Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Sesuatu Yang Di Khawatirkan


__ADS_3

Seoson dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Akhir tahun kelulusan sudah di lalui dengan baik, oleh tiga anak Adam Hawa ini.


Di taman luas milik keluarga Wijaya, tepatnya di mansion milik kakek dari Gavriel dan Selyn, sudah berkumpul cucu serta teman dari cucu Si pemilik mansion.


Keempat remaja ini sedang duduk santai, menghabiskan sisa waktu liburan, untuk memulai hidup baru mereka tepatnya besok, sebagai murid ajaran baru jenjang menengah atas.


Di antara mereka ada satu paling kecil, duduk merengut dengan ekspresi sedih, saat lagi-lagi di hadapankan dengan kenyataan, yang mau tidak mau harus di terimanya.


Puk! Puk!


"Jangan sedih, bukan kah kita masih bisa kumpul seperti ini?" ujar seseorang yang saat ini sedang menepuk kepalanya lembut, tentu saja Sang kakak dengan senyum kecilnya, sebelum duduk agak menjauh.


"Aku tahu," gumam Selyn membalas perkataan kakaknya.


"Tapi ..."


"Heum?" gumam Gavriel penasaran.


Dua kakaknya yang lain melihat ke arahnya juga dengan raut wajah penasaran, sehingga membuat Selyn yang merasa di lihat pun memberitahukan keresahannya, dengan nada suara lirihnya.


"Tapi ... Apa benar, Kita akan bisa berkumpul seperti ini. Dalam keadaan seperti ini?" lanjut Selyn memandang satu per satu kakaknya, dengan sorot mata berharap.


Entah lah ... Ia merasa akan ada sesuatu, yang membuat hubungan ketiga kakaknya berubah.


Seperti firasat meskipun ia sendiri tidak tahu apa.


Gavriel mengangkat sebelah alisnya bingung, mendengar ucapan Adiknya yang terasa aneh di pendengarannya.


"Maksudnya?" tanya Gavriel.


"Yah ... Meskipun bisa berkumpul, apakah suasananya akan seperti ini?" balas Selyn dengan kening berkerut, tidak mengerti dengan ucapannya sendiri.


Queene yang tadi hanya menyaksikan dalam diam, tersenyum kecil, ia berangsur mendekati Adiknya dan memeluk bahu El dari samping.


"Berubah, karena pergaulan di sekolah baru kami akan berbeda? Berubah, karena nanti kami akan sibuk dengan kegiatan masing-masing? Atau berubah, saat kami tidak bisa lagi menemani kamu di sekolah?" tanya Queene beruntun.


Selyn yang mendengar pertanyaan beruntun dari Mbanya, mengurutkan kening bingung sendiri, sebab bukan hanya itu alasannya dan kebetulan alasannya pun tidak di ketahuinya apa.


"Hem .... Semuanya, aku takut kalian tidak punya waktu untuk main, bersamaku lagi," balas Selyn polos.


Gavriel terkekeh mendengar alasan polos dari Adiknya, benar juga ... Di antara mereka Selyn adalah yang termuda, di usianya yang segitu fikirannya masih di isi dengan hal, yang berhubungan dengan kata main dan perhatian.


Jadi tidak salah jika Adiknya khawatir, saat memikirkan jika mereka akan meninggalkannya dan tidak bermain serta memerhatikannya lagi.


"Mas! Kok malah tertawa?" sembur Selyn manja, ia melotot lucu ke arah Mamasnya, yang saat ini masih terkekeh.


Gavriel menggeleng kepala dengan tingkah Adiknya, tidak habis fikir dengan fikiran terlalu jauh yang hinggap, di kepala cantik Adik kesayanganya.


"Kemari!" perintah Gavriel, sambil menepuk-nepuk sisi kosong tempat yang ia duduki saat ini.


Selyn beranjak dari duduknya setelah Queene melepaskan rengkuhannya, berjalan beberapa langkah dan duduk segera di samping Mamasnya.


Setelah Selyn duduk di sampingnya, Gavriel dengan segera membawa Sang adik masuk kepelukan hangatnya, yang dibalas erat dari Adiknya.


