
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Suasana kelas yang di tempat Gavriel sunyi, saat sang guru menjelaskan dengan lantang, apa yang tadi di tulisnya di papan tulis.
Jika tadi di jam pelajaran pertama adalah huruf katakana atau juga huruf aksara Jepang yang mereka pelajari, maka saat ini adalah pelajaran Ilmu pengetahuan sejarah menurut beberapa ilmuwan.
(Author bolos pas pelajaran ini. Jangan jujur amat dah, Thor)
Pelajaran yang sangat mudah, namun akan sangat memakan tempat di otak. Saat kita harus mengingat, tahun, siapa dan kejadian apa, yang terjadi di masa lampau.
Di depan sana, tepatnya di papan tulis sana.
Guru sejarah dengan kelamin perempuan ini, menuliskan makna sejarah, dengan macam-macam artian dengan pengemuka berbeda.
Di papan tulis, tertulis dengan rapih, sejarawan atau juga para ahli, mulai tokoh dari negaranya hingga tokoh dari dunia.
Tokoh negara I
Muhammad Yamin
Mohammad Hatta
Nugroho Notosusanto
Roeslan Abdulgani
Drs. Sidi Gazalba
W.J.S Poerwadaminta
Moh. Ali
Tokoh Dunia
Aristoteles
Beverley Southgate
Ibnu Khaldun
Henri Pirenne
Jan Marius Romein
Ernst Bernheim
Charles Harding Firth
Ibu dengan nama Yasmin ini, telah menjelaskan arti sejarah, menurut Moh. Ali dan memerintahkan para muridnya, untuk menjabarkan arti sejarah menurut tokoh-tokoh di papan tulis.
Menurut Moh Ali :
Sejarah yaitu ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian di masa lampau.
Sejarah yaitu kejadian dan peristiwa yang berhubungan dengan manusia, yakni menyangkut perubahan yang nyata di dalam kehidupan manusia.
"Nah! Anak-anak, tadi ibu sudah menjelaskan arti sejarah, menurut Moh. Ali dan Tugas untuk kalian adalah menjabarkan apa arti sejarah kemudian menjilidnya, di tulis dengan tangan, bukan dengan tulisan komputer."
"Tulisan yang paling rapih, serta detail dan juga jelas referensi yang kalian dapatkan dari mana, akan mendapatkan nilai tertinggi. Apa sampai sini paham?" ujar Bu Yasmin, melihat sekeliling di mana para muridnya mengangguk.
"Paham, Bu!" seru mereka kompak.
Teng! Teng! Teng!
"Baiklah, karena jam pelajaran ibu sudah habis. Maka sampai sini dulu pelajaran kita, jangan lupa kerjakan tugas kalian dan kumpul di pertemuan kita selanjutnya. Selamat siang semua!"
"Selamat siang, Bu!"
Ketika sang guru keluar dari kelas, para murid pun mengikuti dari belakang jejak sang guru.
Waktu istirahat, waktu yang di tunggu para murid, untuk mengisi kembali tenaga mereka yang habis, karena di makan oleh otak mereka untuk berfikir.
Di meja yang di tempati oleh Queene, telah duduk berhadapan Ezra dan Gavriel, yang melihat sang sahabat dengan pandangan bertanya, membuat Queene yang merasa di tatapan seperti itu mendengus kesal.
"Apa?" sewotnya saat mendapatkan pandangan mata, dengan tatapan mata minta di slepet jari.
"Kok apa?" tanya balik Ezra ikut mendengus.
"Ya kenapa? Kok pada liatin aku segitunya, emang sih aku ini cantik bagai ratu, tapi nggak segitunya lah liatin aku," cerocos Queene dengan narsisnya.
Geli dengan cerocosan narsis bin tidak tahu malu dari sahabat perempuannya, Gavriel dan Ezra pun dengan sengaja mengetuk dahi kiri dan kanan Queene sedikit kuat, sehingga menimbulkan suara dan pekikan sakit dari si empunya dahi.
Bletak! Bletak!
Ouch!
" Akh! Kenapa kalian suka sekali sih, nganiaya kening cantik aku. Jahara sekali!"
Queene yang mendapatkan ketukan sayang, dari dua sahabatnya sibuk mengusap kening merahnya, dengan bibir sibuk menggerutu menyumpah serapah dua sahabatnya, membuat Gavriel dan Ezra yang mendengarnya memutar bola mata bosan.
Queene dan gerutuannya, tidak akan kelar kalau mereka diamkan saja.
