
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Ruang Inap Dirga
Setelah kepulangan Tamu yang sungguh tidak di duga, kali ini Dirga di buat lebih kaget saat kedatangan rekan kerja lainnya, yang datang tanpa pemberitahuan.
Di depannya saat ini Dia sedang menggeleng kepala, saat mendengar cerita darinya.
"Kamu yakin ini hanya kecelakaan biasa, Ga?" tanya Tamu tersebut.
"Iya Ar, ini hanya kesalahan dan kecerobohan Aku. Saat itu Aku salah ambil jalur," balas Dirga berbohong.
Ia tidak mau jika sampai konspirasi ini di ketahui oleh khalayak ramai, baginya cukup Ia dan keluarganya saja yang tahu. Apalagi motif dari konspirasi ini hanya masalah sepele, tentang cinta yang tak sampai dan harta yang terkikis karena ketamakan.
"Jalanan persimpangan di sana emang sedikit rawan sih, apalagi kau malam hari. Kedepannya Aku akan pasang CCTV atau Pos penjaga. Bagaimana menurut Kamu?" ujar Arlan memberi usul.
"Bisa juga tuh, di sana juga bisa Kita pasang beberapa lampu tambahan. Kamu tahu di sana itu ternyata adalah kota kelahiran Mertua Aku!" seru Dirga bercerita.
"Woah ... Benarkah? Aku baru tahu. By the way, Anak Kamu lucu. Si Evelyn sampai gemas seperti itu," ujar Arlan dengan senyum kecilnya.
"Kalau begitu Kamu buru-buru lah menikah, bukan kah asisten Kamu orangnya?" balas Dirga menggoda.
Arlan terkekeh kecil, sambil menggeleng kepalanya.
"Susah, Bro," ujar Arlan miris.
"Loh ... Maksudnya?" tanya Dirga tidak mengerti.
"Dia susah banget di dekati,"
"Ini tidak seperti Kamu, bukankah Kamu di kenal sebagai Si Cassanova sialan?" ujar Dirga meledek. Senyum miringnya terpasang, saat melihat Arlan yang mendengus kesal.
"Yah .... Karena julukan itu, Dia tidak mau dekat Aku!" curhat Arlan tanpa sadar.
"Akh .... Sial, Aku keceplosan!" lanjut Arlan terkejut.
"Ha-ha-ha!"
Dirga tertawa keras saat mendengar curhatan tidak sengaja dari rekan kerjanya. Ia bahkan tambah terkekeh, saat mendengar umpatan tentang kecerobohan Dia yang terpancing oleh kata-kata darinya.
Di sofa sana ada Kiara dan Evelyn yang juga sedang mengobrol asik, Kiara yang cepat akrab bisa berbaur dengan Evelyn yang juga easy going.
Padahal ini adalah pertama kali pertemuan mereka, tapi keduanya mengobrol tanpa ada canggung sama sekali.
"Jadi Kamu baru beberapa bulan ini bekerja dengan Dia?" tanya Kiara.
"Iya Kak, sekitar 2 bulan!" balas Evelyn.
Saat ini di pangkuannya ada seorang balita, yang cepat sekali akrab dengan orang asing, yang menurutnya asik untuk di temploki oleh tubuh buntalnya.
"Asisten pribadi sangat sulit,mereka harus kehilangan waktu pribadi di setiap detiknya. Tapi karena salery yang di dapat berbeda, jadi tidak sedikit yang menerima pekerjaan ini," ujar Kiara mengemukakan pendapatnya.
"Benar sekali Kak. Bahkan Aku harus tahan sabar untuk segalanya, saat Bos Aku membutuhkan Aku, sedangkan waktunya bukan menunjukan waktu kerja," balas Evelyn berkeluh kesah.
Kiara terkekeh kecil saat mendengar curhatan dari perempuan cantik di depannya, yang sesekali harus meladeni saat Anaknya minta di notice.
"Sabar yah, Evelyn!" seru Kiara dengan senyum kecil
"Ha-ha-ha!"
