Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Dunia indah yang lain


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Alam bawah sadar Dirga


Saat ini Dirga sedang sendiri di sebuah tempat indah, namun sunyi di saat bersamaan.


Ia menghabiskan waktunya dengan berkeliling atau pun duduk bersandar di pohon, yang sudah Ia anggap tempat tinggalnya sendiri.


Dirga pov on


Entah sudah berapa lama Gue di sini, yang pasti Gue sendiri bingung.


Ya ... Sudah pasti bingung, sebab Gue nggak tahu saat ini pagi, siang, sore atau kah malam hari.


Di depan Gue saat ini ada aliran sungai dengan gemericik air yang menyejukan di pendengaran, benar-benar membuat Gue terbuai karena kenyamanannya.


"Dunia apa ini?" tanya Gue bingung.


Walaupun bingung, Gue nggak merasa takut justru kebalikannya,rasanya Gue mau tinggal di sini lebih lama.


"Lebih nyaman di sini, di bandingkan dengan dunia Gue sendiri," bisik Gue dengan senyum kecil.


Gue duduk bersandar di bawah pohon besar, tempat Gue biasa menikmati udara sejuk sambil melihat ke arah depan.


Senyum Gue muncul dengan sendirinya, beberapa waktu ini Gue merasa damai tanpa ada gangguan.


"Tapi dari awal kedatangan Gue, bahkan sampai sekarang kenapa Gue sendirian yah?" tanya Gue bingung.


"Selamat pagi sayang!!"


Gue menoleh ke arah kanan dan kiri, saat telinga Gue mendengar suara lembut seorang cewek.


"Suara siapa itu?" gumam Gue bingung.


"Aku nggak bisa lama-lama, Kamu harus tetap steril sayang, nanti Aku akan selalu menemani Kamu jika Dokter sudah mengizinkan!"


"Tetap steril? Apa maksudnya?" tanya Gue bingung.


Gue bingung dengan apa yang cewek itu bicarakan, kenapa Gue harus steril sedangkan Gue di sini baik-baik saja.


"Nggak ada suara lagi?" gumam Gue bingung.


Dirga pov end


Setelah suara seorang perempuan itu tidak terdengar lagi, Dirga memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi sungai di depannya.


"Tempat seindah ini kenapa sepi sekali," gumam Dirga bingung.


Ia pun mengangkat bahu acuh lalu melanjutkan langkah kakinya, sesekali berhenti untuk melihat air yang sama sekali tidak beriak, padahal Ia iseng melempar batu kedalamnya.


"Ini hari keberapa ya? Kenapa Gue merasa ada yang salah?" tanya Dirga bingung.


Ia pun kembali ke pohon besar itu lagi lalu duduk menyandar dan tertidur.


"Selamat pagi sayang!!"


Deg!


Dirga terbangun lagi saat mendengar suara perempuan memasuki indra pendengarannya.


Suara kemarin yang entah mengapa tidak asing di pendengarannya.


"Siapa?" seru Dirga bertanya dengan nada tinggi.


Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sumber suara, namun lagi-lagi tidak ada apa-apa seperti kemarin.


"Tidak di jawab, sombongnya!!! Pantas saja Kamu di kenal Si arogan, hi-hi-hi!!!"


"Hey, Gue sudah jawab!!" balas Dirga bingung.


"Oke, jangan marah sayang aku hanya bercanda. Sekarang kita mandi dulu yah, kali ini aku lagi loh, yang membantu kamu mandi!"


"Siapa yang Lu panggil sayang?" tanya Dirga heran.


"Wangi lavender, wangi favorit kita. Masih ingat kan bagaimana Kamu bilang jika lavender adalah satu-satunya aroma favorit kamu, saat kita bulan madu di korea itu loh. Masih ingat kan?"


"Bulan madu?" bisik Dirga.


Ia mencerna dari setiap kalimat yang di ucapkan perempuan tanpa wujud, namun suaranya terasa menyentuh hatinya.


"Aku semakin menyukai lavender, sejak Kamu bilang Kamu suka aroma lavender!"


"Lavender?" beo Dirga mengulangi.


