" Bang Songong tuh, seneng banget dari dulu nguyel wajah Amira mba kalau lagi jahil" balas Amira mengadu,betapa jahilnya mahluk hidup bernama Dirga yang merangkap Abang sepupunya.


Fania dan Elisa tertawa kecil, saat Amira mengadu tentang kejahilan Dirga kepada Kiara. Mengingat jika di luar Dirga di kenal sebagai Si Arogan oleh saingan bisnisnya, Fania sedikit tidak percaya. Tapi beda dengan Elisa yang mengetahuinya dari Suaminya sendiri, sahabat dari seorang Dirga.


Elisa masih ingat apa yang di katakan oleh Suaminya, jika Dirga itu seperti Durian, mengerikan di luar tapi dalamnya enak. Elisa bingung sendiri, dari sekian banyak ungkapan kenapa harus durian? Suaminya hanya bilang, jika sudah kenal Dirga, apapun kalau bisa di bantu akan sampai kelar, tapi jika mencari masalah dengannya hidup yang akan kelar.


" Mas Dirga orangnya jahil? Masa sih?" tanya Fania tidak percaya


Kiara sebagai Istri dan Amira sebagai sepupu, memandang Fania dengan tatapan seakan menyampaikan maksud


" Mau coba jahilnya seperti apa? Silahkan gratis"


Membuat Fania terkekeh canggung, dengan kepala menggeleng tanda menolak.


" No, yang resehnya saja sudah seperti itu, apalagi jahilnya" ujar Fania, saat ingat kemarin di usir dari duduknya karena Dirga di bully oleh para Kakek. Di kasih gratis juga ogah kalau Ia di suruh menikmati kejahilan seorang Dirga Mas ipar sepupunya.


Mereka semua tertawa, saat melihat Fania yang merinding dengan tangan mengetuk meja dan kepala bergantian di sertai gumaman berulang.

__ADS_1


" Amit-amit cabang bayi"


.


.


Sedangkan di lantai atas, yang sengaja Dirga buat untuk Ruang santainya bersama sahabatnya,sedang mengalami suasana tegang. Di sini, yang di bicarakan adalah bagian keluarga Dirga dan Dirga bukan orang yang tidak perduli jika itu menyangkut masalah keluarga. Contohnya saja kasus Amira dan Raka, walaupun Ia hanya menyulut sumbu tapi akhirnya api tetap berkobar.


Kali ini Fania, jika laki-laki yang dekat bukan Kaisar Wiratmadja yang juga Mantan istrinya, mungkin Ia akan masa bodo. Tapi mengingat Kai yang sedang dekat, Ia jadi curiga Fania di dekati karena perawakannya yang hampir mirip dengan Sang Istri.


" Jadi Kai, ngelanjutin pembahasan tadi. Apa jawaban Lu?" tanya Dirga tidak sabaran.


Faro hanya menyaksikan dalam diam dan netral, beda dengan Raka yang dulu sempat dekat dan menganggap Fania adalah adiknya. Raka bahkan sudah mulai mengeluarkan hawa dinginnya sama seperti Dirga.


Kaisar bisa merasakan tekanan, saat tatapan tajam dua lelaki di hadapannya menghunus ke arahnya. Lalu melirik Faro yang memandang tanpa minat, namun menilai dan netral. Ia bahkan harus susah payah menelan slavianya, gugup karena memang benar awalnya Ia juga berfikir jika Ia bisa menerima Fania karena kemiripan keduanya, bukan mirip tapi sedikit mirip.


Kaisar juga pernah membayangkan, jika Fania adalah Kiara saat mereka berbincang di waktu Ia mengantar Fania pulang menggunakan mobilnya.


" Gue


" ... "


" Gue nggak menganggap Fania pengganti Kiara, Gue memang nyaman dekat sama Fania " dusta Kai lancar dengan menampilkan raut wajah datar tanpa ekspresi, berharap orang yang saat ini sedang menghakiminya percaya dengan kebohongannya.


