Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Jemput


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Mansion Wijaya


Senin tiba dengan cepat.


Di sebuah meja makan dengan formasi lengkap, sudah duduk kepala keluarga serta anggota keluarga lainnya.


Hari ini Dirga sebagai Daddy bisa ikut sarapan, biasanya di waktu segini ia sudah ada di perjalanan menuju kantor.


Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh El, si bungsu yang paling manja dengan si Daddy toyyib.


"Dadd, El sama Dadd yah berangkat sekolahnya!" seru Selyn ceria.


Ia memakan sarapannya semakin lahap, saat sang Daddy membalasnya dengan senyum dan menepuk kepalanya sayang.


"Siap, princess."


"Sip!"


Gavriel sebagai abudemen tetap sang adik tentu saja tidak terima, ia segera protes dengan nada pura-pura marahnya, kepada sang adik yang hanya balas menarik kantung mata mengejek.


"Kok sama Dadd sih, terus Mas pergi sama siapa?" tanya Gavriel protes.


"Sama pacarnya Mas lah, ble!"


"Aish! Awas saja kalau Dadd tidak ada, El merengek minta antar, Mas tidak akan antar," dengus Gavriel pura-pura marah.


"Dadd! Lihat, Mas niat jahat dengan El, enaknya batalkan saja pengalihan nama perusahaan jadi nama El," ujar Selyn menatap sang Daddy bercanda.


Sang Daddy tahu kedua anaknya merindukannya, setelah kemarin puas dengan curhat dengan putranya, kini putrinya yang dari kemarin nempel, ternyata ingin mengajaknya kerja sama.


"Tentu saja sayang, bagaimana jika bagian Mas disumbangkan saja kepada orang yang membutuhkan?" ujar Dirga menanyakan pendapat bungsunya.


Ia menatap dua anaknya berganti, melihat ekspresi berbeda yang ditunjukan mereka di depannya saat ini.


Selyn si bontot tentu saja mengangguk semangat, sedangkan Gavriel mendengus kesal ke arahya yang terkikik bersama adiknya.


"Setuju Dadd, El sangat membutuhkan kekayaan yang haqiqi, buat El saja yah!" seru Selyn semangat.


"Ide bagus, nanti El minta Unkel Dani urus penan-


"Ya ... Ya ... Ya ... Pasangan kompak, emang selalu kompak. Momm sebenarnya Gav ini anak kandung bukan sih, kenapa mereka berdua selalu kompak membullly aku?"


Gavriel yang tentu tahu ini hanya candaan, menoleh ke arah sang Mommy yang dari tadi menggeleng kepala, memperhatikan dalam diam obrolan mereka sambil tersenyum geli.


"Gavriel yah? Hum ... Gavriel anak Momm kok. Kalau gitu nanti nama Gavriel berubah saja yah, jadi Gavriel Wicaksono. Jadi, nanti bisa mewarisi hotel terbesar di kota S ini. Bagaimana, setuju?" ujar Kiara menatap si bontot yang langsung cemberut ke arahnya.


"Yah! Momm, kenapa belain Mas sih. Bhuu ... Nggak asik ih," ujar Selyn ngambek.


Kekehan ramai mengisi ruang makan, saat Dirga sendiri tidak membatasi tata krama saat makan di meja tempat biasa mereka makan.


Ini baru mereka berempat, biasanya jika kedua orang tua mereka, serta para kakek menginap, ruang makan ini lebih ramai diisi dengan percakapan seru lainnya.


"El, sepertinya ingin menguasai semuanya. Momm, jujur ini sifat turunan dari mana?" tanya Gavriel kepada sang Mommy, tapi Gavriel menatap si Daddy dengan pandangan meledek.


"Ah! Tentu saja seseorang, siapa lagi," balas Kiara ikut melihat Dirga yang mendengus.


Apa salahnya, ingin melebarkan sayap di kiri dan kanannya, toh ... Ia tidak curang saat melakukannya.


"Dari dulu tidak pernah berubah, selalu ingin menguasai segalanya," lanjut Kiara menatap dengan pandangan seakan bilang.


Tuh, bukan aku saja yang sadar, untung Gavriel tidak seperti itu.


"Hn."


Jawaban singkat dari sang kepala rumah tangga, membuat pasangan Momm dan son ini terkekeh bersama.


Dari dulu seperti ini, El yang manja dengan Dirga dan Gav yang lebih memilih Kiara untuk bermanja.


Mereka pun melanjutkan sarapan mereka, diisi dengan obrolan seru lainnya.


Setelah selesai sarapannya, Gavriel seperti biasa memanaskan motor di depan teras rumahnya, sambil membersihkan body si merah kesayanganya, agar terlihat lebih mempesona saat ia tunggangi.


Seperti sang Daddy, Gavriel memiliki kebiasaan tidak suka apapun yang penting baginya dipegang orang lain.