"Stop Que, kasian telinga orang yang denger gerutuan nggak penting kamu," ujar Ezra meledek.
"Yah ... Ngajakin gelud?"
"Oke ... Stop it guys."
Gavriel segera melerai kedua sahabatnya, sebelum terjadi pertengkaran berujung kejar-kejaran seperti biasa, yang terjadi jika Ezra dan Queene saling menyatakan gelud.
__ADS_1
"Humb."
Ia menghela nafas saat sahabat perempuannya mendengus kesal, ngambek.
"Oke, Que-que. Pertanyaan dari kami sama," ujar Gavriel menjeda kalimatnya, saat mendengar jawaban ketus dari Queene, yang masih memasang pose ngambek andalannya.
Bibir mengerucut dengan tangan bersedekap, serta lirikan mata ke atas, enggan melihat ke arah mereka.
"Lucu sekali, dasar," batinnya geli.
"Apa?"
"Semalam kenapa, kamu tidak hubungi kami?" lanjut Gavriel bertanya.
Seketika Queene menatap dua sahabatnya dan mendengus kesal, jangan lupakan matanya melotot galak, setelah mendengar pertanyaan yang katanya sama untuknya.
"Ah! Jangan ingatkan aku!" seru Queene kesal.
Ia kembali merasa dongkol, saat mengingat bagaimana sang Baba dengan entengnya bilang ...
"Queeneira, amuy Baba yang paling cantik. Baba sudah memutuskan untuk membatalkan rules kita, karena di dalam permintaan kamu, Baba telah menemukan indikasi yang berbahaya."
Lah .... Kenapa coba, sampai indikasi di bawa-bawa?
Ia yang melihat tampang biasa saja dari sang Baba gerah seketika, apalagi saat Babanya mengetahui apa yang selama ini ia rencanakan, di balik permintaannya minta di belikan sepeda motor sport.
Alasan yang membuat sang Mama ikut mendukung, apa yang jadi keputusan sang Baba yang dengan santai dan melihatnya tanpa dosa.
Hell ... Ia sudah menunggu dua tahun, untuk memiliki kendaraannya sendiri, lalu setelah saatnya ia meneguk manis dari hasil sabarnya, sang Baba dengan seenaknya membatalkan rules mereka.
Meski baru ini Babanya membatalkan sepihak kesepakatan mereka, ia tetap saja merasa kesal jika di ingatkan lagi.
"Padahal sudah lupa," batinnya mendengus kesal.
"Lah ... Kenapa, emang apa yang terjadi?" tanya Ezra penasaran.
Ia menatap tidak mengerti, saat sahabatnya semakin melihat mereka dengan mata berapi-api.
"Ya pokoknya, jangan ingatkan aku!" balas Queene semakin kesal.
"Ya lalu kenapa? Kalau tidak di jelaskan, bagaimana kami tahu, amuy."
Gavriel pun ikut bertanya gemas, saat Queene selalu menjawab dengan semburan kesal setiap mereka bertanya.
"Hih!"
"Kok, hih?" tanya keduanya kompak.
"Huh!"
"Nah, sekarang malah huh."
"Ck ... Kalian ini, kalau bertanya harus ya ada jawabannya?" tanya Queene kesal.
"Ya harus!" seru keduanya lagi-lagi kompak, kemudian terkekeh saat Queene mendelik ganas.
Kedua sahabatnya semakin terkekeh lucu, saat mendengar nada khas darinya, yang jika kesal akan terdengar jelas logat turunan sang Mama.
Ha-ha-ha!
Keduanya semakin terkekeh, menikmati bagaimana ekspresi sahabat premannya semakin kesal karena ulah mereka.
Queene itu kaya akan ekspresi lucu, sama seperti El, kedua kesayangan mereka ini akan mengeluarkan raut wajah kesal saat kesal, tersenyum lebar saat bahagia, serta menampilkan wajah meledek saat berhasil mengerjai mereka.
Tumbuh bersama dari balita, membuat mereka tahu jika kali ini sahabat mereka, si preman amuy, benar-benar sedang mengalami apa itu rasa kesal.
Puas terkekeh dengan Queene yang ngambek, kedua laki-laki ini pun menepuk-nepuk kepala Queene kompak, membuat yang di tepuk semakin menekuk wajah kesal.
"Ada apa, heum? Kamu tahu, aku nunggu kabar dari kamu loh semalam. Eh ... Kamunya nggak kasih kabar sesuai janji," ujar Gavriel bertanya dengan lembut, ia menatap wajah berlipat kesal sahabat perempuannya, yang akhirnya menatap balik mereka.
