Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
My Turn ~ Ya, Kamu S'lalu Di Hatiku


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Ungu__Cinta Dalam Hati.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Gavriel pov on


Kali ini aku sengaja memutar lagu melow, saat aku sedang merasa perlu mendengar sebuah lagu.


Hatiku, yang aku coba untuk selalu dan selalu mengingat akan batasan tiba-tiba luruh, saat aku mendengar dan melihat sendiri, bagaimana tatapan mata tidak percaya darinya.


Hatiku sakit, saat aku harus berbohong secara langsung di hadapannya. Tapi untunglah, aku bisa menguasai diriku sehingga aku segera berbalik badan, saat dia berusaha melihat tatapan mataku.


Queeneira, kamu hampir membuatku tidak berdaya.


Benar, aku hampir saja menghampirinya untuk membawanya masuk dalam pelukanku, saat dia bertanya tentang adakah dirinya dihatiku.


Tentu saja, bukankah sudah aku bilang, jika kamu akan selalu ada dihatiku.


Atau aku harus bilang, jika iya kamu selalu ada dihatiku, Queeneira.


Aku saat ini sedang memeriksa kembali keperluanku, maksudku surat dan dokumen yang harus aku selesaikan sebelum lusa depan keberangkatanku.


Ah! Lusa depan ya, aku tidak akan menyangka kalau tiba juga waktunya aku untuk pergi meninggalkan semua yang aku sayangi.


Orang tuaku, adikku, kakek-nenekku, juga dua makam buyut-uyutku, sepupuku dan tentu saja cintaku__sahabatku.


Apa yang lebih berat dari meninggalkan mereka, terlebih aku meninggalkan sebagian hatiku disini, dengan sebagiannya lagi aku bawa pergi.


"Jangan dibahas lagi, Queeneira. Aku harap kamu mengerti itu."


Tiba-tiba kata-kata terakhir sebelum aku meninggalkannya terngiang, mengingatkan aku saat tadi siang aku dan dia berbicara.


Aku harap ini bisa membuatmu mengerti, Queene. Aku hanya ingin kamu bebas tidak terkekang dalam hubungan tanpa ikatan, karena aku tidak bisa menjanjikan kemanisan namun semu dalam hidupmu.


Aku menoleh ke arah laci mejaku, kemudian menariknya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam yang sudah usang.


Kotak lama yang sudah aku simpan lama, membuatku tersenyum saat aku mengingat, bagaimana bisa isi kotak ini tercipta.


Aku mengusapnya perlahan, kemudian tersenyum kecil dan menyimpan kembali ke dalam laci, aku takut membuat isi kotak itu rusak, karena aku yakin jika isinya akan rapuh termakan oleh waktu.


Aku ingin menunjukkan ini untukmu, juga ingin memberikan ini kepadamu. Tapi, apakah kamu masih ingat, bagaimana bisa benda ini sampai terbuat, Queeneira.


Saat aku menutup kembali laci meja kerjaku, aku mendengar ketukan pintu dari arah luar.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa!" seruku dengan suara lembut khas Mommy yang menjawabnya.


Aku pun berdiri dan berjalan menghampiri pintu, membuka dan menemukan Mommy yang tersenyum sedih ke arahku.


Oh ... Momm, jangan buat aku mundur dari keputusan yang sudah matang ini. Aku paling tidak kuat melihat tatapan mata itu, tatapan mata yang entah kenapa menurun kepada perempuan yang aku sayangi.


"Gavriel."


"Yes, Momm. Why? (Ya, Mama. Kenapa)"


Mommy tidak langsung menjawab, beliau justru memegang lenganku dan menarikku keluar kamar dengan aku yang menutup pintu segera, kemudian pasrah mengikutinya dari belakang.


"Momm, ada apa?" tanyaku sekali lagi, barulah Momm memberitahuku.


"Lusa kamu sudah pergi, Daddy bilang ada yang ingin dibicarakan."


"Oh."


Aku mengangguk dan mengikutinya, masih dengan lenganku yang digenggamnya.


"Segera beritahu El, sayang. Nanti dia ngamuk, kamu mau dimusuhi seumur hidup."


Ah! Aku sampai lupa, El belum tahu tentang kepergianku.


"Hn. Baik, Momm."


