
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Sebelumnya..
Dirga berada di luar tak jauh dari pabrik kosong tempat di mana kiara di sekap.
Di depannya saat ini ada anak buah santoso berjumlah 10 orang dan anak buah nya sendiri 5 orang menunggu perintah darinya.
" sudah siap semua?" tanya dirga tegas memandang satu per satu bawahannya yang mengganguk tegas
" Siap tuan" jawab mereka kompak dan tegas
Brummm Brummm ckittt...
Tidak lama terdengar 2 mobil dari milik raka dan budi yang menyusul mereka di lokasi.
Dirga sengaja tidak mengikut sertakan keluarganya, ia memerintahkan dengan tegas untuk menunggu dan menyambut mereka pulang saja.
" Gimana?" tanya dirga saat melihat raka berlari menuju tempatnya berada
" Sayang banget 5 orang di rekaman udah dulu mati ga, jadi nggak ada yang tahu" balas raka menyesal
" Sepertinya orang yang menyuruh 5 orang ini tahu akibatnya kalau sampai mereka ketahuan ikut dalam penculikan kiara" lanjut raka menjelaskan.
Raka mengerti gimana keras nya dunia hitam, lebih baik di singkirkan sebelum ketahuan, dan terbukti saat ia mendatangi salah satu kelompok geng mafia dan memberitahu maksud kedatangannya seketika itu juga 5 orang berbadan kekar sudah dalam keadaan terbujur kaku di laporan yang ia terima.
" licik banget ni orang" batin raka takjub
" Sialan..."
" Oke... Kita mulai, pastikan belakang samping kiri kanan dalam penjagaan biar target nggak bisa melarikan diri. Apa semua paham?". Ujar dirga menjelaskan rencananya.
" Paham tuan"
" Menyebar sekarang" ujar dirga dan mereka pun mulai di posisi
" kiara tunggu gue" gumam dirga lirih
Dirga menyergap nya dari depan langsung di ikuti raka dan budi, sedangkan faro dan dani menjaga dari samping ikut berjaga dengan anak buah santoso.
Pada saat dirga ada di depan pintu, dirga mendengar suara jeritan sakit dari suara yang sangat di hafal nya...
Deg..
" kiara"
Brakkk... Brakkk...
Dirga yang sudah di kuasai amarah saat mendengar jeritan sakit istri nya segera dengan tanpa permisi mendobrak pintu besi yang sudah mulai berkarat hingga lepas dan terbuka, menampilkan dua orang wanita dengan keadaan berbeda.
1 wanita yang memandang nya terkejut dan 1 wanita lainya memandang ia lega dengan keadaan mengenaskan.
Ada noda lebam di pipi dan sudut bibir nya berdarah, serta lengan nya dengan darah mengucur serta lantai dengan noda merah menggenang.
" Di...Dir.. Dirga..." faya memandang takut saat melihat ekspresi mengerikan yang di tampilkan dirga.
Matanya yang selalu melihat nya tajam semakin tajam, tangan nya yang mengepal emosi.
Lalu kesamping nya di mana ada budi yang berekspresi tidak jauh dari dirga, meski lebih menakutkan pandangan tajam milik dirga.
" cewek ja***g, Berani lu..."
" Jangan bergerak.... Atau pisau ini menancap di leher istri lu saat ini juga" sela faya saat melihat dirga berjalan ke arah nya dengan hawa menakutkan, ia segera kebelakang kiara dengan pisau menempel di kulit leher kiara.
Dirga berhenti takut dengan ancaman yang lagi lagi membuat nya mengingat kejadian sebelum mereka menikah sewaktu di mall.
Padahal ia berjanji untuk menjaga keamanan kiara namun nyata nya ia kecolongan lagi bahkan lebih parah.
" Lu bergerak selangkah aja, gue pastiin leher nya putus sekarang juga" ancam faya menekan lebih dalam ke arah leher kiara pisau belati yang ia pegang dengan tangan gemetar
" sialan bagaimana bisa mereka dengan cepat menemukan gue" batin faya takut
" faya lu gila ya, kiara nggak bersalah kenapa lu tega gitu" ujar raka, saat melihat adegan mengerikan di depan nya.
