Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Semua Sudah Berakhir


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Tes!


Deg!!!


Kiara tersentak kaget saat melihat aliran air mata dari mata terpejam Sang Suami.


"Kamu ... Kamu tahu Aku di sini sayang? Kamu bisa dengar Aku?Jangan menangis, tadi Aku kan bilang senyum,bukan menangis!!"


Ia pun segera menyeka air mata di sudut mata Suaminya, dengan jari tangan bergetar tanpa tissue atau pun kain sebagai media.


"Tidak ada air mata Kamu sudah berjanji, ingat kan?"


"Cepat sadar sayang, kembali di tengah Kami, bermain bersama Kami, Gav sangat merindukanmu!" bisik Kiara lirih. kemudian Ia melanjutkan lagi kegiatannya, menyeka wajah dengan lap baru yang sudah di basahi dengan air beraroma lavender.


"Nah, sudah selesai. Kamu tetap tampan seperti biasa, Aku sampai bingung bagaimana bisa ada manusia setampan dirimu?" tanya Kiara.


Ia duduk di samping Dirga, dengan tangan menyangga dagu melihat dengan seksama rupa sempurna Sang suami.


"Bahkan tidur pun tetap tampan?"


Tangannya menggengam tangan Suaminya,untuk Ia bawa ke pipi kanannya. Mengusap berulang seakan sedang di belai, lalu Ia kecup berulang.


"Kamu tahu! Aku selalu merasa senang,saat tangan besar ini mengusap lembut pipi ini," ujar Kiara.


"Apalagi saat menepuk-nepuk kepala ku seperti ini!" Lanjutnya membawa tangan Dirga keatas kepalanya.


"Tapi Aku merasa sebal, waktu kamu cubit pipi Aku dengan jari tangan kamu ini!" seru Kiara dengan pipi menggembung.


"Apa Kamu tidak tahu jika itu rasanya sakit sekali? Tapi kamu dengan entengnya malah terkekeh lalu bergumam 'dasar bawel gendut'! " Lanjutnya meniru nada suara Suaminya.


"Semakin membuatku kesal saja, heumb!!" dengus Kiara pura-pura kesal.


"Tapi Aku janji .... Aku nggak akan kesal lagi mulai saat ini, jika Kamu bangun dari tidur panjangmu nanti. Justru hal yang pertama yang ingin Aku pinta dari Kamu adalah tolong cubit pipi tembam Aku, agar Aku tahu jika saat itu Aku sedang tidak bermimpi!!" gumam Kiara lirih.


"Bisa kan?" tanya Kiara kemudian dengan senyum sedih.


"Baiklah, jangan sampai lupa loh!!!" seru Kiara dengan nada semangat di buat-buat.


"Oh iya ... Aku mau menyuapi Anak kita makan dulu, Kamu tahu Gav saat ini sedang dalam mode manja. Dia sulit makan jika itu bukan Aku, huft ... Tapi Aku yakin jika Kamu bangun nanti, pasti Dia akan langsung pindah haluan lagi. Kalian kan selalu kompak, apalagi membuatku merasa seperti Mommy tiri!" ujar Kiara mengeluh.


"Baiklah ... Aku tinggal sebentar, Dokter bilang Kamu sudah bisa di dampingi seseorang. Sebelumnya Kamu kan harus ada di ruang yang benar-benar steril, bahkan Aku harus memakai baju khusus dan hanya beberapa menit bisa mengganggu Kamu," ujar Kiara menjelaskan.


"Mulai detik ini Aku janji, selain Gav tidak ada yang bisa membuat Aku beranjak dari sisi Kamu, got it? He-he ... Itu kan kata-kata Kamu jika pulang kerja dan Gav merengek minta di gendong!!" seru Kiara. Ia terkekeh saat ingat jika Sang suami hampir setiap saat menyebut kalimat itu, jika pulang kerja dan Sang anak meminta gendong.


"Mimpi indah sayang, I really miss you!!" bisik Kiara di telinga Dirga.


Cup


Lalu mengecup lembut kening Suaminya dan tersenyum manis.


