Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Ending, But Not End


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Andmeh__Jangan Rubah Takdirku.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wardhana


Di depan cermin meja rias terlihat pantulan seorang remaja perempuan, tersenyum manis dengan tingkah malu-malunya saat mengingat kejadian tadi malam.


Bibirnya tidak kuasa untuk tidak menampilkan senyum, saat ia juga ingat jika saat ini ia sedang bersiap untuk apa dan akan kemana.


Tubuh berbalut dress selutut itu ia rapihkan lagi, kemudian tersenyum lagi dan lagi.


"Oh tidak, aku sudah seperti orang gila," gumamnya malu.


Untuk terakhir kalinya, ia menatap pantulan dirinya lagi di cermin kemudian tersenyum.


"Sudah siap!"


🌹🌹🌹🌹


Beralih ke tempat lainny


Kediamanan Wijaya


Gavriel Wijaya berdiri di depan meja belajarnya, di atas meja ada kotak hitam usang, kunci mobil, dompet dan handphone yang berjajar rapih.


Ia melihat keempat benda itu dengan bibir tersenyum tipis, kemudian dengan segera memasukkan masing-masing ke dalam saku jaket dan celana, sedangkan kunci mobil ia genggam dan sesekali ia putar.


Flasback on


Gavriel berlari dengan cepat, mengejar sahabatnya yang sudah keluar area taman.


Tangannya terulur dan menggapai bahu sahabatnya yang akhirnya masuk dalam pelukannya.


Grep!


"Jangan pergi, Queeneira. Maafkan aku," bisik Gavriel membuat orang yang dipeluknya tersentak kaget, dengan tubuh kaku masih dengan air mata mengalir.


"Gavriel," lirih Queeneira, sehingga Gavriel pun semakin memeluk bahu Queeneira erat, menumpukan dagunya pada bahu Queeneira, kemudian menyembunyikan wajahnya di perpotongan ceruk leher Queeneira.


"Maaf," bisiknya tanpa bisa mengatakan hal lainnya.


Keduanya terdiam merasakan perasaan satu sama lain. Hanya angin malam yang menjadi pengisi suara, dengan daun terbang sebagai tanda keberadaannya.


Karena sebenarnya tanpa mereka berbicara dan hanya dengan pelukan ini pun mereka tahu, jika rasa satu sama lainnya adalah sama.


Lama terdiam akhirnya Gavriel pun mengurai pelukannya, membawa tubuh Queeneira untuk menghadap ke arahnya.


"Aku antar pulang ya," ujar Gavriel dengan Queeneira yang menggelengkan kepala menolak.


"Tidak perlu, aku bis-


"Pulang," sela Gavriel kemudian menggengam tangan Queeneira, menariknya untuk mengikutinya berjalan ke arah motornya terparkir.


"Lepas, Gavriel. Aku bisa pulang send-


"Diam, Queeneira. Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang lebih dari ini," sela Gavriel dengan nada tajam, cukup untuk membuat Queeneira diam dan akhirnya mengikuti Gavriel, berjalan ke arah motor di ujung sana.


Gavriel melepas tangan Queeneira, merogoh saku celana dan mengambil kunci motor. Ia menaiki motornya dan mengendikkan dagunya, memerintahkan Queeneira naik di boncengan belakang yang dituruti Queeneira segera.


"Naik, pakai helmnya," ujar Gavriel dengan tangan mengulurkan sebuah helm, yang diterima Queeneira tanpa banyak tanya.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, Queene diam dengan pemikirannya, sedangkan Gavriel fokus dengan jalanan yang ada di depannya.


Sesampainya di depan teras rumah sahabatnya, Gavriel mematikan mesin motornya dan membantu Queeneira melepaskan helm, dengan Queeneira yang hanya diam saja.


Klik!


Queeneira sama sekali tidak menoleh ke arah Gavriel, hingga akhirnya Gavriel pun menghela napas dengan Queeneira yang diam-diam melirik ke arahnya.


"Queeneira."


"Hmmm."


"Lihat aku," pinta Gavriel, namun sayang Queeneira tidak begitu saja melihatnya, justru semakin melengoskan wajahnya.


