
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Hari-hari terlewati begitu saja, tidak terasa sudah memasuki awal bulan, yang artinya pertandingan persahabatan antar sekolah pun sudah di depan mata.
Gavriel yang di daulat menjadi pemain pun semakin sibuk, mempersiapkan serta latihan yang memakan banyak waktunya.
Bukan hanya tim basket, tim cheerleaders pun seperti itu, maklum saja dua klub ini memang memiliki peranan yang tidak bisa dipisahkan.
Kegiatan klub yang membuat Gavriel, harus rela mengorbankan waktu kesehariannya, selain tidak bisa santai, ia juga tidak bisa kumpul bareng dengan sahabatnya lagi.
Tidak juga sih, meski ia dan Ezra masih sering bersama saat latihan, tapi Queene hanya akan sesekali mendampingi mereka, saat dia sedang tidak ada kegiatan klub lainnya.
Seperti saat ini, Gavriel dan anggota basket lainnya sedang latihan untuk meningkatkan kerjasama.
Karena mereka adalah tim dengan anggota baru, mereka harus lebih banyak melatih kode, agar saat pertandingan mereka bisa mengerti bahasa yang dikeluarkan kawan, yang pastinya tidak dimengerti lawan.
Bunyi bola beradu dengan lantai, decitan sepatu, serta langkah kaki bersautan saat mendribble bola, terdengar secara bersamaan memenuhi lapangan indoor sekolah Trisakti.
"Gav! Ambil!"
Brugh!
"Ya!"
Pats!
Dug! Dug! Dug!
Tiga kali Gavriel mendribel, lalu melakukan shooting, ia menekuk kakinya dan melompat, untuk kemudian melempar bola basket ke arah ring akhirnya masuk.
Shyu!
Pritt!
"Good job, Gavriel!"
Hari ini tim cheerleaders juga sudah stanb by, latihan dengan gerakan energic dan akrobat.
Ketua cheerleaders dari kelas tiga ini adalah ketua yang sudah menjabatan selama dua tahun berturut-turut.
Posisinya yang akan dialihkan kepada adik kelas, sehingga setiap anggota baik yang dari kelas dua, maupun kelas satu berlomba untuk menunjukan kepantasan mereka.
Salah satunya Keineira, ia semangat dengan gerakan mempesonanya, sehingga ketua cheerleaders bahkan langsung merekrutnya tanpa melalui proses.
Keineira juga digadang-gadang sebagai kandidat kapten cheers tahun ini, menggantikan posisi kapten yang sudah dipegang oleh kakak kelas tiga selam dua tahun.
Di antara kegiatan dua tim ini, ada seseorang yang duduk di kursi penonton, tepatnya di kursi tunggu anggota basket.
Seseorang itu adalah remaja perempuan, kebetulan hari ini ia tidak ada kegiatan tambahan, sehingga ia bisa melihat dua sahabatnya berlatih.
Remaja perempuan ini melihat dengan ekspresi serius, saat kedua sahabatnya saling bekerjasama tanpa canggung, ia sudah tahu pasti, bagaimana keduanya jika sudah bermain basket.
Basket itu salah satu olahraga favorit dia selain karate.
Ia tersenyum saat melihat bagaimana ekspresi bebas, yang di keluarkan oleh dia saat mendribbel benda karet bulat tersebut.
Selain dari hal yang menurutnya membuatnya senang, jangan harap ada ekspresi lain selain ekspresi datar andalan.
Dulu ... Selain keluarga, dirinya,serta sepupunya, dia tidak akan mengeluarkan ekspresi dan suara selain hn dan hm.
Tapi ... Akhir-akhir ini ia semakin dibuat mengerti, jika tidak selamanya ia yang akan melihat ekspresi itu, ekspresi bebas yang muncul di wajahnya.
Seringnya dia menjalani kegiatan klub, membuat dia semakin dekat dengan seseorang, seorang remaja perempuan yang baru beberapa saat ia kenal.