Kami pun sampai di pintu ruang kerja milik Daddy dan Mommy segera membukanya tanpa mengetuk pintu.


Ceklek!


"Sayang!" seru Momm, sehingga Daddy pun menoleh ke arah kami.


"Oh! Sudah datang, duduk. Kita mau ngomongin sesuatu sama kamu."


Aku hanya mengangguk dan mengikuti Mommy duduk di sofa panjang. Sedangkan Daddy duduk di hadapan kami.


"Ada apa, Dadd, Momm?" tanyaku saat keduanya masih terdiam.


"Tidak Gavriel, kami hanya ingin bertanya tentang perayaan. Apakah kami boleh membuat pesta kecil untuk kenaikan kelas, juga keberangkatan kamu ke luar negeri nanti?"


Aku menoleh ke arah Mommy, menatap Momm dengan tatapan dan hati berpikir, pentingkah sebuah pesta keberangkatanku nanti.


Aku sih yakin selain Daddy dan Mommy, kedua kakek-nenekku pun sudah tahu.


Aku tidak ingin ini, aku hanya ingin ini diketahui oleh orang terdekatku saja.


Akhirnya aku pun menggelengkan kepala, dengan Daddy yang mendengkus.

__ADS_1


"Tidak perlu, Momm. Gavriel tidak ingin ada pesta atau perayaan," tolakku tegas.


"Sudah aku bilang, Gavriel pasti tidak mau."


"Yah! Kan aku hanya ingin hari terakhir Gavriel berkesan loh, sayang."


"Tapi dengar sendiri."


Aku melihat percakapan kedua orang tuaku dalam diam. Sebenarnya aku tidak ingin membuat Mommy kecewa, tapi aku tidak ingin ini, karena aku rasa perjalananku yang belum di mulai belum pantas untuk dirayakan. Aku ingin ada perayaan atau pesta kecil, saat aku kembali dan membawa kesuksesan untuk semua yang nanti menungguku pulang.


"Dadd, Momm. Bukan aku ingin menolak rencana Momm, aku tahu Momm hanya ingin yang terbaik untuk aku. Tapi, aku hanya ingin pesta, jika aku sudah meraih kesuksesan, agar aku bisa dengan bangga mempersembahkannya untuk semuanya," ujarku menjelaskan, sehingga keduanya pun menoleh ke arahku dan menatapku dalam diam.


"Tidak apa-apa kan, aku janji, pulang nanti aku dari sana, Mommy bisa menyiapkan pesta sebesar apapun untukku. Bagaimana?" lanjutku, kemudian aku merasakan tepukan di lenganku dengan Mommy yang tersenyum lebar.


Akhirnya, aku bisa melihat senyum itu lagi.


"Baiklah, pesta penyambut-


"Apa ini maksudnya, Daddy, Mommy!"


Aku dan kedua orang tuaku segera menoleh ke arah pintu, dimana ada adikku yang melihat kami dengan tatapan menuntut.


"El!"


Kami bahkan sama-sama memanggil nama Selyn, yang menatap kami semakin menuntut.


"Mas! Jangan bilang Mas mau pergi?"


Aku terdiam saat mendengar suara bergetar dari adikku, yang menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"El ... Biar Mas jelaska-


Brak!


Aku menghentikan kalimat yang ingin aku ucapkan, saat pintu tertutup dengan adikku yang pergi meninggalkan ruangan Daddy.


Aku melihat ke arah kedua orang tuaku yang mengangguk, mengizinkan aku menyusul adik kesayanganku.


"Daddy dan Mommy tunggu di ruang tamu saja, yah. Aku akan bawa El kesana."


Setelah mendapat anggukan kepala dari keduanya, aku pun berdiri dan berjalan keluar ruangan menuju kamar adikku.


Tok! Tok! Tok!


Aku mengetuk pintu adikku beberapa kali, namun tak kunjung ada sahutan.


"El, ini Mas. Buka pintunya."


Masih tidak ada jawaban, hingga aku putuskan untuk mencoba membuka pintu yang syukurnya tidak di kunci.


Ceklek!


Aku pun masuk dan melihat gundukan selimut di ranjang adikku, membuatku menghela napas dan berjalan menghampiri ranjang dengan adikku di dalam selimut.