Raka melihat dirga yang terdiam kaku, namun ia juga melihat pergerakan tangan dirga di samping tubuh nya memberi kode untuk anak buah nya yang sedang mengamati dari pintu samping.
Raka sedang mengalihkan perhatian faya yang merespon nya dengan kekehan setannya.
" khi.. Khi.. Khi... Nggak salah lu bilang? Cewek yang dekat dengan dirga itu selalu salah apalagi istrinya, karena hanya gue seorang yang boleh ada di samping dirga" ujar faya sinis setelah kekehan setannya berhenti.
" faya kamu cari mati" ujar budi tiba-tiba dengan suara emosinya.
" Ada di samping bapak bangkot kayak lu emang udah buat gue mati, lu kira gue sudi setiap saat jadi piiiipp lu heh" balas faya tidak takut saat melihat budi yang kepala nya sudah berasap
" Hidup gue hancur waktu lu putusin gue dirga, keluarga gue jual gue ke lelaki bangkot piiiiip seperti dia, masa depan gue nggak ada. Hidup di belenggu dengan rantai tak kasat mata, kurang mati apa lagi gue hah, jawab bang**t?" seru faya emosi mengacung jari ke semua orang yang melihat nya dengan beragam ekspresi.
Kiara yang mendengarnya ikut sedih, ia juga baru tahu jika faya mengalami kehidupan yang menyedihkan seperti itu .
" uugggh.... " kiara semakin meringis sakit di area perut bawah nya di ikuti darah segar yang bertambah deras yang mengalir di paha hingga menggenang di lantai yang sudah ada genangan darah miliknya.
Dirga melihat nya dengan jelas bagaimana kiara kesakitan dengan darah keluar dari balik baju terusan yang di pakai kiara, baju terusan berwarna soft pink itu sudah berubah warna menjadi merah di bagian bawah.
Deg...
__ADS_1
" tidak...."
Dirga memiliki firasat buruk saat melihat genangan darah tersebut, hatinya merasa sakit seperti ribuan belati menikamnya.
Di saat faya lengah karena bercerita kehidupan pahit nya dengan airmata mengalir di kedua mata nya, saat itulah dirga mengangguk kepada anak buahnya yang sudah bersiap untuk penyergapan.
Dan dengan selesainya anggukan dari kepala dirga, sebuah timah panas meluncur di ikuti suara letusan memekakan telinga bersarang di tangan faya hingga menjerit sakit dan jatuh tersungkur.
**Dor
Arggghh.. Brugh**..
Dirga yang melihat ada kesempatan segera berlari dan menendang belati beserta faya sehingga terpental cukup jauh.
Kemudian segera membuka ikatan tali di tangan dan kaki kiara yang sudah dalam keadaan setengah sadar...
" Sayang.. Sayang... Bangun sayang" seru dirga panik saat melihat kiara yang tidak membuka mata nya lagi setelah ia melepaskan tali dan jatuh di pelukannya.
" kiara... Kiara... Kiara.. Hei... Bangun sayang"
" Ga... Kiara pingsan, sebaiknya cepet di bawa ke rumah sakit" seru faro panik saat melihat dirga yang menepuk nepuk pipi kiara dengan raut wajah pucat
" Iya ga... Kita yang urus di sini, lu cepet ke rumah sakit. Dani lu ikut dirga" timpal raka ikut panik namun masih bisa mengontrol nya.
Ia memerintahkan dani yang langsung di iyakan oleh dani.
" oke" balas dirga singkat kemudian dalam satu kali hentak kiara sudah ada di gendongan depan dan segera berlari secepatnyanya, di ikuti dani yang langsung ambil posisi mengemudi sedangkan dirga di belakang dengan kiara di pangkuannya
Dirga merasa celana nya basah dengan bau amis yang tercium di hidungnya
" dani cepat dani... Darah nya tambah banyak" seru dirga panik membentak dani yang segera Mengendarai mobil miliknya dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil.
Mansion wijaya
Sementara di ruang tamu mansion wijaya, sudah ada sarah yang Siuman dari pingsannya, sedang ada di pelukan fandi yang terus menenangkan sarah yang terisak sedih saat mengetahui putri kesayanganya belum di temukan.
