
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Hotel Luxury, Cendrawasih Ballroom.
Ruangan besar biasa tempat event berlangsung saat ini sudah ramai, karena sedang melangsungkan acara perayaan ulang tahun Gavriel anak pasangan Dirga dan Kiara yang pertama kali.
Dekorasi dengan balon biru, serta meja dan kursi yang di tata rapih sudah di penuhi oleh tamu undangan.
Tuan rumah Si penyelenggara pesta adalah orang yang suka mengabadikan moment dengan sebuah foto, maka itu pihak Event Organizer di minta juga untuk menyediakan proyektor, dengan menampilkan foto pertumbuhan Gav dan kebersamaan keluarga di dalamnya.
Suasana yang tadi sempat mencekam karena pemberitahuan hak kepemilikan saham, sekarang berangsur gembira lagi. Pembawa acara memandu dengan ceria, sehingga acara pun dapat terlaksana dengan lancar dan melupakan yang sudah lalu.
Saat ini di meja keluarga Si penyelenggara pesta, sedang terjadi pembahasan tentang kejadian beberapa saat yang lalu.
Kiara yang masih kaget dan tidak mengerti menarik lengan jas Suaminya pelan.
"Ada apa?" tanya Dirga.
"Jelaskan kenapa dan kapan Kamu bisa jalan," ujar Kiara tidak sabar.
"Duduk dulu, nanti Aku jelaskan pelan-pelan. Oke?" balas Dirga lembut.
Kiara mengangguk dan mengikuti Suaminya, yang menuntun Ia untuk duduk di sampingnya.
"Jadi pertanyaan mana dulu yang mau Aku jawab?" tanya Dirga pelan. Ia menatap Kiara dengan senyum kecil, tahu akan keadaan Sang Istri kaget luar biasa.
"Kapan Kamu bisa berjalan?" "tanya Kiara cepat. Ia menatap Suaminya dengan pandangan menuntut, sedikit kecewa saat Suaminya tidak segera memberitahunya.
Dirga mengangguk dan mengusap rambut terurai milik Istrinya lembut, lalu tersenyum dan menjawab dengan santai.
"Jawabannya adalah belum lama ini, tepatnya saat Kamu bermain dengan Gav dan Aku sendiri di kamar mandi, Kamu ingat kan siang itu Dani datang ke rumah dan Aku bawa Dia ke kantor?" jelas dan tanya Dirga.
Kiara mencoba mengingat saat Dirga meminta untuk mandi sendiri,lalu Ia menemani Gav yang belajar berjalan.
Setelah mengingat Ia pun mengangguk pelan.
"Iya ... Aku ingat, lalu bagaimana bisa Kamu tidak memberi tahu Aku?" balas Kiara tetap belum puas.
Dirga menghadap sepenuhnya ke arah Kiara, lalu menggengang tangan Kiara lembut.
"Saat itu ...
Flasback on
Dirga pov on
Saat ini Gue sedang berada di kamar mandi, berdiri dengan bantuan kruk dan melihat pantulan diri Gue sendiri di cermin.
Di sana di pantulan cermin ada Gue melihat raut wajah Gue sendiri dengan berbeda, Gue menatap tidak percaya ke arah sesuatu, yang membuat Gue merasa campur aduk seketika.
"Tidak mungkin," gumam Gue pelan.
Sekali lagi Gue melihat ke arah kruk dan melepasnya perlahan.
"Jadi ini alasannya, kenapa setiap ada masalah dengan Gue. Pihak sana senang dan bertindak dengan semangat ingin menyingkirkan Gue,"
Ketika kruk yang Gue lepas jatuh begitu saja, Gue bisa merasakan kedua kaki Gue bergetar, tapi Gue harus bisa tahan.
"Bos, banyak pemilik saham yang mempertanyakan kesembuhan Bos, mereka tidak ingin memiliki pemimpin yang cacat dan juga terlibat dalam skandal,"
Itu adalah sepenggal kalimat yang masih Gue ingat, saat asisten kepercayaan Gue melaporkan kejadian di perusahaan.
Bisnis Gue dan perusahaan keluarga sama sekali tidak ada sangkut paut, perusahaan keluarga masih di pegang oleh Papa dan Gue pribadi punya sendiri.
Itulah kenapa Gue masih memakai sistem kepemilikan saham, karena bisnis yang Gue bangun menggunakan Investor yang menanamkan modalnya di perusahaan Gue.
