
Season dua
Selamat membaca
Referensi lagu part ini, Reluctantly__Z. Tao.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Saat ini di mereka sedang ada diperjalanan pulang, saat mereka sudah selesai dengan acara berlibur di taman bermain Disneyland resort.
Mereka naik MTR yang sama, namun duduk dengan terpisah saat biasanya mereka duduk bersamaan.
Gavriel duduk menjauh dari sang adik, yang duduk bersebelahan dengan sepupunya, Ezra. Sedangkan sahabatnya duduk dengan Ge, sambil berbincang ringan.
Sebenarnya Gavriel tidak lah duduk sendiri, ia duduk dengan Intan dan Keineira disisi kiri dan kanannya. Ia juga tidak peduli saat perempuan di sebelah kirinya berbincang dengan satunya lagi ataupun sebelah kanannya, yang saat ini sedang diam namun tanggannya saling bertaut, meremas gelisah.
"Gavriel," gumam Keineira, dengan Gavriel yang bergumam saat menyahutinya.
"Hn."
"Adikmu sepertinya marah sama aku," bisik Keineira, saat melihat ekspresi kesal yang tergambar jelas saat mata mereka bertatapan.
Gavriel ikut melihat ke arah kedepan, ke arah adiknya yang saat ini menatapnya dengan ekspresi kesal, benar seperti yang di katakan oleh temannya.
"Hn. Tidak, bukan denganmu," balas Gavriel tanpa melihat Keineira, yang menatapnya dengan ekspresi takut.
"Tapi-
"Hn. Biarkan saja," sela Gavriel singkat, dengan nada dingin tidak ingin dibantah, sehingga Keineira pun mengangguk dan menundukkan wajahnya, menatap Gavriel yang bersedekap tangan di sebelahnya.
Sedangkan Gavriel akhirnya balik menatap adiknya dengan ekspresi datar, sehingga Selyn pun yang tadinya menatap kesal lebih memilih memutuskan kontak mata dengan hati kecewa. Padahal dulu kakaknya tidak seperti ini, tapi kenapa karena kehadiran orang lain sang kakak berubah.
"Mas bodoh," umpat Selyn dalam hati.
Ezra yang ikut menatap sepupunya melirik ke arah Selyn, yang melengoskan wajah dan bersembunyi di bahunya.
Tangannya terangkat untuk mengusap kepala Selyn lembut, sehingga Selyn yang merasakan usapan di kepalanya mengangkat wajahnya, yang berantakan dengan mata berwarna merah, hampir menangis.
"El," gumam Ezra ikut sedih.
Selyn menggelengkan kepalanya, lalu menelusupkan lagi wajahnya di bahu lebar Ezra, menyembunyikan ekspresi sedihnya namun sayang Ezra sudah melihatnya lebih dulu.
"Yah .... Sialan, apa yang sebenarnya terjadi. Seharusnya kami tidak perlu libur, jika jadinya seperti ini," batin Ezra kesal luar biasa.
Tapi bagaimana lagi, seperti katanya dulu, jika waktu berjalan maju bukan mundur. Tidak mungkin mereka akan seperti dulu terus, akan ada masalah dan kejadian seperti ini, jika mereka memutuskan untuk mengenal dunia luar.
Ia tiba-tiba ingat akan ucapan Selyn waktu itu, saat mereka berkumpul terakhir kalinya di rumah nenek dan kakek Wijaya.
Saat itu ia pikir adiknya hanya khawatir tentang dia(Selyn) tapi ternyata bukan, yang di khawatirkan justru mereka semua.
Bagaimana bisa hanya dengan kedatangan dua orang baru, membuat persahabatan ia, sepupu dan sahabat perempuannya, yang sudah terjalin lama berakhir seperti ini. Canggung, salah paham, juga satu yang merasa kecewa.
Dulu ia merasa baik-baik saja, saat mereka hanya berempat atau berlima, mau itu ketika liburan atau sekolah, bahkan jalan keluar rumah sekalipun. Tapi kenapa sekarang berbeda?
Ia menghela napas, lalu menoleh ke arah lain, tepatnya ke arah sahabatnya yang sedang berbincang dengan kakak kelasnya.
Ia juga tahu sebenarnya sahabatnya sedang patah hati, sehingga melampiaskannya dengan cara menghindar, alih-alih menampilkan ekspresi sedih.
