
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Suasana Ballroom tempat di adakan pesta perayaan ulang tahun Gavriel yang pertama, riuh dengan suara tepuk tangan, apalagi saat seseorang menyebut nama Si penyelenggara pesta.
Raka yang dari dulu ada saja cara yang membuat Dirga hipertensi, kembali membuat ulah dengan memanggil dirinya untuk naik dan menyanyikan sebuah lagu.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya para Tamu undangan. Di sini saya berdiri sebagai perwakilan dari sahabat Saya, siapa lagi kalau bukan Dirga Mahesa Wijaya Tuan rumah penyelenggaraan pesta, menyambut kedatangan semua dengan tangan terbuka dan Untuk meramaikan suasana gembira ini. Bagaimana jika Kita meminta dengan paksa, saudara Dirga untuk sekali lagi memperdengarkan suara huskynya!"
Suara dari Raka terdengar hingga sudut ruangan, membuat Dirga yang mendengar memasang wajah was-was menjurus gugup.
"Kepada Tuan Dirga, di mohon menyanyi untuk menghibur Kita semua, apa kalian setuju?" lanjut Raka dengan semangat. Maksudnya semangat membuat Dirga bertambah was-was.
"Setuju!" koar Tamu undangan serempak.
Seketika Dirga menggeram memanggil nama dari sahabat edannya, dengan suara tertahan dan tangan mengepal menahan kesal.
"Raka kampret!" desis Dirga.
Di sampingnya Kiara yang mendengar geraman Dirga terkekeh, lalu menyenggol lengan Suaminya dengan ekspresi meledek.
Sedangkan Amira dan Elisa mendekati Kiara dan mengayunkan tangannya, melepas Dirga untuk naik ke atas panggung.
"Semangat Sayang," seru Kiara meledek.
"Ya bang Dirga, ayok semangat!" sahut Amira ikut mengompori.
"Tidak mau!" seru Dirga menolak dengan tegas.
Mendengar penolakan dari Suaminya, Kiara segera mengeluarkan jurus andalannya.
Semula yang tadinya Ia berdiri di sisi kanan dan kiri sahabatnya, kini berjalan menghampiri Dirga dan bergelayut di lengan Suaminya segera.
"Mau yah .... Yah! Yah!" seru Kiara manja, dengan ekspresi imut. Membuat Dirga berusaha menahan keinginannya untuk menerkam Kiara saat ini juga, oh ayolah ... Ia sudah lama tidak bermanja ria dengan Sang istri.
Sedangkan Gavriel sendiri yang saat ini duduk bersama Kakek, Nenek dan buyutnya dengan kursi yang khususkan untuknya. Bertepuk tangan heboh, memberi dukungan atas keinginan ngaco Sang ungkel Raka.
"Hi-hi, Dadd ngat!"
"Yah Gav, kenapa di kasih semangat!" sahut Dirga pasrah.
"Nyoh ... Gavriel aja setuju, tunggu apa lagi?" ujar Kiara menyudutkan. Ia menaik turunkan alisnya menggoda Suaminya, menuai dengusan tidak perduli dari Dirga yang melengoskan kepala segera.
"Nehi! (tidak)" dengus Dirga keukeuh.
Di panggung sana, Raka yang gemas dan tidak sabar semakin memprovokasi tamu undangan, Ia dengan nada meledek mengolok Dirga yang langsung menatapnya tajam.
Raka hafal dengan tabiat Sang Sahabat, jadi Ia tentu saja sengaja melakukan ini untuk menyulut sumbu kompor kesombongan Dirga.
Dirga itu paling tidak suka jika di sebut dengan panggilan ...
"Wah ... Penonton kecewa, Bagaimana ini Tuan Dirga Si Mister greatest tidak berani untuk tampil. Ah ... Saya kecewa, payah nih Tuan rumah!"
"Sialan," desis Dirga pelan.
Yah ... Benar sekali, jangan sampai memanggil Dirga dengan sebutan payah, jika tidak mau di bantai dengan kesombongannya.
"Siapa yang Lu sebut payah, kampret? Cuma nyanyi doang aja Gue berani," ujar Dirga dengan nada sombong. Ia menatap tajam Raka, yang malah memasang wajah menjengkelkan dengan cengengesannya.
"Clock .. Sudah dengar kan semuanya, jika Tuan Dirga yang terhebat ini menyanggupi!" seru Raka puas.
"Dengar!" seru tamu undangan antusias.
"Shit," batin Dirga menyesal. Ia melihat sekeliling dengan wajah memerah malu, apalagi di sampingnya Sang istri memekik senang.
