Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Permainan Konyol


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Taitong Organic Ecopark, Long ping.


Masih di kebun strawberry di kota Yuen Long. Gavriel dan tiga lainnya saat ini sedang menikmati buah strawberry, hasil petikan dari adiknya atau juga anak dari pasangan Wijaya-Wicaksono.


Di bangku taman yang di sediakan oleh pihak kebun, mereka duduk santai diisi acara berbincang dengan obrolan ringan, khas mereka jika sedang berkumpul.


Duduk melingkar dengan meja bundar di tengah-tengah, tidak ketinggalan keempatnya akan mengambil foto mereka saat sedang melakukan segala hal. Mulai dari Selyn yang memakan strawberry dengan Ezra yang menyuapi. Ezra yang berebut strawberry dengan Selyn, juga saat Gavriel dan Queeneira, yang saat ini sedang berdebat cara membedakan strawberry manis, yang sudah di petik oleh Selyn.


Bukan hanya satu-dua foto yang di ambil oleh mereka, melainkan puluhan dalam sekali jepretannya. Tentu saja akan sangat banyak foto yang tersimpan, karena baik Gavriel, Queene, maupun Ezra dan Selyn adalah orang yang suka sekali mengabadikan sebuah kegiatan,dalam bentuk sebuah foto atau juga video.


"Oh iya, apa orang tua kita sudah sampai yah, di Paris sana?" tanya Ezra menatap sepupu dan sahabatnya, dengan sorot mata khawatir.


Meskipun ia terkadang suka berdebat dengan Pipinya, serta saling meledek dengan Miminya, ia sangat menyayangi kedua orang tuanya, yang sampai saat ini belum bisa ia hubungi.


Gavriel balik menatap sepupunya, kemudian ke arah samping di mana sahabat perempuannya juga, sedang menatap ke arahnya.


Dengan senyum tipis, ia menepuk kepala adiknya yang ikut menatapnya khawatir, baru menjawab pertanyaan dari sepupunya dengan senyum menenangkan.


"Mereka pasti akan baik-baik saja, seharusnya saat ini, mereka sudah sampai di penginapan, sedang istirahat untuk memulai liburan sama seperti kita."


Ketiganya pun mengangguk, mengamini dalam hati perkataan dari seorang Gavriel.


Sebagai seorang yang bertanggung jawab, saat mereka liburan di negara tempat kakeknya tinggal. Queeneira pun menepuk tangannya, meminta perhatian kepada sahabatnya, yang segera melihat ke arahnya.


Prok!


"Oke, gini guys. Bagaimana kalau kita bikin permainan!" usul Queeneira dengan nada semangat, membuat tiga orang di depan dan samping kiri-kanannya penasaran.


"Permainan apa?" tanya ketiganya kompak.


Queeneira tersenyum dan kemudian mengulurkan tangannya, membuat ketiganya lagi-lagi melihatnya semakin penasaran.


"Mari kita berpencar, untuk berfoto dengan pengunjung lainnya. Siapa yang paling banyak dapat fotonya, dialah pemenangnya. Bagaimana?" cetus Queeneira menjelaskan dengan semangat, menatap satu per satu ketiganya, dengan alis naik-turun merayu sahabat dan adiknya.


Ketiga orang ini pun terdiam, kemudian saling lihat baru mengangguk, menyetujui permainan yang dibuat.


"Boleh juga Mba, tapi apa ada kriterianya. Maksudnya harus orang sini atau wisatawan seperti kita ini?" tanya Selyn dengan antusias.


"Tidak ada kriteria, tapi bagaimana kalau dapat mancanegara paling banyak yang menang. Begini, jadi foto dengan wisatawan dalam negeri satu poin, dengan wisatawan luar dua poin. Bagaimana, setuju?" usul dan jelas Queeneira, masih antusias saat merasa ini adalah permainan menantang.


"Maksudnya, kalau pun aku dapat foto sepuluh namun dengan wisatawan asal sini, sedangkan kamu dapat enam tapi wisatawan luar, artinya kamu adalah pemenang dari permainan ini. Begitu?" tanya Gavriel memastikan, dengan kening berkerut saat sahabat perempuannya menjelaskan, aturan untuk permainan kali ini.


"Yups! Artinya sama saja dengan kamu dapat poin sepuluh, sedangkan aku poin dua belas. Bagaimana, apakah sudah jelas semua?" jawab dan tanya Queeneira dengan anggukan kepala semangat.