Oh! Tidak, aku seharusnya memberi tahu sebelum dia tahu sendiri.


Aku duduk di pinggir ranjang, menepuk-nepuk selimut itu dengan pelan.


Puk! Puk! Puk


"Kesayangan Mas, lagi di dalam yah," gumamku menggoda adikku yang merespon dengan gerakan di bawah selimut.


"Mas minta maaf yah, tapi El nggak boleh gitu sama Daddy dan Mommy. Pergi tiba-tiba seperti itu, tidak sopan tahu tidak," lanjutku dan aku pun tersenyum saat aku mendengar kata tahu dan maaf darinya.


"Kok sama Mas, sama Daddy dan Mommy dong."


"...."


Kemudian aku pun diam, saat adikku tidak menyahutinya lagi.


"El."


"..."


Oh, astaga! Adikku yang manja.


"El ... Mas jelasin yah semuanya. Tapi nggak disini, di ruang tamu yah. Sudah ada Daddy dan Mommy yang nunggu, kamu juga harus minta maaf dengan mereka, paham kan, mau Mas apa."


Awalnya El tidak meresponku, diam seperti batu. Tapi saat aku melihat selimut yang diturunkan, memperlihatkan wajah cemberut adikku yang imut, aku pun tersenyum mengusap rambutnya dan mengajaknya sekali lagi untuk menuruti apa kataku.


"Yuk! Ikut Mas ke ruang tamu," ajakku dengan adikku yang mengangguk dan kami pun sama-sama keluar kamar, berjalan ke arah ruang tamu untuk menghampiri kedua orang tua kami.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Sesampainya kami di ruang tamu, kami pun segera duduk di hadapan Daddy dan Mommy yang menunggu kedatangan kami.


Dan berikutnya, adikku yang blak-blakan pun bertanya tanpa basa-basi kepada kami, terlebih Daddy yang akhirnya menjelaskan singkat.


"Jelaskan, jelaskan apa maksud dari kalimat yang El dengar tadi, Dadd."


"Jadi sebenarnya, Mamasmu ini akan melanjutkan pendidikan di luar negeri, tepatnya di New York, El sayang."


Apakah El puas akan ucapan Daddy? Tentu saja tidak, adikku kembali menoleh ke arahku sehingga aku pun tahu, apa yang harus aku lakukan karena aku sudah bilang akan menjelaskanya.


Dan aku pun menjelaskan segalanya tanpa aku tutupi, jika aku memutuskan untuk pergi belajar di luar negeri agar bisa menambah peluang, juga agar aku bisa belajar lebih keras tentang bisnis, sehingga aku lebih bisa diandalkan saat kelak aku memegang kendali akan perusahaan. Baik itu milik keluarga atau milikku sendiri.


Aku kira dengan menjelaskan kepada El, El akan segera mengerti. Justru dia semakin marah, meskipun sudah tidak berlaku kekanakan dengan pergi tiba-tiba seperti tadi.


"Tapi El masih tidak mengerti, kenapa harus luar negeri sih, Mas. Sekolah yang sekarang juga bagus dan banyak universitas ternama di kota kita."

__ADS_1


Nah ... Apa kataku, akan ada perdebatan jika El tahu rencanaku dan ini sebabnya aku memberitahu di akhir saja, saat aku akan pergi di beberapa hari sisa hariku disini.


"Mas tahu, tapi Mas sudah tetapkan dan Mas sudah final, El," tandasku tegas, dengan El yang menatapku tidak percaya.


Aku tahu, kalau El masih belum bisa menerima ini, tapi aku harap nanti saat aku pergi, El bisa menerima dan mengantar kepergianku dengan senyum lebar seperti biasa.


"Daddy, Mommy. El anggap pembicaraan dengan Dadd dan Mommy sudah selesai. Tapi biarkan El bicara berdua dengan Mamas, bolehkah."


Kedua orang tua kami mengangguk, kemudian El pun menarikku untuk mengikutinya kembali ke atas.


Kami menaiki tangga kemudian adikku juga membuka pintu kamarku, lalu menarikku masuk kedalam sedangkan dia menutup pintu dan baru setelahnya menghadap kembali ke arahku.


Aku hanya diam, menanti apa yang ingin diucapkan oleh adikku. Apakah ini masih tentang ketidak terimaannya atau hal lainnya.


