
Season dua
Selamat membaca
Referensi lagu untuk part ini, Fiersa Besari__Waktu Yang Salah.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wardhana
Queeneira keluar kamarnya, dengan hanya memakai cardigan menutupi kaos longgar setengah paha, dengan hot pants sebagai bawahnya.
Ia tidak mendengar saat sang Mama memanggilnya berulang, yang ditahan oleh sang Baba di belakangnya.
Keluar rumah dengan hanya membawa handphonenya, Queeneira menghentikan sebuah taksi dan memerintahkan si sopir taksi menuju Kediamanan Wijaya, hendak menemui sahabatnya dan menanyakan kebenaran tentang apa yang ia dengar dari adik sahabatnya.
"Mba Que, apakah Mba sudah tahu, jika Mas Gavriel akan keluar negeri?"
Sungguh ia sangat kaget dengan apa yang didengar olehnya. Saat itu ia baru saja selesai dengan acara melownya, kembali dari balkon kamar dan melihat banyak panggilan dari Selyn.
"Mba Que, El mohon untuk tanyakan lagi perasaan Mas kepada Mba, El tidak ingin kalian berpisah begitu saja, El tidak rela!"
Bagaimana bisa ia tidak segera berlari dari dalam kamarnya, jika ia mendengar suara tangisan adik kesayangannya disela-sela pemohonannya.
Gavriel bodoh, apa yang kamu pikirkan. Kamu anggap apa aku ini, kenapa aku bahkan tidak tahu tentang kamu yang akan pergi, Gavriel.
Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Wijaya, Queeneira tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata dengan bibir sibuk mengumpati kebodohan sahabatnya.
Apa karena ia yang menanyakan perasaannya, maka itu ia tidak diberi tahu tentang keadaan sesungguhnya, tentang dia yang ingin melanjutkan studi di luar negeri, begitu.
Kalau aku tahu, perasaan ini membebanimu, aku akan lebih memilih menyimpannya, Gavriel.
Gavriel, aku akan benar-benar melupakanmu, jika itu bisa membuatmu kembali terbuka kepadaku.
Disaat Queeneira berada dalam taksi menuju rumah keluarga Wijaya, Gavriel yang saat ini sedang bersama sang Mommy terdiam, mendengarkan setiap apa yang diucapkan sang Mommy.
"Apa perasaanmu, Mamas? Saat kamu membohongi semua orang, tentang perasaan kamu saat ini?"
"...."
"Perasaan perempuan itu kuat, meskipun laki-laki selalu menyakiti. Perasaan perempuan dengan cinta itu kuat, meskipun laki-laki terus mendorongnya menjauh."
"...."
"Kamu tahu, kenapa laki-laki butuh perempuan di dalam hidupnya? Karena laki-laki sejatinya adalah mahluk lemah, mahluk yang butuh kekuatan lainnya untuk menopangnya."
"...."
"Meskipun Laki-laki kuat, tapi dia tetap butuh seseorang untuk memberikan sandaran disaat lelah."
"...."
"Dan sandaran itu adalah perempuan dengan cinta tulus, sayang."
"Tidak ada yang salah dengan mempertahankan sesuatu yang kita sayang dan tidak ada yang akan bilang serakah, jika yang diperjuangan itu cinta. Karena cinta sesungguhnya memang untuk diperjuangkan bukan untuk disia-siakan."
"Gavriel, hidup itu memang pilihan. Tapi, hati itu bukan untuk dipilih."
Gavriel hanya diam mendengar dengan hati gamang, mengukuhkan hati agar tetap pada pendiriannya. Gavriel sama sekali tidak membalas setiap ucapan yang dikeluarkan sang Mommy, karena ia tahu jika saat ini Mommynya pun tidak butuh jawaban, saat sang Mommy hanya menyampaikan apa yang ingin disampaikan kepada anaknya.
"Gavriel," panggil Kiara saat selesai dengan ucapannya, menatap Gavriel yang akhirnya menatap ke arahnya, saat tadi lebih memilih untuk menatap dinding dengan foto dirinya dan tiga orang lainnya.
"Ya, Momm."
"Mencintai lebih sakit, saat yang dicintai tidak membalas. Tapi dicintai juga jauh lebih sakit, saat terlambat menyadari rasa cinta orang yang mencintai."
Apa yang dikatakan Kiara membuat Gavriel tidak bisa membalasnya, bahkan lidahnya pun kelu hanya untuk mengucapkan kata apa maksudnya.
