Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Welcome To Hong Kong!


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Seperti yang kita tahu, jika Gavriel dan dua sahabat serta adiknya, akan menghabiskan satu minggu masa Liburan nya bersama-sama.


Mereka berempat berwisata di negara dengan lambang sebuah bendera, yang menampilkan bunga pohon anggrek hong kong (Bauhinia blakeana) berwarna putih, bercorak, dan berkelopak lima di tengah-tengah bidang berwarna merah.


Negara dengan sebutan negara beton, Hong Kong.


Sebelum memulai perjalanan dan memulai pelesiran di negara ini, ada baiknya kita tahu dulu tentang negara yang akan mereka kunjungi.


Hong Kong adalah sebuah daerah otonomi yang terletak di bagian tenggara Tiongkok di estuari Sungai Mutiara dan Laut Tiongkok Selatan. Hong Kong terkenal dengan perkembangannya yang ekspansif, pelabuhan laut dalam alami, dan kepadatan penduduk yang sangat tinggi.


Dengan masyarakat dominan etnis Tionghoa sejumlah 93%, sisanya adalah etnis kecil lainnya seperti Indonesia, Filipina dan kulit putih lainnya.


Cantonese, bahasa minoritas di China Daratan, digunakan oleh 88% orang di Hong Kong. Meskipun demikian, bahasa China lainnya, seperti Hakka, Taishanese dan Teochiu. Juga ada seperti Mandarin sebagai bahasa resmi China. Yang telah banyak digunakan di Hong Kong sejak penyatuan kembali di tahun 1997.


Hong Kong juga dilayani oleh Bandara Internasional Hong Kong di Chek Lap Kok namun lebih sering dikatakan terletak di Lantau. Bandara ini adalah salah satu pintu masuk penumpang utama dan penghubung logistik besar di Asia, melayani lebih dari 47 juta penumpang dan mengangkut 3,74 juta ton kargo tahun 2007.


Bandara ini menggantikan Bandara Internasional Kai Tak, pada tahun 1998 dan telah memenangkan berbagai penghargaan sebagai bandara terbaik dunia menurut beberapa survei. Lebih dari 85 maskapai beroperasi disini dan sekaligus menjadi pusat, untuk Cathay Pacific Airways, Dragonair, Air Hong Kong, dan Hong Kong Express.


Bandara internasional Hong Kong


Lapangan besar nan luas yang diketahui dan berfungsi sebagai landasan pesawat, negara Hongkong sudah hampir terlihat oleh keempat remaja, yang akan menghabiskan satu minggu liburan mereka.


Dari balik jendela pesawat yang mereka tumpangi, sudah terlihat pulau-pulau kecil tanpa pohon(Pulau kecil di dekat laut Hongkong memang tidak ada pohon), tanda jika mereka sudah hampir sampai di negara tujuan mereka.


Selyn yang duduk bersama sang kakak menatap ke arah luar, mememik senang saat akhirnya mereka hampir sampai di bandara internasional Hong Kong.


"Mas! Lihat, sebentar lagi kita sampai kan?" tanya Selyn kepada kakaknya, yang saat ini sedang menonton film, melalui televisi kecil di hadapannya.


Gavriel, sang kakak menoleh ke arah samping, melihat bagaimana wajah berbinar sang adik dengan senyum kecil.


"Hum ... Tentu saja, kita sudah hampir lima jam terbang di udara. Sebentar lagi kita sampai, El," sahut Gavriel lembut, menjelaskan dengan nada datar seperti biasa, namun sang adik tahu, jika kakaknya juga senang sama sepertinya.


Anggukan dari adiknya adalah yang di terima Gavriel, sebelum sang adik balik melihat lagi arah luar, lalu mengambil handphone untuk memotret pemandangan awan menggumpal dari dalam pesawat.


"He-he ... Buat pasang di instakilo Mas, kan lumayan pamer dengan teman-teman. Bisa liburan dengan Mamas tampan," jelas Selyn saat sang kakak melihatnya, dengan kening berkerut penasaran.


"Kalau begitu, kenapa tidak foto Mas yang di pajang, kenapa malah foto awan di sana?" tanya Gavriel dengan gelengan kepala tidak habis pikir.