Sedangkan putri meski tidak menangis tapi jika di lihat dari raut wajahnya maka akan terlihat wajah khawatir yang kentara.
Ia duduk di sofa dengan kakek bagus serta kakek bakrie dan hendri sendiri sedang mondar mandir menunggu dengan perasaan gelisah.
Terhitung sudah 3 jam dari kepergian dirga tapi belum ada kabar juga.
Drt... Drt... Drt...
Handphone milik kakek bakrie bergetar dengan nama dirga tertera
" dirga" ujar kakek bakrie membuat semua yang di sana melihat ke arah nya dengan beragam pandangan.
Bakrie menerima dan menekan tombol loudspeaker
Klik
" Haloo..."
Perkataan dari dirga membuat mereka semua bernafas lega dan mengucap syukur
" Syukurlah, lalu kalian di mana?"
" Rumah sakit pinggiran kota S"
" Kami akan segera kesana"
" Baik kek.."
Tut
" sebaiknya kita segera berangkat ke rumah sakit, dirga pasti butuh dukungan kita semua"
Ujar kakek bakrie setelah memutuskan sepihak panggilan dari dirga.
Rumah sakit x pinggir kota S
Dirga terduduk lemas di kursi tunggu setelah selesai menghubungi keluarganya memberi informasi tentang kiara.
Di koridor ada faro dan raka yang berlarian cepat di koridor rumah sakit menghampiri dirga yang terduduk lemas, sehingga mendapat teguran dari perawat di sepanjang jalan tapi di abaikan.
" hoshh.. Hoshhh.. Hos.. Gimana ga" tanya raka singkat dengan nafas memburu nya, ia dan faro baru selesai mengurus faya yang di ambil langsung oleh budi untuk tindakan selanjutnya dan mereka berdua lebih baik menyerahkan kepada budi agar tidak ikut kotor, karena budi sendiri sudah menjanjikan hal yang menyeramkan tanpa mereka Ingin tahu.
Mendengar janji saja sudah seram apalagi menyaksikan sendiri waktu penyiksaan.
" kali ini itu cewek bener bener mampus" batin raka nggak perduli
" Gue kehilangan sesuatu yang gue sendiri belum tahu ka" balas dirga lirih airmata nya sudah menggenang saat mengingat lagi perkataan dokter yang memeriksa istrinya saat tiba di ruang UGD
Sebelumnya
" Dokter... Dokter.."
Dirga berteriak hoboh kepada perawat yang dengan sigap membawa berangkar untuk meletakkan tubuh pingsan kiara.
" Tolong istri saya dokter, cepat dokter" seru dirga panik saat melihat seorang dokter lelaki meletakkan stetoskop di dada dan membuka kelopak mata kiara yang tertutup.
" Maaf tuan anda mundur sebentar dan tolong tenang agar dokter segera melakukan tindakan pertolongan" ujar perawat perempuan menghadang nya yang akan mendekati berangkar di mana ada dokter yang sedang memeriksa kiara.
" Tapi.."
" Bos, tenang bos. Mereka sedang melakukan pertolongan pertama, kalau bos panik semuanya kacau" ujar dani dengan tangan memegang erat lengan dirga yang akan maju kedepan.
" Tapi dani isrti gue gimana?" tanya dirga masih panik melihat dani yang sedang memegang lengan nya mencegah ia memberontak
__ADS_1
" Tenang ga... Lu nggak membantu apa apa kalau emosi. Gue harap lu percaya sama dokter yang lebih tahu" balas dani mode friend.
Dirga akhirnya bisa tenang memperhatikan dokter yang sedang memeriksa ini dan itu pada seluruh bagian tubuh kiara.
" suster siapkan ruang operasi" seru dokter kepada perawat yang segera di laksanakan.
" Baik dok"
Dokter itu pun menghampiri dirga yang melihat nya nanar saat mendengar kata ruang operasi
Deg.. Deg.
" Dokter kenapa sampai di operasi?" tanya dirga dengan raut wajah pucat
" Kita bicarakan di ruangan sebelum melakukan prosedur tindakan" balas dokter itu lalu mengajak dirga dan dani untuk masuk ke ruangannya berada.
