Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Kakak Posesif


__ADS_3

Seoson 2


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Mansion wijaya Muda


Hari ini adalah hari minggu, hari dimana Gav bebas bermain dengan Sang adik tercinta.


Dua rusuh keturunan Wijaya ini sedang dalam perjalanan ingin bermain di taman, tidak jauh dari Kediamanan mereka.


Padahal Sang Daddy melarang mereka untuk keluar dari pagar rumah, tapi dasarnya anak-anak terlebih Gavriel yang orangnya penasaran, jadi mereka berdua tetap keluar dengan ...


.


.


.


Izin Sang Mommy yang pasti, setelah ada rayu merayu antara kedua orang tuanya.


Pelindung mereka berdua adalah Si lembut namun gahar berupa ratu istana atau juga kedua Kakek dan nenek serta buyutnya, jika keduanya membuat onar.


Di samping Gavriel ada Selyn, yang berjalan dengan melompat kecil girang bisa melihat taman di luar dan itu membuat Gavriel tersenyum tipis.


Adiknya sungguh lucu, meskipun wajahnya replika dengan persentase seratus persen mirip Sang Daddy, tapi tingkah lakunya mirip sekali dengan Sang Mommy.


"Tatu ... Tua ... Tita, hup. Yeyy!"


Celotehan dan kekehan Selyn yang senang sendiri, membuat Gavriel ikut merasakan senang.


"El, main ayunan yuk!" seru Gavriel ceria, Ia memandang Adiknya dengan mata berbinar-binar.


Selyn berhenti melompat lalu menoleh ke arah Sang kakak, melihat Kakaknya dengan mata berbinar sama senangnya.


"Ung!" balas Selyn dengan kepala mengangguk imut.


Mereka berdua berpegangan tangan menuju ayunan, berjalan dengan sesekali melompat lalu terkikik senang.


Sesampainya mereka di depan ayunan, Gavriel memerintahkan Selyn untuk duduk di ayunan, sedangkan Ia berjalan kebelakang dan mendorong pelan ayunan.


"Hi-hi ... Agi mas, agi!" seru Selyn kesenangan.


Di belakangnya Gavriel menambah intensitas kekuatan dorongannya. Ia dengan semangat mendorong ayunan, hingga Selyn tertawa kegirangan.


"Pegangan yah!" seru Gavriel di sela-sela dorongannya.


"Hi-hi!"


Mereka bermain berdua tanpa menghiraukan keadaan sekitar, tertawa dan bermain dengan bebas tidak menyadari jika ada beberapa anak-anak melihat ke arah mereka.


Beberapa anak sepantaran Gavriel berhenti di depan Selyn dan Gav, sehingga mereka berdua berhenti dan melihat ke arah depan dengan penasaran.


"Kenapa?" tanya Gavriel biasa saja tanpa nada, saat matanya melihat penampakan tiga anak laki-laki asing di depannya.


"Kalian siapa?" tanya Si anak asing tanpa menjawab pertanyaan Gavriel.


"Tamu tiapa?" tanya Selyn cadel melihat penasaran ke arah depan, kepalanya miring ke kiri memasang wajah yang terlihat imut.


Seorang anak lelaki yang tadi bertanya kepada Gavriel, melihat ke arah Selyn yang ikut bertanya.


Dia melihat dengan tangan menggaruk leher, malu saat melihat wajah imut dari anak perempuan kecil di depannya.


"Aku Dimas, Kamu siapa?" Balasnya memperkenalkan diri dengan wajah malu.


"Hi-hi, Mas!"


"Siapa yang minta kenalan?" sela Gavriel sewot, saat mendengar Sang adik tertawa memanggil nama anak laki-laki di depannya.


Seketika anak yang memperkenalkan diri dengan nama Dimas, melihat ke arahnya kesal apalagi saat mendengar nada ketus darinya.


"Terselah Aku dong, ili saja!" balas Dimas tidak kalah sewot.


"Kamu pelgi saja, jangan ganggu Kami!" seru Gavriel melotot ke arah Dimas.


"Emang Kamu siapa? Terselah Aku dong mau main di mana!" seru Dimas tidak mau kalah.


"Jangan ganggu Adikku!"


"Huh, adik Kamu kan yang beltanya. Kenapa Kamu malah?" tanya Dimas tidak suka.


"Iya, Dimas tidak ganggu Kamu. Kamu diam saja,"


"Iya!"


Teman-teman Dimas yang merasa Dimas di pojokkan membantu Dimas, mereka bertengkar mulut layaknya orang dewasa, membuat Selyn melihat semuanya dengan mata berkedip polos.

__ADS_1


"Mas!" panggil Selyn pelan.


"Huem?" gumam Gavriel membalas panggilan Adiknya.


