Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Apa Kamu Menyukainya?


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Masjid Dan Islamic center, Kowloon.



Masjid Kowloon atau disebut juga Masjid dan Islamic Center Kowloon adalah masjid kedua di antara lima masjid utama yang ada di Hong Kong, Tiongkok. Masjid ini dibangun di daerah Kowloon tepatnya pada tikungan jalan Nathan dan jalan Haiphong, berseberangan dengan Kowloon Park. Saat ini masjid menjadi rumah ibadah ummat Islam terbesar ibadah di kota Hongkong. Setiap hari masjid yang mampu menampung sebanyak 3.500 orang jama'ah ini ramai dikunjungi oleh ummat Islam yang hendak melaksanakan sholat 5 waktu.


Pukul. 18:15


Pukul sudah mendekati waktu ibadah magrib, delapan remaja dengan dua orang wanita ini bersiap untuk menunaikan ibadah sesuai kepercayaan mereka.


Queeneira dan Selyn dibagian shaf untuk perempuan, sedangkan enam remaja laki-laki berbaris berjajar dibagian shaf pria.


Masjid yang bisa menampung sekitar 3.500 jema'ah ini hening, saat para jama'ah mengumandangkan keagungan-Nya.


Di depan sana, Imam besar memimpin ibadah magrib mereka dengan hafalan doa dan surat ayat pendek. Meskipun di luar aktivitas kendaraan sama sekali tidak berhenti. Nyatanya, mereka tetap menjalani ibadah mereka dengan khusyuk.


Skip


Setelah menjalani ibadah magrib, delapan remaja ini memutuskan untuk pulang, namun dengan janji temu saat mereka memberi tahu, jika ada satu tempat yang kebetulan sama-sama ingin mereka kunjungi nanti.


Sebenarnya, meskipun ada seseorang yang tidak menginginkan pertemuan ini lagi, nyatanya ia tetap mengiyakan saat ia merasa, akan sangat egois jika ia melarang karena masalah pribadinya.


Mereka menaiki kendaraan berbeda, dengan Gavriel dan tiga lainnya menaiki kereta, sedangkan kakak kelas mereka, Ge dan tiga lainnya juga lebih memilih bus.


"Oke, guys. Thanks, buat izin bolehin kita-kita gabung hari ini juga lusa depannya. Gue harap, kehadiran kami nggak jadi penghalang kesen-


"Bacod, Ar. Lu mau ucapin terima kasih atau sambutan, heum?"


Enam orang yang menyaksikan perdebatan dua orang, yang adalah Ge dan Ardan hanya bisa menatap dengan gelengan kepala, saat Ge menyela ucapan Ardan dengan seenaknya.


"Ck ... Ganggu aja lu," sewot Ardan kesal, malu saat Selyn melihatnya dengan kekehan imut.


"kepanjangan, bimbing!"


Ardan mingkem, jaga image di mata calon kekasih sepihaknya. Dari pada harga dirinya lebih jatuh, lebih baik ia stay calm dan sok cool, guna mengambil hati si do'i.


Merasa sudah bisa membuat teman kamvretnya mingkem, Ge pun menoleh ke arah adik kelasnya, kemudian tersenyum lebar.


"Sampai jumpa nanti, jangan lupa kabari kami," ucap Ge, yang diangguki kepala oleh Queeneira, Ezra dan Selyn, tapi tidak dengan Gavriel yang hanya diam.


"Tenang saja kak, nanti kita hubungi sebelum berangkat," sahut Queeneira, mengambil alih saat tiga lainnya diam meski mengangguk.


"Oke, bye!"


Ge dan rombongannya pun menaiki bus, jurusan Shatin.


Setelahnya, mereka juga meninggalkan terminal bus, berjalan menuju exit A dan menaiki MTR yang untungnya lenggang, sehingga mereka bisa duduk nyaman, dengan punggung menyandar lelah.


"Ramai banget yang ibadah, El kira bakal sepi, karena yah ... Begitulah," gumam Selyn, menyadarkan kepalanya di bahu sang kakak, yang belas memeluk bahu adiknya untuk menyandar sepenuhnya kepadanya.


"Tapi Kowloon tempat tinggal minoritas umat muslim, El. Jadi tidak heran," balas Gavriel berbisik, tidak ingin kedengeran, meskipun belum tentu mereka mengerti apa yang diucapkan olehnya.


"He-he ... Iya sih."


Sementara pasangan kakak-adik ini berbisik dengan obrolan mereka, Queeneira dan Ezra yang duduk berdampingan pun demikian, berbisik-bisik namun bukan karena tidak ingin didengar oleh penumpang lain, melainkan tidak ingin didengar oleh orang yang sedang menjadi pembahasan.