"Sana Yank, jangan malu-maluin Aku!" seru Kiara sambil mendorongnya mendekati panggung.
"Yah .... Jangan dorong-dorong Aku sayang," ujar Dirga menahan tubuhnya.
"Nyanyi!"
"Nyanyi!"
"Nyanyi!"
Seruan dari Tamu undangan membuat suasana menjadi semakin ramai, Dirga yang merasa di sudutkan berusaha menahan malunya.
Ia merasa de javu dengan keadaan ini, terakhir kali Ia menyanyi adalah saat hari pernikahannya dan itu artinya sudah dua tahun yang lalu.
"Eh sudah mau dua tahun yah, tidak terasa yah," batin Dirga.
Di belakangnya Kiara yang merasa jika Sang Suami tidak bergeming, mengernyitkan keningnya heran.
Ia mendorong lagi punggung lebar Suaminya, membuat Dirga yang di dorong tersentak kaget. Sepertinya Ia tidak sadar sedikit melamun.
"Ayok sayang, demi Aku!" ujar Kiara dengan manja.
Dirga menahan tubuhnya agar tidak bergerak, lalu menghadap ke arah Kiara dan melihat Kiara dengan ekspresi kesal di buat-buat.
"Apa hadiah Aku, kalau Aku nyanyi?" tanya Dirga menatap Istrinya dengan tatapan menantang.
"Hadiah?" beo Kiara bingung.
"Iya, hadiah ... Mau dengar suara Aku, nggak gratis dong," ujar Dirga menantang.
Kiara meletakkan tangannya di dagu, pose berfikir lalu bergumam panjang.
"Hmmm .... Kamu mau apa?" tanya Kiara menyerah.
Ia menatap Dirga dan tiba-tiba merinding, saat melihat Suaminya menampilkan senyum tampan maksudnya senyum setan menjurus ke itu.
"Mati Aku," batin Kiara horor.
Dirga terkekeh saat melihat ekspresi horor dari Kiara, lalu menepuk kepala Kiara pelan.
"Bagaimana? Masih mau nyuruh Aku nyanyi?" tanya Dirga dengan ekspresi puas.
"Ugh ... Curang, Kenapa harus seperti itu hadiahnya?" tanya Kiara berbisik dengan wajah marona malu.
"Kamu yang paling tahu Aku sayang," bisik Dirga dengan suara menggoda.
Untuk sesaat mereka melupakan jika saat ini, mereka ada di tengah-tengah acara yang mengundang tamu banyak, berpasang-pasang mata melihat ke arah keduanya dengan ekspresi malu.
__ADS_1
Mereka tentu malu saat melihat dan menyaksikan dengan kepala sendiri, bagaimana interaksi romantis dari pasangan di depan sana.
Sedangkan Raka yang menanti di atas panggung, ingin sekali memukul bokong sahabatnya, dengan tendangan super darinya.
"Oi ... Tuan yang di sana, sudah kah puas menggoda istri anda? Tolong di lihat sekitar, Kami bukan patung dan pajangan atau juga penghuni yang mengontrak di bumi ini!" seru Raka dengan songongnya, mengganggu adegan romantis dari pasangan Wijaya.
Kiara yang mendengar celetukan dari Raka bergerak salah tingkah, Ia memukul lengan Suaminya pelan dan memasang ekspresi merajuk.
"Gara-gara Kamu ih, kan malu!" gumam Kiara pelan. Ia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Suaminya.
Dirga terkekeh pelan melihat ekspresi menggemaskan dari Istrinya, entah harus marah atau berterima kasih tapi yang jelas saat ini Ia menikmati tingkah lucu dari istrinya.
"Malu!" bisik Kiara dengan tangan mencengkram kemeja Dirga gemas.
Dirga hampir saja melepaskan tawanya, jika Ia tidak ingat saat ini sedang ada banyak pasang mata melihat ke arahnya.
Ia pun berdehem lalu mengusap kepala Kiara pelan, kemudian melihat ke arah Raka dengan tatapan membunuhnya.
"Mati," ucap Dirga tanpa suara kepada Raka, membuat orang yang di tuju seketika mengeluarkan keringat dingin.
Raka tersenyum canggung untuk menghilangkan rasa takutnya, Ia berdehem sebentar lalu memanggil ulang Dirga untuk segera naik ke atas panggung.
Kakinya pegal dari tadi berdiri, sedangkan yang di panggil asik-asikan berpelukan dengan pasangannya.
"Bikin iri saja," batin Raka kesal.