"Little Princess, listen to me. I'm here, I will always beside you, always and forever. Because of what? Because Mom and you are everything for me. So please, don't make me feel guilty,"


Gavriel bergumam dengan dagu di atas ubun-ubun Sang adik, mengecupnya sayang dan menghirup aroma kesukaannya.


Aroma yang dari dulu hingga sekarang tidak pernah ganti, citrus, aroma khas Mommy dan Adiknya.


Aroma kesukaannya selain aroma hangat Sang Daddy, aroma yang selalu membuatnya nyaman, setiap saat ada di samping keluarganya.


Meskipun Daddynya jarang di rumah, ia masih bisa bertemu dengan Sang Daddy saat mengerjakan laporan, di kantor sehabis ia pulang sekolah.


Eh ... Belum tahu yah, ini alasan El bilang belum bisa cari uang sendiri, sebab Gavriel memang sudah memulai jejak karir seperti Sang Daddy sebagai asisten magang, saat ia menginjak kelas 1 SMP.


Motor pun di belinya pakai uang sendiri, jangan pada bilang mau punya pacar seperti Gavriel yah ... Nyatanya sampai saat ini, ia belum tertarik untuk memiliki hubungan dekat dengan orang, selain Para sahabat dan keluarganya.


Di dalam dekapannya, El mengangguk mengerti saat Sang kakak bilang, jika ia adalah segalanya untuk Sang kakak.


"Yes, I know," balas Selyn bergumam kecil.


Yah ... Ia harap ini hanyalah perasannya saja. Mudah-mudahan kedepannya, baik Kakak, Sepupu dan juga Mbanya, tidak akan mengalami apa yang saat ini ia khawatirkan.


Ezra yang melihat kasih sayang besar sepupunya, untuk adik sepupunya ikut tersenyum.


Ia tahu dengan sangat seperti apa Gavriel menyayangi Adiknya, jadi tidak heran jika El sendiri akan seperti ini saat mengingat fakta, jika kedepannya kehidupan mereka tidak akan sama.


"El!" panggil Ezra, membuat El yang merasa di panggil menoleh ke arahnya, meski hanya wajah tanpa melepas pelukan dari Kakaknya.


"Hum? Apa mas?" balas Selyn memandang Ez bingung.


"El, Mas boleh tanya?" ujar Ezra.


"Boleh, apa Mas?" tanya Selyn penasaran.


"Mas mau bertanya, kenapa waktu itu berjalan maju, bukan mundur?" tanya Ezra dengan serius.


"Eh! Pertanyaannya aneh Mas, dimana-mana waktu berjalan maju Mas, masa waktu berjalan mundur sih! Ada-ada saja," ujar Selyn memandang Ezra dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Nah, ini yang perlu di jelaskan," ujar Ezra santai.


"Maksudnya, apa Mas?" tanya selyn semakin penasaran.


"Di katakan waktu berjalan maju, karena kehidupan juga di lalui bukan dengan waktu berjalan mundur."


Ezra menjeda kalimatnya, melihat ke arah Selyn yang melepas pelukan Gavriel, untuk sepenuhnya menghadap ke arahnya.


Bahkan Queene juga ikut melihatnya dengan ekspresi yang sama, beda dengan Gavriel yang sepertinya sudah mengerti, dengan apa yang akan di jelaskannya.


"Roda berputar, usia bertambah, anak-anak menjadi remaja, remaja menjadi dewasa dan yang dewasa menjadi semakin matang."


Lagi ... Sekali lagi, Ezra menjeda kalimatnya, saat ia di persilakan untuk melanjutkan ucapannya, tanpa di sela sedikit pun.


"Saat anak-anak, mungkin kita akan memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang. But, look around you, kita sudah saatnya melangkah maju, bukan melangkah mundur."


Diam ... Baik Selyn maupun Queene terdiam, saat Ezra yang mereka kenal kelakuannya sebelas dua belas dengan unkle Raka, mengeluarkan kalimat yang hanya muncul di saat-saat tertentu.


Sedikit banyak mereka mengerti, dengan maksud yang sedang disampaikan oleh Ezra, yang saat ini memandang mereka dengan senyum kecil.