"Baiklah Aku lap bersih kamu dulu yah, sambil mengobrol!"


"Demi Tuhan apa maksudnya ini?" tanya Dirga semakin bingung.


"Lihat, ini pasti karena ucapan kamu dulu, yang bilang agar kita menjadi pasangan cacat! Lengan mu jadi ikut-ikutan ada bekas jahitanya kan!!"


"Pasangan cacat?" gumam Dirga bingung.


Ia melihat ke arah lengannya segera lalu tersentak kaget, saat tiba-tiba ada luka di sana padahal sebelumnya Ia merasa lengan miliknya baik-baik saja.


"Bagaimana mungkin!!" seru Dirga tidak percaya.


"Lain kali jangan berbicara sembarangan yah! Aku nggak mau hal ini terjadi lagi, oke?"


"Nah, sekarang wajah kamu. Coba senyum sayang, Aku sangat merindukanmu!!"


Tes!


Entah kenapa air mata Dirga jatuh saat mendengar kalimat demi kalimat, yang di ucapkan wanita tanpa wujud tersebut.


"Ada apa dengan Gue?" bisik Dirga dengan tangan meraba wajah berhiaskan lelehan air mata.


"Kamu ... Kamu tahu Aku di sini sayang? Kamu bisa dengar Aku?Jangan menangis, tadi Aku kan bilang senyum,bukan menangis!!"


"Tapi Gue sendirian?" gumam Dirga takut.


"Tidak ada air mata Kamu sudah berjanji, ingat kan?"


"Siapa kamu?" bisik Dirga bertanya.


"Cepat sadar sayang, kembali di tengah Kami, bermain bersama Kami, Gav sangat merindukanmu!"

__ADS_1


"Gav? Siapa lagi Dia itu?"


"Nah, sudah selesai. Kamu tetap tampan seperti biasa, Aku sampai bingung bagaimana bisa ada manusia setampan dirimu?"


Dirga salah tingkah saat mendengar pujian yang di layangkan untuknya.


"Emang Gue tampan!" gumam Dirga percaya diri.


"Bahkan tidur pun tetap tampan?"


"Kamu tahu! Aku selalu merasa senang,saat tangan besar ini mengusap lembut pipi ini,"


"Apalagi saat menepuk-nepuk kepala ku seperti ini!"


"Tapi Aku merasa sebal, waktu kamu cubit pipi Aku dengan jari tangan kamu ini!"


"Apa Kamu tidak tahu jika itu rasanya sakit sekali? Tapi kamu dengan entengnya malah terkekeh lalu bergumam 'dasar bawel gendut'! "


"Bawel?"


"Semakin membuatku kesal saja, heumb!!"


"Tapi Aku janji .... Aku nggak akan kesal lagi mulai saat ini, jika Kamu bangun dari tidur panjangmu nanti. Justru hal yang pertama yang ingin Aku pinta dari Kamu adalah tolong cubit pipi tembam Aku, agar Aku tahu jika saat itu Aku sedang tidak bermimpi!!"


"Bisa kan?"


"Baiklah, jangan sampai lupa loh!!!"


"Oh iya ... Aku mau menyuapi Anak kita makan dulu, Kamu tahu Gav saat ini sedang dalam mode manja. Dia sulit makan jika itu bukan Aku, huft ... Tapi Aku yakin jika Kamu bangun nanti, pasti Dia akan langsung pindah haluan lagi. Kalian kan selalu kompak, apalagi membuatku merasa seperti Mommy tiri!"


" Gav, anak Gue? Jangan bilang suara cewek yang dari tadi cerewetnya minta ampun itu istri Gue?" gumam Dirga bertanya.


"Baiklah ... Aku tinggal sebentar, Dokter bilang Kamu sudah bisa di dampingi seseorang. Sebelumnya Kamu kan harus ada di ruang yang benar-benar steril, bahkan Aku harus memakai baju khusus dan hanya beberapa menit bisa mengganggu Kamu,"


"Mulai detik ini Aku janji, selain Gav tidak ada yang bisa membuat Aku beranjak dari sisi Kamu, got it? He-he ... Itu kan kata-kata Kamu jika pulang kerja dan Gav merengek minta di gendong!!"


