
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
"Pah, semuanya!!!"
Seruan Raka sebagai ketua, membuat mereka melihat ke arah Raka dengan raut wajah serius. Mereka mendekat ke arah Raka, berkumpul menjadi satu menunggu instruksi darinya.
Saat ini mereka bersembunyi di balik reruntuhan, gedung yang terbengkalai.
"Apa sudah siap?" tanya Raka semangat. Ia menatap satu per satu, dari orang yang ikut serta dalam upaya penyelamatan ini.
"Siap!" seru mereka serempak.
"Baik, Saya akan jelaskan posisi untuk masing-masing. Di sayap kanan, Leo yang akan menjadi ketua. Lalu kiri Bima, depan Saya, Faro dan belakang Kaisar, Ronald. Sedangkan Papa Hendri dan Papa Fandi akan menunggu di sini, kali ini kita tidak bermain dengan pihak berwajib. Jadi apa pun yang terjadi di arena adalah hukum rimba, kalian paham kan maksud saya?" ujar Raka menjelaskan. Ia menatap satu per satu temannya, bertanya dengan nada serius.
"Mengerti!" balas mereka tegas.
" Bagus, sekarang kita berangkat!"
" Baik!!"
Mereka pun memulai misi-nya, bergerak dengan hati-hati. Seperti yang mereka tahu, di arena nanti mereka memakai cara alam artinya siapa yang kuat Dia yang menang.
Setiap langkah mereka di buat sesunyi mungkin, mendendap-endap layaknya hewan buas mengincar mangsa.
Sesuai posisi yang sudah di atur Raka sebagai ketua, mereka menyebar dengan gerakan sehalus kapas.
Mata dalam mode auto dengan sekecil apapun pergerakan.
Di setiap sudut ternyata sudah berdiri beberapa penjaga, dengan tubuh layaknya ogre.
Dani bertugas memantau keadaan lewat Drone, melihat kejadian dari atas jika ada sesuatu yang tidak sesuai rencana.
Meski kekuatan anggota milik Dirga tidak di ragukan lagi, tapi musuh terlihat sulit untuk di taklukan.
Setelah masing-masing mencapai posisi pas, mereka kembali bersembunyi. Mengawasi pergerakan, membaca kelemahan serta menghitung lagi jumlah dan resiko jika mereka menyerang.
Sedangkan di dalam gedung, tepatnya di ruangan lain selain tempat Dirga si sekap. Ada Richard yang sedang bersiap-siap, menyiapkan keperluan untuk permainannya dengan istri Si arogan. Memikirkan kenikmatan yang akan Ia rasa, membuat sesuatu yang ada di bawah sana beraksi.
"Sial, baru juga ngebayangin udah berasa. Sebaiknya Gue cepet kembali," gumam Richard tidak sabar.
Ia dengan segera berbalik menuju ruang sebelah, menjemput bunganya untuk memulai permainan.
"Show time!!" batin Richard senang. Tanpa tahu jika di samping kiri bahkan di sekelilingnya, para penjaga sudah hampir menjadi santapan hewan buas.
Ceklek!
Richard keluar kamar, menuju kamar lainnya untuk menjemput Kiara. Ruangan yang berjarak lumayan, membuatnya melangkah dengan tergesa.
Tap! Tap! Tap!
Gedung terbengkalai bekas hotel milik keluarga Wilson ini, masih menyisakan beberapa fasilitasnya.
Dengan lorong panjang, berhiaskan reruntuhan plafon di setiap sudutnya.
Di depannya, sudah terlihat ruangan tempat mereka menyekap Dirga. Ia mengernyit saat mendengar suara pria, yang Ia yakini milik Sang papa.
"Papa sudah datang?" gumam Richard bertanya pada diri sendiri. Ia mendengar suara Sang Papa, sedang berbicara dengan nada tidak sabar. Membuat Ia kesal, sepertinya permainan sudah harus di mulai.
"Dasar tidak sabaran!" gumam Richard mendengus kesal.
