Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Kalian Sudah Kenal?


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Wijaya Corp


Saat ini Dirga sedang mengerjakan laporannya dengan serius.


Bapak, dengan buntut dua anak remaja ini masih tetap awet muda, diumurnya yang ke-


(Author yang terhormat, umur jangan disebut, rahasia negara. Oke lah, Ferguso)


Di meja kerjanya ada beberapa laporan, yang terbuka dengan Dani dihadapannya, membacakan setiap point penting dalam proposal kerjasama.



"Point yang ke-sepuluh, bagaimana Bos?" tanya Dani, saat melihat ketentuan yang diajukan oleh pihak sana.


"Hum ..."


Dirga bergumam panjang, saat tangan kanannya bertanya tentang pendapatnya.


Ia segera membaca ulang dan mempelajari lebih dalam, tentang apa yang tertera didalamnya.


"Kasih tanda, perintahkan untuk kirim ulang, setelah point ke-sepuluh diubah. Kalau seperti itu, sama saja mereka ingin untung lebih dibandingkan kita," jelas Dirga menatap Dani yang mengangguk setuju.


"Menurut saya juga begitu," sahut Dani.


"Biarkan Gavriel yang handle, kita lihat sama tidak pendap-


Kring! Kring! Kring!


Kalimat dari Dirga harus tertunda, saat ia mendengar dering telepon dari meja kerjanya.


Dani mengangkatnya, menerima telepon masuk saat ia melihat sang Bos kembali memeriksa laporan, sengaja.


"Bos reseh," batin Dani mendengkus kecil.


"Apa?" tanya Dirga sewot.


"Nggak."


Klik!


"Halo."


"Maaf Tuan, di bawah ada seorang tamu dengan nama Reno Desmon. Beliau bilang, sudah ada janji dengan Bos."


"Antar ke atas," balas Dani singkat.


"Baik."


Tut!


Dani pun memutuskan panggilan sepihak, kemudian memberitahukan kepada atasannya.


"Pak Reno, di bawah," ujar Dani singkat, namun cukup jelas untuk dimengerti oleh Dirga.


"Hn," gumam Dirga mengerti.


Tidak lama, pintu ruangannya pun diketuk dari luar, dengan Dani yang segera berjalan untuk membukakan pintu.


Ceklek!


"Selamat siang, Tuan Reno. Silakan masuk," sambut Dani dengan senyum ramah.


"Selamat siang, Pak Dani, terima kasih."


Reno dan Dani pun jalan bersama, dengan Dirga yang menyambut ramah.


"Selamat siang, Tuan Wijaya, bagaimana kabar anda?" sapa dan tanya Reno akrab.


"Selamat siang, Pakai Reno. Kabar baik, bagaimana dengan anda?" balas dan tanya balik Dirga dengan nada seperti biasa.


"Baik juga."


Mereka pun berjabat tangan dan beramah tamah, layaknya partner bisnis normal lainnya.

__ADS_1


Dirga mempersilakan Reno untuk duduk di sofa, sedangkan Dani mengambil dokumen untuk pembahasan kerjasama kali ini.


"Saya senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Wijaya lagi, terima kasih atas kesempatan ini," ujar Reno ditengah-tengah pembahasan kerja sama mereka.


"Perusahaan kami terbuka untuk semua, jika kami melihat prospek bagus untuk kedepannya, kenapa kami tidak merangkulnya," balas Dirga dengan nada biasa.


Reno tersenyum sumringah, saat mereka membahas kerjasama yang berjalan seperti biasa, tanpa ada pihak yang dirugikan.


Kali ini Reno akan membangun gedung baru, masih satu kompleks dengan pabriknya yang dulu, dan untungnya perusahaan Wijaya mau mengambil tender ini.


Ia tidak yakin dengan kontraktor lainnya, ia senang dengan kualitas bangunan yang dibangun dan dirancang oleh perusahaan Wijaya.


Disaat ketiga orang ini sedang membahas mengenai pembangunan, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu ruangan milik Direktur.


Dani yang mengerti dengan tatapan dari Bosnya mengangguk, ia pun berdiri berjalan menghampiri pintu dan membukanya dengan segera.


Ceklek!


Pintu terbuka, dengan Gavriel, anak dari Bosnya yang berdiri dengan tampilan semi formalnya.


Penampilan yang cocok untuk umurnya, yang baru menginjak belasan tahun.


