Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Kamu Sahabatku, Tapi Aku Menyayangimu.


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Exo__Lucky.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


"Kamu adalah sahabatku, tapi aku sangat menyayangimu, seperti aku menyayangi kedua orang tuaku dan adikku. Kamu berarti dalam hidupku. Bagiku kamu adalah segalanya. Aku tidak ingin berjauhan denganmu."


"Terkadang aku merasa diriku sangat egois, saat aku marah ketika melihatmu bersama yang lainnya, padahal aku bukan siapa-siapa kamu, aku hanya seorang sahabat. Tidak tahu kenapa, tapi yang jelas akan sangat mengesalkan saat melihatnya, marah dan tidak terima."


"Jangan tanya kenapa, karena aku pun tidak tahu kenapa. Tapi satu yang pasti, aku sangat menyayangimu, Queene. Aku tidak ingin kamu jauh dariku. Tapi, jika kamu bahagia dengan yang lain, aku akan belajar untuk menerimanya."


Di kamarnya, Queene yang baru saja menyelesaikan ritual mandi, berjalan dengan tangan sibuk mengeringkan rambut setengah basahnya.


Hatinya merenungkan lagi ucapan dari sahabatnya, yang menjelaskan dengan raut wajah serius, menatap dan sambil memegang tangannya. Membagi kegelisahan melalui remasan tangan, yang ia sadari jika sahabatnya sampai saat ini masih bingung, meski perasaannya sudah tergambar dengan jelas.


"Jadi, apa aku hanya akan menunggu atau aku harus puas dengan setatus sahabat, yang selama ini selalu membuatku merasa terpenjara."


Ia berjalan dan berdiri di depan meja rias, mengamati bentuk wajah miliknya. Masih dengan tangan sibuk menggosok rambutnya, namun berhenti untuk memperhatikan lagi, rupanya yang sacara fisik mirip dengan sang Baba.


"Tapi, seperti katamu dulu, Queene. Meskipun kamu atau aku kelak akan memiliki pasangan masing-masing. Jangan lupa, jika kita selamanya akan menjadi sahabat, dan tidak akan ada yang dapat memungkiri itu."


"Tapi, aku merasa, jika kamu sudah bisa merasakannya. Iya kan, Gavriel," gumam Queeneira, menatap dengan kepala menggeleng pelan, melanjutkan acara mengerikan rambut sambil berjalan ke arah meja belajarnya.


"Kenapa kamu mudah sekali membuatku luluh," lanjutnya dengan dengkusan sebal.


Selesai dengan acara mengeringkan rambut, Queene menghidupkan laptop dan membuka aplikasi file, tepatnya galeri dengan ratusan foto tersimpan rapih.


Membuka, memindahkan dan melihat adalah yang ia lakukan, berulang kali hingga hampir seperempat foto pindah tempat dari kamera, kedalam laptop miliknya.


Sesekali ia akan berhenti, mengingat lagi foto sedang dan apa kegiatannya, yang terpampang di layar laptopnya.


Senyum, kekehan, juga gelengan kepala tidak absen untuk di ulangnya, saat mengingat masa-masa yang dilaluinya, masa saat ia masih belum menyadari semuanya.


Inikah alasannya bahagia, saat dulu sahabatnya tidak dekat dengan yang lainnya. Inikah alasannya bahagia, saat sahabatnya dulu hanya nyaman dengannya, padahal banyak perempuan yang ingin dekat dengan sahabatnya.


"Ini sebuah anugerah atau petaka, kalau nyatanya status sahabat membuatmu selalu mengelak saat ada pertanyaan, siapa aku di matamu." Queeneira masih melanjutkan memindahkan foto, meski sesekali bibirnya akan menggerutu atau pun tersenyum.


"Gavriel bodoh," umpatnya sebal.


🐌🐌🐌🐌🐌🐌


Puas memindahkan foto, meski masih banyak sekali yang harus dipindahkan. Queeneira pun beralih pada barisan buku di rak yang ada di meja belajarnya, buku-buku pelajarannya. Tapi bukan itu yang jadi perhatiannya, melainkan buku bersampul biru miliknya. Buku lama, terlampau lama, buku milik ia dan dua sahabatnya.


Sebenarnya yang mengisi ini hanya ia dan Ezra, sedangkan Gavriel hanya akan mengisi sesekali dengan angka asing dan kemudian memberikannya kepadanya lagi.


"Kenapa hanya angka, Tav?"


"Rahasia, berarti tidak boleh tahu."


"Tapi kamu tulis di sini?"


"Kalau begitu jangan dilihat."


Pfftt!!!


Tawanya hampir saja meledak, saat ingat tingkah lucu sahabatnya, yang berkata seperti itu jelas-jelas buku itu adalah buku bersama.

