
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Motor yang di kendarai oleh Gavriel, tiba bersamaan dengan motor, yang di kendarai oleh warga sekolah lainnya.
Keineira yang ada di boncengan Gavriel turun, lalu membuka helmnya sedikit kesusahan.
"Ukh!"
Gavriel yang hendak membuka helm, menoleh ke arah suara berasal, ia melihat teman yang tadi di boncengnya, sedang kesusahan saat melepas pengait helm.
Ia tersenyum kecil, lalu menggeleng kepala lucu dengan apa yang di lihatnya.
Apa temannya ini tidak pernah naik atau di bonceng, oleh seseorang dengan menggunakan sepeda motor, sehingga membuka helm pun kesusahan seperti itu?
Lucu sekali.
Ehh ... Seketika ia melotot kaget, saat ada pemikiran jika apa yang dilihatnya adalah hal yang lucu.
"Apa yang aku fikirkan," batin Gavriel heran sendiri.
Tidak ingin memikirkan lebih lanjut pemikiran anehnya, ia pun menggelengkan kepalanya, menghilangkan rasa aneh, yang akhir-akhir ini berkeliaran di kepalanya.
"Kenapa, Kei?" tanya Gavriel tidak tahan melihat temannya, masih saja berusaha melepas pengait helm.
"Eh!"
Kei menolehkan wajahnya, saat mendengar pertanyaan dari teman, yang tadi menawarkan tumpangan untuknya.
"Susah, buka helmnya?" tanya Gavriel dengan senyum geli.
"Em ... Iya, sedikit," gumam Kei malu, saat mendapati jika remaja tampan di depannya, tersenyum geli saat tahu jika ia tidak bisa membuka helm.
"Uhh ... Malu sekali," batinnya menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang sudah berhiaskan merah di pipinya.
"Kemari!"
"Apa?"
"Kemari, Kei. Biar aku bantu bukakan," ujar Gavriel menjelaskan.
"Tapi ak-
"Hn ... Sebentar lagi bel masuk loh, kamu mau telat?" tanya Gavriel menuai gelengan kepala imut dari Kei, yang tersenyum malu dengan pipi tersipu.
"Kalau begitu, kemari!" lanjutnya tidak terbantahkan.
Kei pun mengangguk dan mendekatkan wajahnya, dengan Gavriel yang cekatan membuka pengait helm.
"Lihat, kamu hanya perlu menekan ini, dan ....
Klik!
"Terbuka!" lanjut Gavriel saat bunyi pengait terlepas.
Ia menjelaskan dengan lembut, menatap mata Kei yang juga balas menatapnya.
Wajahnya keduanya hanya berjarak sejengkal, sehingga Kei yang mendengar penjelasan dari Gavriel, bisa merasakan hembusan nafas dari Gavriel, yang tersenyum geli di akhir kalimatnya.
Aroma khas yang menguar dari tubuh Gavriel, berbeda dengan aroma lainnya.
Dan sudah ia katakan, ia menyukainya.
Ini adalah kedua kalinya, ia bisa melihat dari dekat wajah tanpa cela seorang Gavriel Wijaya, membuat jantungnya berdetak dengan perasaan salah tingkah.
Ia melihat bagaimana bentuk hidung mancung, hingga bibir tipis merah alami turunan sang Daddy milik teman sekelasnya, serta suara datar saat menjelaskan, namun terdengar lembut di pendengarannya.
Dan juga bagaimana binar geli saat menatapnya, berganti dengan tatapan bingung setelahnya.
"Ngerti kan?"
"...."
Tidak ada jawaban dari yang di tanya, membuat Gavriel yang melihatnya mengernyitkan dahi bingung.
"Kei!"
"...."
Puk!
"Ah! Maaf, kenapa Gav?"
Kei bertanya dengan nada kaget saat bahunya di tepuk, oleh seseorang yang saat ini menatapnya khawatir.
"Kamu kenapa?"
"Aku? Aku kenapa Gavriel?" tanya balik Kei salah tingkah.
Ya ampun .... Bagaimana bisa ia melamun, hanya karena bisa berdekatan dengan seorang remaja, yang baru beberapa minggu ini ia kenal.