Di dalam ruangan
"Aku sebenarnya ingin fokus dengan perusahaan dulu, tapi bagaimana yah. Kamu sombong sih, berani memarahi Aku dengan percaya diri seperti itu. Jadi jangan salahin Aku, jika Aku ingin kehancuran Kamu!" lanjut Caterine dengan dingin.
"Sudah, lebih baik kita segera melakukannya. Aku punya firasat, jika akan ada sesuatu yang besar mengintai kita di luar sana. Kemana lagi Si Richard it -
Ceklek!
Ucapan Andrew terhenti, saat mendengar pintu terbuka di susul Richard yang masuk dengan wajah datar.
"Aku di sini Pah!" seru Richard menyela.
"Bagus, apa semua sudah siap?" tanya Andrew.
Richard menganggukkan kepalanya, melihat ke arah Dirga dengan senyum miring menantang.
"Tentu saja, sudah tidak sabar kah? Kita bisa membawa mereka, ke tempat yang sudah Richard persiapkan. Bagaimana?" balas Richard. Namun matanya memandang Dirga, yang menampilkan raut wajah was-was.
Sedangkan Dirga sendiri segera pasang badan, membawa Istrinya ke dalam pelukan perlindungannya.
Ia menatap tajam ke arah Richard, yang menjilati bibirnya menatap ke arah Istrinya lapar.
"Sialan, apa yang harus Gue lakuin?" batin Dirga bingung.
Tap! Tap! Tap!
Richard membuat langkahnya pelan, menikmati setiap ekspresi takut dari wanita yang ada di pelukan pria sialan.
"Berhenti di situ, kalau tidak-
"Kalau tidak apa?" sela Richard cepat. Alisnya terangkat menantang, dengan senyum semakin lebar menyeramkan.
"Gue yang akan membunuh Lu, dengan kedua tangan Gue sendiri!" desis Dirga berjanji. Jangan fikir karena Ia terluka, mereka bisa memperlakukannya dengan semena-mena. Terlebih Kiara, yang saat ini sedang bergetar takut.
"Sialan, apa yang lain sudah bergerak?" batin Dirga gelisah.
__ADS_1
Richard semakin mendekat, membuat Dirga semakin gelisah.
Luka di pahanya yang paling parah, membuatnya tidak mampu bergerak bebas. Tapi demi melindungi Istrinya, Ia rela membuat lukanya semakin parah asal keselamatan Sang istri terjamin.
"Gue harus bisa menahan ini sebentar!" batin Dirga semangat. Ia mengepalkan tangannya, saat tangan Richard mulai terulur untuk menjamah Istrinya.
Plak!
"Oh, masih melawan!!" seru Richard senang.
Ia mengusap tangannya yang di tepis kasar oleh Dirga, ketika hampir menggapai Kiara.
"Ga!"
"Sstt .... Ada aku sayang, Kamu tenang saja!" bisik Dirga menenangkan.
Ha-ha-ha-ha
Tawa ketiganya menggema, menertawakan tingkah sok pahlawan. Dari lelaki yang memasang sikap waspada, menatap tajam ke arah mereka.
"Masih bisa melawan, kuat sekali!" ujar Andrew meledek.
"Suami masa depanku, memang kuat. Ah jadi mau merasakan kekuatannya yang lain!" seru Caterine senang. Ia memandang Dirga dengan sorot mata menggoda, sayang hanya decihan yang di dapat.
"Dalam mimpi, sialan!" desis Dirga. Kemudian berdecih jijik, melihat Caterine yang tertawa senang.
"Wow, calm dowm dude. Bukannya seimbang yah, Gue sama Istri Lu dan Lu sama Si gila ini?" ujar Richard santai.
"Sialan, siapa yang Kamu sebut gila,hah?"sahut Caterine sewot. Ia menatap tajam Richard, yang hanya bisa terkekeh tanpa dosa.
"Lu lah, siapa lagi!" balas Richard cuek.
"Sial-
"Sudah jangan bercanda, sebaiknya cepat laksanakan!" seru Andrew menengahi.