"Jiah ... Si Mas, mana rela El berbagi foto dengan mereka. Nanti yang ada foto Mas di ambil, lalu dijadikan story dengan caption 'Nikahi aku bang'. Idih, El nggak sudi yah," dumel Selyn dengan bibir mencebil lucu, menatap foto mereka satu per satu saat akan boarding, di bandara kota S sana.


"Yang ini tandain dulu," lanjutnya bergumam senang, saat melihat foto yang pas dan bagus untuk di posting.


"Dih ... Sampai segitunya, nggak mungkin lah El. Ya kali, kan masih sekolah," tandas Gavriel tidak percaya, menyangkal apa yang di katakan oleh sang adik, yang saat ini melihatnya dengan mata menyipit.


"Mas bengkeng banget, di kasih tahu nggak percaya," timpal Selyn dengan menggebu-gebu, membuat Gavriel kaget akan apa yang baru di ketahuinya.


Salahkan ia sendiri yang memiliki akun instakilo, tapi jarang di pakai untuk memposting masalah pribadi, isinya hanya seputar bisnis dan sekolah.


"Ah! El, kamu serius!" seru Gavriel menatap adiknya dengan ekspresi horor.


Astaga! Kenapa sampai segitunya sih.


"Kenapa perempuan di luar sana sangat mengerikan," batin Gavriel tidak percaya.


Selama ini ia hanya di keliling oleh perempuan biasa, yang bertingkah sewajarnya di hadapannya. Jadi saat mengetahui jika di luar sana dirinya di seperti itukan, ia merasa takut untuk kenal perempuan lain di luar sana.


"Ck ... Mas sih, makanya kalau punya media sosial itu di pantau. Jangan bisnis aja yang di pantau, payah ih. Mas kuper sekali," sembur Selyn menghina sang kakak yang merasa tertohok, saat apa yang dibilang oleh sang adik adalah kenyataan.


"Mas nggak punya waktu, El. Mas sibuk dengan masa depan Mas," sahut Gavriel tidak mau kalah, dengan alasan yang membuat kedua bola mata sang adik berotasi malas.


"Mas masih muda, seharusnya memikirkan kesenangan masa muda dulu. Mas mau seperti Dadd, giliran sudah ketemu cinta sejati lagaknya seperti masih muda mulu. Sampai-sampai liburan pun ingin berdua, seperti pasangan pengantin baru saja," gerutu Selyn sebal, saat mengingat kelakuan bucin sang Daddy terhadap sang Mommy.


Gavriel terkekeh alih-alih marah dengan apa yang diucapkan oleh adiknya. Adiknya orang yang blak-blakan, bukan hanya di belakang tapi di depan juga seperti itu.


Korbannya tentu saja Daddy mereka, yang harus menahan tangannya, agar tidak mencubit pipi tembam sang adik.

__ADS_1


"Is ... Malah ngekek, sumpahin punya pacar orang tionghoa loh. Mau!" seru Selyn sengaja dengan sumpah dari dalam hatinya.


"Dih ... Mentang-mentang kita mau liburan di Hong Kong, laju kamu bilang Mas dapet orang sana," balas Gavriel belum mengerti, maksud dari ucapan sang adik.


Selyn tentu saja gemas, ia menepuk dahinya pelan dan bergumam frustrasi. Membuat Gavriel yang belum mengerti, bertambah bingung dengan gumaman sang adik.


"Elah, nasib punya Mamas gantengnya nggak ketulungngan, tapi sayang otaknya kosong. Heran deh isinya apa sih, masa sama yang gitu aja nggak langsung nyambung."


Gavriel masih melihat adiknya dengan kening berkerut, gagal paham saat dirinya tidak mengerti apa arti ucapan sang adik.


Lah ... Apa yang salah, kan memang mereka sedang ingin holiday di Hong Kong, dengan masyarakat mayoritas etnis tionghoa. Lalu, apa ia salah bilang seperti itu, heum.


"Bisa tidak kalau perempuan ingin menyampaikan sesuatu tidak perlu pakai kode. Kalau kode yang tertera di buku aku akan langsung mengerti. Nah ini, kode perasaan, ck .... Apa sih, maunya perempuan."


Gavriel yang tidak bisa menggerutu di hadapan sang adik, hanya bisa membatin kesal, dengan apa yang selalu menjadi problematikanya.