__ADS_1


Tapi sungguh, ia sampai sekarang masih bingung dengan angka-angka yang di tulis oleh Gavriel.


Dalam hati ia berpikir, apa karena unkel Dirga adalah seorang pengusaha sukses, maka Gavriel pun ikut jadi terobsesi dengan angka-angka ambigu, yang tentunya membuatnya pusing seketika.


Tangannya terulur untuk mengambil buku dengan sampul biru langit itu, menariknya pelan tidak ingin membuat buku lainnya berantakan, akhirnya buku lama itu pun ada di apitan tangannya.


Seulas senyum menghiasi wajah ayu anak satu-satunya pasangan Wardhana dan Modnoe. Mengusap lembut bagian sampul luar, seketika kenangan masa kecilnya menari indah, sehingga senyuman berubah menjadi kekehan.


Ah! Ternyata sudah hampir tiga tahun yang lalu, buku ini tidak ia tengok lagi. Tepatnya saat ia memasuki jenjang sekolah menengah pertama.


Sebelum membuka buku, Queene mengambil headset dan menghubungkannya ke handphone miliknya, memilih lagu dan lagu dari Exo__Lucky pun memenuhi ruang dengarnya, baru kemudian membuka halaman demi halaman buku kenangan di depannya.


Halaman pertama ia buka, berisi catatan perkenalan, dengan tulisan rapih khas anak SD. Isinya nama dirinya, Gavriel dan Ezra.


Halaman kedua dan selanjutnya ia buka, berganti ke halaman satu ke halaman lainnya, setelah ia baca sekilas sambil terkekeh.


Tiba di halaman selanjutnya, kertas dengan tulisan rapih khas sahabatnya, yang diumur sebelas tahun sudah bisa menghitung dan mengerjakan soal untuk tingkatan kelas atas.


Keningnya mengernyit, saat ingat dan merasa pernah melihat angka yang sama, dengan angka yang tertulis di buku di hadapannya.


616


Ia seperti pernah melihat, selain di buku kenangan yang baru ini ia buka lagi.


"Tunggu ... Aku seperti tidak asing dengan angka ini, 616. Tapi di mana yah, aku lupa."


Semakin di pikirkan, semakin membuatnya penasaran, tapi penasaran saja tidak cukup, saat dirinya tidak tahu jawaban akan rasa penasarannya.


Satu-satunya cara untuk mengetahui adalah bertanya kepada si penulis.


Bukan hanya tulisan 616 yang membuatnya bingung, tapi juga banyak angka memanjang, yang semakin membuatnya tambah penasaran, apa sebenarnya arti dari angka-angka ini.


"Ini bukan angka rekening, kan," gumam Queeneira bingung sendiri. Menggaruk kepalanya, pening tiba-tiba saat tidak tahu jawabannya.


Ia lebih baik diberi tugas menghapal, dari pada tugas menghitung angka.


"Entah, sebaiknya aku istirahat," putus Queeneira, sebelum menutup buku dengan senyum kecil.


"Lusa sudah masuk sekolah, aku harap tidak akan ada hal yang mengesalkan lagi," pinta Queeneira dengan mata terpejam dan helaan napas dalam.


"Aku juga menyayangimu, Gavriel. Tapi rasa sayangku berbeda denganmu."


Deg!


Oh my God!


Seketika matanya terbuka lagi, kemudian dengan cepat membalikkan tubuh, untuk menutupi wajahnya yang memerah.


"Astaga! Aku berharap Gavriel mengetahui apa maksud dari ucapanku, kalau pun tidak, jangan buat dia mengingatnya."


Queeneira tidak jadi tidur cepat, ia terjaga di atas ranjangnya, dengan mata menatap langit-langit kamar, kemudian menggeleng lalu menutup wajahnya lagi.


"Menyebalkan!" serunya kesal dengan wajah dalam bantal, sehingga seruannya membahananya tidak sampai terdengar hingga keluar kamar.


Disaat bersamaan, di kamar Gavriel.


Kegiatan Gavriel tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Queeneira. Yaitu duduk di hadapan laptop yang menyala. Jari-jari angannya dengan lincah menari di atas keyboard, dengan mata fokus melihat laptop.


Sedang apa Gavriel?

__ADS_1


Gavriel sedang melengkapi folmulir, yang harus dikirim olehnya secepat mungkin. Seharusnya ia mengirim ini saat liburan, tapi sayang ia tidak sempat mengecek e-mail, saat dirinya merasa jika waktu libur lebih berarti. Tapi untunglah, jika waktunya masih ada hingga esok hari.


Send


Setelah memastikan jika e-mailnya terkirim, ia pun mengeluarkan akun dan beralih pada file lainnya. File foto, apalagi yang dilihatnya kalau bukan foto.