"Ndak oyeh beytengkay," ujar Selyn menasehati, Ia menolehkan wajahnya menghadap Sang kakak dan menatap Kakaknya polos.


"Mas tidak beltengkal," balas Gavriel mengelak. Ia menepuk kepala Adiknya lembut dengan senyum kecil.


"Hi-hi, ote!" seru Selyn lalu menghadap ke arah depan.


"Mas-mas, ndak oyeh beytengkay!" seru Selyn kali ini kepada Dimas.


"Ukh ... Aku tidak beltengkal," balas Dimas bergerak salah tingkah, sebab saat bilang seperti itu Selyn memasang wajah imut dengan mata berkedip polos.


Dua temannya yang ada di sampingnya menyikut Dimas lalu berbisik.


"Dim, Kita mau ngapain di sini?" tanya temannya bingung.


Dimas melihat ke arah temannya dengan kening berkerut bingung, lalu menggeleng kepala tanda tidak tahu.


"Entah," Balasnya melihat temannya bingung.


Dua temannya yang mendengar jawaban polos dari Dimas, menyuraki Dimas kompak yang terkekeh canggung.


Mereka berdua fikir jika Dimas menghampiri Si anak laki-laki sombong di depannya, karena ingin menjahili seperti biasa Mereka lakukan.


Tapi ini lihat Dimas malah berkenalan dengan seorang anak perempuan kecil imut, yang saat ini tersenyum polos ke arah mereka juga.


"Sudah sana pelgi," ujar Gavriel mengusir ketiga anak di depannya.


Ia menatap tidak suka dengan mata tajam namun lucu di saat bersamaan, ke arah Dimas yang keukeh tidak ingin pergi.


"Tidak mau, kamu siapa?" ujar Dimas menantang.


"Ck, pelgi!"


"Tidak mau!"


"Pelg-


Tidak jauh dari tempat mereka bertengkar ala anak-anak, ternyata ada Dirga dan Bima yang memperhatikan dari awal kejadian tersebut.


"Bos," gumam Bima ke arah Dirga yang dari tadi memperhatikan, tapi tidak berbuat sesuatu.


"Hn?"


Bosnya yang posesif kalah dari Nyonya rumah, sehingga hanya ini yang bisa di lakukan Bosnya untuk menjaga tuan dan nona kecilnya.


"Pelajaran untuk mereka, mereka kan yang ingin main di luar. Berani berbuat ya harus tanggung jawab," balas Dirga datar.


Dalam hati Ia sudah tertawa ngakak melihat sikap posesif Putranya. Terbiasa bermain dengan orang yang di kenal, Ia yakin jika saat ini Putranya sedang mengalami, apa itu yang namanya tidak rela.


Jangan salahkan anak-anak asing tersebut, tapi salahkan anak laki-lakinya yang terlalu penasaran dengan dunia luar.


Yang namanya tempat umum tentu harus berbagi tempat bermain dan harus mau bersosialisasi.


"Tuan kicik sepertinya tidak suka dengan anak laki-laki di depannya," gumam Bima perpendapat.


Di lihat dari raut wajah tuan mudanya, pasti ada salah satu di antara ketiganya yang mengganggu nona kecilnya.


"Paling Selyn biangnya," balas Dirga lalu terkekeh kecil.


"Keturunan Wijaya terlalu posesif," gumam Bima lirih keceplosan. Ia langsung menutup mulutnya saat Sang bos auto melihatnya, dengan mata melotot tidak terima.


"Lu ngejek Gue," sembur Dirga sewot.


"Nggak Bos, Sorry!" seru Bima cepat.


Ia tersenyum canggung saat Dirga mendengus ke arahnya.


"Makanya cari yang bisa di posesifin. Jadi tahu rasanya posesif itu seperti apa," ujar Dirga sewot ke arah Bima yang gantian mendegus.


"Nggak punya waktu,"


"Ya sudah Lu cuti setahun,"


"Ah ... Jangan gitu dong Bos!"


Seketika Bima memekik kaget, saat Bosnya memerintahkannya untuk libur panjang.


Tidak bisa, Ia terlalu mencintai dunia penuh resikonya namun santai di saat bersamaan.


Ia menyukai kejombloannya.


Ia menyukai saat kumpul dengan grupnya.


Jika suatu saat nanti Ia menikah, bagaimana kalau nanti Ia tidak bisa berkumpul bebas dengan anggotanya lagi.

__ADS_1


"Tidak mau, enak jomblo Bos!" seru Bima


Dirga mengernyit dahi heran saat mendengar seruan tentang jomblo, yang tiba-tiba keluar dari mulut tangan kirinya.