"Mimpi indah sayang, I really miss you!!"


"Mimpi? Jadi sebenarnya dunia indah ini hanya dunia mimpi Gue?"


Setelahnya tidak ada lagi suara dari wanita tanpa wujud tersebut, suasana kembali sunyi membuat Dirga memandang sekitar dengan nanar.


Jadi ini alasan kenapa Ia sendiri di sini? Karena ini adalah dunia semu yang ada hanya dalam mimpinya.


Sekelebat bayangan datang silih berganti, bagaikan proyektor yang menampilkan kilasan kejadian demi kejadian yang sudah Ia lalui.


"Hei ... Mau mati Lu?"


"Saya Dirga pemandu yang akan menggantikan Pak Teguh!"


"Ra ... Would you be My Girl friend please?"


"Will You Marry Me Kiara Arya Wicaksono?"


"Kejar daku, Kamu Ku tangkap!"


"Aku mencintaimu Ga!"


"Aku jadi Daddy?"


"Dirga!!"


"Dirga!"


"Da-da!"


"Arrrrgggghh!!!!!"


Tidak tahan dengan segala ingatan tentang dirinya sendiri, Ia pun menjerit dengan tangan menjambak rambut frustrasi.


"Bagaimana Gue punya fikiran ingin tinggal di sini? Sedangkan istri dan anak Gue menunggu Gue!" gumam Dirga bersalah.


"Kiara!!!"


Sunyi lagi, setelah suara dan kilasan tentang dirinya yang sempat di lupakan berhenti, Dirga merasakan kesunyian ini perlahan membunuhnya.


"Gue harus cepat kembali ke dunia Gue," gumam Dirga.


"Tapi bagaimana caranya?" Lanjutnya bertanya.


"Selamat malam sayang! Masih betah tidur heum?"


Deg!


"Kiara!!! Lu Kiara kan?" seru Dirga bertanya.


"Lima hari sayang, Kamu betah sekali. Apa Kamu tidak merindukan Aku, huem?"


"Apa,lima hari!" gumam Dirga kaget.


"Rindu?"


"Kalau begitu bangun dong sayang!"


"Duh ... Aku sepertinya sudah gila,"


"Gue juga rindu sekali sama Lu dan Lu bukan orang gila!" seru Dirga menjawab pernyataan kiara.


Namun sayang sampai kapan pun tidak akan terdengar.


"Aku mau bercerita tentang seorang Pria, yang meskipun bukan pertama, namun mampu menjadi yang utama di hatiku?"


"Seorang pria?"


"Apa kamu mau mendengarnya?"


"Siapa Dia?"


"Aku mulai yah ..."


"Baiklah Gue dengerin,"


"Ehem ... Namanya Dirga, apa Kamu tahu Dia siapa? Jelas saja karena itu adalah Kamu. He-he-he ... Oke Aku serius, jangan ngambek.


Kamu itu Pria dengan sejuta kejutan di saat pertemuan pertama Kita, pria dengan sejuta kemesuman di hari pertama jadian Kita dan pria dengan sejuta cara untuk kebahagian kita,"


"Gue?"

__ADS_1


"Tanpa Kamu Aku tidak mungkin bahagia sampai saat ini, mampu melupakan masa lalu kelam Aku, mampu melangkah dengan dagu terangkat dan dada membusung percaya diri,"


"Karena Lu cewek yang kurang percaya diri,"


"Kamu tahu apa yang membuatku jatuh cinta padamu saat itu?"


"Apa?"


"Si pria asing yang dengan seenaknya ingin berteman denganku, tapi ternyata punya niat terselubung di dalamnya!"


"Baru sadar, he-he!"


"Karena Kamu adalah Kamu, Dirga pilihan keluarga Aku, Dirga yang mencintaiku meski Aku sudah menolak tanpa mengetahui jika Kamu adalah jodohku dan Dirga Daddy tangguh untuk Gav yang setia menunggu!"


"Jadi sayang ... Apa harus ada alasan lainnya, agar kamu lekas bangun dari tidur Kamu?"