"Baiklah, Tuan Dirga waktu dan tempat di persilakan!" ujar Raka dengan nada semangat yang kelihatan sekali canggungnya.
"Ayo Yank, nyanyi yah!" seru Kiara yang sudah tidak malu.
Ia menengadahkan wajahnya, melihat wajah Suaminya dengan tatapan kucing menggemaskannya.
"Nanti Aku kasih hadiah," bisik Kiara kemudian.
Dirga menghela nafas pura-pura menyerah, padahal dalam hati sudah bersalto ria. Akhirnya setelah tujuh puasa dan tujuh purnama Ia bisa bermanja dengan Istrinya.
(Sumpah mau numpuk Dirga rasanya, Author nongol mere-mere aje)
"Oke ... Aku nyanyi, tapi kamu dampingi Aku yah. Aku kalau nggak ada Kamu nervous banget," ujar Dirga meminta Kiara dengan sungguh-sungguh.
Kiara membulatkan matanya syok, saat mendengar permintaan dari Suaminya. Tapi saat mengetahui kebenaran jika tanpa kemauan darinya, memang Suaminya jarang mau tampil seperti ini.
Ia pun menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum lebar dan menggandeng tangan Suaminya menuju ke arah panggung di mana ada Raka yang tersenyum puas.
Kelihatan sekali Dia senang saat berhasil menistai sahabat songongnya.
"Khu-Khu-Khu ... Berhasil lagi," batin Raka senang.
Akhirnya Dirga dan Kiara sampai di atas panggung, lalu menghadap ke arah Tamu undangan yang bertepuk tangan heboh.
Prok! Prok! Prok!
Siulan dan cuitan menggoda bersautan, saling berlomba membuat Si pasangan Wijaya malu dan salah tingkah.
Setelah korban keisengannya berdiri di sampingnya, Raka pun mempersilakan Dirga untuk memulai lagu yang akan di nyanyikan.
"Selamat menikmati semua!" seru Raka sebelum turun dari atas panggung.
Raka berjalan kembali ke mejanya, berkumpul kembali dengan istri dan sahabatnya. Ia bertos ria dengan Faro sahabat se-edan dan setresnya.
"Lagian suruh siapa, sudah sembuh tidak bilang-bilang," lanjut Faro kesal.
"Kalian senang sekali ngerjain Bang Dirga," ujar Fania dengan kekehan kecilnya. Ia mengusap perut sedikit buncitnya, saat melihat tingkah laku dari sahabat suami sepupunya.
"Kamu nggak tahu saja Dek, kalau belum membuat kesal Dirga, mereka mana menyerah!" celetuk Kai yang tahu tabiat trio strong di depannya.
Raka dan Faro yang mendengar celetukan tepat sasaran dari Kaisar tambah cekekakan, mereka memang senang saling memaki apalagi saling menggoda, dengan korban terfavorit Si Tuan songong.
"Nggak ada Kita, nggak rame cuy!" seru keduanya kompak keluar dari topik.
Tawa pecah saat mendengar seruan kompak dari Raka dan Faro, mereka akui bergaul dengan mereka bertiga membuat mereka tidak bisa yang namanya tidak tertawa.
"Das-
"Fania!"
Kalimat dari Fania terpaksa berhenti, saat mendengar seseorang menggali namanya.
Ia melihat ke arah belakang dan menemukan sepupu jauhnya, melambaikan tangan ke arahnya.
"Rose, Kamu datang!" seru Fania senang.
Rose dan pasangannya menghampiri meja Raka dan kawan-kawan, lalu bersalaman dengan semuanya saat Fania mengenalkan kepada mereka.
"Ini Rose, sepupu jauh Aku. Nah Rose ... Perkenalkan, ini sahabat dari Mba Yaya!" seru Fania semangat.
"Halo ... Saya Rose dan ini teman pria Saya, namanya Dion!" ujar Rose semangat.
"Saya Dion, salam kenal!" ujar Dion memperkenalkan diri singkat.
"Mirip yah namanya sama seperti Si itu," celetuk Kaisar cemburu saat mengingat saingannya dulu.
Fania memukul lengan Suaminya pelan lalu terkikik geli.
"Masih ingat saja," ujar Fania geli.
Kaisar mengangkat bahunya, pura-pura masa bodo. Padahal dalam hati sudah terbakar cemburu, semenjak kehamilan Fania Ia menjadi sensitif dan gampang cemburu.
"Oh iya, kalian mau ketemu dengan Om dan Tante dulu?" tanya Fania mengalihkan topik.