"Aku lupa, keburu kesal," gumam Queene menatap sahabat merasa bersalah.
Ia tahu ia sudah berjanji, tapi namanya orang sudah kesal, ya pasti lupa dengan janji atau apa lah itu.
"Maaf," lanjutnya bergumam lirih.
"Oke ... Bukan itu yang mau kami bahas, tapi kenapa semalam tidak ada hubungi kami berdua?" tanya Ezra mengalihkan pembicaraan, sedangkan Gavriel hanya mengangguk dan menatap Queene menuntut.
"Lupa .... Aku kesal."
"Kesal kenapa?"
"Baba tuh!"
Queene dengan kesal dan wajah cemberut menyebut nama sang Baba, membuat Gavriel dan Ezra lagi-lagi heran dengan ekspresi kesal dari sahabatnya.
"Ya kenapa?" tanya Gavriel gemas.
"Tadi malam itu ....
Gavriel dan Ezra mendengar dengan seksama, apa yang di ceritakan oleh sahabatnya, yang semakin menampilkan raut wajah kesal, saat mengulang ingatan akan kejadian malam kemarin.
Dan ketika cerita darinya selesai, ia menatap dua sahabatnya untuk melihat reaksi yang akan di terimanya seperti apa.
Disisi Ezra ia mendengar dengan wajah serius, kemudian berubah menjadi wajah menahan tawa.
Sedangkan disisi Gavriel, entah harus kasihan atau tertawa saat selesai mendengar cerita, dari Queene yang menatap keduanya dengan bibir semakin mengerucut.
"Pffft!"
"Ya ... Ya .... Ya, tahan saja tawa kalian sampe tersedak, mati baru tahu rasa."
Gavriel terkekeh kecil, saat mendengar nada sarkas nan jengkel dari Queene, yang melengoskan wajah semakin kesal.
"Astaga, ada-ada saja," gumam Gavriel menggeleng kepala.
__ADS_1
Selagi dua sahabatnya tertawa akan nasib na'asnya. Queene dengan gerakan bar-bar membuka tas, untuk mengambil kotak bekal yang di selipkan oleh sang Mama, lalu meletakkan di atas meja dengan sengaja sehingga menimbulkan bunyi keras, membuat Gavriel dan Ezra kaget seketika.
Tak!
"Astatang! Ya ampun Queene, lembut dikit napa. Bikin orang jantungan aja," ujar Ezra dengan tangan mengusap dada, meredakan efek kaget akibat bunyi meja yang terdengar mengerikan.
"Kalau meja bisa berbicara, mungkin mereka sudah menjerit kesakitan," batin Ezra ngeri.
"Kamu bawa bekal? Tumben," tanya Gavriel dengan alis terangkat penasaran.
"Mama yang masukin, tadi pagi aku nggak sarapan, ngambek. Males liat Baba, eh ujung-ujungnya tetap berangkat sama Baba."
"Kenapa kamu nggak kirim pesan, minta jemput?" tanya Ezra ikut mengambil roti sandwich, di kotak bekal Queene saat di buka.
"Kamu aja aku dateng sudah sampai sini, bagaimana bisa berangkat bareng," balas Queene sarkas.
Ezra terkekeh dengan mulut mengunyah santai, sandwich isi tuna kepunyaan Queene, tanpa menjawab nada sarkas sahabat perempuannya, yang pagi ini entah kenapa sensitif sekali.
Seperti perempuan sedang dalam masa.
Gavriel pun ikut memakan roti isi milik Queene, karena mereka tahu jika Queene membawa bekal, artinya Yiyi Elisa membuatkan lebih, untuk mereka makan bersama-sama.
Sepertinya sang Mommy, yang akan membuatkan apapun dengan jumlah lima, jika mereka sudah berkumpul dan makan bersama saat SMP dulu.
"Tapi benar juga sih, apa yang di katakan oleh Suk-suk," gumam Gavriel di sela-sela kunyahannya, membuat Ezra dan Queene menatapnya tidak mengerti.
"Apa?"
"Maksudnya?"
Ezra dan Queene kompak bertanya, saat mereka tidak mengerti apa gumaman dari Gavriel, yang juga melihat ke arah mereka.
"Maksudnya?" tanya Gavriel memastikan, membuat dua sahabatnya mengangguk kompak.
"Maksud aku itu, kan tadi Suk-suk bilang kalau Queene ini perempuan, bener dong? Suk-suk tidak salah."