"Aku bilang lih-


"Apa?" sela Queeneira cepat, menatap Gavriel dengan mata kembali berkaca-kaca.


Maaf, aku janji, setelah ini aku akan membuatmu tersenyum meski hanya sementara.


"Sudah malam, kamu istirahat," gumam Gavriel lembut, mencoba sabar dan tidak ikut terbawa suasana.


"Jangan ikut campur urusanku," sahut Queeneira sinis.


Huft .... Kenapa keras kepala sekali.


"Baiklah, sebaiknya besok aku tidak jadi mengajakmu kesuatu tempa-


"Kemana?"


Gavriel hampir terkekeh mendengar pertanyaan semangat dari Queeneira, yang akhirnya melihatnya dengan ekspresi penasaran yang kentara.


"Tomorrow, one day for you, I'm yours," jawab Gavriel, mengusap lembut pipi dengan hiasan jejak air mata Queeneira, yang melihatnya dengan ekspresi tidak percaya.


"....."


"Ok, aku pergi dulu. Ingat! Istirahat," lanjut Gavriel, sebelum menaiki motornya dan meninggalkan Queeneira, yang masih mematung tidak percaya.


Flasback end


Dan disini lah Gavriel, dalam perjalanan menuju rumah Queeneira, dengan lagu cinta yang mengiringi.


Gavriel tidak takut lagi mendengar lagu, sekalipun itu lagu galau.


Sedangkan di rumah keluarga Wardhana, terdapat sepasang suami-istri yang menatap anak gadisnya dengan senyum dan siulan menggoda.


Ya ... Anak gadis itu adalah Queeneira, yang saat ini sedang duduk menunggu sahabatnya, yang bilang jika hari ini adalah hari untuknya.


"Ehem ... Mama, cantik banget. Kencan yuk," ujar Faro kepada istrinya, namun tidak dengan matanya yang saat ini sedang terang-terangan menatap amuy kesayanganya dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Baba makanya jangan ragu dan menutupi kenyataan gitu dong, Mama kan jadi lama menunggumu, sampai menangis loh, ih sebel," sahut Elisa mengikuti permainan menggoda suaminya, yang kini pura-pura memasang wajah cemberut.


"Ah! Yang penting Mama cinta kan?" timpal Faro dan akhirnya membuat sang putri mengerang kesal, merasa jika apa yang diobrolkan keduanya adalah sindiran untuknya.


"Ih! Siapa yang nangis sih!"


"Diiihh!!! Emang siapa yang ngajak kamu ngobrol, kita kan lagi berbincang berdua. Iya nggak Mah?" elak Faro memasang wajah meledek, dengan Elisa yang tergelak renyah sedangkan Queeneira semakin merengut sebal.


"Ih! Nyebelin!"


Kedua orang tua Queeneira pun tertawa bersama, melihat bagaimana lucunya reaksi amuy kesayangan mereka saat ini.


Tidak lama kemudian terdengar suara klakson dari luar, membuatnya ketiganya beranjak dari duduknya, meninggalkan ruang tamu dan berjalan bersama ke luar rumah.


Mobil dengan harga yang tidak diragukan lagi itu terlihat tanpa cela, disusul dengan kaki jenjang berbalut jeans yang turun dari dalam mobil.


Gavriel turun dan berdiri di samping mobilnya setelah menutup pintu, kemudian menghampiri dan melihat keluarga Wardhana dengan senyum tipis.


"Selamat siang, Unkel, Onyt!" sapa Gavriel, setelah berdiri di hadapan orang tua sahabatnya.


"Selamat siang, Gavriel."


"Kalian mau kemana?" tanya Faro iseng, dengan Elisa yang mencubit pinggang suaminya pelan, kemudian terkekeh saat melihat anak mereka tersenyum malu.


"Babaa!!" rengek Queeneira manja dengan rona merah samar tercetak.


"Ok-ok ... Baba nggak jadi nanya," timpal Faro pura-pura menyerah.


"Gavriel bawa Queeneira sebentar, Unkel. Hanya mengunjungi suatu tempat," jelas Gavriel dengan ekspresi lempeng, sehingga Faro pun mendesah dalam hati, saat harus menerima kenyataan, jika selera pasangan sang anak tidak jauh-jauh dari jenis tipe triplek seperti anak sahabatnya.