Kiara pun berjalan pelan menuju pintu lalu berhenti sejenak, untuk menghadap lagi ke arah ranjang Sang suami.


"Lekas bangun atau Aku sendiri yang datang kedunia mimpi Kamu!" bisiknya lirih.


Dan kemudian benar-benar meninggalkan ruangan Dirga,menutup pintu dengan debaman kecil tanpa tahu jika sepeninggalnya Ia dari sana jari-jari Sang suami bergerak pelan.


Blam!!


Ruangan itu kembali sepi tanpa celotehan khas dari seorang istri, hanya bunyi alat EKG yang memenuhi ruangan itu.


"Kiara!!"


Ruang inap


Suara celotehan khas balita terdengar hingga luar ruang inap, yang di sewa keluarga Wijaya khusus untuk tidur Sang cucu.


Kiara yang ada di luar ruangan tersenyum kecil saat mendengarnya, sebab Sang anak sempat mogok tertawa semenjak minggu lalu.


Ceklek!!


"Hi-hi-hi!!!"


"Bu-bu"


"Wah ... Kicik tertawa tidak ajak-ajak Mommy yah!!! Kejamnya Gav," seru Kiara dengan nada kesal di buat-buat.


Kedua Kakek serta Mamanya menoleh serempak ke arahnya, yang saat ini sedang menampilkan raut wajah kesal di buat-buat.


"Mom-mom!!!"


"Huemb, Gav tidak sayang Mommy lagi!" seru Kiara melengoskan wajahnya ke arah lain.


"Hi-hi ... Mom-mom, ndong!!" seru Gav dengan tangan terulur minta gendong.


Kiara terkekeh saat mendengar kekehan khas dari Anaknya, apalagi tangan bantet Sang anak yang terulur ke arahnya.


Ia kemudian mendengus pura-pura mengalah,lalu berjalan pelan menghampiri Sang anak yang heboh dengan tubuh melonjak senang.


"Mom-mom!!"

__ADS_1


"Huh!! Ada mau-nya saja panggil Mom-mom," ujar Kiara dengan senyum meledek.


"Hi-hi!!!"


"Dasar buntal, bisa saja membujuknya!" gumam Kiara tersenyum geli. saat Sang anak melesakkan wajahnya, di antara perpotongan leher dan bahunya.


"Da-da!"


Deg!


"Daddy masih tidur sayang,nanti kalau bangun Kita bisa main seperti dulu lagi. Oke!" bisik Kiara lembut.


"Ain!"


"Heum ... Main sama Kita, got it?" sahut Kiara ceria melihat wajah Sang anak yang balas dengan senyum lebar.


"Hi-hi!!"


"Good Boy!!" seru Kiara semangat. Ia mengecup gemas pipi berlemak milik anaknya, yang di sambut kikikan senang oleh Sang anak.


"Dirga sudah mandi sayang?" tanya Putri ikut nimbrung. Ia cukup senang saat melihat Sang menantu bisa tersenyum lagi, tidak seperti beberapa hari yang lalu.


"Sudah Mih, sudah tampan seperti biasanya!" balas Kiara ceria.


Putri terkekeh mendengar pujian tanpa malu dari menantunya, Ia tahu dengan jelas jika perkataan Kiara memang benar adanya.


"Putra Mami memang tampan, Kamu sendiri sampai tergila-gila!" balas Putri menggoda.


Kiara tersipu malu dengan kekehan kecilnya, mengangguk kan kepala membenarkan.


"Tentu saja, jika tidak Gav tidak ada di sini Mih," balas Kiara.


"Sampai-sampai Cicit Kakek mirip sekali dengan Daddy-nya, cinta sekali ya?" seru Bagus menggoda Cucunya.


Semua tertawa saat mendengar kalimat menggoda dari Kakek Bagus, apalagi Kiara yang bergerak salah tingkah.


"Uh ... Kakek bisa saja!!" seru Kiara malu.


Ha-ha-ha


Hi-hi-hi


"Yah ... Gav juga sudah bisa ya, meledek Mommy ikut berkelompok dengan Nenek dan Buyut,heum?" seru Kiara. Ia melihat ke arah Gav yang terkekeh senang, bahkan tangannya ikut betepuk heboh.