"Gavriel, Mommy tahu jika ini adalah keputusanmu. Mommy hanya tidak mau kamu menyesal, saat kamu berjalan meninggalkan dan hendak berbalik lagi, seseorang yang mencintaimu ternyata tidak ada di belakang kamu."
"Momm, Gavriel-
"Hem ... Momm tahu."
Kiara menyela dengan cepat apa yang ingin diucapkan oleh sang anak, kemudian ia berjalan ke arah Gavriel yang duduk di kursi belajar, ia berdiri di hadapan sang anak yang segera memeluknya, menyembunyikan wajahnya di perutnya, dengan ia yang segera mengusap sayang surai lebat khas anaknya, surai dari turunan suaminya__Dirga.
"Maaf, Momm," gumam Gavriel semakin menyembunyikan wajah di perut sang Mommy, merasakan hangatnya dekapan juga usapan halus di rambutnya.
"It's ok, honey. This is not your fault, (Tidak apa-apa, sayang. Ini bukan salahmu)" bisik Kiara dengan tangan setia mengusap helaian surai sang anak.
Kiara pun mengurai pelukannya, menatap Gavriel sayang dengan Gavriel yang menatap sang Mommy sayu.
"Istirahat, besok kamu harus packing lagi, kan?" tanya Kiara yang dijawab anggukan kepala oleh sang anak.
"Hn."
"Mommy keluar dulu, selamat malam, sayang," lanjut Kiara, kemudian mengecup kening Gavriel sayang dan meninggalkan sang anak sendiri di kamar.
Blam!
Sepeninggalnya Kiara dari kamar Gavriel, kini suasana kamar kembali sunyi dengan si pemilik kamar, yang memutuskan untuk melanjutkan kegiatan awal yaitu memeriksa surat dan dokumen di laptopnya.
Baru saja membuka file dengan tulisan dokumen, Gavriel dibuat mengernyit saat mendengar suara nada dering berbeda untuk milik sahabatnya.
Ya, Gavriel mengatur nada panggil berbeda untuk setiap kontak yang penting untuknya.
"Queeneira, ada apa," gumam Gavriel penasaran, saat benar nama sahabatnya terpampang di layar handphonenya.
Awalnya ia ingin mengabaikan panggilan itu, tapi entah kenapa, ia merasa jika ada hal penting yang akan ditanyakan sahabatnya.
__ADS_1
Ada apa dengan Queeneira.
Menekan tombol hijau pada layar handphonenya, pupil mata Gavriel melebar saat mendengar suara tangisan sahabatnya.
Sehingga ia pun bangkit dari duduknya, mengambil kunci motor dan jaketnya, keluar kamar dengan terburu menuju garasi tempat ia menyimpan motor yang sudah lama tidak ia pakai.
"Gavriel, hiks."
Selama Gavriel berjalan, tidak hentinya Gavriel menanyakan di mana dan berhenti menangis kepada Queeneira, yang sama sekali tidak mendengarnya dan tetap menangis.
"Queeneira, jawab aku, share lokasimu sekarang juga!"
Seruan dari Gavriel membuat Dirga dan Kiara yang masih di ruang keluarga bingung, apalagi saat anaknya menyebut nama anak perempuan sahabat mereka.
"Gavriel, sayang, ada apa?" tanya Kiara cemas. Namun sayang, Gavriel bahkan tidak mendengarnya dan berlalu dengan gerakan tergesa-gesa keluar dari dalam rumah.
Kiara bahkan berniat ingin menyusul Gavriel, tapi anak bungsunya lebih dulu menghentikanya, sehingga bukan hanya Kiara yang melihat Selyn bingung, tapi juga Dirga yang ikut menatap putrinya dengan ekspresi bertanya.
"Jangan dikejar, Momm!"
"Kenapa, El sayang?"
"Biarkan mereka selesaikan malam ini, biar Mas dan Mba Que sekali lagi bertemu, sekarang atau tidak sama sekali."
Dengan perkataan terakhir putri bungsunya, akhirnya Dirga dan Kiara pun hanya bisa melihatnya dengan hembusan napas gusar.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Sebelumnya, disisi Queeneira yang saat ini sedang di dalam taksi.
Queeneira yang hendak pergi ke rumah keluarga Wijaya terpaksa harus berhenti, saat taksi yang di naikinya mogok dengan sang supir taksi yang meminta maaf.