"Jangan sampai lecet, ingat itu," timpal Faro menatap Gavriel dengan mata menatap tajam dan dibalas anggukan kepala dari Gavriel.


"Baba, Que bukan mau main gelud-geludan kenapa sampai lecet segala macam," sewot Queeneira tidak terima.


"Siapa tahu saja, Gavriel ajak kamu panjat pohon seperti saat kalian kecil dulu," sahut Faro santai, dengan Gavriel yang tiba-tiba tersedak merasa tersindir.


Sindiran dan ingatan masa kecil mereka yang memang benar adanya, jika Queeneira selalu di ajak main Gavriel dan Ezra untuk menaiki pohon yang ada di Mansion Wijaya__Kediamanan orang tua Dirga.


Uhukk!


"Nah kan .... Merasa," lanjut Faro kemudian terkekeh bersama, saat Gavriel menggaruk kepalanya canggung.


"Tidak, tenang saja, Unkel," balas Gavriel dengan nada malu.


"Iya-iya ... Unkel bercanda," sahut Faro cepat.


Dan setelah mereka berdua berpamitan kepada Faro dan Elisa, lalu Gavriel dan Queeneira pun pergi dengan menaiki mobil yang dikendarai oleh Gavriel sendiri.


Di sepanjang perjalanan, keduanya menghabiskan waktu dengan mendengar musik tanpa mengobrolkan sesuatu dan Queeneira pun tidak bertanya mereka ingin kemana saat ini.


Bagi Queeneira, kemana pun Gavriel akan membawanya, ia yakin jika itu adalah tempat yang menyenangkan.


Queeneira melihat dengan kening mengernyit, saat ia merasa tidak asing dengan jalan yang mereka lalui saat ini. Ia menolehkan wajahnya, melihat ke arah Gavriel, dengan Gavriel yang tersenyum kecil melihat ke arahnya juga.


"Kenapa?" tanya Gavriel, lalu kembali fokus dengan jalanan di depannya.


"Ini ...."


Queeneira tidak melanjutkan kata-katanya, ia menutup bibirnya saat Gavriel tahu maksudnya dan menjawabnya dengan anggukan kepala pelan.


"Tidak, aku hampir melupakannya," gumam Queeneira jujur.


Bukan melupakan karena sengaja, tapi karena terlalu banyak memori bahagia disaat mereka kecil.


Gavriel tidak menjawab lagi, kembali fokus dan tidak lama mobil yang ia kendarai pun akhirnya sampai di gerbang taman yang dikunci.


Mematikan mesin mobil, Gavriel membuka sabuk pengaman dengan Queeneira yang mengikuti.


"Dari sini kita jalan," ujar Gavriel dan Queeneira pun mengangguk kecil sebagai jawaban iya.


Brak!


Keduanya sama-sama keluar dari dalam mobil, kemudian jalan untuk berdiri di depan mobil.


"Tapi gerbang tamannya di kunci," ujar Queeneira menatap Gavriel yang berdiri di sebelahnya.


"Hum ... Memang dikunci, tapi aku punya kuncinya," sahut Gavriel santai, tanpa tahu jika Queeneira yang mendengarnya menatapnya tidak percaya.


"Eh!"


Gavriel tersenyum kecil, kemudian mengulurkan telapak tangannya kehadapan Queeneira, yang melihat wajah dan telapak tangan terulur, masih dengan tatapan tidak percaya.


"Hayaku! (Cepat)" ajak Gavriel dan akhirnya Queeneira pun menyambut uluran tangan Gavriel, dengan Gavriel yang menggengamnya segera.


"Apa yang harus aku lakukan, Ezra?"


"Jujur lebih penting, Gavriel. Aku akan menjaganya, saat kamu tidak ada di sampingnya."


"Apa harus seperti itu?"


"**Iya atau tidak untuk selamanya."


"Aku**."


"Kamu mencintainya?


Gavriel mengingat percakapannya dengan sepupunya, setelah ia mengantar Queeneira pulang ke rumahnya.


Ezra sebenarnya kecewa dengannya, tapi sepupunya bukan lah orang yang buta dan akhirnya Gavriel pun menceritakan, apa yang sesungguhnya ia rasakan kepada Ezra dengan terbuka dan Ezra pun mendukungnya.