"Que, kamu sengaja mengiyakan ajakan mereka?" tanya Ezra tidak percaya, saat sahabatnya bilang jika dia ingin ikut membuat sepupunya kesal, seperti yang dia rasakan.


"Ayolah, Ez. Aku cm ingin Gavriel sedikit tahu saja, bagaimana rasanya di tinggalkan."


"Tapi Que, kamu kan tahu, kala-


"Ez, please. Aku nggak mau bahas ini, tidak di sini," sela Queeneira saat sahabatnya ingin mengatakan hal, yang sebenarnya sudah ia sadari.


"Que, ah! Terserah saja."


Ezra berhenti berdebat, saat mendengar sendiri ucapan tegas sahabatnya, yang saat ini melihat ke arah lain alih-alih melihat ke arahnya, saat mengatakan hal yang barusan ia dengar.


Ia pun menolehkan wajahnya ke arah lain, ke arah penumpang lainnya, lalu ke arah sepupunya yang masih asik dengan adiknya.


Ekspresi wajah sepupunya hanya akan berubah, jika itu di hadapan sang adik sepupu, Selyn. Membuatnya bisa sedikit menghela napas lega, setidaknya untuk saat ini canggung yang tadi tidak sampai dirasa oleh Selyn.


"Ah! Kenapa jadi gini," batinnya saat mengingat kejadian di taman, setelah mereka memisahkan Ardan dengan Selyn, lalu lanjut dengan sepupunya yang lagi-lagi melihat sahabatnya, bercengkrama dengan kakak kelas mereka, Ge.


Kenapa ia tidak bisa menolak kehadiran orang lain di antara persahabatan mereka, sehingga ada kejadian seperti ini di waktu liburan mereka.


Ini semua berawal dari sepupunya, yang berlanjut dengan sahabatnya seperti sengaja.


"Seharusnya mereka tidak saling membalas, dan jika memang ingin bersama yang lain, seharusnya mereka bisa jujur satu sama lain juga."


Beberapa saat kemudian


Saat ini mereka sedang berjalan kaki, setelah turun di stasiun Long Ping.

__ADS_1


Kali ini suasana hening mengiringi langkah keempat remaja, saat biasanya mereka akan saling berbincang dengan candaanya. Tapi tidak juga, ketika sesekali Selyn akan terkikik saat sang sepupu berbisik, sehingga ia merasa geli.


Di depan mereka saat ini ada bangunan, yang adalah rumah dari keluarga Chen, rumah kakek Fendi.


Tidak seperti Selyn dan Ezra, yang segera masuk ke dalam, Queeneira harus berdiri dan terdiam, saat tangannya merasakan genggaman dari arah belakangnya.


Brak!


Pintu tertutup, saat tidak ada lagi yang menahannya. Meninggalkan debaman pintu kuat, dengan Queeneira dan Gavriel yang melihat punggung sahabatnya, dengan pandangan mata tidak terbaca.


"Queene," gumam Gavriel menatap sahabatnya serius saat Queene berbalik menghadapnya dan hanya diam, namun Gavriel tahu jika sahabatnya mendengar panggilannya.


"Queeneira aku mau nanya."


"Apa?"


"Kamu, kamu suka sama kakak kelas kita?" tanya Gavriel dengan suara tercekat, menuai tatapan tidak percaya dari Queeneira, saat mendengar pertanyaan sahabatnya.


"Apa maksudnya, Gavriel?" tanya Queeneira menatap sahabatnya tidak mengerti.


"Saat di taman, aku menyadari jika kakak kelas itu, menatap kamu dengan berbeda. Dan kamu pun menerimanya, tidak menolak kehadirannya," jelas Gavriel masih menatap sahabatnya serius, namun dengan hati nyeri saat mengungkap fakta terburu-buru dari penglihatannya.


Ia laki-laki, jelas ia tahu maksud kakak kelasnya, saat sedang mendekati entah itu adiknya atau juga sahabat perempuannya, di taman dan restoran hari ini.


"Kenapa kamu bisa menganggap aku menerimanya begitu saja?" tanya Queeneira cepat, seketika ia sadar jika keterdiaman sahabatnya, bukan hanya karena kesal. Namun juga, sedang memperhatikannya.


"Kamu, kamu bisa dengan begitu saja, jalan dengannya."


"Gavriel," panggil Queeneira tanpa membalas, pernyataan dari ucapan sahabatnya.


"Hn."