Kemarin sepupunya bilang ia tidak peka, lantas sekarang sang adik ikut-ikutan pula, lalu ia harus bagaimana.


Sementara pasangan kakak-adik ini sibuk dengan masalahnya, di saat yang bersamaan, di kursi penumpang sebelahnya ada Ezra dan Queene, yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Ezra yang tadi menonton tayangan televisi, berhenti dan menyimpan kembali headphone yang dipakainya. Kemudian menoleh ke arah sahabatnya, yang sedang melihat luar sana, tepatnya pulau dengan perairan laut mengelilinginya.


Puk!


Ezra menepuk pelan bahu sahabatnya, membuat Queene pun menoleh dengan ekspresi bertanya.


"Sudah hampir landing, pastikan lagi barang bawaan kamu?" tanya Ezra mengingatkan.


"Hum ... Tenang saja, Ez," jawab Queene dengan senyum dan ekspresi senang yang kentara.


Akhirnya setelah lima jam perjalanan, ia bisa menginjakkan kakinya lagi di tanah kelahiran kakek dan Maminya.


"Apa di bandara jual kartu perdana?" tanya Ezra khawatir, karena ini adalah kali pertama ia singggah di negara kelahiran Mama dari sahabatnya, ia tidak tahu dengan sistem kartu seluler di sana.


"Ada kok, kamu tenang saja. Nanti aku tunjukin," balas Queeneira dengan senyum menenangkan.


Ezra mengangguk dan menoleh ke arah lain, tepatnya ke arah dua sepupunya, diikuti dengan Queene, yang juga ikut melihat pasangan kakak-adik di sebelahnya.


Ada apa, pikir mereka kompak.


"Gav! Gavriel!" panggil Ezra dengan berbisik, namun cukup terdengar oleh Gavriel yang memiliki pendengaran baik, sehingga Gavriel pun menoleh dengan ekspresi bertanya.


"Ada apa?" tanya Ezra penasaran.


Sudah dibilang, Ezra dan ingin rasa tahunya, jika itu bukan masalah perasaan, ia akan maju terus sampai ia tahu pokok masalahnya.


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Jawaban singkat yang di berikan oleh Gavriel, tidak membuat seorang Ezra puas begitu saja. Ia pun mendengkus, saat sepupunya menutupi apa yang baru saja terjadi.


"Tanya El saja deh," batin Ezra tidak menyerah.


Ezra pun pura-pura mengangguk, menyembunyikan maksudnya.


Pemberitahuan dari awak kabin, tentang pesawat yang akan landing, membuat keempat remaja ini bersiap dengan berbenah diri.


Selyn yang merapihkan syalnya kembali, Gavriel yang memakai jaketnya, Ezra yang memasang topinya, serta Queene yang menggelung rambutnya seperti gumpalan, saat ia merasa repot dengan rambut terurainya.


Mereka juga memakai seat belt, untuk mengurangi efek guncangan akibat pendaratan pesawat. Kemudian melepas lagi, saat pesawat sudah benar-benar mendarat dengan sempurna di landasan.


Karena kelas mereka adalah yang pertama, mereka pun dipersilakan untuk lebih dulu keluar dari dalam pesawat.


Berjalan dengan menjadi dua bagian, mereka menuju bagian pengecekan passport untuk mendapatkan cap imigrasi, lalu mengisi formulir tujuan kedatangan, baru kemudian kebagian bagasi untuk mengambil koper masing-masing.


Luasnya bandara yang mereka singgahi ini, tidak membuat mereka bingung, saat ada satu orang dari empat yang mengetahui letak-letak denah lokasi bandara.


"Kopernya sudah di tangan masing-masing?" tanya Gavriel.


Ia melihat Selyn dan Ezra yang saat ini sudah berdiri dengan koper di tangan, sedangkan Queeneira masih menunggu bagasinya, yang belum juga terlihat.


"Qeu, koper kamu belum kelihatan?" tanya Gavriel, mantap sahabatnya yang menjawabnya dengan gelengan kepala pelan, serta raut wajah khawatir.

__ADS_1


"Pakai tanda tidak, di Kopernya?" lanjut Gavriel bertanya.


"Pakai, aku tandain dengan pita koper warna biru langit. Sama aku gantun- ah! Itu dia."