Tentu aku sangat mencintainya, thanks Ezra.


Jalan sambil bergandengan tangan, Gavriel membuka gerbang taman dan mereka masuk dengan langkah ringan, kembali bernostalgia saat mereka dulu bersama-sama berlarian memasuki area taman.


Queeneira melihat sekeliling dengan hati tidak terbaca, di tambah dengan genggaman tangan sahabatnya yang berbeda.


Mereka sering menggengam satu sama lain, tapi baru ini ia merasa aneh karena diikuti dengan detak jantung dan perasan senang membuncah.


Akhirnya mereka tiba di depan sebuah lapangan luas, dengan bunga beby breath terhampar subur, dari warna putih, lalu ungu dan pink.


"Ini ..."


Queeneira kembali menutup bibirnya dengan ekspresi dan mata berkaca-kaca, saat melihat lagi taman bunga saat mereka kecil dan bermain bersama keluarga, ketika piknik bersama.


"Masih ingat, saat itu, kita bermain bersama dengan gelak tawa tanpa beban. Saat kita sama-sama belum mengerti arti sebuah rasa cinta, saat kita bahkan masih belum mengerti rasa tanggung jawab terhadap kehidupan."

__ADS_1


Menolehkan wajahnya cepat ke arah Gavriel, Queeneira menatap dengan perasaan sedih, saat menangkap maksud dibalik ucapan sahabatnya.


"Queeneira, hidupku tidak sama dengan kebanyakan orang. Aku punya tanggung jawab besar dengan beban di dalamnya."


"...."


"Aku akan bertahan, meski takkan mungkin menggengam semuanya dalam sekali rengkuhan."


"...."


Setelahnya, Gavriel pun menggelengkan kepalanya, melihat ke arah Queeneira yang saat ini menundukkan kepalanya, melihat tanah dengan tangan saling meremat.


"Maaf, bukan itu yang ingin aku tunjukkan," lanjut Gavriel sehingga Queeneira pun melihat Gavriel dengan kening mengernyit.


"Maksudnya?"


"Ayok!" seru Gavriel, sebelum menarik tangan Queeneira berlari menuju hamparan bunga, membuat Queeneira yang awalnya memekik kaget ganti menjadi tawa riang, saat Gavriel membawanya duduk di ayunan, didorong dan berayun semakin kencang.


"Lebih kencang!" seru Queeneira keasikan saat ayunan semakin membawanya terbang.


"As your wish , my Queene," sahut Gavriel dan menambah kekuatan dorongannya.


Di taman tempat mereka dulu menghabiskan masa kecil indah mereka, kembali berulang kejadian dulu. Namun berbeda, saat kali ini, mereka memakainya sebagai tempat mereka menghabiskan sisa waktu yang dimiliki oleh Gavriel.


Dimulai dari berlarian di tengah padang bunga Baby breath, bermain ayunan, tiduran di tengah rumput hijau tebal dan juga berkeliling dengan tangan saling bertaut erat.


Mereka kembali mengenang dan melakukan lagi apa yang dulu pernah mereka lakukan bersama.


Queeneira melihat tawa lepas Gavriel dalam diam, merekam dan menyimpan dalam hati bagian terdalam, berharap apa yang hari ini mereka lalui tidak akan ia lupakan di kedua kalinya, saat ia ingat dulu memang pernah seperti ini dan ia sempat melupakan.


Aku suka matamu saat kau melihatku dengan tatapan hangat.


Queeneira ingat, dari dulu hingga kini Gavriel selalu menatapnya dengan hangat.


Lesung pipi di sudut senyum yang kau pasang.


Senyum mirip Mommy Gavriel yang menganggapnya juga anak.


Aku suka jari-jarimu saat kamu memetik gitar dan bernyanyi untukku.


Kemari, kita duet agar semua tahu, jika aku hanya akan menyanyi denganmu.


Queeneira ingat, jika hanya dengannya lah Gavriel memperlihatkan kesukaanya dalam musik.


Aku mencintaimu setiap menit, setiap detik


Aku suka caramu berusaha begitu keras saat bermain bola basket dengan teman-temanmu.