"Mom-mom, hi-hi-hi!!!"


"Huh!" dengus Kiara


"Baiklah ... Apa kamu sudah makan sayang?" Lanjutnya bertanya.


"Hey Kicik, harus makan jika pun itu bukan Mommy. Apa Kamu bisa berjanji?" tanya Kiara ke arah anaknya.


"Hi-hi!!"


"Uh ... Oke, Mommy menyerah. Sekarang Kita makan dulu, lalu kamu main dengan Nenek dan Buyut lagi. Got it?" ujar Kiara.


"Un,"


"Pintar!" sahut Kiara ceria. Ia senang Anaknya sudah mulai mengerti jika ada kata 'got it' di akhir kalimatnya, berkat Sang suami yang selalu mengucapkan kata itu jika melakukan kesepakatan.


Kiara pun meletakkan Gav di kursi bayi, lalu Ia berjalan ke arah meja di mana ada termos kecil berisi makanan, berupa Mpasi yang di bawa Sang Mama dari rumah.


"Woah ... Hari ini ada brokoli dan hati ayam, sepertinya enak!" seru Kiara semangat. saat memindahkan makanan ke dalam mangkuk khusus makan milik Gav.


"Hari ini Oma yang memasak makanan buat Gav loh, di habiskan yah Cucu Oma yang tampan!!" sahut Sarah ceria.


Ia duduk di samping Gav yang duduk di kursi bayi, sambil Memakaikan celemek bayi di leher Sang cucu.


"Hi-hi!!"


"Pintar," gumam Sarah saat Gav membalasnya dengan kikikan lucu.


"Oke, jagoan Mommy saatnya makan!" seru Kiara semangat. Ia duduk di depan Gav yang sudah tidak sabar memakan makanannya.


"Mana mulutnya? Aammm!!"


Hup!


"Pintar sekali, Cicit Buyut!!" seru Bakrie senang.


Siang itu Kiara menghabiskan waktu menyuapi Sang anak, di iringi dengan seruan senang Kakek dan dua Mamanya serta kekehan renyah dari Si pembuat onar.


Skip


Pukul. 21:00.WKS.


Malam hari ini ada yang berbeda di ruang ICU, dengan pasien bernama Dirga Mahesa Wijaya tertera di papan nama.


Ruangan dengan bau khas itu masih seperti dulu, yang berbeda hanya pada Tim medis dengan Dokter yang memeriksa serius dan teliti keadaan pasien.


Kiara dan keluarga dari Dirga hanya mampu melihat dari luar, saat mereka Tim ahli melakukan pekerjaannya.


Kiara terisak dengan senyum di bibirnya saat Ia mengingat kembali, kehebohannya ketika memanggil Dokter beberapa menit lalu.

__ADS_1


Lima belas menit sebelumnya ...


Setelah selesai dengan ritual ibadahnya, Kiara kembali menemani Suaminya bergantian dengan Mertuanya.


"Gav sudah tidur belum?" tanya Putri.


"Belum Mih, malahan masih segar bermain dengan Buyut dan Eyang kakung. Padahal ini sudah pukul delapan malam," balas Kiara mengadu.


"Dasar cucu Mami," ujar Putri gemas.


"Ya sudah, Mami ke sana dulu. Kamu jangan tidur terlalu larut, oke!" lanjut Putri mengingatkan.


Kiara menganggukkan kepala mengerti dan tersenyum kecil.


"Iya Mih," balas Kiara singkat.


Putri pun berjalan ke arah pintu, membuka dan menutup dengan debaman kecil.


Ceklek!


Blam!


Kini hanya tinggal Kiara yang segera duduk di samping Dirga, lalu seperti biasa mengecup kening Sang suami sebagai salam pembuka.


"Selamat malam sayang! Masih betah tidur heum?" ujar Kiara bertanya.


"Lima hari sayang, Kamu betah sekali. Apa Kamu tidak merindukan Aku, huem?" gumam Kiara bertanya.