Richard pun mulai menggapai lagi bahu Kiara yang ada di pelukan Dirga.
Buakh!!!
Dirga dengan segera menedang Richard tepat di area terlarangnya, membuat Richard mundur dengan desisan menahan sakit di benda pusaka-nya.
"Sialan, Lu mau ****** sekarang juga?" seru Richard emosi. Tangan-nya memegang bagian bawah tubuhnya, dengan mata menatap Dirga murka.
"Langkahin mayat Gue dulu,sialan!" desis Dirga dingin.
Meskipun paha-nya mengalami rasa nyeri dan sakit luar biasa, tapi Ia puas saat melihat Richard yang kesakitan.
"Rasakan, cih!" batin Dirga senang.
"Ha-ha-ha!"
Semuanya menoleh ke arah Andrew, yang saat ini sedang tertawa senang. Memandang dengan bingung, dengan raut wajah berbeda.
Sesekali desisan sakit terdengar, saat Ia mencoba menetralkan rasa sakitnya.
"Sesuai dengan kabar, seorang Wijaya memang tidak bisa di anggap remeh," ujar Andrew datar.
"Biarkan mereka yang beraksi, kalian semua pegang Si begundal itu! Kita lihat sampai mana kekuatannya, menahan rasa sakit yang akan Dia terima," ujar Andrew memerintah.
Kemudian tiga orang berbadan besar mulai berjalan, mendekat ke arah Dirga yang semakin waspada.
Tap! Tap! Tap!
Grep!
"Tidak!!"
"Jangan sentuh Istri Gue!!!"
Buakhh!!
Bruggghh!!
Akhh!!!!
"Dirga!!!"
Di saat yang bersamaan
Di luar tepatnya di sayap kiri dan kanan, Bima dan Leo sudah bersiap. Mereka dengan sunyi bergerak kebelakang mereka, memukul titik lemah di bagian punggung dan seketika pingsan tanpa perlawanan.
Brukh!!
"Beres, ikat segera!" seru Leo berbisik. Memerintah anggotanya, yang di jawab anggukan kepala mengerti.
"Baik!"
Penjaga demi penjaga di habisi dengan sunyi, memperkecil resiko bentrok yang akan lebih memakan banyak korban.
Tapi sayang ada seorang penjaga yang jeli, sehingga sayap depan mulai di ketahui hawa keberadaannya.
"Siapa di sana??" seru seorang penjaga keras. Sehingga membuat teman komplotan lainnya waspada, memasang sikap Siaga.
Raka dan Faro yang merasa sudah ketahuan hanya menyeringai, akhirnya tidak perlu bersembunyi.
"Sialan, memang harus baku hantam nih!" gumam Raka senang. Ia terkekeh seram, akhirnya setelah sekian lama mereka bisa olahraga lagi.
"Siap Bro?" Lanjutnya bertanya.
"Anytime!!" balas Faro dengan seringai yang sama seramnya dengan Raka.
__ADS_1
Terhitung sejak Faro mengatakan anytime, mereka pun mulai menyerang. Selalu menghindar dan berkelit, di saat terjadi perlawanan.
Bunyi suara menyeramkan, memenuhi lahan luas area depan gedung Hotel terbengkalai itu. Pukulan demi pukulan di layangkan, dari masing-masing kubu.
Musuh bergelimpangan jatuh terlentang di atas tanah, membuat anggota penyelamat bernafas dengan memburu.
Sudah tidak terhitung berapa jumlah korban dari pihak musuh. Sedangkan pihak Raka sendiri, meskipun banyak yang terluka tapi mereka masih berdiri gagah.
"Tangguh juga orang sewaan mereka, tapi lumayan buat olahraga!" seru Raka senang.
Faro dan yang lainnya terkekeh senang, puas dengan kemenangan mereka di area depan.
"Bagaimana di belakang?" tanya Faro kepada yang lain.
"Sudah selesai!" seru seseorang menyahut. Di ujung sana ada Kaisar dan Ronald, yang penampilannya tidak bisa di bilang baik-baik saja.