Kedua wanita beda usia itu menoleh ke arah suara, dimana ada Dirga yang saat ini sedang tertawa puas sedangkan Arlan melengos kesal.
"Ada apa sih?" tanya Kiara penasaran dan Evelyn sendiri hanya menggeleng kepala.
"Sepertinya seru sekali!" sahut Evelyn ikut penasaran.
Skip
Tidak kerasa waktu berlalu cepat, Arlan dan Evelyn pun pamit undur diri.
"Cepat sehat, Ga!" ujar Arlan tulus. Ia mengadu kepalan tangannya, ber-tos ria dengan Dirga yang menyambutnya segera.
"Yo ... Thanks Ar!" balas Dirga tersenyum kecil.
__ADS_1
"Cepat pulih, Tuan Wijaya!" ujar Evelyn dengan senyum kecil.
"Terima kasih, Evelyn. Jangan dekat-dekat dengan cowok macam Arlan, bahaya!"
"Sialan Kamu, Ga!" sahut Arlan sewot.
Mereka tertawa saat mendengar seorang Cassanova mengumpat kesal, saat di olok oleh rekan kerja sendiri.
"Tentu Tuan, bahkan saya sudah memasang rambu dengan tulisan jarak minimal satu meter. Apakah itu cukup?" balas Evelyn berkelakar yang di sambut gelak tawa dari semuanya.
"Awas karma!" seru Arlan meledek Evelyn.
"Never," balas Evelyn singkat dengan bibir mendengus sinis.
"Kalian lucu, langgeng sampai menikah yah!" seru Kiara menggoda menuai jawaban cepat dari keduanya.
Arlan yang mengamini dah Evelyn yang menggeleng kepala menolak.
"Tidak akan/Amin!"
Sehingga baik Dirga maupun Kiara tidak tahan untuk tertawa lagi.
"Kompaknya ..." ujar Kiara semakin menggoda.
"Ugh ... Kak Yaya begitu!" dumel Evelyn merajuk.
Puk! Puk!
"Sabar yah, Evelyn sayang. Sesungguhnya ini bukan ujian hidup!" ujar Arlan dengan tangan menepuk kepala Evelyn santai.
"Diam kao!"
"Aha-ha-ha!"
Mereka berdua pun pamit, setelah menyuguhkan pemandangan berupa pertengkaran kecil. Membuat Dirga geleng kepala tidak habis fikir , sedangkan Kiara melihat dengan ekspresi bertanya akan maksud dari gelengan kepala dari Suaminya.
"Kenapa?" tanya Kiara penasaran.
Dirga tersenyum sebelum menjawab, lalu menepuk kepala Kiara sayang.
"Tidak tahu!" balas Kiara cepat.
"Karena wanita bisa menjadikan seorang pria mati dengan cintanya dan juga hidup dengan cintanya pula. Itulah kenapa Kami kaum Pria, hanya akan memilih satu wanita untuk menjadi racun di hidupnya!" seru Dirga lembut. Ia membelai sayang rambut istrinya, lalu tersenyum kecil.
Kiara tersenyum malu saat mendengar perkataan gombal, dari seorang lelaki yang sudah dua tahun menikah dengannya.
"Gombal,"
"Dih! Kamu tidak percaya? Buktinya Aku, hanya Kamu yang membuat Aku hilang kendali dan hanya Kamu pula yang membuat Aku bisa mengingatkan Aku, di saat Aku lepas kendali," balas Dirga meyakinkan.
"Sehabis bangun dari koma, kok Kamu jadi berubah, sayang?" tanya Kiara menggoda.
"Berubah? Maksudnya?" tanya Dirga tidak mengerti.
"Iya ... Berubah menjadi manja dan pintar berbicara manis. Aku harus ekstra belajar untuk tidak memekik senang, saat Kamu selalu berucap manis kapada Aku!" seru Kiara membalas pertanyaan Dirga.