"Jadi, hadiahnya apa?"


Kali ini Ezra yang bertanya, saat seperti biasa mereka melakukan permainan, pasti akan ada hadiah sebagai penyemangat mereka.


"Hadiah yah, huem ..."


Queeneira bergumam panjang, saat memikirkan hadiah apa yang akan di dapatkan oleh pemenang nanti.


"Jika hanya makan-makan itu sudah biasa, jadi apa yah menurut kalian?" tanya Queeneira bingung setelah bergumam panjang.


"Hum ... Bagaimana kalau gendong saat pulang?" usul Ezra dengan entengnya, menuai sorakan kompak dari sahabat dan sepupunya yang merasa keberata, akan idenya yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Huuww!!!"


"Kupret, dasar!"


"Ish! Kan aku hanya kasih ide, ble," sungut Ezra dengan kekehan di akhir kalimatnya, saat ketiganya menampilkan wajah kesal.


"Iya aja kalau kami yang menang, kalau Mas Ez dan Mas Gav bagaimana? Masa kami gendong kalian berdua, hih," sembur Selyn sebal, merasa ide dari Mamasnya membebani ia dan Mbanya.


Perkataan dengan nada sebal yang kentara dari adiknya, membuat tawa Ezra semakin terdengar menyebalkan, sehingga Selyn semakin melipat wajahnya.

__ADS_1


"Lalu apa dong?" tanya Ezra setelah kekehannya berhenti. Ia menatap Selyn yang melengoskan wajahnya, lalu terkekeh kecil lagi saat mendengar gerutuan lucu dari adiknya.


"Mas Ez reseh, minta di slepet nih bibirnya."


"Ha-ha-ha ... Sorry-sorry, iya deh. Tadi cuma becandaan, jadi menurut kalian apa hadiahnya?" lanjut Ezra bertanya, setelah meminta maaf dengan nada geli kepada Selyn, yang masih menampilkan wajah berlipat.


"Huemb," dengkus Selyn menahan senyum gelinya. Saat ia melihat sepupunya, menampilkan wajah meminta dengan cengiran lebar.


"Begini aja deh, yang menang. Boleh minta apa saja dengan yang kalah, tapi jangan melebihi kapasitas ya, meminta hadiahnya jangan berlebihan. Bagaimana?" usul Gavriel, melihat yang lainnya dengan tatapan bertanya.


Tiga orang lainnya berpikir dengan gumaman, kemudian sama-sama mengangguk menyetujui apa yang di katakan olehnya.


"Baiklah, sudah setuju yah. Kalau yang menang, boleh meminta apa pun dalam batas sewajarnya. Pada setuju, kan?" putus Queeneira, yang di angguki semua tanda setuju.


"Setuju!"


"Oke ... Kita berpencar, berburu foto sebanyak-banyaknya. Siapa yang paling banyak, dia yang menang dan dapat hadiah dari yang kalah. Sedia, mulai!"


Dengan tanda mulai dari Queeneira sebagai pencetus ide ini, maka di mulai lah acara permainan mereka.


Di mulai dari Selyn, yang berjalan ke arah selatan. Ia dengan modal handphone canggih keluaran terbaru, mencari wisatawan yang sedang melihat kebun strawberry, untuk di ajak berfoto dengannya.


Kebanyakan wisatawan yang Selyn temui adalah wisatawan dalam negeri, tapi ia tidak peduli dan tetap semangat mengajak mereka berfoto, dengan bahasa seadanya serta tangan menunjukan handphone sebagai tanda kejelasan.


"Muisi a cece, hoyi em hoyi, ngo tei yacai yeng shiong. Yat ci? (Permisi Mba, boleh tidak, kita berfoto bersama. Sekali saja?)" tanya Selyn dengan bahasa apa adanya, bahasa yang ia yakini jika ia sendiri bingung saat mengucapkannya.


Ia jadi berpikir ia saja yang sering belajar dengan Mbanya bingung, apalagi dua Mamasnya.


"Au ah ... Palingan Mas Gav dan Mas Ezra pake cara itu," batin Selyn kemudian menggelengkan kepalanya pelan, mengenyahkan pikiran negatifnya.


"Pei mea, cece? (Buat apa, Mba?)" tanya salah satu dari mereka, saat jumlah mereka ada sekitar lima orang.


Selyn berpikir indah, jika dalam satu jalan ia bisa dapat lima foto sekaligus.