"Kalau gitu Kita lihat, sejauh mana kalian bisa menunjukan taring,"
"Beli semua saham yang kecil atas nama rahasia dan pastikan orang yang melawan masih ada di barisan Direksi, Gue mau lihat apa masih bisa mereka melawan setelah melihat persentase kepemilikan atas nama rahasia yang adalah Gavriel Wijaya, dengan persentase yang lebih tinggi di banding mereka,"
Yah ... Gue sudah memutuskan, jika Gavriel atau juga Anak Gue lah yang akan menjadi pembeli saham rahasia ini.
Jadi saat nanti meeting dan mereka protes, mereka akan bungkam tanpa di suruh dan di paksa.
"Setidaknya harus empat puluh tiga persen, di tambah punya Gue dua puluh satu persen. Dengan begitu Gavriel punya enam puluh empat persen saham," gumam Gue berfikir keras.
Gue pun melangkah kan kaki Gue ke bawah shower dan mulai membersihkan diri.
"Kalian mau pemimpin yang tidak cacat kan? Lihat Dirga Wijaya sudah kembali dan Gavriel Wijaya adalah kuncinya," gumam Gue teredam dengan suara air shower yang berjatuhan.
Dirga pov end
Flasback end
Kiara mendengar dengan seksama penjelasan dari Suaminya, yang menceritakan sekaligus tentang kapan dan mengapa ada acara yang tidak Ia ketahui tadi.
Ia tidak percaya jika Suaminya bekerja dengan ekstra keras, untuk menghadapi orang-orang tipe penjilat.
"Apa ini yang di maksud Dirga dulu, Ia mencari teman dan pasangan yang tulus dengannya?" batin Kiara mengingat saat pertemuan mereka dulu.
Tidak heran jika Suaminya memasang pertahanan tembok sekeras baja, untuk menghadapi dunia yang sungguh penuh intrik.
__ADS_1
"Aku baru tahu, jika tidak mudah menjadi seperti Suamiku. Ketenangannya membuatku kagum, padahal di belakangnya banyak orang yang siap mendorong Dia jatuh ke jurang," Lanjutnya masih dalam batin.
Puk! Puk! Puk!
"Tidak usah di fikirkan, ini salah satu alasan Aku tidak ingin membuat Gav terjun terlalu dini di dunia bisnis. Saat Aku terjun di dunia bisnis umur tujuh tahun dulu, Aku sempat berfikir kenapa kehidupan orang dewasa begitu rumit, tapi Kakek dan Papa membimbing Aku, sehingga Aku mencintai dunia bisnis tanpa ada paksaan. Seakan bisnis adalah passion Aku dan sehari tanpa melihat deretan angka persen maka Aku akan sakit, lucu kan? Jadi Aku tidak heran, jika suatu saat nanti Gav akan menunjukan sifat ini ketika sudah mengenal angka," ujar Dirga panjang lebar. Ia menjelaskan dengan pelan kehidupan kecilnya, yang jauh dari kata bahagia saat kecil.
Di saat anak seusainya bermain mobil-mobilan, Ia malah bermain dengan persenan laba di perusahaan, tapi biarlah toh Ia mencintai dunia bisnis. Sehingga dari awal kemunculannya hingga sekarang, Ia di kenal sebagai Si arogan ambisius dalam bidang apapun.
Kiara mengangguk mengerti, meski Ia pernah tahu jika Suaminya terjun di bisnis di usia anak-anak, tapi Ia tetap kagum saat mendengar ulang kenyataan ini langsung dari orangnya.
"Aku bangga dengan Kamu, Aku juga senang akhirnya Kamu bisa berjalan normal lagi. Meski sedikit kesal Kamu tidak memberi tahu Aku dulu, tapi Aku mengerti Kamu hanya ingin melihat lawan Kamu bergetar takut secara mendadak kan?" ujar Kiara bertanya dengan tepat sasaran.
Dirga terkekeh mendengar ucapan benar dari istrinya, lalu Ia menepuk telapak tangan yang ada di dalam genggamannya.
"Kejutan yang sungguh mengejutkan, kan? Aku puas melihatnya," balas Dirga santai.
"Sudah, bagaimana kalau Kita nikmati pesta ini dengan suasana bahagia?" ujar Putri semangat mencairkan suasana kaku di mejanya saat ini.
Mereka semua mengangguk membenarkan perkataan dari Putri, lalu tersenyum mencoba melupakan hal yang sudah lalu.
"Benar ... Ini adalah pesta Anak Kita, sudah seharusnya di isi dengan kebahagiaan. Bukan kah begitu, sayang?" ujar Dirga menatap Kiara lembut.