"Gue sendiri bingung, bagaimana cara Gue balik ke sana?"


"Apa yang harus Gue lakukan!!" gumam Dirga lirih.


"Sampai besok kah? Atau lusa kah? Atau det -


"Apa ini?" ujar Dirga dengan tangan menghalau sinar cahaya.


Tepat saat kalimat terakhir yang di ucapkan suara tanpa wujud itu berhenti, sinar menyilaukan mata dengan seorang anak perempuan muncul tiba-tiba.


"Papa!!!"


Ia hanya diam melihat uluran tangan anak perempuan tersebut, dahinya mengernyit saat Ia mendengar dirinya di panggil papa.


"Pulang Pah, tempat Papa bukan di sini!"


"Kamu siapa?"


"Bukan kah wajah Aku mirip seseorang, Papa?"


"Apa?"


"Pulang dulu ya Pah,sekarang pegang tangan malaikat kecil ini. Aku janji Papa akan bertemu Mama segera!"


"Mama?"


"Sekarang Pah atau tidak sama sekali,"


"Tapi,"


"Bukan kah Papa ingin kembali ke dunia Papa? Di mana ada mama dan adikku menunggu Papa?"


"Adik?"


Anak perempuan itu tidak menjawab lagi, hanya tersenyum dengan senyum yang mengingatkan akan dirinya saat kecil.


Senyum polos saat Ia belum tahu apa itu dunia bisnis, senyum yang muncul lagi saat Ia mengenal sahabat dan Istrinya.


Perlahan Ia mengulurkan tangan kanannya, menggapai tangan kecil yang masih setia mengulurkan tangan untuknya.


Grep!


"Siap untuk pulang Pah?"


"Aku pernah bilang kalau kita akan bertemu lagi di nirwana, tapi ini belum saatnya Pah. Suatu saat nanti jika Tuhan sudah menghendaki, Kita akan kembali bersama. Janji ya pah?"


"Kamu!!"


"Hi-hi-hi"


"Malaikat kecil papa?"


Anak perempuan itu mengangguk dengan imut, mirip dengan istrinya.


"Sampaikan salam Ku pada Mama Pah, Aku menyayangi Papa, selamat tinggal!"


"Dirga!!"


"Dirg-


Sinar cahaya yang terang menyelimutinya, saat kalimat perpisahan dari anak perempuannya terucap.


Ia seakan tersedot dan jatuh ke dalam Supermasive Black hole tanpa batas, hal yang terakhir Ia dengar adalah suara Istrinya yang memanggil namanya panik dan semua menghitam.


Ruang ICU


Suasana ruang ICU yang biasa sunyi itu tiba-tiba gaduh, saat Dokter dan Tim medis lainnya berdatangan.


Mereka dengan sigap memeriksa pasien koma di ruangan ini, setelah seorang wanita berteriak panik meminta tolong.


Seorang Dokter mengarahkan senter kecil ke arah mata Dirga, yang tadi sempat bergerak pelan.


"Matanya sudah merespon saat terkena cahaya," ujar seorang Dokter dengan nada gembira.


"Fungsi pada organ lain juga sudah mulai membaik, Dok!" sahut asisten Dokter melapor dengan semangat.


Dia senang akhirnya pasien koma yang mereka rawat selama lima hari ini berangsur-angsur membaik dan kesadarannya terus meningkat.


"Ganti alat bantu nafasnya!" ujar Sang Dokter memerintah.


"Baik, Dokter!"


Dokter itu pun melepas Stetoskop dari kedua telinganya, lalu menggantungnya kembali di leher dan menghela nafas lelah.


Kemudian Ia berjalan ke luar ruangan, untuk menyampaikan kondisi pasien yang mereka tangani.


Ceklek!


"Dokter, bagaimana Keadaannya?"


"Pasien atas nama Dirga ..."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sedikit notes:


Supermasive Black hole atau lubang hitam supermasive adalah jenis lubang hitam terbesar, dengan massa dari ratusan ribu hingga miliaran kali massa matahari.


Beriak artinya bergerak atau bergelombang pada air.

__ADS_1


__ADS_2