Baju berantakan dengan noda tanah, serta biru di pipi menghiasi wajah mereka. Maklum saja Ronald maupun Kaisar, tidak pernah terlibat perkelahian sampai serius seperti ini.
"Kita masuk?" tanya Bima tiba-tiba.
Mereka menoleh serempak ke arah Bima, yang penampilannya masih seperti awal. Baju rapih tanpa noda, bahkan rambutnya pun masih tertata tanpa cela.
"Kurang seru yah, di sana?" tanya Raka meledek.
Bima tersenyum miring, mengendikan kepala ke arah belakang. Dimana ada anggotanya, membanting beberapa tubuh penjaga yang pingsan.
"Kirim ke Bui!" perintah Raka tegas.
"Sekarang menu utama, apa kalian sudah siap?" lanjut Raka bertanya.
Mereka mengangguk, menjawab tanpa suara.
"Seperti biasa, bergerak layaknya shadow," desis Raka menatap tajam ke arah gedung.
"Kami datang Ga!" batin mereka kompak.
Mereka pun bergerak, masuk kedalam bersama. Menyerang sisa penjaga yang bersembunyi di setiap sudut ruangan, terpaksa perlawanan mereka lakukan. Hingga akhirnya yang terdengar adalah suara-suara lolongan meminta ampun .
Di dalam gedung
"Dirga, jangan sakiti Dirga, Aku mohon!" seruan Kiara memenuhi ruangan, tempat terjadi pemukulan masal dengan korban yang adalah Dirga.
Hiks! Hiks!
"Aku mohon!!!"
Plak!
"Diam Kamu wanita sialan," gumam Caterine berbisik. Ia mencengkram pipi Kiara setelah menamparnya, membuat pipi Kiara yang putih berhiaskan noda biru.
"Uuggh!!"
"Caterine sialan, suruh siapa Lu tampar bunga Gue. Mau mati Lu?" ujar Richard emosi.
Ia tidak terima, saat wanita yang akan di cicipinya berwarna selain warna darinya.
"Dia berisik, jadi wajar kalau Aku buat diam!" seru Caterine memandang Richard berani.
"Hey suami Ku jangan sampai mati!!!" lanjut Caterine memerintah. Suaranya terdengar hingga luar.
"Kemari Kau bunga cantikku!" seru Richard. Sambil mendekati Kiara yang beringsut menjauh, namun sayang jatuh terjerembap duduk bersimpuh.
"Jangan melawan!"
Di saat Dirga sibuk dengan penjaga yang sedang memukulinya, Richard sendiri sibuk ingin menjamah Kiara.
Sedangkan Andrew hanya melihat, sampai sejauh mana Anaknya bertindak. Tidak masalah mendapat bagian setelahnya, jika hasilnya sama puasnya.
Caterine sibuk menggerutu tentang pemukulan terhadap Dirga, Ia tidak rela jika wajah tampan kesukaannya ternodai warna biru dan merah.
Ia menghentakkan kaki kesal, menoleh ke arah Andrew yang mengangkat alis bertanya.
"Apa?"
"Kenapa sampai di pukul, janjinya tidak seperti ini?" tanya Caterine kesal.
"Dia melawan, sudah seharusnya dapat hadiah," balas Andrew santai.
Persetan dengan wajah Si arogan, yang pasti saat ini Ia senang melihat wajah tidak berdaya dari seorang Wijaya.
"Pembalasan yang indah!" batin Andrew senang.
"Kemari say-
"Jangan sentuh Istri Gue-
Brakkkkkhhhh
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Drone adalah pesawat tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh dengan menggunakan komputer atau remote control, yang bisa digunakan untuk membawa muatan baik senjata maupun muatan lainnya
Ogre (atau ogress) biasanya digambarkan sebagai makhluk yang besar, suka bersembunyi, raksasa yang mirip manusia yang dapat memakan manusia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Salam sayang untuk pembaca semua.
__ADS_1
Semangat