"Terkadang ada fikiran egois, untuk selalu bermain dan berkumpul dengan kalian seperti ini. But ... Once more like i said, hidup itu maju ke depan bukan ke belakang. Tidak bermain bersama, bukan berarti kita tidak berteman lagi. Kita sudah tumbuh bersama lima belas tahun, mana mungkin hanya karena jarang bertemu, membuat persahabatan kita renggang. Iya kan, Gav, Queene?"


Ezra menyelesaikan kalimatnya, bertanya kepada dua sahabatnya, dengan senyum miring andalannya, seperti biasa.


"Ezra benar! Belum lagi, baik Mas maupun Ezra sama-sama punya kegiatan di luar sekolah. Mas sih yakin, El akan mengerti, apa yang tadi di sampaikan oleh Mas Ez. Bagaimana, El?" timpal Gavriel, bertanya kepada Sang Adik dengan sorot mata sayang.


"Mas janji, akan selalu El, yang Mas dahulukan. Oke?" Lanjutnya tersenyum hangat.


El mengangguk kecil, tersenyum lebar saat Mamasnya memberikan pelukan sekali lagi, disusul dengan pelukan lainnya, dari dua Kakaknya yang lain.


"Kami sayang El, selamanya seperti itu!" seru ketiganya bersamaan.


Mereka pun satu per satu melepas pelukan mereka, lalu melihat El yang saat ini matanya berkaca-kaca, tapi tidak dengan ekspresi wajahnya, yang berhiaskan senyum lebar.


"Ih! El nangis nih!" seru Selyn.


"Ha-ha-ha!!! Dasar cengeng," ledek Gavriel menuai seruan tidak terima dari Adiknya.


"Bhuu!! El nggak cengeng!"


"Iya-iya, El nggak cengeng. Cuma suka nangis aja!" sahut Ezra meledek.


"Mas Ez!!" seru Selyn tidak terima, wajahnya berubah menjadi di tekuk kesal, membuat tawa dari dua kakaknya menggema di gazebo tempat mereka berkumpul.


"Ha-ha-ha!!"


El semakin cemberut, meskipun hatinya sedikit lega saat melihat tawa dari Kakak kesayanganya.


"Hei!! Kalian berani membuat Adikku nangis, terima ini!" sembur Queene becanda.


"Ampun pereman pasar!"


"Yah ... Siapa yang kalian panggil pereman, heh?"


"KABOR!!"


"Jangan lari kalian!".


Selyn menyaksikannya dengan tawa kecil, namun tidak ikut berpartipasi saat tiga Kakaknya berkejaran.


Ia berharap tiga Kakaknya akan selalu bersama, meski ada tambahan namun tetap tidak membuat ketiganya berbeda.


"El berdoa, semoga kita bisa selalu bersama," gumam El meminta dengan tulus.


Skip


Pagi hari yang cerah, menyambut keluarga Wijaya dengan cepat, tidak terasa liburan berakhir dan artinya kehidupan baru untuk anak sulung keluarga kecil Wijaya muda dimulai.


Di ruang makan sudah duduk Gavriel yang memakai baju hitam-putih lengkap dengan atributnya. Manuai kikikan meledek dari arah samping kiri dan kanannya, sedangkan yang di layanankan kikikan hanya menatap datar dan meneruskan sarapannya.


"Hi-hi! Dadd, apakah Dadd dulu juga seperti itu?" bisik El geli, kepada Sang Daddy yang ikut tersenyum geli.


"Tidak, Dirga Wijaya tidak ikut acara seperti itu," balas Sang Daddy berbohong, membuat El yang mendengarnya memekik takjub akan kehebatan Sang Daddy.


"Benarkah itu Dadd?"


"Ten-


" Tentu saja bohong, honey. Mau Momm perlihatkan fotonya?"


Dirga seketika tersedak saat Sang istri dengan nada meledek, menyela perkataan bohongnya.


"Tuh ... Ciri-ciri orang berbohong adalah tersedak, saat mendengar seseorang membuka aibnya," lanjut Kiara memandang Suaminya dengan alis terangkat sebelah, pose menantang.


"Momm, yang bener yang mana?"