"Apa dengan seseorang menerima kehadiran seseorang lainnya, jalan dengan seseorang lainnya, orang itu berarti menyukai seseorang lainnya tersebut?" tanya Queeneira tanpa menyebut nama, menatap sahabatnya dengan mata serius.


"Apa maksudnya?" tanya Gavriel.


"Tentu saja tidak," lanjutnya dengan cepat.


"Kalau begitu, kenapa kamu bertanya seperti itu kepadaku, Gavriel?" balik tanya Queeneira, masih menatap Gavriel serius.


"Aku hanya merasa, jika kamu menyukainya, begitu pun dengannya," balas Gavriel.


"Kalau begitu, apakah kamu juga menyukainya? Bukan kah kamu juga dekat dengannya, dengan Keineira?" tanya Queeneira bertubi-tubi, sehingga Gavriel melihatnya dengan gelengan kepala, menampik apa yang di katakan sahabatnya.


"Keineira? Tidak, tentu saja tidak."


"Tapi kamu juga dekat dengannya, Gavriel. Kamu juga selalu menjemputnya, kamu juga bisa tertawa dengannya," cerca Queene dengan gamblang, lagi-lagi mengungkit masalah yang lalu, mengeluarkan semua uneg-unegnya saat Gavriel, akhirnya membuka pembicaraan juga.


Sudah terlanjur, sepertinya ia harus rela saat hatinya merasakan nyeri lagi, saat menyebut nama dia di tengah-tengah mereka.


"Tapi bukan berarti aku menyukainya, bukan kah sudah aku katakan, sudah aku jelaskan kepadamu, Que," tampik Gavriel, memegang bahu sahabatnya, mengguncang pelan bahu Queeneira, dengan Queeneira yang menampik pelan kedua tangan Gavriel, untuk mundur perlahan.


"Kamu pun bisa dengan santai berbicara dengannya, kenapa aku tidak?"


"Que, ak-


"Kamu pun bisa berjalan dengannya, tertawa dengannya, makan bersama dengannya. Lantas kenapa aku tidak, Gavriel. Sebutkan alasannya?"


"Que, dengar, aku. Maksud ak-


Queeneira menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kejadian hari ini. Yang ia kira menyenangkan, tapi ternyata tidak.


"Gavriel kamu egois," sela Queeneira, sehingga Gavriel yang mendengarnya menatap tidak percaya, saat melihat tatapan berkaca-kaca dari sahabat perempuannya.


"Queeneira, dengarka-


Brak!


Queeneira meninggalkan Gavriel begitu saja, yang hanya bisa mengulurkan tangan seperti ingin meraih, lalu ganti jadi mencengkram rambutnya frustrasi.


"Ah! Sial."


Kakinya mendendang udara kosong, menghela napas, dengan tangan berkacak pinggang.


Kepalanya mendongak ke atas, melihat langit hitam di atas sana, dengan bintang yang menghiaskan.


Bukan ini yang ia mau.


Kenapa ia tidak bisa mengontrol emosinya, jika ia sudah di hadapan sahabat perempuannya, Queeneira.


Kenapa ia selalu seperti ini, jika sudah berhubungan dengan perasaan yang sedang dirasakannya.


Kenapa ia tidak membiarkan saja, membiarkan semuanya mengalir begitu apa adanya.


Kenapa juga ia marah, saat sahabatnya dekat dengan yang lain.


Kenapa harus ada rasa tidak suka di hatinya.


Siapa ia?

__ADS_1


Punya hak apa dirinya?


Bukankah hak sahabatnya, jika ingin dekat dengan siapa, sama sepertinya, sama seperti apa yang di katakan sahabatnya.


"Queeneira," gumam Gavriel sedih.


Sementara Gavriel di luar dengan segala pemikirannya, Queeneira lebih memilih memasuki kamar milik kedua orang tuanya, kamar yang di khususkan untuk Baba dan Mamanya, jika sedang berlibur di sini.


Ia menenangkan diri, sebelum kembali ke kamarnya dan Selyn, menghindari pertanyaan dari Selyn, yang diam-diam selalu tahu apa masalah yang dialaminya.


Air matanya lama ke lamaan berjatuhan, saat memikirkan perkataan sahabatnya, sahabat yang ia cintai.


Kenapa harus pertanyaan, apa ia suka orang lain, bukan pertanyaan ia yang suka dia.


Bukan kah seharusnya dia bertanya, apa ia menyukainya, saat ia mendengar lagi ia membawa nama teman sekelasnya.


Kenapa sahabatnya tidak peka juga, jika ia sedang memberi penegasan, jika ia lebih cemburu saat sahabatnya dekat dengan dia, teman sekelasnya.