"Lah ... Siapa yang nyuruh Lu cari pacar?" tanya Dirga heran.


"Itu cuti?" balas Bima bingung.


"Cuti setahun cuma pacaran? Ya percuma dodol, kawin sekalian!" seru Dirga mendengus ke arah Bima, lalu menolehkan wajahnya ke arah depan lagi.


Ia melihat dan memperhatikan lagi, apa yang sedang terjadi di tempat anak-anaknya saat ini, tanpa menghiraukan Bima yang ngedumel sendiri.


"Lah ... Anak Gue nggak selesai-selesai," gumam Dirga heran saat melihat tiga anak asing masih disana.


Kembali di tempat Gavriel dan Selyn.


"El, Kita pelgi dali sini," ujar Gavriel saat anak di depannya tidak mau kalah dan menawarkan main bersama.


"Mas, ain bayeng-bayeng!" ujar Selyn menoleh ke arah Kakaknya, dengan memasang wajah memohon, lengkap dengan puppy eyes ajaran Sang Mommy.


"Tidak, Kita tidak kenal meleka!" seru Gav tegas.


"Mas!"


"Tidak,"


Mata Selyn berkaca-kaca saat mendengar nada tegas dari Kakaknya dan itu membuat Gavriel seketika menyesal karena sikap keras kepalanya.


Ia melihat ke arah depan dimana ada Dimas, yang sedari tadi melihat ke arahnya dengan ekspresi tidak suka.


"Kamu kan kakaknya, masa sepelti itu!" seru Dimas mengejek..


"Kita main belsama, kenapa tidak boleh!"


Gavriel mendengus kesal saat mendengarnya seruan ajakan main dari ketiganya. Ia melihat lagi ke arah adiknya, lalu menghela nafas mengalah.


"Baiklah ... Kita belmain belsama," ujar Gavriel pasrah.


Ia melihat ke arah depannya dan melengoskan wajah malu.


"Baiklah Kita main belsama," ujar Gavriel berpura-pura tidak suka.


"Yey ... Mas, ain tama-tama!" seru Selyn lalu menghampiri anak yang di panggil Mas dan pergi meninggalkan Gavriel, yang hanya bisa melongo melihat Adiknya kecewa.


"El, kenapa Mas di tinggal!" seru Gav mengikuti jejak Sang adik.


Akhirnya mereka pun bermain bersama setelah perdebatan panjang, antara Kakak dengan anak yang di panggil Sang adik 'Mas'.


Mereka memainkan banyak permainan anak-anak, dengan Gavriel yang selalu memyempil saat Adiknya hendak bermain dengan Dimas.


Ia tidak suka jika Adiknya bermain dengan yang lain selain Ia dan Dua teman sepopoknya dan juga sepupu yang masih bayi.


Dalam hati Gavriel berjanji, tidak akan membawa Adiknya main di luar lagi. Ia lebih baik main bersama Adiknya di taman rumah, dari pada harus menyaksikan Sang adik main dengan orang lain yang tidak di kenalnya.


Ia juga berfikir apa ini alasan Sang Daddy melarangnya main di luar, Daddinya tahu jika di luar banyak orang asing yang ingin mengambil Selyn dari sisinya.


"Ih ... Besok tidak mau main di sini lagi," batin Gavriel menyesal saat lagi-lagi Adiknya di monopoli Anak bernama Dimas.


Sedangkan Selyn yang bisa bermain dengan bebas dengan orang asing di sampingnya, terkekeh dengan tawa renyah yang membuat Dimas ikut tertawa senang.


Padahal Ia selalu menjahili anak yang bermain di taman ini, tapi entah kenapa melihat mata bulat jernih dari Selyn, membuat Ia tidak tega.


Apakah karena Ia menginginkan seorang adik, karena Ia adalah anak satu-satunya dari Mama dan Papanya.


"El, jadi adik Mas juga yah!" seru Dimas tiba-tiba, menuai jawaban berbeda dari orang yang mendengarnya.


Gavriel yang melotot tidak terima, kedua temannya yang melongo tidak percaya dan Selyn yang memasang wajah tidak mengerti.


"Enak saja, cali adik sendili sana!"


"Hi-hi!"


"Telselah Aku dong!"


Sedangkan Dirga sebagai Daddy yang mendengarnya, harus ekstra menahan diri agar tidak tertawa saat itu juga.


"Adiknya mau di jadikan adik orang lain, emang mau Wijaya berbagi,"


Dan Bima sendiri hanya bisa geleng kepala, saat bosnya duduk jongkok dengan tangan memegang perut menahan tawa.


"Ya ampun ... Tidak anak tidak bapak, kok sama yah," batin Bima dengan kepala menggeleng heran.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....

__ADS_1


__ADS_2