"Rindu?" Jawabnya sendiri.


"Kalau begitu bangun dong sayang!" balas Kiara terkekeh dengan kepala menggeleng.


"Duh ... Aku sepertinya sudah gila," Lanjutnya setelah terkekeh.


" ... "


"Aku mau bercerita tentang seorang Pria, yang meskipun bukan pertama, namun mampu menjadi yang utama di hatiku?" ujar Kiara


"Apa kamu mau mendengarnya?" tanya Kiara kemudian.


"Aku mulai yah ..." Lanjutnya ceria.


"Ehem ... Namanya Dirga, apa Kamu tahu Dia siapa? Jelas saja karena itu adalah Kamu. He-he-he ... Oke Aku serius, jangan ngambek.


Kamu itu Pria dengan sejuta kejutan di saat pertemuan pertama Kita, pria dengan sejuta kemesuman di hari pertama jadian Kita dan pria dengan sejuta cara untuk kebahagian kita," ujar Kiara lancar dalam satu tarikan nafas.


"Tanpa Kamu Aku tidak mungkin bahagia sampai saat ini, mampu melupakan masa lalu kelam Aku, mampu melangkah dengan dagu terangkat dan dada membusung percaya diri," Lanjutnya bercerita.


"Kamu tahu apa yang membuatku jatuh cinta padamu saat itu?" tanya Kiara tiba-tiba.


"Si pria asing yang dengan seenaknya ingin berteman denganku, tapi ternyata punya niat terselubung di dalamnya!" Serunya terkekeh kecil.


"Karena Kamu adalah Kamu, Dirga pilihan keluarga Aku, Dirga yang mencintaiku meski Aku sudah menolak tanpa mengetahui jika Kamu adalah jodohku dan Dirga Daddy tangguh untuk Gav yang setia menunggu!" lanjut Kiara serius.


"Jadi sayang ... Apa harus ada alasan lainnya, agar kamu lekas bangun dari tidur Kamu?" tanya Kiara lirih.


Setelah menyelesaikan kalimatnya yang baru kali ini Ia rasa teramat panjang, Ia menelungkupkan kepalanya di antara lengan milik Suaminya, dengan tangannya menggengam tangan suaminya lembut.


Ia bersandar di sana mencari penghiburan akan rasa gundahnya, bertanya kapada Tuhan sampai kapan Ia harus menunggu Sang suami bangun dari tidurnya.


"Sampai besok kah? Atau lusa kah? Atau det -


Racauan darinya berhenti tiba-tiba, saat Ia merasakan pergerakan pada jari tangan yang ada di genggamnya.


Deg!


Kiara segera mengangkat wajahnya,lalu melihat ke arah tangan Suaminya dengan raut wajah kaget bercampur gembira.


"Dirga!!!" panggil Kiara gembira. Ia masih melihat ada pergerakan jari-jari dari tangan Suaminya.


"Dirg-


Kiara pun segera bangkit dari duduknya, berlari keluar ruangan dengan tergesa lalu berteriak heboh, Ia melupakan fakta jika ada tombol darurat yang tersedia di kamar sangking senangnya


"Dokter!!!"


"Tolong Suami saya!!!!"


Saat ini


Maka itu di sini lah Ia dan keluarganya, menunggu dengan hati gembira kabar kelanjutan dari Suaminya.


"Pah!!" gumam Kiara senang di pelukan Fandi.


"Semua sudah berakhir sayang, sambut semua dengan senyuman!" balas Fandi bergumam senang.


Kiara mengangguk dengan sedikit isakan terakhir, sebelum tersenyum dengan wajah bersembunyi di dalam dada Sang papa.


"Terima kasih, Tuhan!" batin Kiara bersyukur.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sedikit note:


MPASI adalah singkatan dari Makanan Pendamping ASI. Pendamping ASI, jadi ASI tetap diberikan kepada bayi ya... Hal pertama yang harus kita ingat adalah usia bayi, tepat di usia bayi yang 6 bulan, tepat saat itulah ibu mulai memberikan bayi makanan.


__ADS_2