Dirga tersenyum miring saat mendengar pernyataan jujur dari Istrinya.
"Lalu, Kamu suka Aku yang mana?" tanya Dirga dengan alis terangkat.
"Kamu yang sekarang atau pun yang kemarin bagi Aku sama saja, asal itu kamu!" balas Kiara cepat. Menuai cubitan gemas dari Dirga yang terkekeh kecil.
"Berarti tidak ada jawaban dong?" tanya Dirga tersenyum geli.
"Karena Aku suka Kamu, bukan bagaimana Kamu dulu atau sekarang," balas Kiara balik menggoda Dirga.
"Awww ... Terbang deh,"
"Aha-ha-ha!!"
Tawa keduanya memenuhi ruang rawat milik Dirga, untung saja tidak mengganggu Anak mereka yang asik menjelajah di dunia mimpi, setelah tadi puas di manja oleh Kakak cantik.
__ADS_1
Malam tiba menggantikan sore, di ruang inap Dirga berkumpul dua keluarganya, mereka saat ini sedang membahas masalah terapi yang akan Dirga jalani.
Karena Dirga mengalami cidera di kedua pahanya, sehingga memungkinkan Dirga akan sulit berjalan kedepannya.
"Papa sudah mendapatkan ahli terapi terbaik di kota ini. Dirga, Papa harap Kamu mengikuti prosesnya, Papa hanya ingin yang terbaik untuk Kamu!" seru Hendri dengan nada semangat. Ia yakin jika mengikuti terapi dari seorang ahli terapis yang di rekomendasikannya, maka kepulihan Anaknya akan menjadi kenyataan.
"Dirga mengerti Pah, terima kasih!" balas Dirga menerima.
"Kamu pasti sembuh sayang!" seru Putri yakin. Ia tersenyum ke arah Anaknya, yang balas tersenyum menenangkan.
"Tentu saja Mah, Dirga akan melakukan apapun yang terbaik. Dirga akan segera pulih, agar Dirga bisa bermain dengan Gav lagi!" balas Dirga yakin. Ia menepuk kepala Gav yang saat ini sedang ada di depannya, sedang bermain dengan mainan karetnya.
Gigi depan Sang Putra tumbuh,Dia selalu merasa gatal di bagian gusi dan mengigit apapun yang bisa di jangkaunya.
"Semangat sayang!" seru Sarah mendukung dengan tulus.
"Tentu Mih, Dirga pasti sembuh!" balas Dirga meyakinkan diri.
Dirga tahu ini yang akan terjadi karena Ia dari awal sudah menerima, jika kelak Ia harus mengalami kecacatan. Ini pilihannya, jadi Ia sama sekali tidak syok saat keluarganya bilang,jika Ia sementara waktu tidak bisa berjalan.
Meski begitu tidak ada yang tahu rasa sedih di hatinya, saat memikirkan jika beberapa waktu kedepan Ia tidak bisa menemani Sang anak yang sedang giatnya merangkak kesana\-kamari.
"*Bahkan Gue nggak tahu, apa bisa Gue jalan dengan normal lagi atau justru sama sekali tidak bisa berjalan*," batin Dirga miris.
Di sampingnya, Kiara yang merasakan kesedihannya menggengam tangannya erat, di sertai remasan lembut membuat Ia merasakan rileks sejenak.
Istrinya tersenyum menenangkan, lalu berbisik lirih di telinganya.
"Ada Aku sayang, jangan khawatir. Aku akan selalu bersama Kamu, hingga Kamu pulih sedia kala dan Kita bisa bersama\-sama berjalan beriringan lagi. Percaya Aku yah, kamu pasti bisa jalan seperti semula!"
Dirga harus menahan laju air matanya, saat melihat ekspresi sok kuat dari Sang Istri. Ia mengangguk kecil dan tersenyum balas menenangkan Sang Istri.
"Tentu saja, Aku percaya jika itu bersama Kamu, maka semuanya akan baik\-baik saja!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya .....
__ADS_1