Gavriel menjeda penjelasannya, melihat ke arah Ezra yang mengangguk, sedangkan Queene protes tidak terima.
"Yeee ... Tapi kami selalu buat rules, setiap aku minta sesuatu!"
"Iya aku tahu ... Tapi, Suk-suk baru ini kan tidak mengabulkan permintaan kamu?" tanya Gavriel menatap Queene lembut, meminta pengertian dari sahabat perempuannya, agar melihat segalanya bukan dari sisi sebelah.
"Iya sih," gumam Queene lirih.
Ia tahu Babanya hanya ingin ia tidak kenapa-napa, maka dari itu ia sedikit bisa memaafkan sang Baba, meskipun hatinya masih kesal saat sang Baba mengingkari janjinya.
"Nah ... Semua yang di putuskan oleh kedua orang tua, pasti ada kebaikan yang tersembunyi di dalamnya. Jadi ... Kamu sebagai sahabat aku yang paling baik, pasti ngerti kan, apa maksud dari pembatalan janji yang di lakukan oleh Suk-suk?" tanya Gavriel bijak, menatap lembut sahabatnya yang balik menatapnya dengan tatapan mata menyerah.
"Fine."
"Good girl," gumam Gavriel dengan tangan mengusap rambut sahabat perempuannya, di ikuti Ezra yang juga mengusap sisi lainnya rambut Queene.
Kajadian ini bukan hanya di lihat oleh beberapa teman sekelas, tapi juga beberapa murid kelas lainnya, yang sengaja ingin melihat King mereka yang hari ini tidak keluar kelas seperti biasa.
Keakraban ketiganya, membuat GFC sebutan untuk Gavriel Fans Club, iri seketika saat melihat satu perempuan di sayang sedemikian rupa oleh King, serta pangeran sekolah lainnya.
Bukan hanya fans dari Gavriel, tapi juga tiga remaja yang melihat meja mereka dengan tatapan, yang sama intinya meski lain perasaan pada salah satunya.
"Beruntung sekali," batinnya, sebelum berdiri dari duduknya dan mengajak dua temannya untuk keluar kelas, menuju kantin mengisi perut masing-masing.
"Makan yuk!" serunya ceria.
"Yuk!"
Kemudian meninggalkan kelas, tanpa tahu jika ada obrolan lain yang menyangkut salah satu dari mereka.
Kembali di sisi Gavriel, Queene dan Ezra.
Mereka bertiga melanjutkan makan mereka, dengan Ezra yang baru kembali dari ke kantin, untuk membelikan mereka bertiga minuman kemasan.
Di tengah-tengah acara makan mereka, Ezra yang masih memikirkan perkataan sang Suk-suk bertanya kepada Queene, tanpa tahu jika pertanyaan darinya, membuat dua sahabatnya merasa ada yang berbeda.
"Tapi Que."
"Hum?"
Queene menatap dengan alis terangkat, saat sahabatnya bertanya, namun belum di lanjutkan.
"Kenapa kamu ingin sekali punya motor sendiri? Bukan kah masih ada kami, jika hanya untuk pulang dan pergi sekolah?" tanya Ezra penasaran.
Pertanyaan simple, membuat Gavriel juga melihat ke arah sahabat perempuannya, dengan raut wajah sama penasarannya seperti sang sepupu.
"Iya, kenapa?" timpal Gavriel.
"Kalian mau tahu jawabannya?" tanya Queene melihat satu per satu sahabatnya dengan senyum kecil di paksakan.
Sebelum menjawab, ia meletakkan roti yang baru di makan setengah miliknya, kemudian meminum air kemasan dari Ezra untuknya, baru lah ia menatap lagi ke arah dua sahabatnya.
Ia menatap dengan senyum di buat seakan-akan, jika apa yang di sampaikannya adalah hal biasa saja.
"Karena ...."
Penjelasan yang membuat dua temannya merasa, jika apa yang di sampaikan oleh sahabat perempuannya adalah perasaan, perasaan khawatir yang membuat mereka sedih seketika.
Sedangkan Gavriel sendiri, entah mengapa ia merasa sahabat perempuannya, sedang menyampaikan sebuah maksud tersembunyi untuknya, namun juga tidak di saat bersamaan saat di tela'ah.
"Sebenarnya, apa maksud ucapan Queene?" batinnya tidak mengerti.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebenarnya apa yang di katakan oleh Queene, kenapa Gavriel sampai harus merasa sepertinya itu?
Mau tahu ....
__ADS_1
Ikuti saja kisah selanjutnya.
Sampai babai ...