"Selamat sore, Tuan muda."


"Selamat sore, Pak Dani."


Keduanya pun memasuki ruangan milik Direktur, dengan Gavriel yang mengernyit saat melihat seorang pria paruh baya, duduk di sofa bersama Daddynya.


"Bukankah itu Papahnya Kei," batin Gavriel mengingat.


Dirga yang melihat kehadiran sang anak, tersenyum tipis lalu memanggil sang anak yang berdiri dengan nada senang.


"Gavriel sudah datang," ujar Dirga menatap anaknya senang.


"Haloo ... Nak Gavriel!"


"Selamat sore, Daddy."


"Haloo, Om."


Dirga melihat dengan alis mengernyit saat anak laki-lakinya, menyapa partner bisnisnya yang melihat sang anak dengan binar senang.


"Pak Reno, kenal anak saya?" tanya Dirga dengan nada biasa, menyembunyikan Kenyataan jika ia sedikit kaget, saat anaknya kenal secara pribadi seperti itu dengan partner bisnisnya.


"Tentu saja, kami pernah bertemu beberapa kali. Bukan begitu, nak Gavriel?" balas Reno, kemudian meminta persetujuan dari seseorang yang ia panggil Gavriel.


"Seperti itu lah, Dadd," balas Gavriel apa adanya, tidak menampik maupun menutupi kerena akan percuma.


Dirga mengangguk mengerti, lalu meminta anaknya duduk dengan kode mata. Sehingga Gavriel yang mengerti pun segera menurutinya, duduk berhadapan dengan Daddynya dan Reno.


"Kamu, sudah pelajari dokumen yang Daddy berikan kemarin?" tanya Dirga membuka obrolan, sebelum membahas kerjasamanya dengan Reno.


"Sudah, Dadd," balas Gavriel lugas.


"Nanti kita bahas lagi, kamu perhatikan apa yang akan kami bahas, got it?" ujar Dirga menatap anaknya serius.


"Yes dadd," sahut Gavriel dengan kepala mengangguk kecil.


"Baiklah, Pak Reno. Bisa dilihat, disini kita sudah ....


Pembahasan mengalir begitu saja, dengan Dirga membuka penjelasan, yang selanjutnya digantikan oleh Dani sebagai perwakilan.


Gavriel memperhatikan dan mendengar pembahasan dengan seksama.


Ia mencatat dalam memori otaknya setiap pembahasan, setiap point penting dan juga kesepakatan lainnya.


Kontraktor perusahaan Daddynya selalu menjadi yang terbaik, dengan menjunjung tinggi kualitas bangunan dan kecepatan saat pembangunan, Wijaya jadi pilihan tepat untuk membangun gedung-gedung tinggi berkualitas.


Sekitar satu jam kemudian, rapat pun selesai, dengan Reno dan Dirga yang berjabat tangan, tanda kerjasama sukses dan dimulai.


Gavriel dan Dani ikut berjabat tangan, saat Reno mengulurkan tangannya dengan semangat.


Sepertinya Pak Reno sedang senang, saat bukan hanya proyeknya yang berhasil, tapi juga saat melihat sendiri bagaimana peranan penting Gavriel dalam perusahaan Tuan Wijaya, atau juga Daddy dari Gavriel.


"Tidak terasa yah, kita bertemu lagi saat Gavriel sudah sebesar ini, saya tidak menyangka kalau Gavriel yang ini adalah anak Tuan Wijaya," ujar Reno melihat pasangan Daddy-son ini dengan senyum.


"Ya .. Saya juga tidak menyangka, jadi kalian bertemu di mana?" tanya Dirga meski penasaran, ia sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi berlebih.


Ia menatap Gavriel yang menatapnya biasa, seperti menganggap pertemuan keduanya biasa, tanpa ada sesuatu didalamnya.

__ADS_1


"Saat itu anak saya dapat tumpangan dari nak Gavriel, saya kira Gavriel siapa, tahu-tahunya Gavriel anak Tuan Wijaya," balas Reno menjelaskan.


Dirga mengangguk paham, dengan sepenggal cerita dari partner bisnisnya.


"Jadi ... Anak anda, satu sekolah dengan anak saya?" tanya Dirga melihat Reno yang mengangguk semangat.


"Iya seperti itu, Tuan Wijaya," balas Reno membenarkan.


"Hn."