Ia masih mengingat dengan jelas, bagaimana dia berbicara santai dengan teman perempuan baru tersebut.
__ADS_1
Ia yang saat itu sedang ada tugas dari guru bahasa, harus melihat dengan hati kesal saat dia memunggunginya, berbicara santai tanpa melihat ke belakang ke arahnya, jika saja ia tidak menepuk bahunya.
"Oke, lupakan. Kalau tidak aku pasti akan menendang bokongnya, jika diingat-ingat lagi," gumam Queene mencoba biasa saja.
Wajahnya yang tadi kesal berubah menjadi senyum lebar, saat kedua sahabatnya jalan bersama-sama ke arahnya duduk saat ini.
"Gavriel! Ezra! Good job!" seru Queene, berdiri dari duduknya dan mengakat tangan dengan telapak tangan terbuka.
Tos!
Empat telapak tangan saling beradu, diikuti kekehan dari si remaja perempuan, apalagi saat salah satunya membawa tangan lainnya untuk mengusak rambut si remaja perempuan gemas.
Queene menikmatinya dalam diam, saat Gavriel dengan gemas mengusak rambut berkuncir kudanya.
"Tav! Rambutku!" seru Queene pura-pura kesal.
"Apa sih, ini bukan salahku, tapi tangan aku aja yang jahil," balas Gavriel santai, tidak mempermasalahkan panggilan kesayangan dari sahabat perempuannya.
"Tapi itu tangan kamu," balas Queene masih menghindar.
"Que, nggak bawa minuman?" sela Ezra menginterupsi sesi bercanda dua sahabatnya.
"Bawa! Tuh di sana," balas Queene menunjuk ke arah kursi.
Queena berhenti mengelak saat menjawab pertanyaan sahabatnya, membuat Gavriel yang melihat kesempatan tidak menyia-yiakan kesempatan itu.
Gavriel dengan segera membawa sahabat perempuannya, masuk ke dalam pelukan dadanya, membuat Queene yang tidak siap harus menerima dengan pasrah, saat wajahnya merasakan basah dari baju olahraga berkeringat yang di pakai Gavriel.
"Yaah! Gavriel keringatmu. Iyuh!!"
Queene tidak mengelak, meskipun bibirnya melayangkan kata-kata makian, nyatanya ia menikmati kedekatan dirinya dan dia yang saat ini tergelak renyah.
Ezra hanya bisa tersenyum, dengan senyum yang disembunyikan.
Ia ikut senang saat sahabat perempuannya tertawa, menikmati kebersamaan dengan sepupunya, setelah beberapa minggu yang lalu mereka tidak bersama seperti ini.
Beberapa minggu yang lalu, mereka sibuk dengan kegiatan sendiri.
Sebenarnya bukan hanya itu, akhir-akhir ini Gavriel juga dekat dengan teman perempuan sekelas, yang beberapa waktu ini selalu ikut di tengah mereka.
Queene meskipun tidak menyukai itu, tapi tetap mencoba menerima dan menghargainya.
Yang ia lakukan adalah menyingkir secara pelan, berusaha menerima dengan senyuman, dan-
"Gav! Ezra! Kalian hebat sekali!"
Dan menjauhkan dirinya dari Gavriel, yang juga melonggarkan pelukan pada kepalanya.
Seperti saat ini, saat teman sekelasnya berjalan ke arah mereka bertiga dengan senyum cantik mempesona.
Senyum yang membuat fansnya menjerit, mengumandangkan betapa cantiknya seorang Keineira.
"Kalian juga keren, gerakan yang sempurna," balas Ezra, sedangkan Gavriel hanya mengangguk membenarkan.
"Em ... Gav, kamu sudah dengar dari Pak Daniel, tentang maskot pembukaan?" tanya Kei menatap ke arah Gavriel.
"Sudah, kita nanti berdiri di samping kepala sekolah kan, saat pidato?" tanya Gavriel.
"Iya! Nanti kita ada latihan posisi, eum ... Aku nggak seberapa jelas sih, tapi intinya kita ada beberapa gladiresik sebelum acara," ujar Keineira menjelaskan.