Kenapa harus ada rasa di antara mereka, jika mereka tidak mau saling jujur?
"Setelah ini, akan seperti apa mereka?" batin Ezra lelah.
Kereta berhenti di stasiun Namcheong, mereka keluar bersama untuk nanti menaiki kereta lagi namun beda jurusan.
__ADS_1
Kini mereka berpisah dengan tiga kelompok berbeda.
Ge yang berdiri bersisihan agak jauh dari yang lainnya berhenti, sehingga Queeneira yang bingung pun ikut berhenti dan berdiri menghadap kakak kelasnya.
"Kenapa, kak Ge?" tanya Queeneira, kemudian melihat ke arah sahabatnya yang berdiri dengan Gavriel, yang berdiri dengan rombongan teman sekelasnya, lagi-lagi berpisah.
"Besok, mau keluar bareng gue nggak? Gue mau ngunjungi suatu tempat," ajak Ge, melihat dengan harap-harap cemas, saat adik kelasnya hanya diam.
"Kalau lu ngga-
"Oke ... Tapi, bilang kak Ardan untuk ajak El ke tempat lainnya juga yah, aku nggak mau El bosan di rumah," sela Queeneira cepat, menyetujui permintaan kakak kelasnya, sehingga Ge yang awalnya pasrah tersenyum juga.
"Serius lu?" tanya Ge senang, ekspresi wajahnya kelihatan sekali bahagia, sehingga Queeneira merasa tidak salah, membuat seseorang lainnya bahagia, saat ia sendiri merasa butuh bantuan untuk bahagia.
"Iya, serius," balas Queeneira dengan senyum kecil.
"Oke ... Gue nanti bilang sama Ardan, biar nanti dia sama Selyn. Atau kita bisa sama-sama jalan barengan, bagaimana?" usul Ge dengan semangat.
Queeneira tersenyum dengan kepala mengangguk, menyetujui usulan kakak kelasnya yang tentu saja menurutnya paling bagus.
Saat ini Selyn sedang dalam mood tidak bagus, penyebabnya adalah kakaknya sendiri, dan akan sangat merepotkan jika di rumah kakek dan neneknya kakak-adik ini bersinggungan.
"Setuju, nanti kakak kirim pesan aja ketemuan di mana. Biar aku dan-
"Aniyo (Tidak jangan), biar gue dan Ardan yang menjemput di stasiun. Baru jalan, bagaimana?" sela Ge menolak dengan tegas maksud ucapan adik kelasnya.
"Algessseubnida (Baiklah, setuju). Kalian nanti tentuin aja jam ketemuannya, jadi kalian tidak terlalu lama saat menunggu kami, oke kan?" putus Queeneira, yang tentu saja di angguki kepala setuju dari Ge yang merasa senang.
"Ne, algessseubnida. (Iya, baiklah)"
"Ge!"
"Mba!"
Keduanya segera menoleh ke arah asal suara, saat mereka mendengar panggilan yang memanggil nama mereka. Di sana ada Selyn dan Ardan, yang kompak memanggilnya saat kereta tiba dan pintu terbuka.
"Umh ... Sampai jumpa."
Mereka pun berpisah, menaiki kereta masing-masing, dengan rombongan Keineira ikut serta, karena mereka hanya beda dua stasiun dari tempat tinggal Queeneira.
Disaaat bersamaan
Gavriel pov on
Aku diam dengan Keineira di sampingku, yang ikut diam saat aku melihat ke arah sana. Aku tahu jika perempuan di sampingku ini berusaha membuatku nyaman, saat di taman tadi aku mengatakan kejujuran akan perasaanku yang masih tidak jelas.
Aku tidak menolak, juga tidak menerimanya. Karena aku tahu, jika aku pun tidak bisa menjawabnya begitu saja, menjawab pernyataan tiba-tiba dari temanku.
Aku melihat dengan hati kesal, saat sahabatku berbicara berdua dengan kakak kelas kami. Kenapa harus berduaan? Kenapa harus dalam jarak yang tidak terjangkau oleh pendengaranku? Kenapa harus tersenyum seperti itu?
"Sepertinya, kak Ge suka dengan Queeneira deh."
Deg!