Meskipun ia sudah memiliki perasaan, tapi setidaknya, ia tidak harus selalu merasa salah tingkah seperti ini kan?
"Kamu kenapa, melamun seperti itu?" tanya Gavriel sabar.
"Nggak kok, nggak melamun. Aku hanya memperhatikan kamu jelasin cara buka helm, he-he!" balas Keineira dengan kekehan kecilnya.
Gavriel mendengus geli, saat mendengar kekehan canggung, dari teman perempuan di depannya.
"Oke, lain kali kalau naik motor gini, kamu bisa buka helm sendiri ya. Got it?" ujar Gavriel tidak mempermasalahkan.
"Emang, kapan lagi aku naik motor, Gavriel?" tanya Kei menatap Gavriel.
__ADS_1
"Entah ... Siapa yang tahu, apalagi kejadian seperti tadi bisa saja terjadi lagi."
Ini perasaannya atau hanya rasa berlebihan darinya, tapi pernyataan teman sekelasnya seperti mengatakan, jika ia akan duduk di bonceng lagi, meski tidak tahu siapa yang akan memboncengnya untuk kedua kalinya.
"Em .... Aku akan mengingatnya!" seru Keineira dengan semangat, kepalanya mengangguk lucu, membuat Gavriel yang melihatnya terkekeh.
"Ya sudah, masuk yuk!" ajak Gavriel, setelah ia sendiri membuka helmnya tanpa hambatan.
"Em!"
Keduanya pun berjalan bersama, di iringi oleh sapaan dari teman sekolah, serta jeritan tertahan dari fans dadakan Gavriel, yang setiap harinya selalu bertambah.
Kejadian ini di lihat dengan jelas, oleh mata kepala seorang remaja putri, yang masih duduk di dalam mobil, padahal ia sudah sampai di depan sekolahnya sedari tadi.
"Amuy ... Tim Kai a?" (Nak, ada apa?)
Di dalam mobil itu bukan hanya ada ia, tapi ada sang Baba yang bertanya khawatir.
Amuy adalah panggilan dari keluarganya, ia menolehkan kepalanya dan memberikan cengiran lebar, seakan ia baik-baik saja.
"Mou a ... Baba, ngo fan hok sin a!" (Tidak ada ... Papa, saya berangkat sekolah dulu!)
Orang lainnya yang di panggil Baba, mengernyit saat mendapati jawaban di buat-buat ceria, dari Amuy kesayanganya.
"Hai meh? Yau mandai?" (benarkah? Ada masalah kah?) tanya si Baba sekali lagi.
Amuy menghembuskan nafas lelah, saat melihat sang Baba yang tidak percaya akan jawaban ceria, yang memang di buat-buat olehnya.
"Hai yah Baba, moa mandai." (iya Papa, tidak ada masalah.)
Huft ... Baba atau juga Faro bukan orang yang tidak mengerti, saat mendapati ekspresi berbeda dari amuy kesayanganya.
Di usianya yang sudah segini, tentu saja ia sudah menikmati asam, garam pahitnya kehidupan, membuatnya tahu bagaimana dan seperti apa ekspresi yang di tampilkan seseorang.
Terlebih amuy di depannya, yang mengumbar senyum lebar, namun ada sesuatu yang terlihat tapi di sembunyikan.
Tidak ingin membuat sang anak terbebani dengan sikap kritisnya, ia ikut tersenyum kecil dan menepuk kepala anaknya sayang.
"Ingat ... Kalau ada masalah di selesaikan, bukan di pendam. Paham?" ujar Baba atau juga Faro, seorang pengacara senior yang memberi nasihat, untuk putri satu-satunya yang sangat di sayanginya.
"Paham, Baba!"
"Bagus!"
Pasangan Baba-anak ini kompak terkekeh dengan suasana ceria, tapi langsung menjadi hawa mencekam, saat salah satu di antara mereka, ada yang mengubah kekehannya menjadi raut wajah datar sambil melihat satunya.
Seseorang yang merubah wajahnya menjadi datar ini, menatap lainnya dengan tatapan kesal.
"Tapi Baba jangan senang dulu," ujar Amuy atau juga Queene, dengan nada kesal saat mengingat kejadian kemarin sore.