Dirga duduk berhadapan dengan dokter yang menjelaskan masalah sehingga harus di lakukan tindakan operasi
" Isrti anda seperti nya menghirup zat berbahaya dan juga mengalami benturan pada area perut dan pinggangnya sehingga ada pendarahan yang menyebabkan keguguran pada janin istri anda, jika tidak segera di keluarkan akan sangat bahaya bagi keselamatan istri anda karena ada pembekuan juga di dalam nya "
" Apa? Janin... Maksud dokter istri saya sedang hamil? " tanya dirga shock, jadi darah yang ia rasakan di dalam mobil itu berasal dari janin kiara yang keguguran
" ya tuhan.. Tidak mungkin "
" Nggak mungkin dok, anak saya nggak mungkin meninggal. Dokter pasti bercanda,dokter katakan ini hanya bercanda " seru dirga emosi saat mengetahui kabar buruk dari dokter.
Janin yang bahkan belum ia tahu sudah harus di ambil lagi, entah kiara tahu atau tidak yang pasti kiara pasti akan sangat terpukul.
" Saya tidak bercanda, jika tidak segera di operasi nyawa istri anda dalam bahaya.
Sekarang keputusan ada di tangan bapak, tanda tangani surat pernyataan ini atau tidak semua ada di tangan bapak" balas dokter tersebut dengan tenang lalu menyodorkan selembar kertas pernyataan setuju untuk operasi pengangkatan janin.
" Sudah berapa usia nya dokter?" tanya dirga dengan suara tercekatnya
" Menurut hasil USG sekitar 5 minggu" balas dokter singkat.
Deg..
" ya tuhan.."
Dirga memegang kertas dengan tangan gemetar karena tidak punya pilihan menyangkut nyawa istrinya , sementara dani tidak bisa berkata.
Ia ikut merasakan bagaimana perasaan yang di rasakan dirga yang menandatangani surat itu dengan tangan gemetar.
" Baik.. Karena surat sudah di tanda tangani maka kami akan melakukan tindakan operasi.
Silahkan anda mengurus administrasi sebelum di mulai" seru dokter itu tegas setelah dirga menyerahkan surat pernyataan bertanda tangan kepadanya.
Kemudian mempersilahkan dirga dan dani keluar sedangkan ia sendiri bersiap siap ke ruang operasi.
Saat ini
" apa Maksudnya ga?" tanya faro tidak mengerti
" Gue yang tanda tangan pernyataan operasi, gue yang ngizinin calon anak gue di ambil.
Gue gue.... Arghn.. Hiks" dirga tidak bisa melanjutka perkataan nya saat mengingat jika ia sudah kehilangan calon anaknya.
Faro dan raka terdiam dengan perasaan campur aduk, melihat dirga yang rapuh saat menceritakan keadaan kiara.
" ya tuhan sampai seperti ini" gumam raka tidak habis fikir.
Faro sendiri langsung duduk dan memeluk bahu dirga yang berguncang.
Ia ikut sedih dan membayangkan baagaimana jika ia yang ada di posisi dirga saat ini, dirga bahkan belum tahu keberadaan calon anaknya dan sekalinya tahu juga sudah harus berpisah.
" Lu harus kuat ga, demi kiara... Kalau lu lemah gimana sama kiara?" bisik faro bijak membuat dirga mengangguk membenarkan perkataan faro
" Sabar ga , kita ada di samping lu " ujar raka ikut menepuk bahu dirga sebagai dukungan semangat.
" thanks" gumam dirga lirih
" dirga..."
Seruan seseorang memanggil namanya membuat dirga mengangkat wajah nya dan ternyata mama nya yang berlari di susul oleh anggota keluarga nya yang lain..
" mama...."
Grep..
Dirga langsung menghambur di pelukan sang mama dan menangis tanpa tahu malu.
Ia tidak perduli dengan semua yang menyaksikan adi sekitarnya.
" hiks... Mama.. Mama... Dirga gagal mah, dirga gagal menjaga kiara dan calon anak dirga mah "
" apa..."
Brugh...
" sarah"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah nya...
Jangan lupa loh tinggalkan jejak komentar dn klik jempol nya serta vote dukunganya
__ADS_1
Sampai babai
Terimakasih