Queeneira bukan lagi khawatir akan dirinya yang tidak bisa bertemu sahabatnya, tapi juga karena ia ada di jalan malam-malam, tanpa membawa dompet dan hanya membawa handphone di tangannya.
"Maaf Non, kalau mau nanti saya pesankan taksi lain," ujar si sopir menyesal, tapi Queeneira yang sudah khawatir dan panik tidak mendengarnya. Ia justru menangis dengan handphone di telinganya, menelepon sahabatnya yang menanyakan dengan nada khawatir keberadaannya.
"Queeneira, jawab aku, share lokasimu sekarang juga."
"Iya, hiks."
Disaat bersamaan, Gavriel yang sudah tahu lokasi keberadaan sahabatnya pun segera memacu kendaraan roda duanya secepat yang ia bisa. Ia tidak peduli dengan keselamatannya, saat keselamatan sahabatnya pun menjadi taruhan.
Sebenarnya apa yang dipikirin Queeneira, malam-malam keluar rumah. Apa maunya, bikin khawatir saja.
Di sepanjang perjalanan Gavriel tidak henti merapalkan doa, untuk sahabatnya agar tidak terjadi apa-apa.
Ia sungguh khawatir saat mendengar suara isakan, juga gumaman panik dari Queeneira.
Tuhan, aku tidak akan mengampuni diriku sendiri jika ada apa-apa dengannya.
Tidak lama kemudian, Gavriel pun sampai di lokasi yang dikirim oleh Queeneira. Ia turun dari motornya dan menemukan sahabatnya, yang berjongkok dengan seorang sopir seperti sedang membereskan mobil, terlihat dari kap mobil yang terbuka.
"Gavriel!"
Gavriel mempercepat laju langkahnya, sedangkan Queeneira berdiri dari jongkongnya dan ikut berlari menghampiri Gavriel.
Grep!
Dengan segera Gavriel memeluk tubuh Queeneira, membawanya kedalam pelukan hangatnya dan dibalas erat oleh Queeneira yang semakin terisak.
Queeneira berpikir jika ia tidak bisa melihat sahabatnya, ia juga berpikir jika sahabatnya tidak ingin bertemu dengannya lagi.
"Gavriel, hiks," lirih Queeneira, mencengkram jaket yang di pakai oleh Gavriel dan dibalas dengan pelukan semakin erat dari Gavriel.
Hiks! Hiks!
"Sssttt ... Aku disini, jangan takut," gumam Gavriel, mengusap rambut dan punggung Queeneira yang sedikit berguncang di dekapanya.
"Gavriel, ak- hiks."
"Sssttt ... Jangan nangis lagi, aku mohon."
Gavriel yang merasa ada seseorang sedang melihatnya pun menoleh ke arah depan mobil, dan benar saja sang sopir taksi saat ini sedang melihatnya, dengan senyum canggung lalu melengos malu.
Oh sial!
Mengumpat dalam hati, Gavriel pun mengangkat tangannya sebagai tanda tunggu, hingga ia benar-benar menenangkan sahabatnya yang saat ini sudah reda tangisan meski sesekali masih sesegukan.
Dengan berat, Gavriel mengurai pelukannya. Ia juga membuka jaket yang dipakainya dan menyampirkannya pada bahu sahabatnya, yang saat ini sedang menundukkan wajahnya.
"Tunggu aku di sini, ok," perintah Gavriel yang di angguki kepala pelan oleh Queeneira.
Beberapa saat kemudian ....
Gavriel membawa Queeneira duduk di taman tidak jauh dari tempat mereka tadi bertemu.
"Minum," gumam Gavriel dengan tangan mengulurkan sebuah minuman kalengan kepada Queeneira, yang menerimanya dengan gerakan perlahan.
"Thanks."
"Hn."
Keduanya pun duduk berdampingan dalam diam. Queeneira melamun dengan tangan setia memutar kaleng, sedangkan Gavriel yang sesekali meminum minumannya dan melihat sekelilingnya.
Keterdiaman Queeneira, membuat Gavriel melirik ke arah minuman yang belum diminum bahkan belum dibuka oleh sahabatnya.
"Aku beli itu untuk di minum, Que," gumam Gavriel kemudian mengambil alih kaleng dari tangan Queeneira, membukanya dan mengembalikan lagi kepada Queeneira, yang hanya diam tetap tidak meminum minuman yang sudah dibukakan oleh Gavriel.