"Hn."
Gavriel mengangguk mengerti, membuat Kei tersenyum dengan senyum manisnya, dengan seseorang yang merasa risih meski di tahannya.
"Tav! Es! Yuk minum!" ajak Queene mengajak kedua sahabatnya, dengan panggilan mereka saat kecil.
"Que! Jangan mulai!"
Queeneira menggandeng kedua sahabatnya, menjauhi Kei yang juga kebetulan di gandeng tim cheersnya juga.
"Kei! Ayok!"
__ADS_1
"Ya!"
Kei yang di tarik oleh teman setimnya hanya pasrah, melihat ke arah salah satu remaja laki-laki, dengan tidak rela.
Biasanya, mereka akan istirahat bertiga atau juga berempat, setelah selesai melakukan kegiatan latihan mereka.
Ia juga sudah mulai bisa main di tengah-tengah ketiganya, meskipun ia tahu ada seseorang yang masih tidak menerimanya, tapi ia yakin jika nanti orang itu cepat atau lambat menerimanya juga.
💕💕💕
Tiga sahabat ini duduk dengan lesehan di lantai lapangan, sambil meminum minuman yang dibawa oleh Queeneira, serta sesekali bercanda seperti biasa.
"El bilang, libur musim panas tahun ini, mau ajak kalian libur bareng. Bagaimana?" tanya Gavriel melihat satu per satu sahabatnya.
"Boleh juga, kita libur kan? Sehabis pertandingan, iya bukan sih?" sahut Ezra bingung sendiri.
"Iya, setelah pertandingan. Bagaimana?" tanya Gavriel.
"Aku sih iya aja, kamu Que?" ujar Ezra bertanya kepada sahabat perempuannya.
Queene mengerutkan kening berpikir, lalu mengaduh sakit saat Gavriel menepuk dahinya sengaja.
Tuk!
"Pura-pura berpikir, tinggal bilang iya aja susah," ledek Gavriel menuai gembungan pipi sebal dari Queene, si korban tepukan iseng Gavriel.
"Syakit Tav! Gantian sini!" seru Queene bersiap mengangkat tangannya.
Gavriel terkekeh saat mendengarnya, ia melihat sahabatnya dengan pandangan aneh, yang tentu saja tidak di sadari oleh yang dipandang.
Beberapa minggu ini, ia memikirkan perkataan sang Daddy, untuk mulai mempelajari tiga rasa rumit dalam hidup manusia.
Ia juga bisa merasakan perbedaan sedikit demi sedikit.
Maka itu sudah ia putuskan, untuk memulai dengan pencariannya dan memberikan masing-masing kesempatan.
"Tav! Tav!"
"Hn."
"Ada apa? Ezra udah duluan tuh, kamu nggak balik latihan?" tanya Queene memandang sahabatnya penasaran.
Jika diperhatikan, Gavriel bahkan hanya bergumam, tapi Queene tahu perbedaan hn yang diucapkan oleh sahabatnya.
Gavriel melihat ke arah sana, arah yang ditunjuk oleh Queene, dimana sang sepupu berlari dengan anggota tim siap bermain.
Astaga! Ia sepertinya sedikit melamun.
"Hn, aku tinggal kalau begitu."
"Iya, semangat Tav!"
Sebelum meninggalkan sahabatnya sendiri, ia menyempatkan diri menepuk kepala sahabatnya pelan.
"Tentu saja," gumamnya kemudian meninggalkan Queene sendiri.
"Cepat Gav!"
"Hn."
Queene melihatnya dari sini sambil memegang kepala, yang tadi ditepuk pelan oleh sahabatnya yang tersayang, lalu tersenyum sedih saat mengingat, jika mungkin nanti tepukan seperti ini bukan ia lagi yang bisa merasakannya.
"Liburan yah .... Aku harap masih seseru tahun-tahun kemarin," gumamnya berharap.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Sampai babai.
__ADS_1