Penjelasan yang di ucapkan Queeneira, berganti dengan pekikan senang, saat Queene melihat koper miliknya dengan jarak beberapa koper.


Dengan sigap Gavriel memposisikan dirinya di depan dan mengangkat koper milik sahabatnya, untuk diberikan kepada Queene yang menerimanya dengan senyum lebar, senyum yang membuat Gavriel merasa senang.


"Emkoy sai lei, (Terima kasih)" pelan Queene dengan senyum malu di akhir, saat melihat sahabatnya juga tersenyum untuknya.


"Emsai. (Tidak masalah)"


Keduanya tidak tahu jika moment kebersamaan mereka di potret oleh dua orang, yang saat ini sedang cekikan saat melihat tingkah malu salah satunya.


"Mereka manis sekali, nanti kirim ke Momm ah," bisik Selyn kepada Ezra yang hanya mengangguk kepala setuju.


"Posting di instakilo, pasti geger deh," sahut Ezra, menuai delikan mata dari Selyn, yang menatap sepupunya seakan menimbang.


"Boleh juga tuh, sekalian bikin panas rawit, bagaimana?" usul Selyn dengan cengiran lebarnya, membuat Ezra terkekeh dengan tangan mengacak rambut Selyn gemas.


"Pintar! Kasih hastag #beskopelthisyer. Oke nggak tuh?" timpal Ezra setuju dengan alis naik-turun menggoda.


Selanjutnya kekehan seram terdengar dari keduanya, membuat Gavriel dan Queeneira pun melihat mereka dengan alis mengernyit penasaran.


"Mereka nggak sedang kerasukan jin bandara kan?" tanya Queene aneh, menuai tatapan datar dari Gavriel sebelum ganti dengan menarik pipi sahabatnya gemas, membuat Queene terpekik kesakitan.


"Aww!! Gavriel, sakit!"


"Suruh siapa ngawur, mana ada hal yang seperti itu."


"Tapi kan bisa saja, lihat mereka tertawa tanpa sebab!"


"Alasan," sahut Gavriel tidak perduli, ia tetap menarik pipi tembam milik sahabatnya, mendengar dengan hati aneh saat sahabatnya merengek manja dengannya.


Rengekan yang baru ini ia rasa berbeda, dengan rengekan manja sahabat yang lalu.


Entah kenapa, rengekan manja dari Queeneira menciptakan degupan lain di dalam dadanya, bunyi yang berbeda saat jantungnya sendiri sedang berdetak.


"Gavriel, lepas," pinta Queene, namun tiba-tiba ia berhenti merengek saat melihat sahabatnya, yang menatapnya dengan berbeda.


"Kenapa kamu memandang aku seperti itu," batin Queeneira salah tingkah.


"Mas! Sudah dapat kopernya?"


Kegiatan saling memandang mereka terpaksa harus berhenti, saat suara interupsi dari Selyn terdengar, sengaja, saat keduanya sedang dalam keadaan aneh. Diam dan saling melihat tanpa kata, membuatnya lebih baik mengganggu dari pada ada kejadian canggung setelahnya.


"Ah! Sorry!" seru Gavriel kaget, melepas jari tangannya, yang tadi menarik pipi sahabatnya gemas.


Queeneira menggelengkan kepala, melihat kesegala arah dan berdehem untuk menghilangkan canggung.


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita melanjutkan perjalanan. Aku rasa kakek aku, sudah nunggu kita di gate arrival," balas Queene berusaha untuk biasa.


Gavriel mengangguk dan mereka pun berjalan bersama, menghampiri Selyn dan Ezra dengan Gavriel, yang mengambil alih koper milik sang adik.


Kejadian ini sebenarnya bukan hanya di saksikan oleh Selyn dan Ezra. Tapi ada dua pasang mata, yang melihat mereka dengan dua ekspresi berbeda.


Jika yang satu merasa cemburu dengan kedekatan sepasang sahabat tersebut. Maka yang satunya ikut tersenyum, saat tidak menemukan binar sedih lagi, di raut wajah salah satu orang, dari pasangan sahabat tersebut.


"Gavriel."


"Yeah ... Akhirnya, dia bisa senyum lagi."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Terima kasih kak atas bantuannya dan dukungannya.


Sampai babai.

__ADS_1


Visual untuk referensi nyusul yah, 🤣.


__ADS_2