Dibarisan nama file yang tersimpan rapih, file dengan nama 616 adalah tujuan utamanya, saat berniat melihat dan memasukkan foto-foto si empunya kode, untuk disimpan rapih berjajar dengan foto lamanya.


Disaat ia memindahkan foto, tiba-tiba ia ingat dengan kalimat yang diucapkan oleh sahabatnya, saat ia dan sahabatnya sedang duduk berhadapan dengan ia yang mengungkapkan betapa ia menyayangi sahabatnya, sama seperti ia menyayangi orang tua dan adiknya.


Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa mengucapkan itu dengan lancar, apa ini karena ia terlalu takut kehilangan Queeneira, saat biasanya ia hanya menyimpan sendiri apa yang dirasakannya.


Rasa takutnya, rasa tidak relanya, rasa posesifnya, rasa sayangnya, rasa marahnya selalu jadi satu, saat ia sedang memikirkan sahabatnya.


Jarinya mengetik angka sandi, memasukkannya sebagai pasword untuk membuka file 616, dan seketika ratusan atau ribuan foto terpampang rapih, dengan berbagai macam kegiatan yang diabadikan dalam bentuk gambar.


"Foto kali ini sedikit, itu karena aku. Aku yang akhir-ahkir ini membuatmu jauh dariku," gumam Gavriel saat melihat jumlah foto yang berhasil ia pindahkan.


"Disini sengaja aku simpan dengan semua senyum berbagai jenis milikmu, karena aku tidak ingin menyimpan hal sedih, jika itu kamu."


Selesai dengan acara memindahkan foto, Gavriel pun keluar dari file dan mematikan power laptopnya, bersiap untuk istirahat. Ia lelah setelah seharian jalan, duduk lima jam di pesawat, lalu masih harus duduk dengan kaki di tekuk di hadapan sahabatnya.


Ngomong-ngomong tentang duduk dengan lutut di tekuk, ia teringat lagi dengan pikiran absurdnya, tentang ia dan sahabatnya yang bertingkah seperti pasangan kekasih, pasangan yang seperti sedang bertengkar.


"Atau karena aku yang terlalu kepikiran, takut Que marah jika aku tidak segera meminta maaf," pikir Gavriel dengan gelengan kepala, berjalan ke arah balkon kamarnya, melihat ke arah langit di atas sana. Hal yang sangat ia sukai, melihat langit di siang atau malam hari. Siang dengan langit biru kesukaannya, lalu malam dengan bulan dan bintang menghiasi.


"Ah! Aku belum berbicara hal ini dengan Daddy dan Mommy. Aku baru menyinggung tanpa maksud, tapi sepertinya Dadd tahu jika pertanyaanku bukan sekedar pertanyaan," gumam Gavriel saat ingat sesuatu yang tak kalah pentingnya.


Meskipun belum tentu, tapi entah kenapa ia yakin dengan feelingnya, jika ia akan mendapat kesempatan ini.


"Aku harus membicarakan ini segera," putusnya, kemudian melangkah masuk bersiap untuk istirahat.


Merebahkan tubuhnya dengan perlahan, Gavriel meletakkan lengannya di atas kening dan mencoba untuk memejamkan mata.


"Aku juga menyayangimu, Gavriel. Tapi rasa sayangku berbeda denganmu."


Matanya yang tadi terpejam, dengan cepat terbuka lagi saat terdengar kembali ucapan terakhir sahabatnya, seakan terngiang di dekat telinganya. Padahal ia sempat lupa akan kalimat yang diucapkan sahabatnya, sebelum sahabatnya dengan tergesa keluar dari kamarnya.


"Rasa sayang yang berbeda, apa maksudnya," gumam Gavriel dengan berbagai spekulasi.


"Kenapa ada rasa aneh seperti sayang dan cinta, jika rasa itu sangat sulit untuk dipahami," lanjut Gavriel mengerutu, mencoba untuk memejamkan matanya lagi namun sayang gagal.


"Akh! Menyebalkan!"


Malam ini Gavriel batal ingin tidur cepat, saat pikiran yang sempat tenang terganggu lagi dengan pernyataan sahabatnya. Dan ia hanya bisa bertanya kepada sahabatnya, karena ia yakin, tidak akan ada yang bisa menjawabnya, selain sahabatnya sendiri.


Dan ternyata bukan hanya Gavriel saja yang batal tidur, melainkan Queeneira juga, yang malu dan juga merutuki diri sendiri akan keberanian yang didapatnya tiba-tiba.


Dua-duanya sama-sama tidak bisa tidur, pusing memikirkan perasaan aneh namun menyenangkan disaat bersamaan.


Suruh siapa bermain dengan hati, rasakan sendiri saat kalian merasa gelisah, namun sekali lagi menyenangkan disaat bersamaan.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2