"Mas."


"Hmm?"


Adikku menatapku ragu dan aku menatapnya dengan alis terangkat bingung.


"Mas, El tahu, jika apapun yang Mas putuskan, pasti itu semua sudah masuk dalam perhitungan Mas. El mengerti jika banyak tanggung jawab yang akan Mas pikul setelah ini. El terima jika memang ini yang terbaik untuk Mas. Tapi ..."


Adikku menghentikan ucapanya, tidak melanjutkannya dan hanya melihat aku ragu.


Apa sebenarnya yang ingin El sampaikan, aku ingin tahu.


"Tapi apa, El?" tanyaku saat El terlalu lama menjeda kalimatnya, membuatku semakin ingin tahu sebenarnya apa yang membuatnya terganggu.


"Tapi ... Apa Mas harus ya, melepaskan rasa sayang Mas untuk Mba Que?"


Deg!


Tiba-tiba ada hantaman keras, dengan jantungku yang jadi korban saat adikku bertanya seperti itu.


Adikku bahkan tahu, jika aku sebenarnya juga memiliki rasa kepada sahabatku dan memilih melepasnya saat ini.


Tidak, aku tidak boleh mengakui ini dengan mudah. Aku harus tetap membohongi semua orang, karena aku tidak ingin apa yang sudah aku lakukan sia-sia.


Aku bisa membohongi cintaku, aku juga pasti bisa membohongi adikku. Iya kan?


"Melepas rasa sayang? Maksudnya?"


"Mas jangan pikir bisa membohongi El juga yah, El tahu kalau Mas sebenarnya sayang dan mencintai Mba Que, kan? Iya, jawab iya Mas."


Aku mencoba untuk tenang, saat adikku bertanya dengan nada marah di dalamnya.


Sepertinya El sudah tahu, jika aku sudah membohongi semua orang, tentang perasaan sesungguhnya yang aku miliki.


"Perasaan apa, El? Perasaan sayang kepada Queeneira?" tanyaku dengan nada tenang dan adikku mengangguk cepat.


"Ya ... Perasaan sayang Mas untuk Mba Que!"


Aku memasang senyum geli, kemudian menggelengkan kepala pura-pura lucu dengan apa yang dikatakan oleh adikku.


"Khe ... El, El. Mas memang menyayangi Mba Que-


"Kan, El benar, Mas pas-


"Tapi hanya sebagai sahabat, tidak lebih."


Adikku terdiam saat aku menyela ucapannya kembali, saat tadi dia menyela ucapanku dengan nada semangat. Bahkan adikku melihatku dengan tatapan tidak percaya, saat aku melanjutkan ucapan tentang rasa sayangku yang hanya sebatas sahabat.


"Tidak mungkin."


"Apa yang tidak mungkin El, itu memang kenyataannya."


Jawaban cepat dariku membuat adikku menatapku dengan kaget, kepalanya menggeleng seakan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.


"Mas bohong!"


"Tidak."


Maaf El, ini yang terbaik untuk Mas dan Queeneira.


Adikku melihatku dengan kristal mata hampir menetes, membuat aku mengepalkan tanganku, berusaha agar aku tetap pada pendirianku.


Aku harap tidak ada yang bertanya tentang perasaanku lagi setelah ini.


Tanpa banyak kata, adikku meninggalkan aku dengan mata beruarai air mata. Keluar dari kamarku setelah mengucapkan kata Mas bodoh kepadaku yang benar dan juga aku merasa, jika aku memang lah seseorang yang bodoh.


Maafkan Mas, El.


Brak!!


Aku menghela napas, kemudian berjalan menuju pintu hendak mengunci agar tidak ada lagi yang menggangguku setelah ini.


Tapi sayang, baru saja aku ingin menguncinya, pegangan pintu kamarku bergerak dan seseorang mendorongnya sehingga aku bisa melihat Momm berdiri di hadapanku, dengan raut wajah teduh dan hangat saat melihat wajah kalutku.


"Momm."


"Bisa kita bicara, Gavriel sayang?"


Dan malam ini, aku harus kembali mendengar pertanyaan tentang perasaanku lagi, dengan aku yang mendengar nasihat khas seorang ibu.


Ya, kamu selalu di hatiku, Queeneira.


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ...


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2