" Oke "


Faro dan Raka tersentak kaget, saat mendengar jawaban biasa saja dari Dirga, yang di kenal mereka tidak mudah menyerah, tapi saat mendengar kelanjutan kalimat Dirga mereka baru menyadari apa maksudnya Dirga.


" Tapi jangan harap lu bisa dapetin Fania dengan mudah, kalau sekali aja Gue tahu ternyata lu memang menganggap Fania sebagai pengganti Kiara." ujar dirga balik menatap Kai dengan tatapan datarnya.


" Inget Kai, rupa sama hati beda. Kalau lu menyukai seseorang karena kemiripan rupa, lu sama aja hidup dalam ilusi bayang-bayang semu. Nggak akan ada kebahagiaan di dalamnya " lanjut Dirga menyudahi ucapannya, Ia mendadak nggak mood saat mengetahui masih ada laki-laki yang membayangkan wanitanya bisa di miliki orang lain, terlebih Mantan yang dulu sempat bilang sudah menyerah.


Dirga meninggalkan ketiga laki-laki yang masih belum bersuara, masih merenungkan ucapannya, menyisakan debaman pintu keras saat Ia menutup pintu.


" Kai, jujur deh. Lu deketin Fania karena apa?" tanya Raka frontal, tidak seperti Dirga yang memakai sindiran, Ia orangnya to the point.


" ... "


" Kai, Gue sih sebenarnya nggak mau ikut campur masalah orang. Tapi apa yang di katakan Dirga itu benar, kalau lu emang belum bisa melupakan masa lalu. Jangan jadikan Fania sebagai pelampiasan" ujar Raka lalu mengikuti jejak Dirga meninggalkan Kai dengan Faro.


Suasana sunyi tercipta, setelah kedua laki-laki yang merasa terganggu pergi.


" Lu nggak ngehakimi gue juga Ro?" tanya Kai memecahkan suasana sunyi di antara keduanya.


" Gue cukup lelah, menghakimi tersangka kasus di Meja Hijau Kai. Kalian juga sudah dewasa, jangan karena Gue sahabat mereka Gue juga ikut membela mereka. Sorry aja, persahabatan kami bukan seperti itu. Yang mau Gue sampaikan adalah hidup itu maju kedepan bukan mundur kebelakang. Lupain bayang masa lalu, sambut yang baru." ujar Faro lalu berdiri dari duduknya, namun sebelum Ia meninggalkan Kai sendiri Ia melanjutkan ucapannya


" Gue rasa Kiara akan kecewa, kalau tahu sepupunya di jadikan pelampiasan sama Lu Kai " ujar Faro telak, Lalu benar-benar meninggalkan Kaisar yang merasa tertohok, karena kalimat terakhir dari seorang Pengacara kondang bernama Faro Geovan Wardhana.


Deg


" kiara kecewa sama Gue? Tapi Fania Gue, Gue "


Kaisar terdiam kaku, dengan pernyataan Faro yang memang benar adanya. Lalu setelah beberapa saat, Ia sadar dari keterdiamannya dan ikut pergi meninggalkan lantai atas menuju ruang tamu, di mana terdengar suara gelak tawa dari ke tiga lelaki yang tadi sempat menampilkan wajah seram, tapi sekarang sedang tertawa biasa saja, seperti tidak pernah ada kejadian tegang seperti di lantai atas beberapa saat lalu.


Skip


Kaisar pulang ke apartemennya, setelah mengantar Fania yang juga seperti biasa masih ceria dan mengajaknya berbicara sepanjang perjalanan pulang.


Setelah mendapatkan serangan batin dari Seorang yang akhir-akhir ini menjadi temannya, kaisar merasakan sesuatu yang menghantam dada tepatnya di hatinya.


Kaisar fikir dirinya sudah bisa melepas Kiara sepenuhnya, tapi ternyata kelakuan Ia yang tiba-tiba bisa menerima Fania dengan cepat adalah karena masih terbayang masa lalu.