Sang Baba yang merasakan perubahan suasana (lagi) dari sang anak, tersenyum canggung saat dirinya ingat akan kemarahan sang anak kemarin.
Ah ... Ia lupa, fakta akan hal yang itu.
"He-he!"
"Baba hanya tidak ingin kamu ugal-ugalan, kamu perempuan seharusnya anggun dan feminin."
"Tapi kan, Baba sudah berjanji," balas Queene kesal, pipinya menggembung saat ingat kejadian kemarin.
Ia fikir pulang ke rumah dapat kejutan, emang sih dapat kejutan, tapi kejutannya tidak sesuai ekspektasi.
Mana ia sudah pamer dengan dua sahabat dan adik kesayangannya lagi, alamat di ledekin sama dua cowok cakep tapi jomblo alias sahabatnya.
"Iya, itu sebelum Baba tahu, tujuan kamu minta di beliin motor sport apa," balas Faro enteng.
"Ih ... Baba nggak asik," gumamnya kesal.
Faro terkekeh saat mengingat ekspresi sebal dari amuy, salahnya sih yang mengiyakan permintaan sang putri, tanpa ia ketahui ada tujuan apa di balik permintaan tersebut.
"Sudah-sudah, kamu nanti telat. Lagian kamu kan bisa pergi sama Ezra atau Gavriel, emang kamu nggak suka pergi dengan mereka lagi?" tanya Faro mengalihkan.
"Suka! Asik kok berangkat bersama-sama seperti itu," balas Queene masih dengan pipi menggembung lucu.
"Nah! Maka dari itu, Baba nggak salah, kan?" ujar Faro dengan senyum penuh kemenangannya.
Queene berdecak kesal, saat lagi-lagi sang Baba dengan santai membalas telak apapun yang ia katakan.
Huft ... Repot sekali adu argumen dengan seorang pengacara kondang.
"Fine ... Baba selalu menang," dumel Queene sebal.
Ha-ha-ha!
Faro terkekeh senang saat sang anak menyerah, akan segala kalimat yang di lontarkannya dan ia senang sekali menggoda putrinya seperti ini.
Queene diam-diam tersenyum, saat sang Baba tertawa seperti itu.
Setidaknya Babanya tidak curiga lagi, karena perubahan sikapnya tadi.
"Ya sudah, kamu masuk gih!" seru Faro memerintah, di sela kekehan senangnya.
"Oke, Ba!"
Queene pun menyalami tangan sang Baba, mencium punggung tangan dengan bibir mungilnya, lalu mengecup pipi sang Baba sayang.
"Que-que masuk dulu Ba, Baba hati-hati saat berkendara!"
"Siap, princess!"
"Bye, Baba!"
"Bye, amuy!"
Sepeningglanya sang putri keluar dari dalam mobil, Faro melihat lagi bagaimana anaknya berlari mengejar dua remaja, dengan satu yang terasa asing di penglihatannya.
Tanpa di kasih tahu, ia bisa menebak sendiri apa yang sedang di rasakan sang putri.
__ADS_1
Berteman selama lima belas tahun, tiba-tiba ada seseorang baru yang berjalan di samping yang seharusnya sang anak lah yang di samping anak sahabatnya, membuat ia sadar akan perasaan anaknya kepada anak sahabatnya saat ini.
Apalagi kalau bukan ...
Tidak ... Ia menggelengkan kepalanya, menghilangkan fikiran yang jelas sekali, bukan waktunya untuk ia ikut campur.
Sebagai seorang ayah, ia hanya berharap jika kedepannya anaknya dan anak sahabatnya, tidak mendapat kendala dengan tema cinta dan sayang.
Karena akan sangat sulit untuk mereka mengatur, hati, perasaan juga keinginan dari anak-anak mereka.
Perasaan tidak bisa di paksa ...
Dan juga ...
Ia tahu baik putri dan anak dari sahabatnya sama-sama belum tahu, apa yang di rasakan satu sama lain di antara mereka.
"Yah, apapun itu. Gue hanya berharap, amuy gue dapat yang terbaik."
Setelahnya ia kembali melanjutkan perjalanannya, menuju kantornya berada, dengan segudang kasus dan masalah yang harus ia selesaikan segera.
"Huwaa .... Gue butuh refreshing!"
Di saat bersamaan
Di sisi Queen yang turun dari mobil.