Tiba-tiba jantungku berdetak dengan cepat, saat mendengar bisik-bisik dari sampingku, tepatnya dari teman sekelasku, Intan yang adalah teman dari Keineira, remaja yang tadi menyatakan perasaannya kepadaku.
Aku hanya diam, saat mereka berbisik di sebelahku, dengan aku yang hanya bisa merasakan aneh dalam hatiku.
"Kamu liat aja, Ntan. Kak Ge nempel mulu, terus Queeneira juga tidak menolak. Jangan-jangan dua-duanya saling suka."
Aku dengan cepat menoleh ke arah dua teman sekelasku berniat menyela, namun sayang dia lebih dulu menyela ucapan dari dua temannya.
"Kalian jangan bicara aneh-aneh. Itu hak mereka, jangan ikut campur."
__ADS_1
Itu hak mereka.
Seketika aku merasa tertohok, dengan ucapan benar adanya yang di ucapkan olehnya.
Benar juga, siapa aku? Kenapa aku harus merasa marah, saat mereka berdua seperti itu.
Ah! Aku sadar, aku adalah sahabatnya, mungkin aku hanya tidak rela jika sahabatku dekat dengan yang lain.
Dan rasa posesifku sepertinya karena aku juga tidak rela, saat sahabatku jalan dengan yang lain.
"Huft ... Sepertinya aku benar-benar harus melepaskan rasa posesif ini, jika benar mereka saling menyukai," batinku kemudian melengoskan wajah saat adikku memanggil namanya, karena kereta yang akan kami tumpangi sudah datang.
"Yah ... Sepertinya harus begitu," lanjutku masih dalam hati, melangkah lebih dulu memasuki kereta, berdiri dengan memegang tiang pegangan, setelah aku mempersilakan Keineira duduk di hadapanku.
"Terima kasih, Gavriel," ucapnya, sehingga aku pun menunduk untuk melihatnya yang tersenyum manis di hadapanku.
Keineira cantik, tapi aku rasa dia lebih cantik.
Tidak, apa yang aku pikirkan.
Hentikan Gavriel.
Aku menggelengkan kepalaku, membuang pikiran anehku.
Aku tidak bisa begini, aku tidak boleh membandingkan Keineira dengan dia, sahabatku.
"Hn."
Karena aku tidak bisa menanggapi lebih, aku hanya bergumam dan aku bisa melihat ekspresi sedihnya, saat aku hanya bergumam.
Huft ... Seharusnya dia tahu, jika aku memang hanya akan bergumam, jika menyahuti sesuatu yang tidak terlalu butuh jawaban panjang dariku.
Seperti sahabatku, yang akan tahu, jika aku mendengar sekalipun aku sedang dalam keadaan diam.
Gavriel pov end
Normal pov
Kereta melaju dengan kecepatan rata-rata, menuju stasiun Tsuen wan west, beda dua stasiun dari stasiun tempat Gavriel turun.
"Sampai jumpa, Gavriel," ujar Keineira, saat ia berdiri di hadapan Gavriel, yang mengangguk mengiyakan.
"Hn, sampai jumpa," gumam Gavriel pelan, kemudian melihat dalam diam, saat temannya turun dari kereta dengan sesekali menoleh ke arahnya.
Di satu sisi lainnya, Queene, Ezra dan Selyn yang duduk berdampingan hanya menatap Gavriel dalam diam.
Ingin menegur pun tanggung, saat kereta melaju dan menyisakan satu stasuin lagi untuk mereka turun.
Dalam hati masing-masing, mereka juga bingung, ingin menegur dengan awalan apa, kalau awalnya pun mereka bingung kenapa bisa sampai seperti ini kelanjutannya.
Apa iya, mereka menegur dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa, melupakan begitu saja, saat Gavriel sendirilah yang tiba-tiba menjauh.
"Biarlah," batin ketiganya kompak.
Sedangkan Gavriel, ia masih menata dirinya saat ia tahu, jika ia salah dengan adiknya.
Ia berniat meminta maaf, namun ia juga masih memikirkan apa jawaban dan alasan, jika adiknya bertanya kenapa dan mengapa.
"Nanti dulu, aku belum bisa, biarlah," batin Gavriel dengan helaan napas.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima kasih dan sampai babai.