Dirga bergumam melihat ke arah Gavriel, yang balas menatapnya dengan alis terangkat, bingung dengan tatapan sang Daddy.


Karena waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor, Reno pun undur pamit saat keperluannya dirasa sudah selesai.


Dani mengantar Reno Sampai lift, menyisakan pasangan Daddy dan son, yang saling melihat dengan ekspresi datar khas mereka.


"Jadi, bisa dijelaskan, kapan tepatnya kalian bertemu?" tanya Dirga penasaran.


Tentu saja ia penasaran.


Saat ini yang sedang dibahas adalah anaknya, seorang remaja cuek dengan kejadian disekitarnya.


Tapi dengar sendiri, seorang Gavriel Wijaya menawari tumpangan, untuk seseorang yang baru dikenalnya.


Memang dulu, dulu sekali mereka pernah bertemu, tapi masa iya anaknya mengingat si balita perempuan tersebut.


"Maksudnya apa, Dadd?" tanya Gavriel, menatap Daddynya dengan alis terangkat.


"Kamu tidak mungkin, asal memberikan tumpangan. Daddy tahu kamu seperti apa," ujar Dirga menuntut.


Niatnya ingin membahas pekerjaan jadi melenceng, saat tahu sang anak dekat dengan remaja perempuan lain, terlebih remaja yang dibahas adalah anak dari partner bisnisnya.


Bukannya ingin mendahului Tuhan, tapi ia tidak ingin jika hubungan pertemanan antara anaknya akan mempengaruhi jalannya bisnis, antara ia dan ayah dari si remaja perempuan ini.


Ia tahu dengan sangat, ada apa dibalik pertemanan, jika sudah merambah kedunia bisnis.


"Jadi suudzon, kan," batin Dirga menatap anaknya, yang menampilkan wajah biasa saja.


Anaknya cukup pintar menyembunyikan ekspresi seperti dirinya, kecuali dihadapan sang Mami dan sang istri, ia bisa dengan rapih menyembunyikan keadaan hatinya.


Gavriel yang melihat raut wajah serius sang Daddy, menghela napas pasrah.


Astaga ... Daddynya sangat kritis dengan pertemanannya, membuatnya sedikit kesal meski bisa ditutupinya.


"Aku tidak sengaja bertabrakan dengannya, saat aku ada rapat osis, kelas tiga dulu," jelas Gavriel tanpa ada yang ditutupi.


"Lalu?" tanya Dirga belum puas.


"Dia terluka, aku obati, lalu kami berpisah. Sampai kami bertemu lagi, saat masa orientasi," lanjut Gavriel menjelaskan, meskipun hanya point penting saja.


"Jadi sekarang, dia teman satu sekolah kamu?" tanya Dirga masih penasaran.


Ia mendadak jadi cerewet, saat anaknya kenal dengan remaja perempuan lain.


Bukan ia tidak suka, anaknya kenal dengan orang lain, tapi ia hanya ingin anaknya tidak-


"Daddy, jangan khawatir dengan aku. Aku tahu mana yang harus diikut sertakan dan tidak, aku juga bisa membedakan mana yang terbaik dan tidak."


Dirga terdiam dengan jawaban lugas dari anak laki-lakinnya, sepertinya ia terlalu khawatir dengan kejadian didepan, tanpa melihat siapa yang sedang dikhawatirkan.


Seharusnya ia tahu, jika anaknya tidak mungkin sembarangan dalam hal bergaul.


Huft ...


Ia pun menghembuskan napasnya, lalu melihat arloji di pergelangan tangan kanannya.


Sepertinya rapat mereka ditunda dulu, ini sudah memasuki waktu maghrib, dan mereka harus pulang untuk beribadah dan makan malam bersama keluarganya.


"Sebaiknya kita pulang dulu, kita bahas ini lain kali. Rapatnya dilanjutkan di kantor Daddy di rumah. Got it?" ujar Dirga menyudahi kegiatan kantor hari ini.


"Yes, got it," jawab Gavriel dengan kepala mengangguk mengerti.


Pasangan Daddy-son ini membereskan berkas masing-masing, memasukkan kembali ke dalam tas masing-masing milik sendiri.


Kemudian keduanya meninggalkan ruangan milik Direktur, berjalan bersama dengan langkah lebar yang sama, diiringi dengan sapaan dan tatapan kagum, dari karyawan yang belum pulang dari jam kerjanya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.


__ADS_2