Dengan senyum lebar terpasang di bibir mungilnya, Queene keluar dari dalam mobil dan mengejar sahabatnya, yang saat ini sedang berjalan bersama seseorang di depan sana.
Seseorang yang baru saja mereka kenal tapi mampu membuat sahabatnya, yang di kenalnya susah berdekatan dengan wanita, bisa berjalan bahkan memboncengnya di motor, yang biasanya hanya ia dan sang adik duduki.
Nyut!
Ada perasaan tidak terima di hatinya, saat ia mengetahui sendiri, jika mulai saat ini ia harus belajar berbagi perhatian, sang sahabat dengan wanita lainnya.
Mungkin benar .... Mereka sudah saatnya jalan maju, bukan hanya di tempat, ungkapan ini sama percis seperti apa yang di bilang sahabatnya yaitu Ezra.
Ia harus bisa menerima saat Gavriel, tersenyum dan berbicara akrab dengan yang lainnya.
"Haruskah?" batinnya bertanya kemudian menggeleng kepala kecil.
Ia melangkahkan kakinya sedikit cepat dan merangkul pundak tinggi sang sahabat, membuat sang sahabat yang mendapat rangkulan tiba-tiba kaget, namun tersenyum senang sesudahnya.
"Dor!"
"Astatang, kirain aku siapa."
"Selamat pagi, Kei!"
"Selamat pagi, Queene!" balas Kei dengan senyum kecil.
"Selamat pagi, Tav!" sapa Queene kali ini menghadap sahabatnya, dengan senyum lebar yang terlihat bersinar.
"Que, masih pagi loh, sudah ngajak gelud saja," balas Gavriel, membawa tangan sahabatnya yang ada di pundak, untuk di genggamnya.
"He-he! Sarapannya di ganti jadi gelud aja, biar asik dong," ujar Queene dengan kekehan riangnya.
Gavriel menggeleng kecil, lalu menepuk kepala sebelum mengacak rambut berkuncrit kuda milik sahabat perempuannya.
"Nanti aja geludnya, sudah mau masuk nih," balas Gavriel tersenyum kecil.
"Bleee ... Aku tidak mau masuk ketiak kamu lagi."
Queene hendak melepas genggaman tangan Gavriel, namun sayang sahabat laki-lakinya tidak mengizinkan, justru genggaman tangan keduanya semakin erat.
Dan itu membuat seseorang di samping mereka, merasa ada, namun juga tidak ada di saat bersamaan, padahal tadi ia juga di sapa.
Sedikit ia merasa cemburu, saat melihat keduanya dengan santai berpegangan tangan di depannya seperti itu.
Ia tahu jika Queene sahabat Gavriel dan juga Gavriel sendiri sudah memiliki kekasih.
Lalu ... Apakah tidak apa-apa, jika ia ikut masuk di kehidupan Gavriel seperti Queene yang dengan santainya, menerima perlakuan dan perhatian seorang laki-laki, dengan status ada yang punya?
Ketiganya berjalan bersamaan, di isi dengan obrolan ringan mengenai pelajaran atau juga hal tidak penting lainnya, hingga tidak terasa pintu kelas mereka terlihat di depan mereka.
Di meja tempat duduk mereka sudah ada Ezra, yang menatap ketiga taman sekelas dan juga sahabatnya dengan kening mengernyit heran.
Entah kenapa .... Ia seperti punya perasaan aneh, saat melihat ketiganya jalan berjajar seperti itu.
"Pagi Ezra!"
"Pagi amuy!"
"Yoo!"
"Hn."
Teng! Teng! Teng!
Jam pelajaran pun dimulai, dengan seorang guru menyapa penghuni kelas semangat.
"Ohayou minna! Ogengki desuka?"
"Ohayou sensei! Genki desuka!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Pembaca semua, ikut gabung di grub chat Author yuk!
Kita sama-sama saling menyapa, juga berkenalan serta berbagi cerita.
Terima kasih sudah membaca cerita abang ganteng Gavriel tampan Wijaya muda ya.
(Gue udah nggak di anggep? Diem, ini bukan masanya buat Dirga lagi. Yes Dadd, this is Gavriel time.)
__ADS_1
Sampai babai semua.