"Pai pei ngo jike, hoyi lah? (Buat saya simpan sendiri, boleh kan?)" balas Selyn dengan nada berharap.


"Hou lah, hoyi! (Baiklah, boleh)" seru wisatawan tersebut dengan ramah.


Dengan begitu Selyn pun bergantian berfoto dengan lima orang tersebut, kemudian pamit dengan senyum lebar terpasang apik di bibirnya.


Lanjut disisi Ezra yang agak kesulitan, saat ia bertemu dengan wisatawan dalam negeri juga, yang kebanyakan remaja perempuan tanggung, dengan mereka yang memekik senang saat ia menyapa keenam remaja tersebut.


Bukan kesulitan berbahasa kok, tapi lebih ke saat mereka dengan semangat meminta fotonya, alih-alih ia yang meminta foto mereka. Tapi saat mengingat jika saat ini ia sedang dalam misi taruhan, ia pun dengan helaan napas memasang wajah ramah dan meladeni mereka semua dengan tidak ikhlas.


Ezra pun akhirnya dapat enam foto, dengan ia yang harus rela saat media sosial berupa instakilo, jadi reward bagi keenamnya.


"Hais .... Belum juga dapat reward dari taruhan, sudah memberi reward sama orang lain."


Tidak bisa menggerutu dengan sesuka hatinya, Ezra pun kembali melanjutkan perburuannya dengan bahu merosot lesu.


"Kamvret," batin Ezra sebal.


Beralih kesisi Gavriel, yang saat ini santai dengan taruhannya. Ia sama sekali tidak mencari saat dirinya sengaja menghindari kerumunan, lebih memilih duduk di antara tumbuhan seakan tidak ingin di lihat.


Dari sini ia bisa melihat adiknya, sepupunya dan juga sahabatnya yang sedang melakukan taruhan mereka. Sebenarnya ia bisa saja dapat foto banyak, tapi ia sengaja tidak ingin ikut serta, saat dirinya merasa enggan untuk melakukan hal merepotkan.


Ia bersantai, kemudian terkekeh kecil di tempat persembunyiannya, saat sepupunya di kerumuni oleh beberapa wisatawan paruh baya di sana.


Pemandangan yang sungguh menyenangkan untuknya, namun bagi sepupunya adalah hal yang menyebalkan.


Sedangkan di sisi Queeneira, ia dengan cepat mendapatkan foto baik dari wisatawan dalam maupun luar negeri. Bukan hanya ia pandai berbahasa, tapi juga karena Queeneira ramah saat meminta. Jadi saat ia menyampaikan maksudnya meminta foto, mereka yang mendengar dengan suka rela antri untuk bisa berfoto bersama Queeneira.


"Emkoy sai, *** ka yan. Ngo hou hoisam a, (Terima kasih, semuanya. Saya sangat senang)" ujar Queene dengan senyum lebar terpatri apik, di bibir dengan polesan lipgloss alaminya.


"Emsai lah. (Tidak perlu)"


Queeneira pun meninggalkan tempat dengan beberapa pengunjung, yang melambaikan tangan sebagai perpisahan, saat dirinya undur diri untuk mencari wisatawan lainnya.


Sekitar beberapa jam kemudian, mereka pun kembali ke tempat kumpul mereka. Di meja bundar, yang untungnya tidak ditempati pengunjung lainnya.


Mereka kembali dengan ekspresi puas, saat masing-masing (kecuali Gavriel) merasa jika mereka sudah mendapatkan foto paling banyak.

__ADS_1


Di antara keempatnya, hanya Gavriel yang santai saat ketiga lainnya memamerkan hasil pencarian mereka.


"Lihat! El dapat yang dari negara kita lima, dari luar negara sini tiga dan wisatawan sini delapan. Jadi total poin El, paling banyak seharusnya."


Perkataan Selyn yang percaya diri, membuat Queeneira dan Ezra mendenkus, saat mereka menghitung perolehan jumlah poin, yang di dapatkan oleh adik mereka, yang kini semakin menunjukkan senyum sumringah.


"Jangan seneng dulu, El. Lihat punya Mamas," timpal Ezra memberikan kamera yang di bawanya dan membiarkan dua perempuan di hadapannya, menghitung hasil foto yang di dapatnya.


"Mas Ezra, ih! Kok banyak gitu sih," dumel Selyn saat melihat hasil dari milik sepupunya lebih banyak, dibandingkan dengan miliknya.