"Iya, Kita kesana dulu yah!" balas Rose semangat.
Mereka berdua pun meninggalkan meja Raka dan kawan-kawan, setelah mendapat anggukan kepala dari semua.
Kembali kepada Dirga dan Kiara.
Saat ini Dirga sedang berbicara dengan pemain band, yang mengangguk mengerti saat Ia menyebutkan judul lagu yang akan di nyanyikannya.
Ia pun kembali ke sisi Kiara dan menggengam tangan Istrinya lembut.
"Cek! Ehem .... Selamat malam semua, lagu yang akan Saya nyanyikan ini adalah lagu spesial, untuk istri tercinta dan Ratu satu-satunya di hati Saya. Ibu dari pangeran di kerajaan Saya, selamat mendengarkan semua!" ujar Dirga melihat kedepan dengan perasaan gugup.
Kiara tersenyum malu saat mendengarnya, di tahun ke dua pernikahan mereka, kenapa Ia masih saja bertingkah layaknya remaja yang malu, saat di perlakukan manja oleh Sang suami.
__ADS_1
Musik pun terdengar setelah ucapan terakhir dari Dirga, suara dari band pengiring terdengar di penjuru ruangan.
Dirga menarik nafasnya, lalu mulai mengeluarkan suara husky lembut miliknya.
Kasih kuberjanji🎶
Selalu menemani🎶
Saat kau bersedih🎶
Saat kau menangis🎶
Di bait pertama, Dirga melihat ke arah Tamu dengan mata tajamnya namun lembut di saat bersamaan.
A... 'kan kujaga🎶
A... segenap cinta yang ada untukmu🎶
Seiring dengan genggaman tangan yang mengerat, Dirga semakin menikmati lagu yang Ia nyanyikan.
Selama napasku masih berdesah🎶
Dan jantungku terus memanggil indah🎶 namamu🎶
Takkan pernah hati ini mendua🎶
Sampai akhir hidup ini🎶
Di bagian ini, Dirga menatap lembut Kiara yang tersenyum lembut. Ia lupa diri dengan mengecup kening Kiara, menuai seruan menggoda dari yang melihat.
Cuit! Cuit! Cuit!
Cuitan yang kurang ajar itu membuat Dirga tersentak kaget, lalu melepas kecupannya dengan tubuh bergerak salah tingkah.
Kasih kuberjanji🎶
Selalu menemani🎶
Saat kau bersedih🎶
Saat kau menangis🎶
A... 'kan kujaga🎶
A... segenap cinta yang ada🎶
A... percayalah🎶
A... satu cintaku untukmu🎶
Tidak ingin semakin membuat gugup Suaminya, Kiara mengulurkan tangannya kebelakang, meminta mic tambahan.
Kiara ikut menyanyikan lagu yang di bawakan Dirga dan akhirnya mereka pun bernyanyi bersama.
Saling melihat mata dengan pandangan memuja.
Selama napasku masih berdesah🎶
Dan jantungku terus memanggil indah🎶 namamu🎶
Takkan pernah hati ini mendua🎶
Sampai akhir hidup ini🎶
Sampai akhir hidup ini🎶
(Judika - sampai akhir)
Mereka mengakhiri lagu dengan senyum bahagia di bibir masing-masing, di iringi dengan tepuk tangan riuh dari semuanyaa.
Prok! Prok! Prok!
Tepuk tangan yang menggema, mengakhiri sesi menyanyi dari Dirga dan Kiara.
Tapi jangan harap semua akan berakhir, saat seruan kurang ajar dari seseorang di meja sana, yang meminta mereka menyanyikan lagi lagu berikutnya.
"Tambah dong!"
"Kurang nih!"
Dan yang terakhir terdengar Dirga adalah seruan pendukung, membuatnya ingin sekali membanting mic yang di pegangnya saat ini juga.
"Sialan, di kasih jantung minta ampela,"
"Yey ... Nambah,"
"Nyanyi lagi Yuk!"
"Kiara!"
"He-he-he!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Cast Rose dan Dion dari novel Tentang Hati.
Sambil nunggu up novel Bang Dirga Mampir juga di karya teman Aku.
Mine karya Kak Rizky Rahm
Marriage Order karya Kak viviani
Reinkarnasi Cinta si cantik Ruby karya Kak Diar
Mengangagumimu karya Kak Amel
Love is not Based bebet bibit bobot karya Oot Nasarudin
Bukan Salahku karya Lina
__ADS_1
Love, Revange and The Sea karya Kak Quin
Salam manis semuanya.