
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Visual untuk episode bandara.
Gavriel Wijaya
Selyn Wicaksono
Queeneira Wardhana
Ezra Bennedict
Bandara internasional kota S
Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi, waktu yang sebagian orang masih dipakai untuk bermalas-malasan di ranjang, bergelung dengan nyaman menikmati hangatnya selimut.
Di parkiran Bandara internasional kota S, ada tiga keluarga dengan tambahan keluarga besar dari keluarga Wijaya, yang ingin mengantar anggota keluarga, atau juga anak dan cucu, serta cicit mereka untuk pergi berlibur.
Di antar oleh kakek, nenek dari Gavriel dan Selyn. Mereka berkumpul di lounge, sambil menanti pesawat mereka boarding.
Biasanya dua buyut mereka akan ikut serta mengantar, namun di kerenakan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, mereka pun maklum dan mendoakan kesehatan buyut mereka.
Faktor usia adalah yang utama, mereka berdua sudah pensiun total dan hanya menjalani aktivitas mereka di ruang atau juga jalan ke taman, dengan bantuan tongkat saat dulunya mereka menolak kehadiran alat bantu tersebut.
Gavriel hari ini memakai baju kaos polos putih, lengkap dengan topi yang di pakainya. Sedangkan Selyn memakai baju hangatnya, lengkap dengan syal yang melingkar di lehernya.
Lalu ada Queeneira, yang memakai pakaian terusan berwarna merah, warna kebanggaan negara asal kakeknya, mereka bilang merah adalah warna keberanian, semangat atau apapun yang menunjukkan kata bahagia.
Terbanding kebalik dengan warna putih, yang di artikan dengan kesedihan, dan biasanya warna putih di pakai saat menghadiri suatu acara belasungkawa.
Ezra tetap tampil apa adanya, dengan jaket berhodie serta rambut tanpa pomade.
Mereka duduk menunggu jadwal keberangkatan mereka, sambil bersenda gurau dengan keluarga. Beda keberangkatan para orang tua hanya beberapa puluh menit, sengaja menunggu anak-anak mereka naik dan terbang dahulu, baru kemudian mereka yang naik pesawat.
Jangan tanya fasilitas penerbangan apa yang akan digunakan mereka, karena tanpa diberi tahu semua juga tahu, Wijaya dan kekayaannya seperti apa.
Tapi sayang sekali, sifat anak-anaknya mendapat turunan sederhana dari sang istri, sehingga baik Gavriel maupun Selyn, lebih memilih penerbangan komersial meskipun dengan catatan dari sang Daddy, kelas yang dipakai harus yang pertama.
"Hati-hati di sana, turuti apa kata kung-kung. Oke!" seru Elisa kepada anaknya, Queeneira. Saat mereka ada di depan imigrasi, tempat privasi yang hanya bisa dimasuki oleh calon penumpang.
"Iya Mah, tenang saja," sahut Queene dengan anggukan kepala semangat. Membuat Elisa tersenyum sedih, saat beberapa waktu lagi mereka akan berpisah untuk satu minggu kedepan.
"Mo em keitak, ta tin wa. Dong may le, mo hoy jike yan, yugo yau hang kai-kai hai cut pin. Ngam em ngam?(Jangan lupa, telepon. Sama, jangan pergi sendiri, kalau pergi jalan-jalan keluar. Paham?)" lanjut Elisa menatap anaknya, masih dengan nada khawatir yang kentara.
"Hai lah Mama, ngam lah, (Iya mah, saya paham)" balas Queeneira dengan senyum meyakinkan.
Elisa memeluk anaknya sayang, lalu berganti dengan Faro yang juga memeluk Queeneira sayang.
__ADS_1
"Siu sam tie, Baba hangting kuacu dong may lei, Queene, (Hati-hati, Baba pasti merindukan kamu, Queene)" bisik Faro saat memeluk putrinya erat.
Queeneira mengangguk mengiyakan, saat tahu Babanya khawatir akan keselamatannya. Meskipun ada kakeknya yang menjaga, tetap saja ini pertama kali seorang Faro melepas putrinya pergi tanpa perlindungannya.
"Ngo to hai , Baba, (Saya juga, Baba)" gumam Queene sedih.
Di sebelahnya ada keluarga dari Ezra, yang santai dengan interaksinya.
Di saat keluarga Wardhana beradegan haru-biru, maka di keluarga Benedict seperti biasa, hanya akan saling melemparkan cengiran, lengkap dengan candaan dari pasangan Pipi dan Mimi dari seorang Ezra.
"Jangan lupa ya nak, bawa menantu mata sipit. Kan lumayan buat perbaikan keturunan," kata Raka dengan edannya, menuai tampolan main-main dari Amira, Mimi galak tapi gokil sepanjang masa.
Plak!
"Akh!! Sakit Ay, jangan di tampol lah. Ini tulang sudah tidak sekuat dulu," ucap Raka ngawur, menuai kekehan dari Amira, sang istri, yang selalu terhibur dengan banyolan khas dari suaminya.
"Ngaku sudah tuwir, Alhamdulillah," sahut Amira kejam, namun tetap terkekeh saat suaminya terkekeh kecil.
Ezra menatapnya dengan gelengan kepala tidak heran, saat dua orang tuanya beda dari yang lainnya.
Di saat yang lain di nasehati agar tidak macam-macam, nah ia di anjurkan untuk mencari kekasih di negara orang sana.
Ajaran yang sungguh berfaedah.
"Astaga, Pi, Mi. Ez masih sekolah," sahut Ezra tumben lempeng, membuat Raka dan Amira menatap anaknya kaget, namun tidak lama saat mendengar kalimat lanjutan dari sang anak.