Queeneira juga ingat saat betapa Gavriel bebas berekspresi, ketika bermain basket dengan timnya.


Semangat Gavriel! Semangat Ezra!


Aku mencintaimu setiap menit, setiap detik cinta kamu di mana saja dan kapan saja, selalu dan selamanya aku tahu aku tidak bisa meninggalkanmu.


Aku akan menunggu, sampai kamu kembali dan berdiri di hadapanku lagi.


Berlarian tanpa henti, Queeneira melihat genggaman tangan Gavriel dengan senyum menahan tangis.


"Lihat! Matahari terbenam!"


Queeneira mengikuti apa yang ditunjuk oleh Gavriel, ke arah matahari yang menampilkan warna orange hampir tenggelam.


Queeneira tidak sadar, jika hari yang ia lalui bisa secepat ini, saat ia dan Gavriel melalui dengan tawa dan bahagia.


"Matahari, awan cerah dan mendung, langit malam dan siang, bintang dan bulan yang akan kita lihat nanti masih lah sama, Queeneira. Meskipun kita berjauhan, jika memang semesta menginginkan kita bersama, maka kita akan bersama."


"Gavriel."


"Queeneira, saat ini aku tidak bisa memintamu untuk menjadi siapa-siapa untukku. Tapi, jika memang kamu bisa menungguku, aku janji akan menjadikanmu ratu dengan tahta tinggi dihatiku."


"Aku akan menunggumu."


"Jika kamu sudah memilih, maka kamu harus siap tersakiti saat menungguku. Kamu juga harus siap menungguku dengan batas waktu yang aku sendiri tidak bisa mengira."


"Aku akan tetap menantimu."


"Queeneira, jika suatu saat kamu menemukan seseorang yang membuatmu lebih bahagia. Kamu harus lepaskan rasamu untukku, aku tidak ingin kamu lebih sakit saat menungguku."


"Tidak, tidak akan."


Queeneira menatap Gavriel dengan keyakinan yang dimilikinya, membuat Gavriel yang melihatnya tersenyum, dengan mata terpejam sejenak, kemudian terbuka dan menatap lurus Queeneira.


"Kalau begitu tunggu aku, bisa kah?" tanya Gavriel dan Queeneira dengan segera mengangguk semangat, dengan bibir tersenyum menahan tangis.


"Vergiss heute nicht, Queeneira, (Jangan lupakan hari ini, Queeneira)" ujar Gavriel masih menatap wajah dengan hiasan air mata Queeneira tanpa niat menghapusnya


"Wird nicht, (Tidak akan)" balas Queeneira, kemudian memejamkan matanya saat akhirnya Gavriel mengusap kedua matanya dengan sapuan ringan.


Suasana temaram saat matahari terbenam, memantulkan bias orange di wajah sahabatnya, dengan kilauan dari bulir air mata yang masih sesekali terjun bebas, dari netra coklat jernih sahabatnya.


Gavriel memahatnya dalam memori dengan ribuan copy, berharap apa yang dilihatnya tidak akan pernah ia lupakan dan tak akan lekang oleh waktu.


Membuka matanya, Queeneira menatap mata Gavriel dengan tatapan terkunci.


Saling melihat tanpa ada niat untuk berpaling, Queeneira tersentak kecil saat tiba-tiba Gavriel mengamit lengannya, untuk dibawa dengan telapak tangan di letakan dibibirnya sendiri, kemudian disusul dengan Gavriel yang memajukan wajahnya, mengecup telapak tangannya yang berada tepat di depan bibirnya.


Cup!


Pupil mata melebar menatap Gavriel kaget berganti menjadi senyum haru, saat ia mendengar apa yang dibisikan Gavriel di dengan wajahnya.


"Simpan untuk nanti, aku belum berhak untuk menjamah sesuatu yang akan menjadi canduku suatu hari nanti, Queeneira."


.


Ditutup dengan kecupan kening oleh Gavriel, Queeneira membawa tubuhnya masuk kedalam pelukan Gavriel, yang menerimanya dengan senyum dan kekehan renyah.


"Aku mencintaimu, Gavriel."


Aku mencintaimu juga, Queeneira.


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Nantikan epilog next episode.

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2