Apakah ia harus bilang terus terang, jika ia suka dengannya, baru sahabatnya akan sadar dan baru mengerti jika selama ini kekesalannya karena ia punya rasa dengannya.


Apakah harus seperti itu?


Tangannya menutup wajahnya, terisak saat merasa bodoh, berharap sahabatnya mengerti apa maksud dari pertanyaan dan pernyataannya.


"Bodoh," batin Queeneira, kemudian terkekeh dengan kekehan miris.


"Gavriel bodoh," umpatnya kesal.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pagi datang lagi, dengan suasana berbeda saat keempat remaja, yang biasanya sudah rapih dengan pakaiannya, hanya memakai baju santai, seperti atau memang hanya ingin menghabiskan waktu sepanjang hari di rumah.


Suasana sepi dan aneh ini, tentu saja membuat Fendi dan Nena merasa aneh. Apalagi, saat melihat ekspresi tidak biasa dari cucunya, juga ekspresi semakin lempeng dari anak sahabatnya.


Selyn kali ini diam saja, tidak ingin ikut campur lagi, saat kakaknya sendiri yang selalu merusaknya. Sedangkan Ezra tetap dengan sikap biasanya, makan dengan lahap sarapan mereka pagi ini.


"Kalian tidak jalan-jalan?" tanya Nena, akhirnya buka suara juga, gemas saat biasanya gelak tawa memenuhi sudut rumahnya.


"Tidak, Bobo. Seperti kami akan di rumah atau jalan di sekitar sini saja," sahut Queene, menjelaskan dengan nada biasa, mencoba untuk tidak membuat sang nenek khawatir.


Nena mengangguk mendengar penjelasan cucunya, kemudian tersenyum saat ia ingat rencananya.


"Bagaimana kalau kita belanja, kamu mau Que, El?" tanya Nena dengan antusias.


"Ke pasar, Bobo? Serius?" balas Selyn antusias, yang dibalas anggukan kepala semangat oleh Nena.


"Iya, El mau ikut?"


"Mau! Mba juga mau, kan?" jawab dan ajak Selyn kepada Mbanya.


Queeneira mengangguk dengan senyum kecil, tanda setuju menuai pekikan semangat dari Selyn.


"Yuhuu!! Kapan, Bobo?" lanjut Selyn dengan binar mata semangat.


"Sehabis sarapan, oke?"


"Oke!"


Dengan begitu, ketiga perempuan ini bersiap-siap setelah sarapan dan sesuai rencana, mereka pun berjalan kaki menuju pasar, yang letaknya tidak jauh dari stasiun Long Ping, yaitu pasar Tay kiu market atau juga Tay Kiu kaisi.


Queeneira sejenak melupakan masalah pribadinya, berbelanja dengan nenek dan adiknya, melihat berbagai macam buah, sayur, ikan segar yang dijual oleh pedagang.


Sementara para perempuan belanja, para lelaki melakukan kegiatannya masing-masing. Fendi yang berangkat ke tempat kerjanya, Ezra yang kembali ke kamar bermain handphone, lalu Gavriel yang memutuskan untuk berjalan sendiri, di taman umum dekat rumah keluarga Chen.



Berjalan kaki menyusuri jalanan yang ramai, Gavriel yang hanya pakai celana pendek, baju kaos polos berwarna biru dongker, penampilan yang sederhana namun tetap saja menjadi sorotan. Apalagi, saat ia berpapasan dengan pejalan kaki, yang kebetulan dari negara yang sama dengannya.


Ia masih belum bisa bertegur sapa dengan sahabatnya, saat dirinya masih memikirkan maksud pertanyaan, dengan kejadian dulu diungkit kembali.


Kenapa lagi-lagi nama Keineira dibawa serta, jika mereka sedang membahas masalah perasaan pribadi.


Jalan dan terus berjalan, Gavriel tidak perduli jika pun ia kesasar di tengah kota yang ramai, jika itu bisa membuatnya sedikit lega.


Dari arah belakang, seseorang memperhatikannya dan mengernyit saat ia merasa mengenali punggung lebar itu.


Ia menoleh ke arah dua lainnya, yang sedang asik dengan jajanan khasnya, lalu balik lagi melihat punggung yang semakin menjauh itu.


Kemudian, setelah menghela napas, ia pun memutuskan untuk meninggalkan dua lainnya, berjalan sedikit cepat dan menepuk bahu seseorang yang di kejar tersebut pelan, sehingga Gavriel yang adalah orang tersebut tersentak kaget dan menatap si penepuk dengan tidak percaya.


"Kamu!"


"Gavriel!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2