"Tent-


"Sebaiknya kalian cepat berangkat, apalagi Kamu Boy, ini hari pertama Kamu masuk. Jangan telat!" seru Dirga menyela dengan cepat, perkataan Sang istri sebelum semua aibnya di bongkar oleh Sang istri.


Ini ulah Mamanya, yang menunjukan foto sewaktu ia sekolah dan kecil.


"Oke Dadd!" seru Selyn semangat, sedangkan Gav hanya bergumam singkat dan ikut berdiri meninggalkan ruang makan.


"Psst ... Momm, nanti kasih tahu aku yah, rahasia Daddy," bisik Selyn di samping Sang Mommy.

__ADS_1


"Tentu, nanti kita lihat foto sewak-


"Dear, sepertinya malam ini kamu harus lembur, lagi!" seru Dirga memandang istrinya dengan tatapan seram.


"Momm, kenapa Momm lembur, Momm kerja?"


Kiara tidak menjawab hanya melihat anak dan Suaminya bergantian, ia masih memikirkan ucapan ancaman dari Sang suami yang tidak pernah main-main.


"Momm tidak bekerja, tapi Momm membantu Daddy, honey. Sudah yuk, Daddy antar ke sekolah," ujar Dirga tersenyum lembut ke arah Putrinya, yang mengangguk semangat.


"Yups ... Momm, El berangkat sama Daddy. Sampai babai, assalamualaikum!"


"Assalamualaikum, Dear!" bisik Dirga membuat Kiara tersadar dari shoknya.


"Wa'alaikumsalam!"


"Haduh, mati lah aku," gumam Kiara, melihat ke arah depan, di mana ada Putranya yang berjalan lagi ke arahnya.


"Gav pergi Momm, Assalamualaikum!" ujar Gavriel mengecup pipi Sang Mommy.


"Hei! Anak muda, jangan sembarang cium istri saya!"


"Diam saja Pak tua, yang kamu maksud istri anda adalah Mommy saya!"


"Daddy, lebih baik saham yang di Eropa untuk El saja!"


"Ide bagus!"


"Hey! Kalian sekongkol yah!"


Kiara hanya bisa tertawa saat menyaksikan kejadian lucu di depan sana, ia menggeleng dengan tingkah tiga orang kesayanganya.


"Gavrielku sudah remaja, apa itu artinya aku sudah tua?" gumam Kiara pelan, lalu ia memegang kedua sisi wajahnya.


"Sebaiknya aku ke salon, perawatan wajah," Lanjutnya kemudian berjalan memasuki rumahnya, saat ketiganya pergi meninggalkan halaman rumah.


Kediamanan Desmon


Seorang remaja putri dengan surai hitam panjang nampak berdiri di depan cermin, dengan senyum kecilnya, ia menilai penampilannya saat ini.


"Astaga! Ini aneh sekali," Gumamnya dengan kepala menggelang pelan.


Di hadapannya saat ini terpantul rupa darinya, dengan balutan seragam hitam-putih, ia tidak menyangka jika beberapa jam lagi ia akan resmi menjadi murid SMA baru.


"Semoga, dapat teman baru lebih banyak," Lanjutnya dengan semangat.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


"Sayang sudah siap?"


Ketukan dan pintu terbuka dari arah luar kamarnya, membuat ia dengan segera berbalik, melihat ke arah pintu yang terbuka.


"Mah, selamat pagi!" Sapanya ceria saat melihat Sang Mama berdiri di depan pintu, yang terbuka lebar.


"Selamat pagi, sayang! Sudah siap?" balas dan tanya Sang Mama.


"Siap Mah!" Balasnya semangat, dengan kepala mengangguk dan tersenyum manis.


"Papa sudah tunggu di bawah," ujar Sang Mama tersenyum kecil.


"Oke!"


Keduanya pun menuruni tangga, menemui seseorang yang di panggil Papa oleh Sang Mama.


"Sudah siap, sayang?" tanya Sang Papa semangat, tersenyum hangat ke arah Putri cantiknya.


"Siap, Papa!"


"Yuk!"


"Assalamualaikum, Mah!"


"Waalaikumsalam, sayang!"


"Kami berangkat!"


"hati-hati di jalan!"


Brum!


"Semangat hari baru," Batinnya senang


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Siapa kah dia?


Penasaran ...


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2