"Tentu!" balas Kiara berseru senang.
Tepat saat mereka mengakhiri acara serius membahas penjelasan pertanyaan dari Kiara, pembawa acara menyebutkan acara potong kue dengan memanggil Ia dan Suaminya untuk naik ke podium.
"Sudah waktunya potong kue!" seru Kiara semangat.
Dirga mengangguk lalu mengambil alih Gav ke dalam gendongannya dan berjalan menuju podium, bersama keluarga besarnya.
Kue ulang tahun dengan karakter Dragon Ballz tingkat dua, bola emas kecil sebagai pemanis, serta lilin kecil dalam keadaan hidup mengelilingi kue dengan jarak rapat.
Gav yang antusias bertepuk tangan heboh, dengan cengirannya yang semakin lebar.
Semua yang menyaksikan terkekeh, bahagia saat melihat Anak, Cucu, Cicit dan sahabat mereka ceria seperti itu.
Si pembawa acara memimpin nyanyian khas ulang tahun dengan semangat, yang di ikuti oleh tamu undangan tidak kalah semangat dan antusias.
Happy birthday to you 🎶
Happy birthday to you 🎶
Happy birthday, happy birthday, Happy birthday to you 🎶
Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga🎶
Di bantu oleh kedua orang tua dan Kakek serta Buyutnya, Gavriel yang antusias mengikuti gerakan dari keluarganya, ketika lilin padam, tepuk tangan terdengar riuh memenuhi Ballroom tempat mereka saat ini.
"Happy first years birth day, my son," bisik Dirga mencium pipi gembul sebelah kanan Anaknya sayang.
"Selamat ulang tahun yang pertama, sayangku!" seru Kiara semangat ikut mencium pipi sebelah kiri Anaknya sayang.
Cekrek!
Foto di setiap moment tidak luput dari kamera wartawan dan dokumentasi, mereka pun melihat ke arah depan dengan senyum mengembang.
"Selamat ulang tahun, Cucuku yang tampan!" seru Sarah ceria.
Ia mengambil alih Gavriel kedalam gendongannya, lalu mencium pipi Cucunya sayang, di ikuti oleh Suaminya atau Fandi Kakek dari Gavriel.
"Selamat ulang tahun, jagoan!"
"Hi-hi, un met un!"
Pasangan Eyang dan dua Buyut yang melihatnya tertawa kecil, menyaksikan bagaimana menggemaskannya keturunan dari Anak dan cucu Mereka saat ini.
"Selalu bahagia, Gavriel Wijaya. Kelak Kamu adalah penguasa di kerajaan bisnis berikutnya," bisik Bakrie yang hanya bisa di dengarnya sendiri.
Dengan senyum khasnya, Ia akui dulu Ia adalah Kakek yang jahat, membiarkan kelebihan Cucunya untuk kepentingan perusahaan. Tapi saat ini di depannya ada Sang Cicit yang tersenyum polos ke arahnya, dengan dua tangan mungil terulur ke arahnya.
"Yut!"
Bakrie tertawa kecil, lalu menerima uluran tangan Cicitnya dan membawa segera ke dalam gendongannya.
"Cicit Uyut yang paling pintar, tahu saja Uyut mau peluk Gavriel," gumam Bakrie mengecup ubun-ubun Cicitnya sayang.
"Hi-hi!"
Acara pemotongan kue selesai, para undangan satu per satu mendatangi mereka memberi selamat.
Untuk sejenak Dirga melupakan siapa lawan atau rival di acara ini, biarlah sekali lagi Ia melepas topengnya untuk menunjukan, jika Ia sangat bahagia saat ini.
Di antara tamu undangan, sahabat dan kenalan juga mendatanginya, memberi selamat dengan wajah bahagia.
Ia juga mengundang rekan kerjanya Baruna yang datang dengan Sheryl, Ia juga melihat ada Reynand yang datang sendiri ikut bergabung dengan sahabatnya di meja sana.
Sampai sekarang Ia bingung sebenarnya ada apa dengan dua saudara itu, juga dengan wanita bernama Sheryl.
"Yo ... Sudah sembuh saja, Gue kira selamanya bakal berjalan dengan tiga kaki!" seru Raka dengan nada kurang ajar.
"Mau Gue sleding kepala Lu?" balas Dirga pura-pura kesal.
"Takut," balas Raka main-main antara takut dan ingin mengejeknya.
__ADS_1
"Bangke ... Untung lagi hari bahagia Gue," balas Dirga menuai kekehan dari sahabat lainnya yang ada di meja.