Ia lebih suka membersihkan si merah atau juga mengerjakan pekerjaan bagiannya sendiri, tanpa ada campur tangan orang lain.


Saat sedang fokus dengan bagian kepala motornya, ia dikagetkan dengan getaran pada saku celananya.


Merogoh saku celananya, ia membaca dalam hati, pesan singkat yang diterima olehnya.


"Oh iya juga, aku punya janji."


Gavriel hampir saja melupakan janjinya, untuk menjemput seseorang pagi ini.

__ADS_1


Ah! Untung saja, si bontot kesayangannya lebih memilih berangkat denga Daddynya, jadi ia tidak perlu memilih dua pilihan sulit ini.


Jika ia tidak berjanji mungkin ia akan lebih mudah menolak, tapi lain lagi kalau janji.


"Oke deh, sebaiknya aku berangkat sekarang."


Gavriel memasuki rumahnya kembali, mengambil tas sekolahnya dan berpamitan dengan sang Mommy, yang saat ini sedang menyirami taman bunga kecil, dengan bunga dandelion tumbuh subur.


Dulu ia pernah bertanya, kenapa dandelion yang dipilih, dari sekian banyak jenis bunga di dunia ini, yang di tanam sang Mommy.


Mommy menjawabnya dengan senyum sedih, kemudian memberikan penjelasan yang membuatnya ikut dengan segera menyukai si dandelion.


Bagaimana ia tidak menyukai langsung, jika kakaknya adalah simbol dandelion tersebut.


Maka dari itu, didalam hidupnya dandelion adalah bunga kesukaannya dan akan seperti itu selamanya.


"Sudah mau berangkat, sayang?" tanya Kiara saat melihat anak sulungnya berjalan ke arahnya, lengkap dengan tas menggantung di bahu kanannya.


"Yes Momm," balas Gavriel, sambil mencium pipi sang Mommy sayang.


Cup!


Ia menoleh ke kanan dan kirinya, lalu mendesah lega, membuat sang Mommy melihatnya dengan alis mengernyit bingung.


"Kenapa?"


"Untung tidak ada Dadd, kalau tida-


"Kalau tidak apa, heum?"


"Ah! Aku kurang beruntung Momm," bisik Gavriel saat mendengar suara sang Daddy di belakangnya.


Kiara terkekeh kecil, saat mendengar bisikan sang anak, yang menghadap ke belakang tepatnya menghadap suaminya.


"Apa sih Dadd, mau tahu saja," balas Gavriel datar.


"Hn."


"Ck, sudah ah, Momm Gav berangkat dulu," pamit Gavriel mengecup punggung tangan sang Mommy.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam, hati-hati sayang!"


"Dadd, aku pergi."


"Hn, hati-hati."


Di saat bersamaan


Kediamanan Desmon


Seorang remaja perempuan membaca dengan senyum kecil, saat dirinya mendapatkan balasan pesan singkat, dari seseorang yang hari ini akan menjemputnya.


Ia duduk di ruang tamu, menunggu jemputanya sambil memeriksa lagi keperluan sekolahnya hari ini.


Dari arah tangga, turun pasangan suami istri atau juga orang tua dari si remaja, mereka melihat sang anak dengan alis mengernyit penasaran, saat sang anak tersenyum malu dengan handphone ditangan.


Ada apa? Pikir mereka kompak.


Tidak ingin penasaran, Indy atau juga Mama dari si remaja ini bertanya setelah duduk di hadapan sang anak.


"Ada apa? Putri Mama sepertinya senang sekali."


Si remaja yang ditanya tiba-tiba tersentak kaget, lalu memandang sang Mama dengan senyum salah tingkah.


Ah .... Ia sampai tidak sadar, dengan kehadiran kedua orang tuanya.


"Tidak ada apa-apa, Mah," balasnya menatap Mamahnya masih dengan senyum salah tingkah.


Senyum salah tingkah anak gadisnya, tentu saja membuat Indy dan sang suami atau juga Reno, menatap putrinya penasaran.


"Kamu sudah siap? Yuk kita berangkat," ajak Reno. Ia berusaha untuk tidak memperpanjang rasa penasarannya.


"Tidak Pah, hari ini aku berangkat bareng teman sekolah aku," tolak sang anak, yang membuat Reno serta Indy semakin heran dan penasaran.


"Dengan siapa?" tanya Reno curiga.


"Emh ... Itu Pah, dengan yang kemarin kasih aku tumpangan, waktu mobil Papa mogok di jalan."


Seketika wajah tampan seorang remaja laki-laki terlintas dihadapn Reno, ia mengingat siapa gerangan remaja laki-laki tersebut.


"Maksudnya yang di jalan itu, siapa namanya, kalau tidak salah Gavriel, kan?" tanya Reno saat mengingat nama si teman yang dimaksud putrinya.