Gavriel pun mendesah lelah melihat kelakuan dari sahabatnya, kemudian ia berdiri dan duduk jongkong di hadapan sahabatnya yang menatapnya kaget.
__ADS_1
"Ada apa, huem?" tanya Gavriel lembut, menatap sahabatnya yang menundukan wajahnya, belum siap memperlihatkan wajah berantakannya.
"Hei! Kalau ditanya harus jawab," lanjut Gavriel, membawa wajah Queeneira kehadapannya menggunakan jari telunjuknya, yang ia letakan di bawah dagu Queeneira.
"Ada apa?" tanya Gavriel sekali lagi.
"Gavriel."
"Hmm?"
"Aku mencintaimu."
Deg!
Perlahan melepaskan jari telunjuknya pada dagu sahabatnya, Gavriel menatap Queeneira dengan bola mata tidak fokus, saat sekali lagi mendapat pernyataan rasa.
Bukan sayang tapi cinta, dengan sahabatnya yang menatapnya sungguh-sungguh.
"Que-
"Tatap mata aku, Gavriel. Dan bilang kalau kamu memang tidak mencintaiku," sela Queeneira, bahkan kini nada suaranya sudah tidak bisa di kontrol olehnya.
"Aku tidak, aku tidak mencintaimu."
Maaf, aku mencintaimu, Queeneira.
"Gavriel, aku mencintaimu," ulang Queeneira, bibirnya bahkan bergetar menahan isakannya, saat ia menatap mata sahabatnya yang terlihat sungguh-sungguh.
Aku mohon, Gavriel, bilang bohong.
"Kamu sahabatku, Queene."
"Bohong, hiks, bohong," racau Queeneira, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sehingga kaleng yang tadi di pegang olehnya jatuh ke tanah.
Hiks! Hiks!
Queeneira aku mohon jangan menangis.
"Jangan menangi-
"Kenapa aku harus mengikuti apa kata-katamu, Gavriel. Kenapa aku tidak boleh menangis!" sela Queeneira cepat, menatap Gavriel dengan lelehan air mata semakin deras, membuat hati Gavriel seakan dicubit.
Nyut!
Tolong hentikan, tolong jangan seperti ini.
"Queeneira, aku-
Queeneira tidak mendengarnya, ia berdiri dan menghapus kasar air matanya yang mengalir.
"Baik, aku putuskan untuk melupakanmu," ujar Queeneira sebelum meninggalkan Gavriel yang diam mematung.
Deg! Deg! Deg!
Melupakanmu.
Gavriel menatap nanar kursi yang tadi di duduki oleh Queeneira, kemudian dengan cepat melihat arah dimana Queeneira pergi.
Punggung dengan bahu berguncang bisa ia lihat dari tempatnya duduk jongkok saat ini.
Kejar Gavriel atau kamu akan menyesal selamanya.
Tidak, ini yang terbaik.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Stop! Tidak.
Iya, sekarang.
Pergulatan pada batinnya benar-benar membuat Gavriel diam, bahkan ia tidak sadar jika air matanya pun ikut menetes meski tanpa isakan.
Queeneira.
Iya, Queeneira. Perempuan satu-satunya yang mampu membuat kamu nyaman, Gavriel.
Queeneira.
Iya, sebut namanya, Gavriel.
Tersadar dari perang batinnya, Gavriel pun segera berlari menyusul Queeneira yang sudah jauh di depan sana, keluar dari area taman dan berjalan dengan air mata benar-benar luruh.
Dan Queeneira, yang berjalan dengan sesekali mengusap mata pun semakin terpuruk, saat kenyataan benar-benar nyata diterimanya.
Ia tidak menyangka bahkan rasanya lebih sakit, dari saat ia berbicara dengan sahabatnya di taman belakang.
Menatap jelas mata sahabatnya dan melihat jelas kesungguhannya, sakitnya lebih dari saat ia dibelakangi oleh sahabatnya.
Jalan dengan sesekali terisak, Queene tidak tahu jika dibelakangnya sebuah tangan sebentar lagi menggapainya dan selanjutnya adalah pelukan dari belakang, dengan suara seseorang yang membisikan namanya lirih.
"Jangan pergi, Queeneira. Maafkan aku."
"Gavriel."
Bersambung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Terima kasih dan sampai babai.