"Tapi kalau pacaran aja oke deh, tidak masalah."
Gubrak!
Raka dan Amira menggeleng kompak, saat melihat anaknya cengar-cengir saat melihat mereka.
Plak!
"Wadddaw!!! Ay, kok aku lagi," rengek Raka namun sayang, hanya dengkusan yang diterimanya.
"Ya ampun, mereka ini," batin Ezra entah harus bersyukur atau prihatin.
Tapi ia suka kok, dengan segala macam yang ada di diri kedua orang tuanya, sikap mereka yang santai membuatnya merasa seperti bukan hanya sebagai anak, melainkan sahabat, teman atau juga hal yang berharga lainnya.
"Pokoknya kamu hati-hati ya, Ez sayang. Mimi akan selalu mendoakan kesehatan dan keselamatan kamu," ucap Amira kali ini serius, menatap anaknya yang lebih tinggi darinya hangat, dengan senyum keibuanya.
Ezra mengangguk, lalu membawa Mimi mungilnya masuk kedalam pelukannya. Disusul oleh Raka, yang membawa dua orang kesayangannya masuk kedalam pelukan lebarnya.
"Hati-hati, Ezra," bisik Raka dengan nada sedih, menuai anggukan kepala dari sang anak.
"Tentu, Pi."
Sedangkan disisi keluarga Wijaya, yang mengantar anak mereka dengan formasi lengkap, saat ini sedang berpamitaan dengan Eyang, Oma dan Opa mereka.
Kebanyakan kata-kata dari nenek dan kakek mereka, isinya sama dengan kalimat nasihat pada umumnya.
"Hati-hati, jangan lupa hubungi kami."
Kira-kira seperti itu.
Lalu beralih kepada orang tua dari Gavriel dan Selyn, yang bergantian memeluk dua anak mereka.
"Jaga dirimu, jaga El dengan benar, jaga semua saudaramu, Gavriel. Daddy percayakan semua sama kamu," ujar Dirga menatap anak sulungnya serius, menuai tatapan sama pula dari sang anak yang di tatap seperti itu.
__ADS_1
"Hn, tentu saja, Daddy. Aku berjanji," jawab Gavriel lugas, membuat Dirga tersenyum bangga akan anak sulungnya.
"Bagus, hubungi Daddy, jika ada apa-apa disana," tambah Dirga masih dengan tatapan mata serius.
"Hn."
Beda Gavriel beda lagi dengan putri bungsunya, si manja ini sudah menatapnya dengan berkaca-kaca sedih, seakan mereka akan berpisah selamanya. Dan itu membuatnya antara ingin tertawa atau balas mengejek bontot kesayangannya.
"Jaga kesehatan kamu, El sayang. Daddy akan selalu menghubungimu, jangan pernah jauh dari kakak dan Mbamu. Got it?" nasihat Dirga, dengan nada lembut beda dengan Gavriel yang tegas saat berbicara berdua.
Selyn mengangguk sebelum menghambur ke pelukan sang Daddy, yang menerimanya suka cita dengan pelukan eratnya.
"Daddy juga jaga kesehatan yah, Dadd kan sudah old," balas Selyn sedih meskipun dengan kalimat mengejek di akhirnya.
Dirga tidak marah, sebab anaknya juga terkekeh saat terakhir menyebut jika dirinya sudah tua. Sehingga ia pun mau tidak mau ikut terkekeh kecil.
"Dasar, cubit nih," sahut Dirga, terkekeh akan tingkah sang putri.
"Bilangin Momm nih," timpal Selyn berkelakar.
"Tukang ngadu," bisik Dirga dengan kekehan terakhirnya, sebelum si bungsu kesayanganya diambil alih oleh Mama dan Mertuanya yang memeluk anaknya gemas.
"Gavriel, Momm minta jaga Selyn yah. Ingat, disana bukan negara kalian, harus ingat batasan, jaga tata krama dan hindari masalah. Got it?" ucap Kiara memandang anaknya dengan senyum sedih, membuat Gavriel mengangguk dan membawa Mommynya ke dalam pelukan hangatnya.
Astaga! Jika sudah Mommynya, kenapa ia menjadi semakin lemah gini.
"Tentu Momm," bisik Gavriel yakin.
"Dan ingat, jika di sana kalian untuk bersenang-senang, jangan sampai ada yang merasa sedih. Harus tahu tempatmu dimana, dengan siapa kamu selalu kembali mengadu. Jangan tertipu dengan kesenangan sesaat, oke."
Gavriel tidak seberapa mengerti, dengan apa yang di ucapkan sang Mommy. Tapi karena waktu mereka untuk take off sudah hampir dekat, akhirnya ia hanya mengangguk dan balas dengan kecupan sayang di pipi untuk sang Mommy.
"Akan aku ingat," jawab Gavriel sebelum melepas pelukannya dan berjalan bersama sahabatnya, yang sudah melakukan registrasi dan pengecekan pasport.
"Sampai jumpa, semuanya!"
"Sampai jumpa, sayang!"
Dengan begitu mereka berempat pun jalan, menuju gerbang keberatan, memasuki area pesawat dan duduk di kursi first class, sesuai dengan pesanan.
Lalu sebenarnya ada lagi yang sedang dalam perjalanan menuju gerbang keberangkatan, bersama sahabatnya dan beberapa rombongan temannya juga, ia ikut penerbangan yang sama dengan Gavriel.
Berlibur dengan tujuan sama pula, yaitu negeri beton, Hongkong.
"Woooww!!! Tidak sabar berlibur ke patung seribu budha!"
"Berisik, oy!"
"Apa sih lu, sewot aja."
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
Terima kasih kak atas bantuannya.
Sampai babai.
__ADS_1