Sang putri mengangguk dengan senyum malu, serta pipi merah tersipu.


Ini kali pertama ia dijemput oleh teman, terlebih adalah seorang laki-laki. Jadi, ia merasa malu apalagi ia ada rasa dengan si teman yang akan datang menjemputnya.


"Gavriel? Papa juga sudah bertemu dengan Gavriel?" tanya Indy antusias.

__ADS_1


Reno mengangguk dan mengernyit saat istrinya terdengar antusias.


"Kamu juga tahu?" tanya Reno penasaran.


"Iya! Laki-laki tampan, aduh ... Kalau sama dia sih, Mama setuju banget."


Ucapan frontal dari sang Mama membuat sang anak tersedak, ia beberapa kali terbatuk membuat kedua orang tuanya tersenyum, semakin ingin menggoda.


"Oh jadi ceritanya ada yang sedang-


"Permisi Tuan, Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu Nona muda."


Kalimat dari Reno, terpaksa berhenti saat seorang asisten rumah tangganya menginterupsi, serta berkata ada seorang tamu.


Mereka yang sudah mengerti, tentu saja semakin tersenyum dengan lebar.


"Tuh ... Pangerannya sudah datang," goda Indy membuat sang putri semakin salah tingkah.


"Ih! Apa sih Mah, sudah yah aku berangkat sekarang," elaknya kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang tamu, menuju depan rumahnya untuk menemui teman yang menjemputnya.


Kedua orang tuanya ikut berdiri, mengikuti sang putri ke arah teras rumah dari belakang, untuk melihat lagi si penjemput yang akan berangkat sekolah bersama putri mereka.


Di depan teras rumahnya ada seorang laki-laki muda, duduk di atas motor dengan gagah.


Ia turun dari motornya saat melihat teman yang dijemput, keluar dari rumah diikuti dengan sepasang laki-laki dan perempuan dewasa, yang ia kenali sebagai orang tua dari teman perempuannya.


"Selamat pagi, Om, Tante!" sapanya ramah.


"Gavriel, kan?" tanya Reno memastikan.


"Iya, Om!" balas Gavriel singkat.


"Mau berangkat bersama Kei? Wah ... Terima kasih yah, maaf merepotkan," ujar Reno tidak enak.


Gavriel menggelengkan kepalanya, tidak merasa keberatan.


"Tidak Om, biasa saja."


"Oh iya ... Kalau Om tidak salah, kamu ini anak dari Tuan Dirga Wijaya yah, bagaimana kabar Tuan dan Nyonya Wijaya?" tanya Reno saat ingat jika benar, remaja laki-laki di depannya adalah anak dari pengusaha sukses dan terkaya di kotanya.


"Iya Om, benar," balas Gavriel apa adanya.


Ia tidak heran jika ia dikenali dengan cepat oleh orang-orang di luar, tanpa ia menyebutkan nama belakangnya, ia akan cepat di kenali, karena ia memang sering ikut sang Daddy ke pesta bisnis.


"Ah! Dunia ini sempit sekali," gumam Reno, membuat Gavriel mengernyit bingung.


"Maksudnya, Om?"


"Tidak ada, lain kali kalau mau tahu, main lah ke sini. Jadi kita bisa santai sambil bertukar cerita," elak Reno dengan senyum kecil.


Gavriel hanya mengangguk, lalu melihat ke arah temanya.


"Yuk berangkat," ajak Gavriel.


"Em, yuk!"


"Pah, Mah. Kei berangkat dulu yah, Assalamualaikum!" pamitnya kemudian menyalami tangan kanan kedua orang tuanya.


"Iya, Waalaikum salam, hati-hati di jalan yah. Gavriel, terima kasih sekali lagi," balas Reno sedangkan Indy hanya tersenyum cerah.


"Iya, Om."


"Kami berangkat, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Brum!


Sepeninggalnya kedua remaja beda gender tersebut, pasangan suami istri ini saling lihat dan tersenyum.


"Pah! Inikah yang disebut jodoh?" tanya Indy dengan mata berbinar senang.


"Mungkin saja, siapa yang tahu," balas Reno mencoba biasa saja, namun berbeda dengan isi hatinya yang senang luar biasa.


Ah! Ia tidak sabar menunggu kabar baik ini.


Tapi ngomong-ngomong, apakah Tuan Wijaya tahu ini atau tidak yah?


Ia mengangkat bahu tak acuh, terlalu cepat baginya kalau mengharapkan ke jenjang yang lebih serius.


Reno pun berangkat kerja, setelah sang istri merecokinya dengan segala hal tentang Gavriel yang ini dan itu.


Dan itu membuatnya geleng kepala.


“Haih ... Dasar, belum juga apa-apa," batinnya heran.


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya ....


Sampai babai.


__ADS_2