"Woy Rey, sendiri aja?" tanya Dirga kepada Reynand yang ikut terkekeh.
"Iya ... Ceweknya lagi di pinjem orang," balas Reynand sekenanya.
"Lu kira barang di pinjem, nih makan!" sahut Faro menampol main-main bahu Reynand yang mendengus kecil.
"Menel pegang-pegang," balas Reynand berkelakar, membuat suasana meja menjadi semakin santai.
"Oke Guys, Gue harus nemenin Kiara dan Gavriel dulu. Enjoy yah di pesta sederhana ini!" seru Dirga merendah. Kemudian Ia pergi berjalan menghampiri Kiara, tapi sayang Dani memberi tahunya agar menghampiri wartawan untuk beberapa pertanyaan.
"Ada beberapa yang harus di umumkan, di pinggir sana sudah pada nunggu tuh, ngerti kan Ga?"
"Oke," balas Dirga mengerti dan berjalan ke arah para wartawan berkumpul.
Pada saat Dirga sedang menjawab pertanyaan dari wartawan, suara seseorang memanggilnya dari belakang.
"Sayang!"
Merasa mengenali panggilan mesra dari Ratu di hatinya, Ia pun menengok dan menemukan Istrinya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Apakah sudah selesai? Masih banyak yang harus Kita sapa," ujar Kiara saat sudah sampai di dekat Suaminya.
"Sudah, Kita bisa pergi!" seru Dirga lembut.
Ia menghadap lagi ke arah wartawan, mengakhiri sesi tanya jawab seputar perusahaan dan rencana tentang penerus perusahaan.
"Sampai sini dulu, silakan di nikmati pestanya. Terima kasih dan permisi!" ujar Dirga lalu meninggalkan tempat wartawan, menuju meja di mana ada teman dari Kiara yang ternyata adalah teman bisnisnya juga.
"Kamu kenal yang lelaki?" tanya Dirga penasaran. Ia tidak tahu jika Istrinya juga kenal dengan rekan bisnisnya.
Mereka jalan berdampingan menuju Tamu, yang sepertinya baru datang dan berdiri dengan seorang putra di dekat keluarganya, sepertinya Kakek dan Papanya sedang membahas sesuatu dengan Tamu tersebut.
"Sama yang perempuan, kalau yang lelaki tidak tahu sayang," balas Kiara mengangkat bahu acuh.
"Yo .... Geonandes, apa kabar?" sapa Dirga saat sudah sampai di dekat Tamu yang di panggil Geonandes tersebut.
"Yo ... Kabar baik, Sorry kemarin nggak sem-
"Santai, Gue tahu Lu sibuk," sela Dirga cepat.
"Oh ... Iya, kenalin ini istri Gue. Namanya Abigail dan ini Anak Gue Jayden Geonandes," ujar Nicholass.
"Kita sudah kenal, iya kan Dirga, Kiara?" sahut Abi dengan senyum kecil.
"Iya Kita sudah kenal kok," balas Kiara dengan senyum kecil.
"Jayden sudah besar, berarti sudah lama yah!" lanjut Kiara, Ia mengusap kepala Jayden yang tersenyum malu.
"Iya Aunty,"
Obrolan basi-basi pun berlalu begitu saja, percakapan meraka terpaksa berhenti saat mereka mendengar suara seseorang dari atas panggung, yang memanggil nama Dirga dengan tanpa dosa.
Dirga dengan segera menghadap ke arah panggung dan menemukan jika Raka sedang cengengesan, serta Faro yang mengulurkan tangan ke arahnya.
"kepada Tuan Dirga, di mohon untuk menyanyi untuk menghibur kita semua, apa kalian setuju?"
"Setuju!" koar Tamu undangan serempak.
Dan selanjutnya adalah suara geraman tertahan dari Dirga yang sedang kesal.
"Raka kampret!"
Sedangkan Amira dan Elisa mendekati Kiara dan mengayunkan tangannya, melepas Dirga untuk naik ke atas panggung.
"Semangat Sayang," seru Kiara meledek.
Dan Gavriel sendiri sedang duduk bersama Kakek, Nenek dan buyutnya dengan kursi yang khususkan untuknya.
"Hi-hi, Dadd ngat!"
"Yah Gav, kenapa di kasih semangat!" sahut Dirga pasrah.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Nicholass Geonandes, Abigail dan Jayden dari Mine.
Baruna, Sheryl dan Reynand Dari Marriage Order.
__ADS_1