Tapi Ia tidak menampik, jika Ia merasakan nyaman saat berbicara dengan Fania. Ia merasakan hatinya berdebar kembali saat melihat senyum sekilas mirip Kiara dari Fania.

__ADS_1


" Apa benar selama ini Gue menjadikan Fania pelampiasan semata?" gumam Kaisar, Ia mendongakkan kepalanya ke arah langit malam penuh bintang dan terbayang wajah Kiara yang tersenyum namun lama-lama berubah menjadi Fania yang tersenyum.


" Sial"


Keesokan harinya


Saat ini Kaisar sedang menjemput Fania, yang sedang ada Pemotretan di daerah pantai. Mereka sedang duduk di tempat istirahat, karena Fania masih ada satu sceen Pemotretan lagi.


" Aku lanjut kerja dulu Yah Mas, sebentar kok" ujar Fania, lalu meninggalkan kaisar sendiri setelah mendapat anggukan kepala dari Kaisar.


" Semangat" seru Kai tersenyum tipis


" Siap Masku"


Deg ...


" Masku?" batin Kai dengan degupan dan wajah memerah senang.


Senyum cerah terbit di bibir sedikit tebal milik Kaisar, Ia tidak bisa menahannya saat Fania menyebutnya dengan akhiran ku seakan Ia adalah miliknya Fania.


" Gue udah gila" gumam Kai pelan melihat Fania yang sedang berpose, dengan tatapan tergila-gila.


" Apa Gue jatuh cinta sama Dia yah?"


Gumamnya dengan tangan meremas dada, di mana letak jantungnya berada yang saat ini sedang berdegub kencang.


" Fania sekarang gue yakin, kalau gue suka sama Lu bukan karena lu mirip sama Kiara. Tapi emang Gue Cinta sama semua yang ada di diri lu, mereka salah nilai Gue suka sama lu karena lu mirip Kiara " batin Kaisar saat melihat Fania yang bersalaman dengan Kru, lalu berjalan ke arahnya dengan senyum puasnya.


" Sorry ya Mas kalau sedikit lama" ujar Fania saat sampai di hadapan Kai, yang melihatnya tanpa berkedip.


" ..."


" Mas Kai" panggil Fania, dengan tangan mengayun di depan wajah Kai yang melamun.


" Ahh ... Maaf, apa kenapa tadi?" tanya Kai salah tingkah


" Hihi ... Kenapa kok melamun, bosen yah nunggu aku selesai Pemotretan?" tanya Fania dengan kekehan kecilnya.


Deg ... Deg ...


" Ng ... Nggak kok, Tadi Gue cuma keinget kerjaan. Oh iya, udah selesai kan Pemotretannya? " tanya Kai mengalihkan pembicaraan.


" Iya sudah kok, aku mau ganti baju dulu ya Mas " balas Fania tidak ambil pusing, lalu pergi meninggalkan Kai, setelah mendapat anggukan kepala dari Kai.


Saat di ruang ganti, Fania teringat dengan cerita dari Mba sepupunya, jika dulu Kai adalah Mantan satu-satunya yang paling di sayangi kiara dan Fania pun merasa jika Kai pun masih mencintai Mba sepupunya.


Meskipun Kai tidak pernah memberitahunya tentang perasaan Dia terhadap Kiara saat ini bagaimana, Tapi entah kenapa Fania merasa Kai memperlakukannya seperti Ia adalah Kiara dan bukan Fania.


Fania menyukai Kai tulus, maka dari itu Ia akan berusaha membuat Kai melihatnya sebagai dirinya sendiri , Karena Ia adalah Fania dan bukan Kiara.


" Mas kaisar, semoga kamu lihat aku dengan tulus yah. Bukan pengganti" gumam Fania lirih.


Lalu meninggalkan ruang ganti, kembali menemui Kai yang menunggunya di kursi luar ruang gantinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ya...


Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan klik jempolnya yaa...


Serta vote dukunganya


Sampai babai

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2