"Iya dong, Mas Ez," seloroh Ezra jumawa, menuai dengkusan sebal dari Selyn yang mendengarnya.


"Huh."


Kini saatnya mereka melihat dan menghitung hasil berburu Queeneira, yang bersikap santai saat Ezra dan Selyn membanggakan hasil masing-masing.


"Punya Mba mana?" tanya Selyn dengan tangan menengah.


"Nih."


Queeneira pun memberikan dengan santai, saat dirinya merasa bisa memenangkan hadiah. Memang wisatawan yang di dapat Selyn banyak lebih banyak dari luar, tapi wisatawan dalam negeri yang berfoto bersamanya, lebih banyak dan menang jumlah jika di poinkan.


Dengan senyum penuh kemenangan, ia menatap Ezra dan Selyn yang melotot ke arahnya.


"Ah! Kamu tentu saja menang, bahasa kalian sama!"


Seruan kompak dari pasangan sepupu ini membuat Queeneira mendenkus, dengan bibir mencebil saat dirinya di tuduh menang karena bahasa. Padahal ia hanya menjelaskan dengan nada manis, sehingga semuanya rela mengantre untuk berfoto dengannya.


"Bukan salahku, bleee," sahut Queeneira dengan senyum mengejek, menuai seruan kesal dari Selyn yang semakin kesal saja.


Ketika ketiganya sudah selesai dengan acara hitung poin, mereka yang merasa satu orang santai pun serempak menoleh ke arah Gavriel, yang saat ini mengangkat sebelah alis sebagai tanda bertanya.


"Apa?" tanya Gavriel santai.


"Kok apa, Mas. Mana fotonya, dapat berapa banyak?" cerocos Selyn dengan tangan terulur, meminta sang kakak untuk memberikan kamera handphonenya.


Gavriel pun memberikan dengan santai, tanpa beban sama sekali, saat ia yakin jika ia akan kalah untuk taruhan kali ini.


Ketiganya pun segera memeriksa dengan mata melotot, siap menghitung jumlah foto yang berhasil di dapatkan seorang Gavriel.


Ekspresi syok adalah yang di lihat Gavriel, saat ketiganya kompak menatapnya dengan mulut menganga tidak percaya.


"Mas! Kenapa tidak ada foto?" tanya Selyn dengan nada tidak percaya.


Astatang!


Mamasnya ngapain aja selama tiga jam tadi.


"Tidak ada," balas Gavriel dengan bahu terangkat tidak peduli.


"Kenapa tidak ada?" timpal Ezra bertanya dengan gemas, saat sepupunya hanya mengangkat bahu tidak acuh.


Di antara pertanyaan dua orang tersebut, ada satu orang yang merasa kecewa saat sahabatnya, tidak turut serta memainkan permainan yang sudah mereka sepakati. Ia hampir saja ingin menanyakan alasan kenapa tidak ikut serta, tapi tidak jadi saat mendengar gumaman pelan dari sahabatnya, Gavriel.


"Terlalu ganas," gumam Gavriel sambil melengoskan wajahnya, ke arah lain enggan melihat ketiganya yang berseru "Hah" beramai-ramai.


"Pengunjungnya ganas-ganas, baru juga menyapa, belum minta foto. Mereka sudah menjerit kesenangan," ucap Gavriel dengan suara lirih, sehingga mereka yang mendengarnya mengedipkan mata bingung, namun menjadi tawa meledek yang sungguh membuat Gavriel kesal seketika saat mendengarnya.


Nah ... Ini alasannya santai saja, saat dirinya bisa mendapatkan foto tanpa harus bersusah payah. Bersembunyi dan berkamuflase dengan tumbuhan di sekitarnya, dari pandangan orang yang menatapnya dengan binar aneh.


Ha-ha-ha!


Gavriel semakin melengoskan wajah, saat dirinya jadi bahan ejekan. Tapi untunglah ada alasan logis di antara rasa enggannya, karena kalau tidak. Seseorang sebagai pencetus ide, akan merasa sangat kecewa, saat ide permainannaya tidak di ikuti dengan baik oleh salah satu dari mereka.


"Aku kira, kamu malas ikut dalam permainan yang aku buat. Astagfirullah, Gavriel. Kamu membuatku salah sangka lagi," batin seseorang dengan senyum lega.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....

__ADS_1


Terima kasih dan Sampai babai.


__ADS_2